Pamit

Pamit
45. Jaka Patah Hati


__ADS_3

Bu Lasmi yang sudah membaik kini kembali ke sel. Beliau selalu mengingat dan menancapkan ucapan Galuh di dalam kepalanya. Dirinya harus selalu sehat dan senantiasa menjaga kesehatan agar setiap saat Anang datang beliau dalam keadaan sehat.


Sejak saat itulah, bu Lasmi berusaha mengontrol pemikiran dan emosinya. Meskipun beliau tak betah dan badan yang semakin kurus, beliau berusaha keras untuk membuat dirinya sendiri bahagia dan menanamkan dalam pikiran bahwa Anang akan segera datang.


"Bagaimana? Apa kamu sudah ketemu alamat Masmu? Sudah ketemu sama Masmu?" Entah sudah ke berapa kali Bu Lasmi selalu menanyakan hal yang sama saat Galuh datang.


"Belum. Entahlah, Bu. Nomer Mas Galuh bisa dihubungi tapi jarang diangkat. Mungkin masih sibuk dengan kerjaannya, Bu."


"Coba tanya Fadil. Barangkali dia tahu," desak bu Lasmi.


"Nggak, Mas Anang memang masih sering transfer uang. Tapi tidak ketemu sama Fadil. Ibu tenang aja, aku akan usahakan menemukan Mas Anang untuk ibu." Galuh menggenggam tangan sangat Ibu berharap dengan sentuhan di tangannya, wanita yang sudah melahirkannya itu bisa sedikit tenang.


Setelah merasakan cukup di sana, Galuh izin untuk kembali pulang. Sudah satu bulan ini ia harus mondar-mandir ke kota dan ke sel ibunya. Meskipun hanya hari libur ia berkunjung, hal itu cukup menguras waktu dan energinya.


Merasa perutnya keroncongan, Galuh membelokkan mobilnya di sebuah rumah makan yang cukup besar berkonsep lesehan. Tak banyak yang mengisi meja di rumah makan tersebut.


Galuh duduk di dekat pintu masuk begitu selesai memesan makanan. Saat sedang menunggu pesanannya datang, samar-samar ia mendengar obrolan orang di belakangnya. Ia seperti mengenal suaranya. Bukan-bukan, bukan mengenal, tapi sangat familiar.


Ingin meyakinkan pendengarannya, Galuh memberanikan diri menghampiri dua orang yang sedang duduk di belakangnya. Pria itu membelakangi tempat duduk Galuh, pria yang sangat ia kenal perawakannya.


"Mas Anang," panggil Galuh lirih.


Pria itu menoleh, pandangan mereka bertemu beberapa saat. Keheningan mendominasi beberapa detik hingga akhirnya suara Galuh kembali terdengar.


"Ya ampun, Mas kamu ke mana aja? Aku bingung selama ini harus cari kamu ke mana, aku cari ke tempat kerja kamu pun katanya kamu udah nggak kerja di sana." Galuh tanpa permisi duduk bergabung dengan Anang dan Rahma. Pria itu mencerca banyak pertanyaan pada sang Kakak.

__ADS_1


Anang yang masih syok hanya diam dan terlihat kikuk.


Sementara Rahma bingung dengan situasi ini hanya menatap Galuh dan Anang bergantian.


*


"Yu, kita kenal sudah lama. Dari kecil kita bareng-bareng, kita kenal dan tahu baik bagaimana karakter dan kepribadian kita. Aku rasa kebersamaan kita yang sudah belasan tahun sudah cukup untuk saling mengerti dan memahami kekurangan masing-masing. Di malam ini, dengan disaksikan jutaan penduduk langit, aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku dan ketiga anakmu menjadi anakku juga. Aku ingin menghabiskan sisa waktu dan hidupku untuk dirimu dan anak-anak kita. Bersediakah kamu menerima pinanganku?" Rifki berlutut dengan menyodorkan kotak cincin di hadapan Ayu.


Disebuah danau di mana Jaka pernah mengajak Ayu untuk menepikan diri dari masalah. Danau yang pertama kali Ayu datangi gelap dan tak ada apapun yang menghiasi, kini nampak berbeda. Semua nampak terang, banyak lampu warna-warni, bunga mawar merah dan putih yang membentuk hati, serta lilin yang berjejer di setiap sisi.


