Pamit

Pamit
47. Bucin


__ADS_3

Jaka masih menampilkan wajah kesalnya begitu sampai rumah. Hal itu mengundang tanya bu Lin dan Dara. Kedua wanita itu saling tatap seakan menanyakan hal yang sama.


"Kenapa mukamu begitu, Bang?"


"Bu, apa aku bilang aja kalau aku suka sama Ayu, ya Bu? Aku takut kalau mimpi aku jadi kenyataan." Jaka tak menghiraukan pertanyaan Dara. Ia justru melempar pertanyaan pada Ibunya.


"Mimpi yang Rifki ngelamar Ayu itu? Udah di bilang itu hanya bunga tidur saja. Nggak perlu kamu pikirkan. Tapi kalau kamu merasa sudah cocok dengan Ayu, ya utarakan saja. Kalau Ibu terserah di kamu, kan kamu yang jalani. Kenapa kamu tiba-tiba kepikiran mimpi itu lagi?"


"Aku tadi ketemu Rifki lagi di rumah Ayu. Dia mau ajak Ayu dan anak-anaknya renang. Eh bu, bagaimana kalau kita ikut mereka renang. Kita susul mereka," ujar Jaka dengan semangat yang di puncak kepala.


"Emang kamu tahu di mana mereka renang?"


"Ya palingan juga pemandian deket sini aja. Udah buruan siap-siap semuanya. Kita renang sama-sama." Jaka berteriak semangat dan menggendong kedua anaknya.


"Abang nggak narik? Demi mbak Ayu rela libur? Perasaan dulu aku minta libur nggak pernah mau, lebih me... "


"Berisik, buruan siap-siap. Ibu juga ikut, sekali-kali kita refresing. Ra, siapain baju Abang sama si kembar juga. Abang tunggu di depan," titah Jaka yang sudah seperti majikan.


"Lagaknya sudah seperti majikan. Ra, siapin ini, siapin itu." Dara mengulangi apa yang diucapkan Jaka dengan mulut yang dibuat sejelek mungkin.


Sementara itu, Rifki dan yang lain yang sudah sampai di pemandian lebih dulu. Rifki ikut renang bersama Alif sekalian mengawasinya selama dalam kolam. Ia mengajak serta Agil untuk ikut bersamanya. Kedekatakan mereka sudah seperti anak dan ayah. Pada dasarnya anak-anak Ayu memang mudah akrab dan dekat dengan siapapun seperti ibunya. Dengan Jaka pun mereka juga dekat dan akrab.


Merasa kedua anaknya aman dengan Rifki, Ayu mengajak Anin ke genangan air yang kedalamannya hanya sebatas mata kaki. Area itu memang di peruntukan bayi kurang dari dua tahun. Banyak anak kecil yang sedang bermain air di sana.

__ADS_1


Anin tak kalah bahagia dengan kedua Kakaknya. Ia begitu senang diletakkan di dalam air dengan banyak mainan yang tersedia di sana.


"Mbak Ayuuuuu!"


Teriakan dari seseorang membuat Ayu terlonjak kaget. Melihat siapa yang datang senyum Ayu mengembang sempurna.


"Kalian, kok bisa di sini juga. Tahu gitu barengan aja tadi, kan?"


"Dadakan aja tadi, si Jaka mau ajak anak-anak main," sahut bu Lin.


Akhirnya bu Lin dan kedua cucunya bergabung dengan Ayu dan Anin. Mereka bergosip seperti yang biasa mereka lakukan saat sedang berkumpul. Sementara Dara sudah menyusul Alif di kolam anak-anak. Entahlah, ia juga tak tahu kenapa menyusul Alif, bukannya berenang sendiri ke kolam orang dewasa. Sedangkan Jaka, malah ikut Ibunya duduk bersama Ayu dan anak bayi lainnya. Memandangi Ayu dengan mata berbinar seraya tangan kanan menopang dagu.


"Kamu? Kok bisa di sini?" Rifki yang terkejut akan kedatangan Dara refleks bertanya.


"Ini, kan tempat umum siapapun boleh ke sini," sahut Dara tanpa dosa.


