Papa Muda

Papa Muda
24


__ADS_3

Nadila lagi ada di kampus.


Gatau kenapa kemarin dikasih tahu sama pak johnny. Katanya buat yang baru selesai sidang harap datang ke kampus.


Palingan juga bahas wisuda.


"Heh, wisuda lo dateng sama siapa?" tanya jungwoo yang lagi barengan sama yuta sama nadila.


"Lo tanya siapa nih? Gue apa nadila??" - yuta.


"Tanya nadila lah, lo mah udah jelas nggak ada gandengan. Jadi bisa dipastikan lo dateng sendirian." - jungwoo kalau ngomong suka bener.


"Yeuu, gue sleding juga lo."


"Gatau deh, mungkin sama kayak kalian sendirian. " - nadila


"Lohh lohh? Seorang nadila kok sendirian? Spikannya kemana semua ya?" - jungwoo.


"Udah tobat dia mah, kan udah mau kawin." - yuta.


"Apaan sih kalian.. Syirik." - nadila.


" emang jadi nih? Lo nikah sama om om nya elo?" - tanya jungwoo.


"Jadi lah, abis wisuda aja lamaran." ini dari tadi yuta terus yang jawab. Padahal yang ditanya nadila.


"Wahh, nadila sekalinya dapet. Langsung om om.." - jungwoo.


"Eh iya, lo ajak bang taeil aja besok pas wisuda. Jadi pasangan lo." usul yuta.


"Iya juga ya,, tapi nggak deh.."


"Lah napa?"


"Gue malu. Terus juga pasti om taeil sibuk banget, gue nggak mau gangguin dia kerja." - nadila.


"Yeuu kalau buat lo mah, dia bakalan ngelakuin apa aja kalee.. Yang santai."


"Iya, tapi kan gue tetep ngerasa nggak enak sama dia. Gue kan punya rasa malu. Beda sama lo, malu aja nggak punya. Bisa nya malu maluin." - nadila


"Pedes banget mbak itu mulut, abis makan cabe lima kilo ya??" 


......


Nadila lagi jalan keluar dari kampus. Hari ini sih rencananya dia mau ke rumahnya taeil buat masak.


Ya daripada nggak ada kerjaan di rumah. Mending dia ke rumahnya taeil, bisa ketemu issya sama calon suami eakk.


Nadila lihat jam yang ada di tangannya.


"Jam segini. Om taeil pasti lagi ada di kantor. Nggak mungkin bisa jemput... Gue naik grab car aja deh." guman nadila


Nadila jalan keluar, tapi dia melihat sesuatu yang tidak asing


"Ini kan mobilnya om taeil.."


Nadila celingak celinguk, tapi ngga ada taeil.


"Kenapa bisa mobilnya om taeil disini?" dila heran


"Ah paling dibawa sama yuta."


Nadila baru aja mau pesen grab car, tapi tiba tiba ada yang nutup matanya dari belakang.


"Siapa nih?"


"Coba tebak siapa?"


Suara ini mah kenal banget dia.


"Om taeil?" nadila balik badan. Dan terpampang jelas taeil ada disitu,


"Tuh kan bener!"


"Selamat pagi calon bundanya issya." taeil senyum merekah.


Nadila pipinya langsung terasa panas


"Ciye yang baper."


"Dih om taeil." nadila bersembunyi di dada bidangnya taeil. Dah biasa begitu nadila mah. Nyuri nyuri kesempatan


"Dih dih malu malu dih."


"Om taeil ih! Jangan bikin aku melting ya! Inget umur." - nadila


Taeil terkekeh,


"Kamu nggak malu? - taeil


"Malu kenapa?"


"Kamu jalan sama om om anak satu gini, ngga malu jadi pusat perhatian satu kampus?"


Nadila mendongak ke arah taeil


"Kenapa mesti malu? Om taeil duda tapi kan ganteng, jadi ngga perlu malu"


Taeil tertawa kecil, "gemes aku sama nadila zena ini..." taeil menarik pipinya nadila dengan gemas.


