
Anang sudah hampir siap dengan operasi besar yang akan ia jalankan. Sejak tadi ia memohon pada dokter yang akan mengoperasinya agar menunggu kedatangan Ayu dan Jaka. Ia masih berharap bisa bertemu dengan anak sulungnya.
"Mas, kita sudah terlambat sepuluh menit dari jadwal operasi. Mungkin Mbak Ayu dan yang lain berhalangan ke sini. Jadi aku mohon, jangan tunda lagi, kamu bisa bergemu dengan Alif nanti setelah operasi."
"Tapi, Fad ak..."
"Bawa saja ke ruang operasi, Dok," potong Fadil dengan cepat.
Anang hanya menghembuskan nafas panjang. Akhirnya ia kalah juga dengan perdebatan singkat adiknya. Pria itu berharap bisa bertemu dengan Alif dalam gelisahnya.
"Fad, kamu masih simpan kertas kemarin, kan? Nggak ilang, kan?" tanya Anang saat di gelinding ke ruang operasi.
"Masih, Mas. Kertasnya masih aman, akan kamu berikan sendiri nanti sama Mbak Ayu. Udah fokus sama operasinya, jangan berpikir yang macam-macam. Aku akan tunggu kamu di luar, berjuanglah kembali demi anak-anakmu."
Anang sampai di depan ruangan operasi. Saat hendak masuk, terdengar suara teriakan yang membuat mereka terhenti di depan pintu.
"Ayah," teriak Alif berlari ke arah Ayahnya yang sedang terbaring dengan dan di keliling dokter dan juga kedua Om nya.
Mata Anang seketika berbinar, ia bahagia bisa bertemu anak sulungnya sebelum ia berjuang untuk dirinya sendiri. Sebuah dekapan ia berikan untuk Alif yang sekarang sudah semakin besar dan terlihat tampan seperti dirinya.
"Ayah, akan sembuh, kan? Ayah sudah janji sama aku dan adik-adik kalau suatu hari nanti akan ajak kami jalan-jalan. Ayah punya hutang sama kami," ucap Alif terisak.
__ADS_1
Anang setegar mungkin berusaha untuk tak mengeluarkan air matanya yang sudah beranak pinak di pelupuk matanya. Sungguh miris hatinya mendengar isakan dan permohonan Alif yang tak pernah ia dengar selama dirinya tinggal serumah hingga terpisah.
"Iya, Sayang. Ayah akan sembuh. Ayah minta maaf untuk semua kesalahan Ayah. Ayah belum bisa jadi Ayah yang baik dan contoh yang baik bagi Alif dan adik-adik. Ingat pesan Ayah, ya jaga Ibu dan adik-adik. Nurut sama Ibu dan Ayah Jaka. Jadi anak baik biar bisa jadi contoh untuk adik-adik. Dan satu lagi, kamu mau jadi dokter, kan? Berjanjilah pada Ayah untuk mencapai cita-citamu. Maaf Ayah dulu terlalu menjadi pecundang untuk mendukung apa yang kamu mau. Ayah pamit, ya Sayang." Satu kecupan lama mendarat di kening Alif. Anak delapan tahun itu terisak dalam dekapan sang Ayah.
"Ayah pasti akan melihat aku jadi dokter nanti," ucap Alif menangis.
Anang berlih pada Jaka yang sejak tadi merangkul pundak Ayu.
"Jak, aku minta maaf untuk semua kesalahanku padamu. Aku titipkan anak-anakku padamu, ya. Aku tidak minta apa-apa, kau adalah Ayah yang jauh lebih baik dari pada aku. Tolong temani mereka dalam setiap langkah."
Jaka berjalan mendekat, "Kau tak pernah berbuat salah padaku. Untuk masalah anak-anak, kau tenang saja, mereka anakku juga. Bukan hanya aku yang akan menemani setiap langkah mereka, tapi kau juga. Berjanjilah untuk bertahan demi anak-anakmu." Jaka menepuk pundak Anang dua kali.