Dara menampilkan wajah berpikir, "kasih tahu nggak, ya? Sudahlah, kenapa, sih memang kalau kita ketemu di sini. Masalah banget kayaknya? Tujuan kita ke sini itu sama. Sama-sama mendinginkan otak. Hai Alif, kita lomba ke sana, siapa yang kalah harus traktir mie." Dara mengacuhkan Rifki lalu berjalan ke arah Alif.


Rifki hanya memperhatikan gerak gerik Dara, wanita yang bertubuh mungil dan manis itu tambah terlihat seksi saat sekujur tubuhnya basah oleh air. Melihat gelak tawa yang tercipta dari mulutnya menambah kesan manis di wajahnya.


Melihat keseruan yang diciptakan oleh Alif dan Dara membuat Rifki tergelitik untuk ikut begabung. Karena menjaga Agil dan tak mungkin ikut lomba berenang, pria itu mengajaknya untuk naik perosotan yang cukup panjang. Mereka naik bersama dan berteriak memekikkan telinga.


Sementara itu, Jaka masih berada di posisi yang sama. Bu Lin hanya menahan tawa melihat tingkah anaknya yang sedang merasa di mabuk cinta tapi takut mengatakan. Bu Lin yang mengerti Jaka butuh waktu untuk pendekatan akhirnya memilih pergi ke saung yang tersedia di sana.

__ADS_1


"Rame, ya. Udah berapa lama kamu nggak liburan, Mas? Kayaknya kita sama, ya. Terlalu sibuk cari uang sampai lupa cari kebahagiaan yang lainĀ  untuk diri sendiri dan anak-anak. Ini aja kalau nggak Alif yang ngajak juga aku nggak akan ke sini." Ayu memulai pembicaraan setelah Bu Lin benar-benar pergi.


"Aku, mah nggak pernah liburan, Yu. Dari belum punya anak sampai sekarang juga nggak pernah." Jaka terkekeh dengan jawabannya sendiri. "Oh, ya hubungan kamu sama Rifki sejauh apa, sih?" tanyanya penasaran. Lebih tepatnya ia ingin tahu bagaimana perasaan Ayu terhadap pria itu.


"Sejauh apa? Hanya sejauh kakak dan adik aja. Kita memang seusia, tapi dia udah kayak kakak aku sendiri. Selama ini dia mengayomi aku banget. Hanya itu, kenapa memang?"


"Tanya aja, sih. Banyak orang yang bilang kalau laki-laki dan perempuan itu nggak bisa bersahabat, sudah menjadi hal mutlak jika salah satu di antara mereka ada yang menaruh rasa."


"Nggak berlaku buat aku."


"Tapi bukan berarti nggak berlaku buat Rifki, kan?"


Ayu menoleh pada Jaka, mengamati wajahnya entah apa yang ia cari.


"Sok tahu, aku bukan tipenya dia. Rifki tuh nyari perempuan yang anggun, lemah lembut, penurut, yang gitu-gitu. Lagian kenapa kamu tiba-tiba bahas ini?"


"Nggak apa-apa, sih hanya ingin tahu sejauh apa kalian itu aja. Kalau kamu sendiri, kriteria laki-laki yang mau kamu jadikan suami lagi kayak gimana?"


Jangan tanyakan kabar jantung Jaka yang terasa ingin melompat dan meledak dari tempatnya. Hanya bertanya itu saja debarannya sudah tak karuan. Matanya masih fokus menatap mimik wajah Ayu yang nampak berpikir.


"Aku sebenarnya tidak pernah mengkriteriakan orang, Mas. Yang terpenting aku nyaman sama dia, itu sudah lebih dari cukup. Tapi setelah pernah menikah dan gagal, aku menyadari bahwa menjalani bahtera rumah tangga tak hanya mengandalkan rasa nyaman dan cinta. Tapi butuh saling. Saling mengerti, saling memahami, saling memberi, saling berjuang dan saling-saling yang lain."


"Apa yang akan kamu lakukan jika ada seseorang yang mengatakan bahwa dia mencintaimu?"

__ADS_1


"Aku akan menolaknya jika dia hanya mencintaiku tanpa mencintai anak-anakku."


Mereka tak sadar, tak jauh dari mereka duduk sepasang mata milik Rikfi sejak tadi menatap mereka mereka dengan tatapan dan ekspresi wajah yang datar, lebih tepatnya ekspresi wajah yang sulit digambarkan dengan kata.


__ADS_2