Pamit

Pamit
101. Seperti Lahir Kembali


__ADS_3

"Ibu? Ibu di mana? pegang tangan aku Bu aku takut, aku grogi, aku deg-degan."  Rifki heboh sendiri saat akan melepas perban yang menempel di matanya. Tingkahnya saat ini sungguh tidak menunjukkan bahwa Rifki sudah berumur.


"Iya Ibu di sini." Bu Rini meletakkan tangannya di tangan Rifki, menggengam tangannya erat seakan sentuhannya memberikan ketenangan.


Lapisan demi lapisan perban yang beberapa hari ini menemani Rifki, kini sudah mulai menipis dan sudah benar-benar lepas dari matanya.


Debaran jantung Rifki berubah menjadi lebih cepat ketika matanya terasa ringan.


"Buka pelan-pelan, ya, Pak," titah dokter itu. "Jika mata Bapak nanti terbuka dan masih terlihat buram coba pejamkan lalu buka kembali beberapa menit kemudian jangan dikucek," imbunya kemudian.


Rifki mengangguk dan membuka matanya secara perlahan mengikuti arahan dari dokter. Sedikit demi sedikit terbuka dan semuanya terlihat buram. Dia membuka kembali lebih lebar matanya dan semuanya masih nampak buram. Ia membiarkan matanya terbuka beberapa detik dan akhirnya perlahan demi perlahan keburaman itu berubah menjadi terang benderang.


Bu Rifki dan Jaka menunggu dengan cemas. Mata mereka sejak tadi tak lepas dari Rifki. Mereka begitu sabar menatapnya menunggu reaksi apa yang akan diberikan pria itu. Tentu saja harapan baik selalu mereka doakan dalam hati.


"Kamu kenapa diam saja? Kamu bisa meliha, kan kamu lihat Ibu, kan?" tanya Bu Rini cemas.


Rifki menoleh ke arah ibunya. Matanya seketika berkaca-kaca saat beberapa detik bersitatap dengan wanita itu. Tak mampu lagi berkata apa-apa, Rifki hanya memberikan sebuah pelukan untuk ibunya. Ia terisak di balik pundak sang Ibu.


"Ibu aku bisa melihat. Aku bisa lihat," ucap Rifki di tengah isakannya.


"Alhamdulillah, kamu mulai hari ini bisa memulai kehidupan kamu dari awal, Nak." Bu Rini jadi ikut menangis karena mendengar isakan lirih dari Rifki.


Jaka yang sejak tadi diam ikut menitikan air matanya haru melihat pemandangan yang begitu mengharukan. Sebuah hasil yang baik untuk kesabaran dan ketabahan Rifki.


Rifki renggangkan pelukannya dan beralih menatap Jaka.


"Selamat lahir kembali."


"Terima kasih. Aku tidak akan pernah lupa dengan hari ini. Terima kasih banyak, dok. Saya boleh pulang sekarang, kan?" Entahlah Rifki terlalu terburu-buru dalam hal apapun.


"Tunggu sampai besok, ya Pak kalau keadaan Bapak stabil boleh pulang."


"Terima kasih."


Senyum sejak tadi tak pernah luntur dari bibir Rifki. Ia begitu bahagia hari ini.


"Perlu aku hubungi Dara?" tawar Jaka.

__ADS_1


"Nggak usah, nanti nggak surprise. Besok saja aku ke sana."


"Nanti kalau dia tanya aku jawab apa?"


"Ya Bilang aja kalau operasinya berhasil kalau dia nanya kapan aku ke sana jawab saja kalau dia sudah siap, aku akan ke sana."


"Dasar kalian benar-benar kayak ABG."


***


Malam harinya Dara tak bisa tidur. Mencoba untuk memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, tengkurap dan telentang, namun matanya tak kunjung terpejam.


Dara tak tahu apa yang membuatnya tak bisa tidur. Mendengar kabar tadi siang dari Jaka membuat ia bahagia campur deg-degan. Ia sedang sibuk bertanya pada dirinya sendiri kapan ia akan siap bertemu dengan Rifki.


