
POV AYU
Sudah beberapa hari ini aku memikirkan usaha apa yang cocok untukku, hitung-hitung untuk menambah pundi-pundi rupiah di rekeningku. Alhamdulillah, aku masih aktif memesan banyak barang milik Risa. Bahkan semakin ke sini semakin lancar dan jangkuan jarak kirim sampai keluar kota.
Sedang asyik melamun, datang sebuah motor yang sangat familiar bagiku. Ah dia lagi, si laki-laki yang selalu mengajak ribut tapi peduli padaku. Siapa lagi kali bukan Rifki?
"Minta kopi," pintanya tanpa dosa sembari duduk di sampingku.
Aku hanya memutar bola mataku malas, jarang ke sini, tapi sekali ke sini membuat aku ingin menjitak kepalanya.
"Apa, sih. Buruan buatin kopi, ah. Gue tamu. Mana ada tamu di sambut dengan ekspresi begitu," sungutnya sedikit kesal yang justru membuat aku gemas dan ingin mengunyahnya.
"Kamu kan dari rumah, kenapa nggak buat di rumah, sih. Sebelum berangkat, ngopi dulu di rumah sendiri. Udah nggak bayar, ngrepotin lagi."
"Anak-anak lu mana?"
Aku berdiri dan menghentakkan kaki kesal. Lebih baik aku buatkan dia kopi agar segera pergi dari sini. Dia datang selalu dengan permintaan yang membuatku kesal. Tapi aku sayang padanya, sayang sebagai kakak tentunya. Dia selalu memperlakukan aku dengan kasih sayang meskipun membuatku kesal. Terlebih pada anak-anak ku.
Aku jadi ingat, waktu kami masih remaja. Dia selalu mengatakan akan menjadi sosok kakak untukku, akan selalu menjaga dan melindungiku meski sudah menikah. Dia harus tahu dan kenal dekat juga dengan calon suamiku nanti.
Tapi nyatanya, dia malah mundur perlahan saat aku dan Anang menjalin hubungan.
Begitu sampai di teras, aku melihat Agil dan Anin yang sudah bermain dengan Rifki. Mereka berlarian saling mengejar di halaman samping rumah. Jika ada yang melihat, mungkin mereka akan mengira bahwa kami adalah kelurga bahagia.
"Rif, ini kopinya."
Sejenak mereka berhenti karena teriakan dariku. Dengan berduyun-duyun mereka bertiga berjalan menuju teras dengan nafas yang ngos-ngosan. Aku lalu membawa anak-anak ke dalam pangkuanku.
"Kemarin gue dateng ke rumah Anang," kata Rifki membuka obrolan seraya meniup-niup pelan kopi yang berada dalam cangkirnya.
__ADS_1
"Ngapain?"
"Nagih utang lu lah. Sebenarnya dia belum telat bayar, tapi gue ke sana aja, sekalian mau lihat keadaannya setelah kehilangan lu."
"Terus?"
"Kok terus? Masih penasaran lu sama kondisinya?"
"Lah, kan kamu yang mulai cerita, gimana, sih? Kalau kamu buka obrolan tentang dia kan berarti ada yang kamu ceritakan," sungut ku dengan kesal.
"Ya, kan kalau lu udah sakit hati sama dia nggak parlu tahu juga keadaan dia. Nggak usah ditanggapi ya nggak apa-apa omongan gue," jawabnya santai seraya menyeruput kopinya.
"Ya terus ngapain kamu bilang ke aku soal Anang?"
"Atututu tutu. Marah, ngambek, kesel." Rifki mencubit gemas pipi ku yang ku rasa mulai tembem. Sejak pindah ke uang baru, berat badan ku naik cukup banyak. Aku rasa aku terlalu bahagia dengan kesendirian ini.
