
Fadil yang sudah menyelesaikan segala ritual wajib pernikahan sedang duduk di dalam kamar dengan gundah. Istirahat makan siang yang begitu membuatnya berpikir keras karena tak ada satupun keluarga barunya yang datang.
Berkali-kali Fadil melihat ponselnya, barangkali ia menemukan panggilan tak terjawab atau sebuah pesan yang mengatakan mereka kenapa tak datang. Mereka nampak senang dan berjanji akan datang kenapa sekarang malah tak ada kabarnya? Begitu kira-kira pikiran yang menggelayut di kepala Fadil.
"Makan dulu, Mas. Aku suapin, kamu dari tadi kepikiran keluarga yang di sana aja. Bukan bermaksud untuk membuat kamu menjadi berkecil hati, tapi kita, kan juga harus menyadari bahwa kita nggak ada hubungan darah. Kita nggak bisa menyamaratakan hubungan yang sedarah dan anggapan keluarga. Jangan kecewa, mereka pasti punya alasan kenapa nggak datang." Fitri menyentuh pundak sang suami, berharap dengan sentuhannya, kesedihan pria itu berkurang meski sedikit.
"Justru itu yang aku khawatirkan. Kalau mereka nggak datang, seharusnya mereka kasih pesan ke aku. Mereka kasih tahu alasannya apa, yang aku takutkan adalah mereka sudah berniat datang dan terjadi masalah sehingga mereka nggak sempat kasih kabar. Itu yang aku takutkan. Aku mau hubungi mereka juga nggak enak." Fadil mengeluarkan unek-uneknya.
"Jangan bicara begitu, Mas. Kita harus berpikir positif, karena apa yang tejadi sama kita itu juga ada campur tangan pikiran kita. Itu sebabnya harus mikir yang baik-baik. Sekarang makan dulu, nanti malam kita masih ada resepsi. Mudah-mudahan mereka datang nanti malam, ya."
Fadil mengangguk dan menerima piring yang sejak tadi di bawa oleh istrinya.
***
"Bu, aku mau ikit nyari aja. Ini sudah berjam-jam dan polisi nggak kunjung kasih kabar. Aku mau turun aja." Dara beranjak dari duduknya. Sejak tadi ia berada di tepi jurang sembari menunggu polisi dan sang Kakak yang turun mencari keberadaan Rifki.
"Jangan, pencarian mereka malah terganggu sama hadirnya kamu nantinya. Kamu merengek dan menangis terus begini malah membuat konsentrasi Pak polisi buyar," cegah Bu Lin menggandeng lengan anaknya.
"Mereka lama, Bu." Dara masih kekeh.
Detik, menit dan waktu yang biasanya berjalan begitu cepat kini semua tampak berjalan sangat lambat. Dara yang lelah menangis membuatnya tertidur di pundak ibunya. Tubuhnya tak mau beranjak dari tepi jurang.
"Pak, hari sudah hampir gelap. Kita akan cari esok hari lagi," ujar salah satu polisi pada Jaka.
__ADS_1
"Lima menit la.. Itu Rifki, Pak," seru Jaka menunjuk sebuah arah yang dipenuhi semak-semak dan bebatuan.
Meraka berbondong-bondong berlari ke arah Rifki. Posisi tubuhnya tengkurap dan banyak mengeluarkan darah. Rasa tekejut tak bisa Jaka sembunyikan. Cedera di mata Rifki benar-benar parah dan bengkak begitu besar.
Dara terbangun dengan gelagapan. Ia melihat sekeliling dan menghembuskan nafas berat begitu tahu dirinya masih berada di tepian jurang.
Mendengar langkah kaki yang sedikit mendekat membuat Dara mengedarkan pandangan ke arah mana saja. Ia meyakini derap langkah yang ia dengar adalah milik para polisi dan kakaknya.
"Kak Rifki," ucap Dara lirih dan berlari ke arah polisi yang sedang memandu seorang pria tergolek lemah.
"Dara tunggu, jangan lari!" teriak Bu Lin menyusul langkah anak gadisnya.
Histeris kembali adalah reaksi pertama yang Dara perlihatkan saat melihat keadaan pria yang sering membuatnya kesal.