Nadila mah cuma cengengesan.


"Mau ikut aku ngga?" - taeil


"Kemana om?"


"Ada tempat rahasia pokoknya. Mau?"


Nadila mengangguk.


Taeil tersenyum, dia langsung membukakan pintu mobil untuk nadila


"Silahkan masuk nyonya taeil."


"Om taeil nih, belum sah tau." nadila masuk ke mobil


Setelah pintunya ditutup, taeil buru buru ikutan masuk mobil juga, biar ngga keburu siang


....


"Emang om taeil mau ngajak aku kemana sih?"


"Emm, kamu suka belanja?" - taeil


"Ngga terlalu suka om. Aku sekalinya belanja belinya banyak. Jadi jarang ke mall."


"Oh ya? Aku kira kamu suka gitu hangout ke mall."


"Aku mah kalau hangout ke tempat yang berbau alam om."


"Oh ya?"


"Iya.. Misalnya muncak,  Mendaki, atau nggak ngetrip ke tempat yang jauh gitu dari rumah. Pokoknya petualangan gitu." - nadila. 


"Jiwa petualang banget ya kamu." taeil mengacak rambutnya nadila. 


"Iya lah om. Daripada buang buang duit gak jelas cuma buat ke mall. Ya mending buat ngetrip." - nadila


Taeil tersenyum

__ADS_1


"Nadila?"


"Kenapa om?"


"Dulu...  Bundanya issya malah sering habisin waktu sama temen temennya, dari pada sama suaminya sendiri di rumah."


"Maksudnya om taeil tuh mbak haein?"


"Iya lah, kan istri aku cuma satu waktu itu."


"....."


"Satu lagi yang kamu belum tahu tentang dia."


"Apa om?"


" haein itu orangnya cuek sama keadaan, bahkan sama suaminya sendiri. Aku sakit aja dia sibuk, ngga ada waktu buat aku. pulang kerja dia juga nggak nyariin suaminya. intinya dia terlalu mementingkan dirinya sendiri."


Penjelasannya taeil bikin nadila kaget asli.  Dia kira yang namanya haein itu lemah lembut. Baik hati, tau nya gitu.


"Tapi om taeil cinta kan sama dia?" tanya nadila.


"Aku lebih cinta sama kamu sih." - taeil


"Om taeil...."


Taeil terkekeh.


"Aku ngga tau dil, aku cinta sama dia, tapi aku ngerasa kalau pernikahan aku sama dia itu dipaksa sama keadaan"


"Hah? Terpaksa? Yang bener deh om ini."  nadila nggak percaya.


"Ya bener lah, mana mungkin aku bohongin kamu." - taeil


"Om bilang terpaksa? Tapi buktinya om sama mbak haein bisa bikin issya."


Sumpah pertanyaannya nadila bikin taeil pengen ngakak aja rasanya. Polos banget...


Taeil memberhentikan mobilnya


"Kalau aku bilang ini ke kamu, pasti ngga percaya."


"Emang om taeil mau bilang apa?"


Taeil menatap nadila


"Aku menikah sama haein, karena waktu itu haein hamil."


"Hah? Jadi om taeil sama mba haein—"


"Bukan aku yang hamilin dia."


"Hah? Gimana bisa?" nadila benar benar kaget


"Udah nanti aja ceritanya. Turun gih." taeil nyuruh nadila turun dari mobil.


Soalnya udah sampai tempatnya.. Dan kayaknya ini jauh banget dari kota.  Soalnya tadi mereka di mobil lama


"Emang udah sampai om?"


"Udah sayang."


  


Dan akhirnya taeil sama nadila turun dari mobil.


Nadila  langsung cengo..


"Wow..."


"Bagus kan tempatnya?" - taeil.