"Ya udah gue cerita. Gue kasian sebenarnya lihat keadaan dia yang sekarang. Pas gue ke rumahnya, dia baru pulang kerja, tapi berantakan banget. Ya maksudnya mukanya kusut, kurus, rambut yang tak terurus, beda banget pas sama lu. Dia kaget pas gue tagih hutang dari pegadaian, tapi dia nggak marah sama lu. Ya, meskipun ibunya yang ngomel nggak jelas. Terus beberapa hari kemudian, dia datengin gue buat nyicil itu utang. Pucet mukanya, kayak sakit gitu. Pas gue tanya, jawabannya nggak apa-apa cuma kecapean. Jujur gue kasihan, tapi kalau inget perbuatan dia juga gedek, gue. Maksud gue cerita ini ke lu, biar lu nggak kaget besok ketemu dia pas mediasi. Gue khawatir kalau lu lihat keadaan dia, lu kasihan, terus lu balik sama dia. Lu kan gitu orangnya, plin plan." Selalu saja begitu, di selalu mengejekku di akhir kalimat.
"Emang lu pernah selingkuh? Pernah merokok? Kenapa kok lu tahu dua hal itu nikmat. Gue yang laki aja nggak tahu rasanya selangkuh dan rokok."
Aku menatapnya dengan tatapan kesal. Kebiasaan yang sejak kecil tak bisa hilang, dan anehnya sejak dulu aku selalu curhat padanya. Padahal aku tahu reaksi yang dia berikan tidak seserius isi curhatku.
Plak!
Aku memukul lengannya kesal.
"Apa, sih?" tanyanya terkekeh.
"Kamu nggak harus ke neraka dulu untuk tahu gimana rasanya berada di neraka," sungutku kesal. "Udah kan ngopinya? Udah habis sama berangkat kerja. Jangan balik lagi, bikin kesel aja."
__ADS_1
Dia hendak mengulangi tingkahnya yang tadi. Dia sepertinya gemas sekali dengan pipiku, sejak tadi ingin di uwel-uwel.
Tapi semua itu urung dia lakukan, karena tiba-tiba Dara berteriak memanggil namaku dari halaman. Dara, gadisnnya bu Lin yang sedikit pecicilan. Gadis itu dekat denganku sejak aku sering menitipkan anak-anak pada ibunya.
"Eh ada tamu, ya. Maaf om. Tadi nggak lihat, hehehe," ucapnya begitu dia berdiri di ujung teras.
Aku seketika tertawa terbahak-bahak. Akhirnya ada orang yang berhasil membuat Rifki kesal. Aku yakin saat ini dia sangat kesal dengan panggilan yang di lempar oleh Dara. Aku semakin tertawa lebar saat melihat ekspresi Rifki yang menatap tajam Dara. Sementara Dara hanya cengar cengir seraya menggaruk tengkuknya. Mungkin dia bingung dengan reaksi yang kami berikan.
"Om, om. Gue masih seumuran sama Ayu, muka gue kayak om-om apa emang?" tanyanya pada Dara dengan ketus.
"Oh seumuran ya. Umur mbak Ayu tiga puluh tahun, kan? Berarti umur om tiga puluh tahun juga. Salahnya dimana kalau aku panggil, om?"
"Ayu, lu panggil mbak, kok gue om? Panggil kakak kan bisa?"
"Ish. Baru juga ketemu, ngatur-ngatur lagi," gerutu Dara membuang muka malas.
"Apa lu bilang?"
Rifki berdiri dari duduknya dan berdiri di depan Dara dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang kanan dan kirinya. Sejauh ini masih aku pantau saja, sepertinya karakter mereka yang sama-sama menyebalkan akan seru jika sering di pertemukan.
"Jangan dekat-dekat, om. Jauhan dikit," kata Dara yang mulai panik, takut, dan sedikit gugup. Setidaknya itulah aku rasa dari ekspresi wajahnya.
Rifki tak menggubris ucapan Dara. Dia malah terus memajukan langkahnya sedangkan Dara juga memundurkan kakinya sedikit demi sedikit.
"Ada mbak Ayu, om. Jangan dekat-dekat," pinta Dara yang masih aku dengar dengan jelas.
Dara melirikku, mungkin saja dia meminta bantuan dariku agar tamu ini menjauh darinya. Aku lalu memberikan kode untuk menyuruhnya berhenti dan menantang Rifki.
Seakan tahu makna kodeku, Dara berhenti mundur dan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Apa? Kenapa berhenti? Ayo maju kalau berani!" katanya dengan sok berani.