Pamit

Pamit
36. Murka


__ADS_3

Jaka dengan santainya berjalan menuju bangunan yang selama ini memberinya tempat berteduh dari panas dan hujan. Langkah dan jantungnya terasa terhenti ketika kakinya menapak teras.


"Ho o aku ketahuan, tetangga sebelah kalau aku duda anak dua, Kakaknya si Dara," ujar Dara mengucapkan itu dengan nada bernyanyi.


"Eh, kamu di sini, Yu?" tanya Jaka salah tingkah.


"Jadi, ini rumah kamu, Mas?" tanya Ayu masih tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Iya. Kapan pulang?"


"Iya, ini mau pulang kok, Mas."


"Eh bukan itu maksudnya, Anin kapan pulangnya dari rumah sakit, gitu maksud aku," kata Jaka dengan setengah gelagapan.


"Oh, tadi pagi, ya udah kalau gitu aku pulang dulu, ya Mas. Agil kita pulang sekarang, yuk!" ajak Ayu pada kedua anaknya


"Lah, katanya biar di sini dulu, Mbak kan mau jemput Alif. masa mau jemput Alif satu keluarga, sih Mbak. Anin baru sembuh, loh masa mau di ajak jalan-jalan," ucap Dara mencegah Anin di ambil ibunya.


"Mau jemput Alif? Ya udah ayo aku antar!" tawar Jaka


"Nggak usah, Mas. Nggak apa-apa aku bisa sendiri. Kamu baru pulang kerja lebih baik istirahat saja." Ayu menolak dengan halus, sehalus debaran jantung yang tiba-tiba saja ia rasakan.


"Nggak apa-apa, Yu. Jangan nolak rezeki, ada yang menawarkan kebaikan juga termasuk rezeki. Udah berangkat sana!" sela bu Lin seraya mengunyah jajanan yang seharusnya untuk para cucunya.


"Tapi, Bu a..."


"Keburu malam, buruan berangkat!" Potong Bu Lin dengan cepat.


Ayu menatap pria yang berada tak jauh darinya. Seakan mengerti dengan tatapan si wanita, di pria mengangguk pelan.


Suasana canggung menemani Ayu dan Jaka yang berada dalam kendaraan yang sama itu. Entahlah, kenyataan ini membuat mereka justru semakin jauh. Ayu yang merasa sungkan karena ternyata ia merepotkan keluarga Jaka, sedangkan Jaka merasa malu dan insecure karena Ayu tahu keadaan ekonominya.


Ya, ekonomi keluarga Jaka memang tak kekurangan, namun semua yang serba pas-pasan itulah yang membuat Jaka insecure pada dirinya sendiri.


"Kok kamu nggak pernah cerita, Mas kalau kamu anak Bu Lin? Maaf, ya aku merepotkan ibu kamu dengan menitipkan anak-anak ke ibu. Padahal cucu ibu sudah ada dua ditambah mengasuh anak-anakku." Ayu memberanikan diri membuka suara agar keheningan ini lenyap.

__ADS_1


"Nggak masalah, selagi ibu bahagia aku nggak mempermasalahkan itu, Yu. Lagi pula nggak tiap hari kamu nitip anak-anak."


"Aku nggak nyangka, sih ternyata dunia ini sesempit ini. Kamu nggak tahu betapa bersyukunya aku, Tuhan udah kirim orang-orang baik dalam hidup aku. Aku bersyukur bisa kenal dengan kalian."


"Alhamdulillah kalau memang kehadiran kami bisa membuat kamu merasa bahagia. Ngomong-ngomong, Alif kok bisa sama siapa nama mantan suami kamu itu?"


"Anang. Sebenarnya kemarin itu niatnya dia mau bantu aku biar nggak repot, Mas. tapi aku nolak, aku takut kalau Alif di sana malah diperlakukan tidak baik sama neneknya. Tapi Alif malah mau di ajak ke sana. Ya udah masa aku larang. Tapi sejak tadi pagi Anang aku hubungi nggak bisa, makanya aku khawatir kalau terjadi apa-apa sama Alif."


"Berpikir yang baik-baik. Terkadang apapun yang terjadi itu atas dasar pemikiran kita, Alif pasti baik-baik saja."


Tak berselang lama mereka sampai di rumah Anang. Rumah nampak sepi dan gelap, tentu saja hal itu membuat Ayu semakin panik dan khawatir.


"Mas, mas Anang!" teriak Ayu menggedor pintu.


Tak ada jawaban.


"Coba telepon lagi, Yu! Barangkali mereka lagi jalan-jalan."


