
"Sayang, aku mau lagi. Jangan beranjak dari sini." Jaka mengeratkan pelukanya.
Sepasang pengantin baru itu masih bersembunyi di bawah selimut. Masih menikmati penyatuan tubuh yang entah kapan berakhir. Mareka merasa baru saja memejamkan mata, tapi terdengar adzan subuh yang membuat mereka kembali terbangun.
"Mas, aku harus bangun untuk membuatkan anak-anak sarapan." Ayu berusaha melepas tangan Jaka yang masih nangkring di perutnya.
"Tunggulah sebentar, Sayang. Biarkan Ibu nanti yang masak untuk mereka. Lagipula si kembar sama Anin di rumah Ibu. Nanti kamu suruh si Alif sama Agil makan di sana juga," jawab Jaka masih memejamkan mata seraya mengeratkan pelukan.
"Kamu jangan merepotkan Ibu terus, ah."
Ayu berusaha duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Mas, apa kamu ingin anak lagi?" tanya Ayu tiba-tiba.
Jaka mendongak, lalu ia meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya. Menenggelamkan kepalanya di perut dan melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Ayu. Jaka terlihat manja setelah menjadi suaminya. Sungguh di luar dugaan Ayu.
"Anak kita udah banyak. Aku nggak nuntut anak lagi ke kamu. Tapi kalau Allah ngasih lagi, ya masa kita nolak. Jalani aja, di kasih Alhamdulillah, nggak pun nggak masalah juga."
Ayu mengangguk tersenyum.
"Ya udah, gih minggir dulu. Aku mau mandi, udah waktunya sholat."
Mendengar kata mandi membuat Jaka duduk seketika. "Ikut, barengan sekalian biar cepat," katanya semangat.
"Nggak selesai-selesai kalau barengan, Mas. Udah sendiri-sendiri aja, man... Au, mas turunin, ah. Nanti Alif bangun gimana." Ayu meronta-ronta ketika Jaka membawanya ke gendongan. Jaka tak menggubrisnya, ia justru terus mengulum senyum seraya berjalan menuju kamar mandi.
***
"Udah, pesan ojek sana, Abangmu pasti sekarang masih sibuk sama Mbakmu," saran Bu Lin yang sejak tadi pusing melihat Dara mondar-mandir di teras.
Sudah sepuluh menit Dara mencoba menghubungi sang Kakak karena ban motor yang biasa ia tumpangi mengalami kebocoran. Ia bermaksud untuk meminta Jaka mengantarnya.
Disaat kebingungan mendominasi perasaan Dara, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia yang sejak tadi menelepon Kakaknya akhirnya tanpa pikir panjang dan melihat dengan seksama si penelepon, menggeser tombol hijau dengan cepat.
__ADS_1
"Abang, ih di teleponin dari tadi nggak diangkat. Ban motor bocor, nih antar aku ngampus. Lagian ngapain aja, sih udah siang juga. Masih banyak hari untuk bercocok tanam, buruan antar aku ke kampus, kagak usah mandi! Aku susul ke sana kalau lima menit belum ke sini. Buru..."
"Bisa berhenti nggak, sebelum angkat telepon, tuh baca dulu siapa yang telepon. Bisa baca, kan?" Potong Rifki yang merasakan panas di telinga karena mendapat omelan Dara yang salah alamat.
Dara seketika menganga dan menjauhkan ponselnya dari telinga. Matanya berkedip beberapa kali saat ia menatap layar ponsel di tangan kanannya berharap ia salah baca. Hingga akhir ia sudahi rasa keterkejutannya dan
"Maaf, Kak. Aku lagi panik, jadi..."
"Apa? Pagi-pagi udah ngomel aja. Lama-lama kurus nanti yang jadi suami kamu. Hobi kok ngomel," gerutu Rifki kesal.
"Lagian kamu ngapain juga telepon aku pagi-pagi? Kurang kerjaan aja," omel Dara semakin kesal.
"Ya terserah aku lah, hape punyaku, pulsa punyaku, yang beli pulsa juga aku. Terserah aku mau telepon siapa aja. Udah deh, dari pada ngomel duduk diam di rumah. Tunggu aku jemput, aku antar ke kampus. Perkara berangkat ke kampus aja ribet banget." Rifki memutus sambungan telepon secara sepihak dan bersiap akan berangkat mengantar Dara sebelum berangkat kerja.
Dara bukannya tenang dengan ucapan Rifki, ia justru semakin panik dan menghubungi Rifki kembali, namun tak ada jawaban. Beberapa kali Dara mengirim pesan pun tak terbaca olehnya.
