Pamit

Pamit
109. Kekhawatiran Dara


__ADS_3

"Teruntuk Ibu Lin dan juga sahabat saya, Jaka. Maksud kedatangan saya bersama dengan beberapa keluarga saya adalah bermaksud untuk meminta izin pada kalian, saya ingin Dara Mulia, perempuan yang kini duduk di hadapan saya menjadi teman hidup saya. Saya meminta salah satu anggota keluarga kalian untuk menjadi pendamping saya dikala bahagia, susah, dan ada di samping saya dalam keadaan apapun. Hanya itu yang bisa saya sampaikan, akan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri jika saya bisa menjadi anggota keluarga kalian yang baru." Rifki lega karena bisa mengatakan kalimat sepanjang itu meskipun menurutnya kata-kata itu begitu buruk.


"Kami menyerahkan semua keputusan pada Dara. Jawablah, Nak!" ujar Bu Lin Dengan tenang.


"Tidak ada alasan bagiku untuk menolak pria di depanku ini. Tak ada satupun pria yang mengerti aku sebaik dia. Dan jawabannya adalah mulai hari ini dan seterusnya aku akan menemanimu dalam setiap langkah dan menjadi teman terbaik dalam hal dan keadaan apapun."


Semua orang yang berada di sana melebarkan senyumnya, menunjukkan deretan gigi yang masih berjajar dengan rapi. Mereka semua bahagia untuk Rifki dan Dara.


Acara berlanjut dengan pertukaran cincin. Jika biasanya yang bertindak kekanak-kanakan adalah Dara, kini justru gadis itu terlihat lebih dewasa dari kesehariannya. Seandainya saja jika Dara bisa bersikap begini setiap hari, mungkin saja kehidupan Rifki akan jauh lebih tenang. Ah, tidak-tidak apa adanya Dara adalah suatu kebahagiaan untuk Rifki.


Merasa cukup dengan acara lamaran itu keluarga Rifki pamit undur diri dari hadapan mereka. Seluruh keluarga Rifki pulang dengan bahagia. Pasalnya pernikahan Rifki adalah pernikahan yang paling mereka semua tunggu.


Di saat seluruh keluarganya sudah bersiap di halaman untuk pulang, Rifki masih berjibaku dengan Dara di dalam, entah apa yang mereka obrolkan.


"Rif ayo pulang!" teriak sang kakak.


"Iya, Mbak bentar doang ada yang ketinggalan."


Rifki kembali terfokus dengan Dara.


"Aku ada di satu lagi hadiah untuk kamu, ini hadian ulang tahun. Aku udah lama menyiapkan ini. Dibukanya nanti aja pas di kamar, ya. Aku pulang, I love you." Rifki mengelus pelan puncak kepala Dara sebelum akhirnya melangkah pergi dari rumahnya. Meninggalkan darah yang tersipu malu dengan wajah yang bersemu merah.

__ADS_1


Rifki setiap hari memang selalu bersikap mani, bersikap romantis, mesra dan terlihat sangat menyayanginya, tapi baru kali ini di sepanjang hidup mereka, Dara mendengar Rifki mengucapkan i love you.


Gadis itu pun segera masuk kamar, ia sudah tak sabar ingin membuka kotak kecil yang terbungkus rapi oleh kertas kado berwarna pink dan diberi pita berwarna biru.


Sebelum membuka kotak kecil itu, Dara terlebih dahulu membersihkan wajahnya dari make up dan juga mengganti pakaian agar ia bisa leluasa melompat-lompat saat melihat benda di balik kotak itu. Ia tidak bisa menebak apa isinya, tapi yang jelas sesuatu itu pasti akan membuat Dara tersenyum girang, karena ia hafal betul dengan calon suaminya itu. Bukan Rifki namanya jika ia tidak bisa romantis.


Dara menghapus make up nya dengan cepat-cepat dan mengganti pakaian pun juga dengan tergesa-gesa. Ia melempar dirinya duduk di tempat tidur. Mulai merobek dengan tak sabar kertas kado yang berwarna cantik itu.


