
Hari telah berganti pagi.
Tapi nadila masih memejamkan matanya.
Sampai akhirnya dia membuka matanya perlahan.
Dia mengerjap ngerjapkan matanya.. Lalu menggeliat.
"Aduhh badan gue.." nadila mendudukkan diri.
Nadila mengamati keadaan sekitar
"Ini kamar siapa ya?" guman nadila.
Nadila inget inget kejadian tadi malem..
Sampai akhirnya dia ingat
"Astaga!!! Ini kan kamarnya om taeil!"
Dia inget pas dia minum di bar, ketemu sama minhyun. Abis itu dibawa pulang sama taeil,,terus dia tidur di kamarnya taeil ini... tapi anehnya dia nggak inget dia ngomong apa.
Dia lihat ke bawah,
"Kok gue cuma pake tengtop?" nadila buru buru cariin bajunya. Abis itu dipake.
Kalau yuta sama taeil tahu bisa bahaya. Ntar kalau mereka nafsu bareng gimana?
"Kamu udah bangun?"
Nadila menengok ke sumber suara.
Ternyata itu taeil.
"Om taeil?"
Taeil senyum tipis.
"Saya bikin teh hangat buat kamu," taeil meletakkan secangkir teh di meja nakas.
"Ma-makasih.."
Taeil nyentuh keningnya nadila. Abis itu pipinya.
"Kamu demam. Nggak usah kerja dulu ya? "
"Emang ini jam berapa?" tanya nadila
"Baru juga jam delapan."
Oh.. Jam delapan.
"HAH? JAM DELAPAN??? OM TAEIL JANGAN BERCANDA DEH!!" nadila ngegas.
"Siapa yang bercanda sih.. Ini emang jam delapan pagi. Lihat aja tuh jam dinding."
Nadila lihat jam dinding yang ada di kamarnya taeil.
Dan ternyata bener jam delapan pagi.
"KOK OM NGGAK BANGUNIN AKU SIH??"
"Saya mana tega bangunin kamu? Apalagi kamu lagi sakit "
"Ya tapi kan aku belum masak apa apa, terus issya makan pake apa? Siapa yang nganter dia ke sekolah? Terus om pasti belum sarapan kan???"
"Dila kamu tenang aja, issya udah sarapan tadi sama roti. Dan tadi dia dijemput sama bis sekolah."
"Ya tapi kan tetep aja om.. Duh mana aku nggak ngabarin mama sama kak dani lagi kalau aku nggak pulang.." nadila gelimpungan.
"Hey nadila zena.. Kamu itu yang tenang kena-"
DUG!
tuh kan.. Belum juga selesai ngomong. Nadila udah nyosor lantai.
Masih mabuk kali.
__ADS_1
"Yaampun dila!"
"Aww.." nadila pegangin punggungnya. Sakit tuh pasti.
Taeil buru buru bantuin nadila berdiri.
"Kamu tuh ya, saya kan udah bilang yang tenang.. Gini kan akibatnya!"
Taeil marahin nadila.
"Duh om.. Aku itu lupa nggak ngasih kabar ke mama sama kak dani. Pasti mereka udah nyariin dari semalem."
"Saya udah telfon mama kamu tadi pagi."
"Hah? Om tahu dari mana nomer mama aku?" nadila jelas aja kaget.
"Yuta yang ngasih nomer mama kamu ke saya. Udah kamu tenang aja, mereka nggak bakalan cariin kamu nadila.."
"Kenapa om yang hubungin mama aku? Kenapa nggak yuta aja?" - nadila
"Ya karena saya yang minta."
"Kenapa om minta?"
"Karena saya pengen dekat dengan orang tua kamu nadila.. Emang salah?"
"Buat apa om pengen deket sama orang tua aku?" - nadila
"Dia kan calon mertua saya, jadi saya harus bisa ngambil hati mama kamu lah." - taeil.
Ucapannya taeil ngingetin nadila sama omongan taeil sama yuta kemarin.
"Om taeil....nggak perlu memaksakan kehendak." - nadila
"......"
"Kalau hati om masih ada nama mendiang istri om.. Gausah dipaksain om.. Karena aku nggak mau dibandingin sama orang yang udah beda dunia sama aku."
"Nadila—"
"Pasti kemarin aku ngomong sesuatu kan ke om taeil? Berhubung aku masih belum inget.. Lupain aja ucapan aku om. Anggep aja cuma angin berlalu." dila buru buru keluar dari kamarnya taeil.
