Pamit

Pamit
90. Terlantar


__ADS_3

Dara mengerjapkan matanya perlahan. Dirinya tiba-tiba saja terbangun di semak-semak, samar-samar ia mendengar adzan subuh berkumandang. Dara mengernyitkan dahinya bingung, mengingat sesuatu hal yang baru saja terjadi tadi malam.


Awalnya, dirinya sama sekali tidak bisa mengingat apapun di sini. Sedikitpun tak ada yang mampu Dara ingat, namun semakin lama semakin Dara mampu mengingat dengan jelas kejadian yang baru saja terjadi semalam.


Seketika tubuh Dara menegang, merasakan ketakutan yang begitu dalam. Ia bangkit dari tidurnya, menahan rasa sakit di sekujur tubuh dan daerah intimnya.


Dara sungguh tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan, yang Dara pikirkan saat ini adalah tetap melangkahkan kakinya. Berjalan untuk terus mencari mobilnya, Dara yakin dirinya bisa menemukan di mana mobilnya semalam terparkir.


Tubuh Dara masih saja bergetar, ia ingin sekali menangis sekarang juga, namun apalah daya, semuanya sangat sulit dirinya pahami.


Dara tak tahu mengapa ini semua harus terjadi padanya. Mengapa harus dirinya yang ada di posisi seperti sekarang ini. Dara sungguh lelah, dirinya ingin menyalahkan takdir, namun bagaimanapun juga itu semua tidak berguna, semuanya telah terjadi, tidak ada yang perlu disesali lagi.


Langkah Dara tiba-tiba saja terhenti. Dirinya terkejut bukan main, merasa kebingungan kala tidak menemukan mobilnya terparkir di tempat semula.


Dara mulai merasa kalu. Dirinya tak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Sekujur tubuhnya sungguh bergetar hebat, kedua tangannya terkepal erat, menahan rasa sakit yang begitu dalam.


Dara tidak bisa meminta bantuan dalam keadaan seperti ini, dirinya sungguh dalam keadaan berantakan.


Namun, jika dipikirkan lagi, tentu saja Dara tidak bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun di sini.


"Bagaimana ini..." gumam Dara bermonolog dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


Dara tidak bisa menahan dirinya di sini, ia merasa benci mengingat kejadian semalam yang tampak begitu menyiksa. Jika boleh Dara memutar waktu, mungkin dirinya lebih memilih untuk tidak keluar dari mobil pada saat dirinya menyadari dua orang pria lewat di depan mobilnya. Namun mau bagaimana lagi? Semua itu sudah terlanjur Dara lakukan.


Sungguh, Dara membenci dirinya sendiri, Dara kotor dan Dara sungguh kesulitan hanya sekedar memaafkan dirinya di sini.


Dara menghela nafas berat, dirinya memilih untuk kembali melangkahkan kakinya. Mencoba untuk mencari bantuan, siapa tahu ada seseorang yang mau membantunya. Sekalipun mungkin hal itu akan sangat sulit dilakukannya, mengingat keadaan Dara yang sangat kotor hari ini, juga keadaan Dara yang tidak memungkinkan.


Namun, Dara sungguh tidak ingin memikirkan banyak hal terlebih dahulu. Dirinya rasa yang perlu dirinya lakukan saat ini adalah, mencoba untuk pergi dan mencari bantuan pada orang yang mau berbaik hati padanya.


"Ya Allah, hamba yakin rencanaMu jauh lebih baik. Hanya saja mengapa harus kejadian seperti ini yang menimpa hamba," gumam Dara masih terus berjalan menyusuri setiap jalanan, mencoba untuk mencari bantuan.


Dara memejamkan matanya perlahan, dirinya berhenti sejenak. Mencoba merasakan sekujur tubuh dan area intimnya yang terasa begitu menyakitkan. Jangan tanya bagaimana keadaan hatinya, tentu saja Dara tidak bisa menjelaskan itu semua saking sakitnya apa yang dirinya rasa.


Tidak, Dara tidak boleh menyerah, dirinya kembali melangkahkan kakinya untuk meminta bantuan, dan mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya.