Mata Dara membola, mulutnya pun terbuka dengan lebar. Tangannya menjereng kado dari Rifki. Sebuah kalung emas yang berliontin bentuk love. Ia membuka liontin yang berbentuk hati itu. Ia begitu bahagia melihat apa yang ada di depan matanya. Saking bahagianya, matanya sampai berkaca-kaca. Bagaimana tidak? Liontin yang berbentuk hati itu memperlihatkan foto dirinya dan juga Rifki.


Gadis itu merebahkan dirinya dan menggenggam kalung itu dan mendekapnya dengan erat. Memejamkan mata dan tak sabar membayangkan kehidupannya yang indah setelah menikah. Meskipun ia tahu setelah pernikahan bukan keindahan saja yang akan ia jalani, pasti akan ada kedukaan juga tapi ia tak mau memikirkan itu sekarang.


Ponselnya yang berada di atas nakas tiba-tiba saja bergetar panjang. Matanya berpikir begitu melihat nama yang menelponnya. Ia buru-buru mengenakan hijab rumahannya dan menerima panggilan tersebut dengan suka cita.


"Waalaikumsalam. Kakak udah sampai rumah?"


"Udah, baru aja sampai terus langsung telepon kamu. Udah buka kadonya?"


"Udah, aku suka. Makasih, ya."


"Sama-sama. Jangan dipakai dulu, ya aku maunya aku yang pakaikan. Tahan dulu tiga bulan lagi. Tiga bulan lagi kita menikah dan bisa menyatukan apapun yang ada di diri kita, aku nggak sabar tahu."

__ADS_1


"Lah, kenapa di kasih sekarang kalau makainya nunggu nikah?" protes Dara.


"Ya, kan memang itu hadiah ulang tahun. Kalau nanti pas nikah, mau aku kasih hadiah lagi, ya aku kasih. Sayangku ini minta apa? Selain jajan, ya. Selama kita kenal jajan doang yang kamu minta. Aku merasa udah kayak punya anak aja."


Anak? Entah kenapa saat mendengar kata anak membuat Dara sedikit ngilu. Masih segar diingatan gadis itu, betapa sakitnya malam panjang yang ia lewati dengan rintihan melas. Ia tahu dan paham betul, akibat dari perbuatan pria bejat malam itu yang paling fatal adalah ia bisa saja hamil. Untunglah, Tuhan tak mengujinya kembali kala itu.


Mendengar kata anak membuat ingatannya kembali pada sakit yang ia rasa. Apakah jika Rifki yang melakukannya akan terasa tidak sakit? Astaga, Dara seketika berkeringat dingin mengingat rasa sakit itu.


"Kenapa, Dek? Kenapa kamu mendadak pucat? Ada apa?"


"Ha? Nggak, kok, Kak. Nggak apa-apa. aku sedikit gerah aja tiba-tiba. Jangan cemas."


Meskipun ada sedikit keraguan dari jawaban Dara, Rifki tak mau mendesak dan memusingkan apa yang ia lihat. Mudah-mudahan memang kekasihnya itu sedang kegerahan, batin pria itu.


***


"Aku lega, Mas. Akhirnya Dara bisa sampai ke titik ini. Perjuangannya panjang banget. Lebih panjang dari kita." Ayu meletakkan kepalanya di pundak sang suami. Tatapannya menerawang jauh ke dinding putih kamarnya.


"Iya, tapi aku bisa tenang, sih kalau lepas Dara ke Rifki. Dari semua kejadian inilah yang buat aku yakin lepas Dara buat Rifki. Aku yakin, cinta Rifki ke Dara sama kayak cinta aku ke kamu." Jakan mengecup singkat kening istrinya.


"Masa? Tapi kamu marah-marahin aku terus pas Dara masih trauma." Ayu cemberut jika mengingat momen itu.

__ADS_1


"Itu, kan hal yang biasa, Sayang. Apa marahku menyakitimu? Maafkan aku kalau begitu, ya." Jaka mengecup punggung tangan Ayu.


Setelah itu tangannya mengarahkan kepala Ayu untuk menghadapnya. Sedikit memiringkan kepala untuk mencapai bibir mungil Ayu. Begitu bibir mereka saling menyapa, Jaka mendorong tengkuk Ayu agar lebih mendekat. Sesapan demi sesapan itu selalu berakhir dengan kulit mereka yang menyatu.


__ADS_2