Ya gimana nggak heboh, orang taeil bawa dia ke pantai. Terus pantainya juga bagus banget.  Banyak orang juga.


"Om kok bisa tau tempat sebagus ini sih? Aku aja yang hobinya ke pantai baru tahu sekarang." 


"Berarti kamu kurang jauh pikniknya." 


Nadila masih memandangi pantai yang tidak terlalu rame tapi indah itu


"Om ayo kesana!" nadila langsung narik tangannya taeil.


" om aku suka deh disini.. Sejuk banget, terus pemandangannya juga bagus." nadila  senyum terus dari tadi


Taeil senyum. Seneng dia lihat nadila bahagia kayak gini. Ya hitung hitung nemenin nadila refreshing.  Kasihan kan dari awal mikir skripsi. Lulus bukannya seneng malah masuk rumah sakit.


'Apa sekarang aja ya?' taeil


Taeil mendekat ke nadila


"Nadila?" - taeil


"Ya om? Kenapa?"


Taeil menghela nafas.


" A-aku..."


Nadila menoleh ke taeil


"Iya om kenapa? Kok gagap gitu? Nggak biasanya deh." - nadila


" a-aku mau ngomong sesuatu sama kamu."


"Lah iya. Om mau ngomong apa?"


'Aduhh napa jadi gagap sih? Yang diomong yuta jadi lupa kan gue.'


Taeil inget inget katanya yuta kemarin


"Bang, kalau lo emang serius sama nadila, lo harus lamar nadila secepatnya."


"Bang, lo harus bawa nadila ke tempat yang jauh dari kota. Lo bawa aja nadila ke pantai atau kemana gitu.. Soalnya nadila itu pecinta alam."


" oh iya, lo langsung to the point aja,   gausah basa basi. Karena nadila nggak suka cowok yang cuma basa basi."


" lo bilang serius sama dia. Cinta sama dia, ntar pasti dia juga baper sendiri."


"Terus, lo rangkai deh kata kata buat ngelamar nadila. Selesai..."


"Om taeillll......"


"Eh? I-iya.."


"Om taeil tuh mau ngomong apa   sih sebenernya? Kok malah ngelamun?"


Taeil mengela nafas panjang.


'Bismillah'


"Nadila..... Aku cinta sama kamu."


"Iya.. Aku tahu kok. Terus kenapa?" 


"Apa kamu mau menikah sama saya?"


"HAH?!" nadila syok.


"Aku paham, mungkin ini mendadak buat kamu. Tapi aku juga udah nggak bisa nahan ini semuanya dil."

__ADS_1


"Om taeil...." 


"Will you marry me?"


Nadila menutup mulutnya dengan menggunakan tangan asli dia baper...


"Jujur, awalnya aku emang selalu samain kamu sama mendiang istri aku. Tapi makin kesini. Kamu beda banget sama dia. Kamu peduli, kamu juga tulus sayang sama issya. Kamu juga selalu ngertiin aku, Beda jauh sama haein."


Nadila masih diem.


"Jadi.. Aku pengen kamu jadi pendamping aku. Jadi istri aku, jadi bundanya issya. Jadi bagian keluarga kecil aku" taeil senyum  ke nadila.


"Om taeil.. Nggak bercanda kan?" nadila masih nggak percaya.


"Ck! Gimana biasa aku bercandain hal serius kayak gini?"


"Y-ya aku masih nggak percaya aja gitu. Kalau om bener bener ngelamar aku." 


Taeil senyum. Abis itu ngelus kedua pipinya nadila.


"Jadi gimana? Mau menikah sama aku?"


Nadila awalnya diem.


Tapi setelah itu dia senyum, dia mengangguk. 


"Iya.. Aku mau jadi istri om."


Tepat setelah itu taeil cium bibirnya nadila lembut.


Taeil melakukannya beberapa detik.


Dia melepaskan ciumannya.


Taeil menghela nafas lega.