....
Sekarang dila lagi ada di dapur, biasa masak.
Dia masak sambil coba inget inget.. Ngomong apaan dia semalem sama taeil.
"Aduhh gue ngomong apaan sih ke om taeil?Kenapa gue jadi blank gini?!"
Nadila masih sibuk sama aktivitasnya.
"Aw!" dan nggak sengaja jarinya kena pisau. Dan berdarah.
Baru juga kemarin diobatin, sekarang jari sebelahnya juga ikutan kena..
Nadila buru buru cuci jarinya, biar darahnya nggak keluar lagi.
"Anjirr perih banget... Baru juga kemarin kena beling, sekarang kena pisau... Gini amat sih nasib gue." nadila menghisap jarinya yang berdarah.
"Kamu kenapa?"
Denger ada suara, nadila langsung menghentikan kegiatannya, abis itu lanjutin motong sayur.
Padahal perih banget itu pasti.
"Nadila... Saya bicara sama kamu.."
"Nggak kenapa kenapa om. Cuma lagi iseng aja tadi." nadila ngomong gitu posisinya membelakangi taeil.
Tanpa aba aba. Taeil menarik tangannya nadila.
"Om!"
.
Taeil lihat jarinya nadila keluar darah.
__ADS_1
"Kayak gini kamu bilang gapapa?" taeil langsung ambil plester di atas kulkas.
"Saya kan udah bilang jangan ceroboh jika mengerjakan sesuatu. Tapi kenapa masih kayak gini?" - taeil.
Nadila diem nggak jawab.
"Makasih, kalau gitu saya mau balik kerja lagi."
Taeil menarik tangannya nadila biar balik badan.
"Kalau saya bilang cinta sama kamu... Apa Kamu masih nggak percaya?"
'Aku cinta sama om...'
Denger kata cinta...Seketika nadila langsung inget kata kata dia ke taeil kemarin malam.
'mati deh gue.'
"Om.. Lupain aja omongan aku semalem. Nggak penting."
"Tapi menurut saya itu penting." - taeil menatap nadila tajam.
Nadila jadi takut.
"Besok kamu ada jadwal ke kampus kan?" tanya taeil.
Nadila cuma mengangguk.
"Terakhir bayar skripsi kapan?"
Denger nama skripsi. Nadila jadi inget kalau besok itu hari terakhir bayar.
"Ya Allah.. Besok hari terakhirnya om!!"
"Dasar ceroboh...." taeil mendorong jidatnya nadila pelan.
"Ya kan aku lupa om..."
"Gimana mau jadi ibu rumah tangga kalau hal sepenting ini aja kamu lupa. Jangan jangan nanti kamu lupa kalau saya ini suami kamu.."
Ada semburat merah di wajahnya nadila.. Pertanda kalau dia baper.
Tuk!
"Aw!" taeil menyentil jidatnya nadila.
"Gini aja kamu baper ya. Apalagi kalau saya ngelamar kamu beneran nanti??"
"Yeuu siapa juga yang baper... Siniin gaji aku!" nadila mengadahkan tangannya.
"Gaji apa?"
"Ck! Gaji aku selama kerja disini. Aku mau pake buat bayar skripsi besok."
"kamu sadar ngomong gitu?Kamu itu kerja belum ada satu bulan. Udah minta gaji?" - taeil ngga habis pikir.
"Ya gimana lagi... Aku udah kepepet banget om. Kalau ngga disuruh mama kerja. Aku juga ngga bakalan ada disini.." - nadila.
"Kalau gitu saya mau terimakasih sama mama kamu."
"Terimakasih buat apa?"
"Terimakasih udah nyuruh anaknya cari uang sendiri."
"Cringe banget sih om..."
"Loh nanti kalau saya romantis ke kamu.. Kamunya malah tambah baper."
"Bodo ah! Pokoknya aku minta gaji aku sekarang.. Seenggaknya om ngasih setengahnya"
"Kalau gajinya pas kita udah sah aja gimana?nanti malah tiap bulannya kamu dapet tanpa harus kerja..."
"Om... Aku serius. Jangan bercanda."
"Loh? Kamu mau diseriusin sekarang? Tunggu aja.. Semua itu butuh proses."
"AH NYESEL GUE BAPER SAMA OM OM YANG KAYAK GINI!!"
__ADS_1
TBC