
Sudah seharian ini Ayu berjuang untuk kelahiran anaknya, pernah tiga kali melahirkan rupanya tak membuat Ayu tahan dengan kontraksi yang datang menyapa sesaat. Di bawah pelukan sang suami, Ayu merintih-rintih menahan perih.
"Operasi aja, ya. Nggak kuat aku lihat kamu begini, Sayang." Jaka yang tak pernah melihat orang melahirkan dengan cara normal nampak tak tega dan entah kenapa semua terasa berjalan lambat.
"Aku bisa, Mas. Aku nggak apa-apa. Aku sudah tiga kali melahirkan normal." Ayu kembali meringis menahan sakit.
Di bangunan yang sama, ruangan berbeda situasi mencekam juga sangat terasa kentara. Anang yang sudah usai dengan operasinya satu jam yang lalu mendadak kritis dan mengalami penurunan detak jantung. Detak jantung Anang semakin lama semakin melemah, hal itu membuat kedua adiknya dan anaknya ikut melemah.
"Om, Ayah kenapa? Apa kritis itu keadaan yang berbahaya? Kenapa Om nangis?" tanya Alif yang bingung dengan kegundahan hati Fadil dan Galuh.
"Sayang, berdoa saja untuk Ibu dan Ayah, ya. Mereka sedang sama-sama berjuang. Kita berdoa sama-sama."
Tak berselang lama, terdengar alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi dengan panjang dan nyaring. Kedua adik Anang yang sedang duduk seketika berdiri dan menatap pintu dengan tatapan nanar.
Ingin sekali rasanya hati Fadil untuk menerobos masuk. Ingin ia pastikan sendiri bagaimana keadaan sang Kakak. Pikiranya kini sudah tak bisa berpikir positif, yang hanya ada kepergian sang Kakak yang sudah dipastikan akan datang beberapa saat lagi.
"Om, kenapa? Ayah nggak apa-apa, kan?" Alif yang masih sangat polos hanya bisa bertanya tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Fadil masih diam dengan menahan isakan. Ia terduduk lesu di lantai dengan bersandar pada pintu yang sejak tadi tertutup.
"Om, Ayah kenapa?" tanya Alif sekali lagi dengan nada khawatir dan sedikit meninggi.
Fadil meraih Alif kedalam pelukannya tanpa menjawab sepatah katapun.
Sementara itu, Anang yang sempat mengalami henti detak jantung sedang kembali berjuang untuk mengembalikan detak jantungnya. Sudah beberapa kali dokter mencoba untuk memancing detak jantung Anang, namun semua itu sia-sia. Anang sudah benar-benar tidur dengan pulas dan enggan untuk membuka mata.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Pukul 17.07, ya Sus. Segera urus!" titah dokter laki-laki yang selama ini memantau kondisi Anang.
__ADS_1
Fadil seketika berdiri ketika pintu ruangan terbuka. Fadil tak langsung bertanya, ia meneliti wajah dokter yang ber name tag Wijaya. Sama sekali tak ada guratan kebahagiaan di sana. Seharusnya Fadil sudah menebak hal ini.
"Maafkan saya, Mas Fadil. Kami sudah berusaha untuk untuk menyelamatkan almarhum, tapi Tuhan berkehendak lain. Pak Anang sudah kembali pada-Nya. Saya turut berdukacita, Mas."
Bak disambar petir bertubi-tubi, bak ditusuk belati, semua terasa begitu menyakitkan bagi Fadil. Semua tubuhnya kaku seakan enggan untuk beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ayaaaaah." teriakan dari Alif membuat Fadil seketika tersadar dari linglungnya.
Hati yang masih hancur dan berserakan harus kembali dibuat menjadi kepingan saat melihat jasad Anang yang sudah tertutup kain putih. Tak ada sedikitpun tubuh yang terlihat, hal itu menambah kepedihan yang Fadil rasakan. Ingin tak percaya dengan apa yang diucapkan dokter Wijaya, tapi apa yang ia lihat sudah cukup menjawab semua.
Fadil tak mampu untuk beranjak ke ranjang Anang yang sudah terbujur kaku. Bola mata Fadil hanya menatap Alif yang sedang meraung dan ditenangkan oleh Galuh.