"Lega banget rasanya kalau kayak gini. "


Mereka sama sama melempar senyuman.


Setelah itu berpelukan.


Dan mereka sama sama bahagia untuk hari ini.


SKIP ><


Sekarang.... Taeil lagi ada di rumahnya nadila.


Pastinya mau minta restu ke orang tuanya nadila..


Kalau mama yuri sama ten sih setuju setuju ajalah.. Tapi kalau papanya nadila???


"Om... Aku takut "


"Takut kenapa hm?" - taeil


"Takut kalau papa ngga kasih restu ke kita.." - nadila.


Sebenernya taeil juga agak ragu dan takut sih soal ini. Masalahnya status dia yang duda dan usia mereka yang terpaut jauh buat dia jadi ragu..


Taeil senyum..


"Kamu tenang ya... Insyaallah semuanya lancar." taeil mengelus pipinya nadila.


Nadila senyum.


"Yaudah, ayo om kita masuk. Udah ditungguin sama papa di dalem." nadila narik tangannya taeil buat masuk ke rumah.


......


Dan sekarang... Ada nadila, mama yuri, papa changmin sama taeil di ruang tamu.


"Jadi.... Nak taeil kesini mau minta izin sama om untuk serius ke nadila?"


"Iya om. Saya kesini mau minta restu sama om untuk menikahi nadila.."


Papa changmin diam.


"Jabatan kamu di kantor apa?"


"Saya cuma CEO om"


Papa changmin mengangguk paham.


"Om dengar... Kamu duda ya?"


"I-iya om saya duda.."


"Jarak usia kamu sama anak om sangat jauh... Dan kamu tau kan kalau anak om itu belum pernah menikah?"


"Iya.. Saya tau."


"Pa.. Om taeil kesini mau—"


"Papa ngomong sama taeil ya dek. Bukan sama kamu."


Nadila bungkam.


"Terus? Tujuan kamu apa kesini?"


"Seperti yang saya bilang tadi.. Saya ingin meminta restu untuk menikahi nadila. Kalau om merestui.. lusa saya akan bawa orang tua saya untuk melamar nadila secara resmi."


"Om akui... Kamu terbilang berani dengan status kamu yang duda dan mempunyai satu anak, melamar anak perempuan om satu satunya ini. Padahal kalian baru beberapa bulan kenal kan?" 


"Saya bukan tipe laki laki yang ingin menggantungkan perasaan wanita om. Kalau saya cinta... Itu berarti saya ingin serius."


Sekali lagi papa changmin mengangguk. 


"Nadila?"


"I-iya pa?"


"Jadi ini ya alasan kamu membatalkan studi ke thailand, hanya karena ingin menikah dengan seorang....duda?"


"Nadila sayang sama om taeil pa..."


Papa changmin menghela nafas.


"Papa belum bisa kasih restu sekarang."


Taeil sama nadila sama sama mengeratkan genggaman.


"Keinginan om itu punya menantu yang baik, sayang sama mertua, sayang sama anak om, mapan..."


Taeil sudah masuk ke semua kreteria itu. Lalu apa yang di permasalah—


"Dan tentunyaa single dan belum pernah menikah.."


Nah ini yang jadi masalah..


"Jujur om suka sama kamu. Suka keberanian kamu, dan cara kamu memperlakukan anak om dengan baik. Tapi.... Status kamu sebagai duda yang buat om harus pikirin lagi untuk menyerahkan nadila ke kamu."


"Bukannya kata papa status itu ngga masalah ya? Asalkan laki laki itu tulus sama nadila? Tapi kenapa sekarang papa ngelarang aku menikah sama om taeil?"


"Bukan masalah kalau taeil duda tapi belum mempunyai anak. Yang jadi masalah itu, taeil duda dan punya satu orang anak.."


"......"


"Dan maaf. Om ngga bisa ngasih restu kalian untuk menikah sekarang."

__ADS_1


END


__ADS_2