"Kak Rifki kenapa harus nunggu aku siap? Kenapa nggak ke sini aja langsung? kenapa aku tadi nggak ke sana aja, ya ke rumah sakit kalau begini gimana. Di satu sisi aku malu, tapi di sisi lain aku juga kangen. Ini yang penting yang mana? Yang diturutin harus yang mana?" Celeteh Dara sejak tadi ribut dengan posisi tidurnya.


"Ya sudahlah, biarkan Kak Rifki dengan dirinya sendiri dulu. dia mengatakan itu pada Bang Jaka pasti juga belum siap ketemu aku. Ah sudahlah." Dara menenggelamkan kepalanya di bantal.


Di tempat lain pun sama, Rifki yang baru saja bisa melihat dunia dengan penuh warna juga tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia tak sabar menunggu hari esok, ia ingin tahu bagaimana reaksi kekasihnya itu saat melihat dirinya.


Rifki yang bisa tidur membuatnya menghalu ria. Membayangkan hari-harinya yang akan ia jalani dengan Dara. Menikah dengannya punya anak ah betapa ribetnya.


"Apa sih, Dek? Udah malam ini." Rifki menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Anakmu mau rujak," ucap Dara sengit.


"Malam loh ini."


"Ya terus kenapa? Anak kamu maunya sekarang, aku lagi hamil, loh ini. Kamu yang buat aku hamil."


"Ya sekarang masalahnya cari rujak jam segini di mana, Sayang?"


"Ya di penjual rujak masa di bengkel."


Rifki menghela nafas panjang.


"Ya udah aku cari dulu."

__ADS_1


"Kok mukanya nggak ikhlas gitu, sih. Ya udah nggak jadi," sungut Dara ngambek.  "Tidur aja sana, biar ileran anaknya," imbuh Dara membaringkan tubuhnya membelakangi Rifki.


Pria itu menghela nafas panjang lagi.


"Rif, kamu ngapain senyum-senyum sendiri? Sudah malam bukannya tidur." Sebuah suara dari seorang wanita yang akhir-akhir ini merawatnya dengan sabar membuat Rifki tersadar dari kehaluannya.


Rifki menatap sekeliling, begitu menyadari bahwa ia masih di rumah sakit ia tersenyum sendiri.


"Ngapain, sih kamu? Udah bisa lihat bukannya waras malah gila."


"Siapa yang gila, sih Bu? Aku lagi menghayal aku, lagi ngehalu. Nggak seneng banget lihat aku seneng, ah."


"Rifki kamu jangan kumat, ya! Ibu kadang bingung, lho sama kamu. Usia kamu nggak mencerminkan kamu dewasa gitu lho, gitu kok buru-buru nikahin anak orang."


Kedua manusia yang berstatus sebagai Ibu dan anak itu sudah mulai kembali ada mulut seperti dahulu. Kegiatan yang sempat hilang lebih dari enam bulan kini sudah mulai terdengar, bahkan saat mereka sedang berada di rumah sakit.


"Yang pengen nikah cepet siapa, Bu? Ibu juga, kan? Katanya mau cucu gimana, sih?"


Perdebatan mereka berlanjut hingga beberapa jam lamanya. Nampaknya, mereka benar-benar merindukan momen ini, momen di mana ibu dan anak tidak akur seperti keluarga kebanyakan.


***


Keesokan harinya, keadaan Rifki yang sudah stabil akhirnya diizinkan pulang di hari yang masih pagi. Pria itu begitu semangat dan sejak tadi tidak berhenti menyanyikan sebuah lagu.


Bila nanti saatnya telah tiba


Ku ingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana kemari dan tertawa


(Akad-payung teduh)


Meskipun dengan suara yang pas-pasan cenderung buruk. Rifki tak henti-hentinya menyanyikan lagu itu. Lagu yang cukup romantis jika dinyanyikan di depan Dara. Ia sudah ada niatan untuk menyanyikan lagu itu nantinya jika bertemu dengan gadisnya.


"Bu, kalau aku nanti nyanyi lagu itu di depan Dara pasti romantis, kan, ya Bu? Dia pasti tersipu, wajahnya memerah, terus bilang gini, oh Kak Rifki so sweet."

__ADS_1


Plak!


Sudah lama rasanya Bu Rini tidak mengeplak kepala Rifki. Dan hari ini beliau bisa melakukannya kembali.


__ADS_2