Ayu mengangguk dan merogoh ponselnya di dalam tas. Saat sedang meletakkan benda pipih tersebut ke dekat telinga, nampak motor sedang melaju ke arah meraka. Mengetahui itu Anang, Ayu mengembalikan ponselnya dan berjalan ke arah motor tersebut.


"Akun jelasin di dalam. Masuk dulu, biar sama-sama tenang." ujar Anang yang sebenarnya ia bingung harus jawab apa.


"Jangan buat aku semakin was-was, Alif mana? Kenapa nggak sama kamu?" tanya Ayu mengikuti langkah Anang yang masuk ke rumah dan menyalakan semula lampu.


"Duduk dulu, Yu. Aku buatkan minum sebentar."


"Mas, aku ke sini bukan untuk minum atau bertamu. Sejak tadi aku bertanya di mana Alif. Kenapa nggak kamu jawab?" bentak Ayu yang tak suka dengan basa-basi Anang.


"Ok, baiklah. Sebelumnya aku minta maaf, Yu. Aku seharian nggak ada kabar karena aku juga mencari keberadaan Alif. Dia pergi sama ibu, dan Alif hilang."


"Apa?" tanya Ayu lirih.


Jantung yang sejak tadi bergaduh merasakan tak enak, kini terasa berhenti berdetak. Lidahnya terasa kelu untuk berucap, tubuhnya tak mampu bediri dengan tegap, nyawannya terasa diambil paksa oleh Anang yang dengan mudahnya berucap.


"Bagaimana bisa kamu biarkan ibumu bawa anakku? Kamu tahu bagaimana sikap ibumu pada cucunya!" teriak Ayu dengan lantang.

__ADS_1


"Maaf, Yu. Ibu bawa Alif tanpa sepengetahuan aku, pagi tadi aku pergi beli serapan, begitu balik Alif sudah tak ada di rumah."


"Ya Allah, Alif." Ayu tak mampu lagi berdiri di atas kakinya, ia terjatuh di lantai, mendadak tubuhnya lemas dan limbung. Untunglah Jaka sigap untuk menangkap tubuh Ayu.


"Bisa minta tolong ambilkan air?" kata Jaka.


Anang berlari ke dapur dan kembali dengan cepat. Ia menyodorkan segelas air putih pada Jaka.


"Yu, minum sedikit biar tenang. Kalau kamu begini kita nggak akan bisa berpikir dengan jernih. Sedikit aja, nggak apa-apa."


Ayu meminum sedikit air yang berada di depan mulutnya. Ayu masih sesenggukan, tapi jauh lebih baik dari yang tadi.


Ayu bangkit setelah kembali mendapatkan tenaganya. Ia berjalan keluar rumah dan berlari dengan cepat ke rumah mantan ibu mertunya. Jaka dan Anang sampai tak dapat mengejar laju gerak Ayu.


Bruak!


Tanpa permisi dan mengucapkan apapun, Ayu membuka pintu rumah ibu Anang dengan kasar, kesedihannya lenyap begitu saja dan berubah menjadi kemurkaan.


"Bu Lasmi, keluar kau!" teriak Ayu masuk ke dalam rumah.


Wanita yang sedang dikuasai oleh amarah itu berjalan menuju kamar mantan ibu mertuanya. Ia melakukan hal yang sama seperti saat membuka pintu utama tadi. Wanita yang usianya lebih dari lima puluh tahun itu sampai terlonjak kaget.


Ayu berdiam diri di tengah pintu dengan nafas memburu dan tatapan yang dipenuhi amarah.


"Ayu, sabar, Yu. Jangan begini!" ujar Jaka berusaha memenangkan Ayu dengan menggenggam pergelangan tangan wanita itu.


Ayu tak menggubris ucapan Jaka. Ia menepis tangan pria itu dengan pelan lalu berjalan menuju ranjang mantan ibu mertuanya.


"Semakin ke sini wanita ini semakin tidak punya sopan santun, ya begini ini sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang tidak punya orang tua dan asal usul yang tidak jelas. Mau apa lagi kamu ke sini?" bentak bu Lasmi tanpa rasa bersalah apa lagi merasa berdosa.


Jaka sungguh tercengang dengan ucapan wanita tua itu.


Anang pun tak kalah terkejut, ia seperti tak kenal ibunya. Bagaimana bisa ibunya berbicara begitu disaat dirinya melakukan kesalahan besar?


Sementara Ayu sudah mengeratkan giginya. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.

__ADS_1


__ADS_2