"Aku tidak punya alasan untuk menolak. Dari dulu hingga sekarang kamu tetap yang terbaik dan terindah. Kamu yang selalu mengerti aku dan memahamiku, tidak ada yang bisa melakukan itu lebih baik darimu. Jadi, dengan senang hati aku bersedia untuk menjadi makmummu." Ayu berkaca-kaca, mulutnya bergetar saat mengucapkan kata demi kata.


Rifki lalu mengambil cincin dari kotak berwarna merah itu dan memasangkannya di jari manis Ayu. Rona kebahagiaan nampak memancar dari wajah keduanya.


Rifki berdiri dan memeluk Ayu dengan erat, penuh kasih sayang dan nampak hangat. Ayu juga tampak nyaman di dekapan tubuh kekar milik Rifki.


Mata Jaka memanas, hatinya terasa tersayat, jiwa raganya terasa dipaksa untuk terpisah. Dengan perlahan namun pasti, Jaka memundurkan langkahnya menjauh dari sana. Sudah tak ada lagi kesempatan bagi Jaka untuk sekedar berharap. Semuanya hancur tak bersisa.


Jaka terus berjalan entah kemana kakinya akan membawanya. Rasanya kemanapun ia pergi tidak berpengaruh apapun terhadap dunianya. Dunia yang sudah ia letakkan di sosok janda anak tiga yang mencuri hatinya kini diambil oaaksa oleh teman masa kecilnya.


Dengan kasar Jaka menendang kerikil yang berada di pinggir jalan. Sialnya kerikil itu mengenai anjing yang sedang berada tak jauh dari sana. Entah anjing milik siapa Jaka tak tahu dan tak mau tahu, yang terpenting sekarang adalah lari sekencang mungkin karena anjing itu sudah bersiap akan memangsanya.


"Oh tidak, bagaimana ini. Tolong! Siapapun yang dengar aku tolong!" Jaka berteriak sekuat mungkin.


Merasa tak bisa berlari dengan cepat, Jaka melepas kedua sandal dan dengan bodohnya ia lempar ke belakang yang sudah jelas ada anjing yang sedang marah mengejarnya.

__ADS_1


"Mampus! Makin kenceng larinya," gerutu Jaka dengan nafas yang sudah di ujung tenggorokan.


Merasa lelah berlari akhirnya Jaka memilih untuk memanjat pohon saja. Dengan sisa tenaga yang ada ia berusaha memanjat dengan cepat. Untunglah waktu kecil Jaka suka mengambil buah milik tetangga sehingga ia dengan mudah memanjat pohon apapun tanpa halangan.


"Akhirnya." Jaka bernafas lega setelah anjing itu benar-benar pergi.


Merasakan sudah aman ia berniat turun, rupanya kesialan Jaka belum usai sampai di sini. Entah apa yang membuat pohon itu tiba-tiba terasa licin dan


Bruaak


"Aduh," pekik Jaka memegangi punggungnya.


"Hahaha. Ngapain, sih Bang? Aku pikir Ghiani atau Ghina, loh tadi yang jatuh. Eh ternyata Bapaknya." Dara melanjutkan tawa seraya kembali ke luar kamar sang kakak.


"Woy, tolongin Ra," pinta Jaka kesal.


"Ogah, laki berdiri sendiri, lah."


Jaka bangkit dengan pelan dan menahan sakit di punggungnya. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi sampai ia bisa jatuh dari ranjang.


"Eh, bukannya tadi aku di..." Jaka melihat sekeliling. Sedetik kemudian ia sadar bahwa apa yang dialaminya tadi hanyalah mimpi.


"Jadi tadi hanya mimpi? Syukurlah. Tapi pertanda apa? Apa Rifki akan benar-benar melamar Ayu? Atau ini sebuah petunjuk untukku agar mundur teratur? Atau justru isyarat kalau aku harus cepat mengungkapkan perasaan aku sebelum keduluan Rifki?" Jaka bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Ah sudahlah. Biarkan semua berjalan semestinya. Biarkan saja seperti air yang mengalir mengikuti arus." Jaka bangkit dari ranjang menyambar handuk lalu pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


"Tapi, kan air tidak selamanya mengalir di tempat yang bersih. Ah makin kacau hidupku perkara cinta." Jaka membanting pintu kamar mandi karena kesal pada dirinya sendiri.


__ADS_2