Sementara itu, Anang dan para pekerja medis yang berada di dalam ruangan sedang berdoa sebelum dilakukannya operasi. Berdoa untuk kelancaran dan keberhasilan operasi besar yang akan mereka jalankan.
'Ya Allah, jika Engkau menakdirkan aku untuk tetap bertahan setelah ujian ini, maka jadikanlah aku salah satu manusia yang selalu berjalan di jalanMu. Tapi jika Engkau ingin aku kembali pulang, kuatkan pundak orang-orang terdekatku, kuatkan hati mereka untuk mengikhlaskan manusia hina sepertiku untuk pergi.'
Anang mengucapkan dua kalimat syahadat saat pandangannya mulai buram. Genggaman tasbih yang yang semula sangat erat perlahan mulai mengendor, tapi tasbih itu tetap berada di telapak tangan Anang, seakan benda itu yang akan menemani dan menguatkan si pemilik untuk bertahan.
"Kenapa wajahmu begitu murung?" tanya Jaka duduk di sebelah Fadil. "Percayalah, semua akan baik-baik saja." Jaka menyentuh pundak Fadil untuk menenangkan pria itu.
"Aku nggak tahu apa yang membuatku sedih, Mas. Aku merasakan akan terjadi sesuatu saja, aku yang memaksa Mas Anang operasi dari dulu, tapi ketika Mas Anang mengabulkan apa yang aku minta, hatiku terasa berat. Aku takut, aku masih trauma dengan kematian. Ibu meninggalkan aku ketika aku masih butuh dia, aku ditinggalkannya seorang diri disaat aku sedang berjuang menjadi apa yang aku inginkan. Dan Sekarang.."
__ADS_1
Fadil tak mampu melanjutkan ucapannya, ia menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Pundaknya bergetar hebat meski tak terdengar isakan. Tangan Jaka mengelus punggung Fadil, berharap dengan sentuhannya bisa menenangkan pria itu.
"Lebih baik kita sholat, kita berdoa buat Anang. Biar dia juga kuat," ajak Jaka pada semua orang yang di sana.
Mereka semua mengangguk setuju. Memang berdoa adalah pilihan terbaik dari segala kondisi. Menyerahkan segala kegundahan hati dan pikiran pada sebuah untaian doa dapat meringankan segala beban yang ada.
Tiga puluh menit mereka di sana. Dengan hati yang sudah sedikit lega dan terasa beban berat berkurang mereka berbondong-bondong untuk kembali menunggu Anang selesai operasi.
Di tengah-tengah situasi genting seperti ini, perut Ayu mendadak kram, namun Ayu diam tak bersuara karena kram yang ia rasakan masih bisa ia tahan. Namun, kram yang ia rasakan tak hanya terjadi sekali dua kali, tapi berkali-kali dengan durasi sakit yang semakin lama. Sadar dirinya akan melahirkan membuat ia bersuara.
"Mas, perut aku." Ucapan Ayu terhenti karena kontraksi kembali datang. "Sakit," imbuhnya meremas dress yang ia pakai.
"Kamu mau melahirkan? Atur nafasnya, jangan panik," ujar Jaka mengelap keringat di dahi Ayu. "Fad, Mbak Ayu mau melahirkan, aku temani dia dulu, ya. Aku nitip Alif bisa, kan?"
"Bisa, Mas. Perlu aku ambilkan kursi roda?" tawarannya yang tiba-tiba ikut panik.
"Nggak, aku bisa gendong dia. Alif di sini dulu, ya, Nak. Kamu temani Ayah Anang sama Om. Dedek bayi mau lahir, Ayah harus bawa Ibu ke dokter."
"Iya, Ayah." Alif berjalan menuju Ibunya yang duduk dengan menahan sakit. "Dedek bayi, jangan buat Ibu sakit, ya. Keluarnya pelan-pelan." Alif mencium perut Ayu sejenak lalu meminta Jaka untuk segera membawa Ibunya ke dokter.
Jaka mencium kening Alif sebelum benar-benar pergi dari sana. Jaka berjalan cepat seraya berteriak memanggil suster, wajah panik tergambar jelas di wajah Anang saat mendegar rintihan Ayu menahan sakit.
__ADS_1