
Lia kembali ke kamar setelah mengambil sepiring nasi dan lauk pauk untuk Dara. Gadis itu nempak menyedihkan, ia sadar mengatakan apapun pada Dara saat ini adalah hal sia-sia. Ia masih belum bisa mencerna kata demi kata yang mensugestikan pikirannya menjadi baik. Yang Dara butuhkan saat ini hanya mengembalikan psikis Dara yang tak baik-baik saja.
"Ra, ini ada sarapan. Mau makan sendiri apa aku temani?"
"Aku takut," jawab Dara lirih.
"Kamu sudah aman. Kamu lupa aku siapa? Aku teman Abang kamu. Aku Lia, kamu biasa manggil aku Mbak Li. Ayo makan!"
"Aku kotor."
"Mana yang kotor? Sini Mbak bersihin. Bilang sama Mbak."
"Semuanya."
Lia lalu mengibaskan tangannya membuat gestur seakan-akan ia benar-benar membersihkan tubuh Dara. Ia merasa ikut hancur dengan apa yang menimpa gadis itu, namun menunjukkan keiabaan itu di depannya bukan pilihan yang tepat.
"Tuh, udah Mbak bersihin. Makan sekarang, sebentar lagi Ibu akan ke sini jemput kamu."
Dara langsung menoleh pada Lia.
"Ibu mau ke sini? Aku takut Ibu marah."
"Nggak dong. Ibu nggak akan marah kalau kamu melalukan satu hal."
"Apa?"
"Nurut sama apa yang dibilang Ibu. Bisa nggak?"
Dara hanya mengangguk lalu memaksa dirinya untuk makan. Dengan susah payah mengunyah dan berusaha kuat untuk menelan nasinya.
Sungguh getir garis kehidupan gadis itu. Akal sehatnya seakan dibabat habis oleh ujian berat. Kekasihnya saja belum sehat dan masih perlu dukungan darinya. Kini ia tak bisa melakukan itu lagi, entah untuk sementara atau seterusnya. Bagaimana caranya ia untuk memberi support pada calon suaminya kalau ia sendiri butuh dukungan dari keluarga dan orang sekitar.
Tak berselang lama, mobil Jaka sudah terdengar terparkir di halaman. Lia segera keluar menyambut mereka.
__ADS_1
"Nak, mana Dara?" Bu Lin dengan mata sembabnya mencoba bertanya dengan nada yang ia buat sangat kuat.
"Ada di kamar, Bu. Mari saya antar," ajak Lia berjalan lebih dulu.
Bu Lin melihat Dara yang sedang duduk melamun di tempat tidur. Beliau melihat Dara yang begitu saja sudah kembali menitikkan air mata dengan derasnya, tak bisa dibayangkan jika beliau melihat keadaan Dara sebelum ini. Sudah dipastikan beliau tak akan bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
"Ibu harus lebih kuat buat Dara. Kalau Ibu sama hancurnya dengan dia, siapa yang akan menguatkan dia? Dara butuh Ibu." Lia memberikan saran yang bisa disebut kata pengingat untuk wanita itu.
Bu Lin menghapus air matanya dengan segara. Memasang wajah kuat dan badan tegar untuk sang anak. Tidak ada yang lebih penting dari kesembuhan anaknya saat ini.
"Dara. Sudah siap pulang?" tanya Bu Lin berjalan mendekat.
"Ibu." Dara kembali menangis tersedu dan memeluk ibunya dengan erat. Ia tak mampu berkata. Semuanya tumpah dalam bentuk air mata.
"Kamu aman sekarang, ada Ibu. Maafkan Ibu nggak ada di sisi kamu saat kamu butuh."
"Aku kotor, Bu." Entah sudah ke berapa kali kau 'kotor' keluar dari mulut Dara.
"Aku takut dia datang lagi."
"Nggak, Ibu akan jaga kamu. Ada Bang Jaka juga yang akan jaga."
Dara akhirnya mengangguk pelan, dengan menggamit lengan ibunya, ia berjalan keluar kamar. Kembali bersitatap dengan Jaka membuat nyali Dara kembali menciut. Ia menyembunyikan wajahnya di balik pundak sang Ibu.