***


Di samping itu, Jaka masih berusaha untuk mencari. Sekalipun ini masih sangat pagi. Namun, Jaka tidak kesulitan sama sekali. Dirinya terus menghubungi orang-orang terdekat Dara, tentu saja tidak dengan Rifki, jika Jaka menghubungi Rifki, itu hanya akan membuat Rifki dan ibunya ikut merasa khawatir.


Sungguh, Jaka merasa sangat khawatir sekarang, dan lagi dirinya harus menunggu sedikit lebih lama lagi untuk melaporkan semua ini kepada kepolisian. Mengingat saat Jaka melaporkan kasus ini pada pihak kepolisian, mereka hanya mengatakan perihal Jaka harus melapor jika sudah 2 x 24 jam, itu mungkin akan sedikit sulit bagi Jaka. Maka dari itu, Jaka mencoba untuk mencarinya sendiri.


Jaka sudah mulai merasa kalut, dirinya tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. Jaka rasa seluruh tempat sudah dirinya datangi, namun sama sekali tidak menemukan keberadaan adiknya itu.

__ADS_1


Tangan Jaka bergerak, membuka ponselnya, menghubungi salah satu kontak yang ada di daftar ponselnya.


"Hallo, apa Dara ada disana?" tanya Jaka pada seseorang di seberang sana, dirinya tengah menghubungi seseorang yang mungkin melihat Dara.


Jaka tahu itu hanya kemungkinan kecil saja, namun Jaka masih memiliki harapan tentang itu semua.


"Dara? Tidak, aku tidak bersama dengan Dara, memangnya kenapa?" Seseorang di seberang sana balik bertanya, seolah tidak mengerti dengan apa yang menjadi pertanyaan Jaka saat ini.


Jaka menghela nafas berat, "Adikku sedari malam belum pulang, terakhir kali dia terjebak macet, namun sampai pagi ini pun dia masih belum pulang ke rumah," balasnya mencoba untuk menjelaskan.


"Benarkah? Apa dia di rumah calon suaminya?"


Jaka menggeleng, "Tidak, dia tidak ada di sana. Aku tak tahu di mana dia, maka dari itu aku mencoba untuk mencarinya," kata Jaka. Belum sempat seseorang di seberang sana buka suara, Jaka sudah kembali melanjutkan ujarannya, "Baik kalau begitu, aku akan menutup teleponnya, jika kamu melihat adikku nanti tolong hubungi aku, ya," sambung Jaka setelah itu memutuskan sambungannya secara sepihak.


Jaka melempar ponselnya ke kursi samping mobilnya. Jaka tidak tahu lagi siapa yang harus dirinya hubungi, karena sedari tadi dirinya sudah mencobanya, namun tetap saja tidak ada yang bersama dengan Dara, bahkan hanya sekedar melihat saja tidak.


"Dara di mana kamu ini," gumam Jaka pada dirinya sendiri, sungguh Jaka tidak tahu lagi harus mencari adiknya itu ke mana, Jaka merasa sangat khawatir.


Mungkin, jika boleh Jaka menangis, dirinya akan melakukannya sekarang juga. Adiknya itu tidak pernah pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu, dan lagi sesuatu hal yang memperkuat dugaan nya pada saat dirinya menemukan mobil milik Dara yang terparkir di pinggir jalan, juga gelang milik Dara yang terlepas di jalanan. Sungguh Jaka yakin jika adiknya itu terlibat dalam kasus penculikan.


Jaka terus melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Jaka menyadari jika semua hal yang dirinya lakukan sedari tadi malam sungguh tidak membuahkan hasil. Jaka merasa sangat frustasi sekarang. Dirinya ingin mengetahui keberadaan adiknya dan memastikan jika adiknya itu baik-baik saja, namun hal itu tidak bisa dirinya lakukan.

__ADS_1


Jaka menepikan mobilnya, dirinya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Mencoba untuk menenangkan dirinya, Jaka tahu jika dirinya mengemudi dalam keadaan emosi dan khawatir seperti ini, semuanya tidak akan berakhir baik.


Jaka menghela nafas berat, "Di mana lagi aku harus mencarinya."


__ADS_2