"Rifki masih hidup, jangan histeris begitu. Kita akan bawa ke rumah sakit, ya. Kamu naik ambulans sendiri nggak apa-apa, kan? Abang harus antar anak-anak sama Ibu pulang dulu, ya. Nanti Abang balik lagi sekalian sama ibunya Rifki. Janji sama Abang. Jangan lemah, kamu harus lebih kuat di depan Rifki. Dia butuh kekuatan dari kamu, Rifki nggak butuh ini." Jaka mengelap pipi adiknya yang basah. "Janji sama Abang, ya. Yang sedih nggak hanya kamu, tapi kita semua. Abang punya hutang nyawa sama Rifki, dia sudah menyelamatkan anak-anak Abang. Salah satu alasan untuk membuat Rifki kuat dan bertahan adalah kamu. Kamu mau kuat buat dia?" Jaka menangkup wajah adiknya dengan kedua tangannya. Tatapannya begitu lelah dan manik mata yang begitu sembab.
Dara hanya mampu mengangguk dan membersihkan pipinya yang sudah kembali basah.
"Ya udah, kamu masuk ambulans. Secepatnya Abang nyusul ke rumah sakit."
"Jak, apa nggak sebaiknya Ibu ikut ke rumah sakit juga?"
"Aku aja, Bu. Aku bisa sekalian jaga Dara. Ibu di rumah sama Ayu dan anak-anak. Nggak mungkin aku biarkan Ayu sendirian dengan anak-anak, kan? Apalagi ini sudah malam. Kasihan mereka kelelahan nunggu di mobil."
__ADS_1
Bu Lin tak bisa mengelak lagi. Memang benar apa yang dikatakan Jaka. Dirinya harus memikirkan yang lain juga. Meskipun dalam hati ia sangat ingin menemani sang anak gadis.
"Mas, gimana keadaan Rifki? Aku tadi lihat dia di masukkan ke dalam ambulans, tapi nggak bisa lihat keadannya, aku mau keluar Nathan lagi nyusu. Parah banget? Aku lihat Dara sejak tadi mengelap pipinya." Ayu juga terlihat antusias ingin mendengar keadaan sahabatnya sekaligus penyelamat anak-anaknya.
"Agak parah di bagian matanya. Bengkak dan penuh darah, kita berdoa sama-sama biar dia pulihnya cepat, ya. Kamu tunggu di rumah aja sama Ibu dan anak-anak. Cukup doakan saja. Kamu udah hubungi Fadil kalau kita nggak bisa datang?" Jaka bertanya seraya melajukan mobilnya.
"Belum, aku nunggu kamu dulu. Enaknya bilang apa ke dia. Nggak mungkin banget kalau aku kasih tahu Rifki kecelakaan pas mau ke sana. Nanti dia kepikiran dan nggak fokus dengan hari bahagia dia. Besok aja kita kasih tahu, gimana?"
"Ya udah nggak apa-apa. Fadil sudah cukup dewasa untuk mengerti tanpa di beri tahu. Kasih tahu Ana buat pesan makanan, kalian dari tadi belum makan."
"Kamu juga belum, Mas."
"Jangan pikirkan aku. Kamu harus makan banyak buat anak kita, siapa yang jaga mereka kalau kamu ada sakitnya? Aku gimana juga nanti?" Jaka menatap istri dan anak-anaknya bergantian.
***
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Dara sama sekali tak melepas pagutan tangannya di jari jemari Rifki. Dengan menempelkan tangannya ke pipi Dara terus berharap dalam hati agar kekasihnya itu membuka mata barang sesaat.
"Kak, jangan lama-lama tidurnya. Nanti begitu kamu di periksa sama dokter, kamu bangun, ya. Kamu pernah bilang sama aku kalau kamu takut jarum suntik. Kamu lihat sekarang? Tangan kamu aja di tusuk sama jarum infus. Kalau kamu nggak bangun-bangun kamu akan di suntik juga." Dara terus berceloteh seakan Rifki sedang mengajaknya bertengkar.
Perawat pria yang sejak tadi bersama menemani langkah mereka hanya menatap haru keduanya. Ia juga salut dengan ketegaran Dara yang brusaha untuk kuat.
"Mbak tenang aja, pasti dia akan sembuh buat Mbak," sahut pria itu.
__ADS_1
'Kata-katanya sama kayak Bang Jaka. Aku jadi semakin yakin kalau cinta kamu besar buat aku, Kak. Orang asing aja bilang kalau kamu akan kuat untuk aku.'