"Aduh, gimana ini? Bisa di gorok aku kalau di jemput, malah di kira pacaran sama perjaka tua itu. Habis sudah riwayat ku kalau Abang dan Ibu tahu. Nggak-nggak, ayo Dara mikir, mikir. Astaghfirullah, kenapa otakku seperti tidak ada di tempatnya ketika sedang genting begini?" Dara terus bergumam seraya mondar-mandir, tak lupa ciri khasnya ketika sedang panik. Menggigit ujung kukunya yang justru sebenarnya akan membuatnya lebih panik karena kuku panjangnya yang rusak.
Setelah beberapa saat berpikir akhirnya muncul ide dari kepalanya. Dara pun akhirnya berlari ke dalam rumah dan izin pada Ibunya untuk berangkat ke kampus bersama dengan temannya. Sempat terjadi perdebatan dan tanya jawab yang membuat Dara semakin banyak menciptakan kebohongan.
Dengan nafas yang seakan tersisa di tenggorokan saja, akhirnya Dara sampai di jalan raya. Mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri memastikan apakah Rifki sudah dekat atau belum.
Di bawah terik matahari yang masih menghangatkan tubuh, Dara mengibas ngibaskan tangannya karena merasa gerah sejak tadi berlarian. Beberapa kali ia mengelap dahinya yang berpeluh. Melirik jam tangannya lalu kembali mengarahkan pandangan pada jalanan. Ia menghentakkan kakinya kesal karena sudah menunggu sedikit lama.
"Ngapain kamu di sini?" tanya seorang pengendara motor yang familiar di mata Dara.
Lama Dara tak menjawab membuat Rifki melepas helm yang menutupi seluruh kepalanya.
"Kok, bawa motor, sih Kak?" protes Dara yang membuat Rifki kaget.
"Emang kenapa? Kalau bawa motor cepat sampai, nggak terjebak macet, bisa sat set sat set, butuh cepat sampai apa kagak?" tukas Rifki ketus.
"Ya, kan masak kita duduk dempetan begini. Bukan mahram."
__ADS_1
Mendegar jawaban Dara membuat Rifki sontak tertawa. Gadis itu membicarakan mahram ketika dirinya saja sudah disentuh fisiknya beberapa kali.
"Ngapain ketawa?" tanya Dara galak.
"Kamu lucu. Kamu aja udah aku pegang beberapa kali baru bahas mahram. Gimana, sih? Ngatain aku pelupa kamu sendiri sama." Rifki melanjutkan tawanya.
Hal berbeda di tunjukkan oleh Dara. Wajahnya memerah lantaran menahan malu. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena terlihat bodoh di depan pria yang selalu ia olok perjaka tua.
"Kak, udah ih," rengek Dara manja yang melihat Rifki tak berhenti tertawa.
Rifki seketika menghentikan tawa dan mengatupkan mulutnya. Ia sungguh suka dan gemas melihat tingkah Dara yang manja. Ah ingin sekali Rifki menelan Dara saat ini.
"Iya, ya udah naik. Nanti terlambat," ujar Rifki yang juga mengubah ekspresi dan nada bicaranya menjadi lembut.
Mereka memang aneh, sebentar marah, sebentar akur, sebentar mesra dan sebentar lagi bertengkar. Yang lebih anehnya lagi adalah otornya yang membuat karakter mereka menjadi aneh begini.
Dengan ragu Dara menerima helm yang di sodorkan Rifki. Ia diam, memikirkan bagaimana cara naik di motor besar seperti ini.
"Pegang pundak kalau bingung gimana caranya naik," sahut Rifki yang seakan mengerti kebingungan Dara. "Nggak udah sungkan, lah kayak sama siapa aja," imbuhnya.
Dengan gerakan ragu pula Dara melakukan apa yang dikatakan Rifki. Lalu dengan cepat naik ke motor.
"Pegangan!" titah Rifki.
Tanpa menjawab kedua tangan Dara memegang pundak Rifki.
"Aku tukang ojek emang? Di sini megangnya." Tangan Rifki menuntun tangan Dara untuk melingkar di pinggangnya.
"Nggak mau, ah," tolak Dara cepat seraya menarik tangannya.
"Pegangan Sayang. Nanti jatuh," ucap Rifki lembut.
"Jangan panggil sayang," protes Dara dengan keras.
__ADS_1
"Ya udah pegangan kalau nggak mau di panggil sayang. Kamu ini buang-buang waktu aja. Nggak usah debat setiap waktu bisa nggak? Coba kalau nggak debat udah sampai ka..."
Ucapan Rifki terhenti karena tiba-tiba saja tangan Dara sudah melingkar di pinggangnya. Mulutnya mengatup seketika, entah kenapa ia merasa jadi salah tingkah dalam diam.