Jangan ditanya betapa hancurnya hati Jaka. Dalam hati ia sangat marah dan menyesali kebodohannya yang tak bisa menemukan Dara tepat waktu. Rasa bersalah yang memuncak membuat Jaka tak lagi membendung air mata yang susah payah ia tahan.
"Jangan takut, dia kakak kamu. Kamu selalu bertengkar sama dia kalau di satu tempat yang sama. Ibu sampai pusing dengar pertengkaran kalian. Dia akan jaga kamu." Bu Lin memeluk pundak sang anak lalu menuntunnya berjalan.
"Lia, makasih banyak, ya, Nak. Kamu udah mau bantu Dara."
"Iya, Ibu. Nggak perlu berlebihan, itu sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia. Ibu harus kuat untuk Dara." Lia kembali mengingatkan sembari mengelus pelan lengan Bu Lin.
Wanita itu hanya mengangguk tersenyum lalu pergi.
__ADS_1
Dara masih takut jika didekati oleh seorang laki-laki. Namun, ia tak se histeris tadi. Jauh sudah ada perubahan setelah bertemu ibunya.
"Ibu duduk di belakang, aku nggak mau jauh dari Ibu."
"Iya, Ibu duduk sama kamu. Kita jadikan Bang Jaka supir, ya."
Mendengar nama Jaka membuat pandangan mata Dara mengarah pada pria yang sejak tadi membuka pintu mobil bagian penumpang. Seutas senyum ia lihat sesaat kemudian kembali menatap tanah.
***
Bu Rini sedih melihat keadaan Rifki yang kembali putus asa. Seharian tak ada kabar dari keluarga calon istrinya juur saja membuat wanita itu kecewa sangat.
Mereka yang memberikan semangat pada Rifki, tapi mereka juga yang membuat Rifki hilang semangat. Sejak tadi pria itu hanya duduk di teras. Menatap jalanan yang begitu gelap di matanya. Bukankah setiap saat ia hanya bisa melihat kegelapan?
"Rif, masuk yuk! Tidur, ini sudah malam."
Rifki menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, seakan ia sudah jengah dengan semuanya.
"Belum ada telepon dari Dara atau yang lain?" Rifki masih berharap cintanya masih selamat meskipun logikanya menolak untuk kembali menaruh harapan pada Dara.
"Belum. Positif thinking, mereka mungkin sedang ada masalah. Kan mereka nggak ngurusin kita aja. Minggu depan juga Dara akan ke sini, kan."
Bu Lin mendorong kursi roda sang anak dengan ditemani lelehan air mata. Bukan hilangnya kabar Dara yang ia sedihkan, tapi keadaan anaknya yang kembali diterjang ombak besar.
***
"Kita harus kasih tahu Rifki soal ini, Mas. Kamu nggak bisa egois begini. Penting bagi Rifki untuk tahu ini. Mereka akan menjadi pasangan suami istri. Kamu nggak bisa terus-terusan main kucing-kucingan begini. Apa yang akan dipikirkan Rifki dan ibunya jika Dara dan kita semua menghilang tiba-tiba," tukas Ayu sedikit meninggi.
"Kamu ini kenapa? Aku sedang pusing dengan keadaan Dara dan kamu malah tekan aku begini. Adik aku, dilecehkan, Yu. Aku nggak bisa mikir yang lain," sungut Jaka emosi juga.
"Aku tahu, aku tahu kamu hancur juga dengan ini. Tapi kamu juga harus memikirkan keduanya. Jangan tenggelam dengan rasa bersalahmu lalu nggak berbuat apa-apa. Kamu pikir kamu benar, Mas?"
"Kalau aku salah kamu benar? Dara aja sekarang nggak bisa lihat orang lain selain Ibu. Kamu nyuruh aku hubungi Rifki. Kamu sadar nggak kalau Rifki nanti akan sama hancurnya dengan kita. Dia juga akan merasa bersalah, dia juga akan menyalahkan diri sendiri. Kalau nanti Rifki ke sini dan mendengar jeritan Dara apa kamu pikir semua akan baik-baik saja? Setidaknya tunggulah sampai keadaan Dara membaik. Semua ada waktunya." Jaka melembut di akhir kalimat.
__ADS_1