"Ayah, bangun! Ayah nggak boleh tidur, Ayah bangun, Ayah. Aku janji nggak akan ajak Ayah jalan-jalan, aku nggak akan merepotkan Ayah. Tapi Ayah bangun, Om bangunin Ayah Om. Om Fadil Ayah nggak mau bangun, ayo marahi Ayah. Ayah akan kalah jika bertengkar dengan Om. Ayo marahi Ayah, Ayah nggak mau bangun." Alif meraung-raung dengan keras. Hatinya masih tak mau terima bahwa sangat Ayah sudah pergi.
Tak ada satupun orang yang rela akan kepergian orang terdekatnya. Mereka pasti tak akan mau terima dengan mudah ketika seseorang kembali pada Sang Pencipta. Tapi kematian dan perpisahan adalah hal yang pasti. Mau tidak mau terima atau tidak, semua mahluk hidup akan mengalaminya.
"Alif dengar Om, ya. Alif mau Ayah sembuh, kan? Alif nggak mau lihat Ayah kesakitan, kan? Kamu tahu nggak, selama Ayah sakit. Ayah nggak bisa tidur nyenyak. Kalau sekarang Ayah tidur nyenyak, jadi kita biarkan saja, ya. Kita berdoa saja untuk kebaikan Ayah."
"Aku nggak mau ditinggal Ayah."
"Ayah akan sedih lihat kamu begini, kamu harus kuat untuk Ibu dan adik-adik kamu. Bukannya kamu udah janji sama Ayah untuk bantu Ayah Jaka jagain adik-adik? Apalagi sekarang adik kamu bertambah satu. Jadi, Alif ihklasin, Ayah, ya. Biar Ayah juga tenang."
Fadil menarik Alif ke dalam pelukannya. Ia menguatkan Alif, namun ia sendiri begitu hancur. Air matanya kembali luruh ketika mendekap tubuh anak kecil yang begitu mirip dengan sang Kakak.
'Kamu jahat, Mas. Bisa-bisanya kamu pergi saat aku butuh kamu. Bisa-bisanya kamu pergi disaat lukaku saja belum sembuh karena kehilangan Ibu. Apa yang bisa aku lakukan tanpa kamu?'
Di kamar lain situasi berbeda sedang menyelimuti Ayu dan Jaka. Anak mereka baru saja lahir dengan sehat dan nomal. Tak ada kekurangan sesuatu apapun.
__ADS_1
"Sayang, aku tinggal sholat maghrib sebentar, ya. Sekalian aku lihat keadaan Anang nggak apa-apa, kan?"
"Iya, aku nggak apa-apa. Ada suster juga di sini kalau aku butuh sesuatu."
"Nggak akan lama." Jaka mengecup singkat kening Ayu sebelum benar-benar pergi.
Ia melanjutkan langkah ke ruangan di mana Anang di pindahkan setelah operasi. Ia berniat akan mengajak kedua pria yang sudah ia anggap sebagai adik untuk sholat berjamaah bersama.
Keningnya mengkerut ketika Jaka mendapati depan ruangan Anang tak ada orang.
"Apa semuanya sedang sholat? Anang ditinggal sendirian?" gumam Jaka memajukan langkah.
Pria itu lebih terkejut lagi saat berdiri di tengah pintu dan melihat Fadil, Galuh dan Alif saling memeluk satu sama lain. Sedangkan Anang yang berbaring di ranjang sudah tertutup kain putih pertanda ia sudah tak bisa membuka mata.
"Fad," panggil Jaka melemah serta langkah yang sangat pelan.
"Ayah." Alif melepas pelukannya dengan Fadil dan berlari ke arah Jaka. Tangisnya kembali pecah di pelukan pria yang kini berperan sebagai Ayah sambungnya.
"Ayah Anang sudah pergi," ucap Alif terisak.
"Ayah Anang nggak pernah pergi, Nak. Dia ada di sini, dia akan selalu ada di hati kamu." Jaka semakin mengeratkan dekapannya karena Alif semakin sesenggukan. Ia merasa bicara apapun dengan panjang lebar tak akan merubah perasaan Alif saat ini.
"Kita sholat dulu, yuk! Kita doa buat Ayah, biar Ayah bahagia di surga sana."
Alif hanya mengangguk, Jaka berdiri dan berjalan ke arah Fadil yang sama terpuruknya dengan Anang saat Bu Lasmi pergi. Pria yang dua tahun terakhir dekat dengan sang Kakak nampak masih belum bisa menerima kenyataan.
"Kenapa kamu menyerah, Mas? Kenapa kamu nggak mau berjuang sedikit saja untuk menemaniku. Kenapa, Mas?" ujar Fadil lirih seraya memeluk jasad kaku Anang.
__ADS_1