
"Dil? Lo serius mau tinggal sama gue?" tanya yuta.
"Serius lah."
"Tapi nanti kalo bang taeil ke rumah gimana? Gue mesti jawab apa dilaa?"
"Ya lo tinggal jawab aja kalo gue nggak ada disini yut. Masa gitu aja repot."
"Ya bukan gitu dil. Lo kan tauu sendiri abang gue batu banget. Lebih batu dari elo. Dan dia nggak mungkin percaya gitu aja, Kan gue sahabat elo." - yuta
"Udah masalah itu gue pikirin belakangan, yang jelas gue mau jemput hyunjin sama ambil pakaian gue dulu." nadila turun dari mobil abis itu langsung masuk ke rumah mama nya.
Yuta cuma bisa menghela nafas panjang.
Kalo kayak gini. Dia bingung mesti gimana..
Sementara itu hyunjin lagi main sama ten, soalnya hari ini dia libur. Mama nya juga lagi pergi sama papanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Bundaaa!!!" hyunjin yang tahu kalo ibunya dateng langsung lari ke arahnya.
"Duhh anaknya bunda lagi main ya sama om dani." nadila cium pipinya hyunjin.
"Kamu mau jemput hyunjin?" tanya ten.
"Iya kak. Papa sama mama mana?" tanya nadila.
"Lagi keluar, gatau kemana."
"Kak dani?"
"Kenapa?"
"Tadi mas taeil kesini?" tanya nadila.
Ten mengangguk.
"Iya, dia nyariin kamu. Dari tadi pagi kamu ilang katanya." - ten.
"Kak. Kalau mas taeil kesini lagi, kak dani jangan bilang ya kalo aku juga kesini."
"Loh? Emangnya kamu mau kemana kalau nggak pulang ke rumah?" - ten.
"Aku nggak bisa cerita sekarang kak. Yang jelas aku mau menenangkan diri dulu." nadila langsung bawa hyunjin masuk ke kamarnya.
"Astaga, mau ngapain lagi itu anak.." ten langsung nyusulin nadila ke kamarnya.
"Bunda. Kita mau pulang ya?" tanya hyunjin.
Nadila senyum. Dia cuma mengangguk.
"Asik. Hyunjin ketemu ayah!!"
"Sayang.... Sementara ini. Kita nggak ketemu ayah dulu ya."
"Kenapa? Kan hyunjin kangen sama ayah.."
"Dek? Kamu mau kemana?" tanya ten.
"Sementara ini aku mau tinggal dirumahnya yuta kak."
"Hah? Ngapain sih kamu disana?" tanya ten.
"Kak.. Aku nggak bisa cerita sekarang. Yang jelas aku mau tenangin diri dulu." - nadila
"Dek. Kamu jangan gini kenapa sih? Dewasa dikit dong jadi orang. Kamu tuh udah punya suami. Udah nggak pantes lagi kamu kabur kaburan gini." ten mulai ceramah.
"Aku bukan kabur kak. Aku cuma pengen tenang."
"Ya tapi nggak gini caranya."
"TERUS AKU MESTI GIMANA?!" nadila teriak. Mana disitu ada hyunjin.
Frustasi kayaknya
"Bunda kok teriak sih? Kan kasihan om dani." - hyunjin.
"Hyunjin, kamu main di kamarnya om dani ya? Om mau ngomong sama bunda dulu."
__ADS_1
"Iya om." hyunjin langsung keluar kamar, abis itu masuk ke kamarnya ten.
Dan sekarang cuma ada nadila sama ten di kamar.
"Jujur sama kakak. Kamu kenapa?"
Nadila masih diem.
"Heh jawab! Malah diem. Kakak tanya sama kamu. Bukan sama boneka kamu!" - ten.
"Aku kemarin berantem sama mas taeil kak."
"Iya, kakak tau. Tadi suami kamu udah cerita. Tapi orang berantem itu ada alasannya. Dan tadi suami kamu nggak mau cerita ke kakak. Katanya biar kamu aja yang cerita." - ten.
"Gara gara aku ngga bisa punya anak lagi."
"Hah? Gimana?" ten mendadak cengo.
"Mingyu ngasih tau. Kalo aku sulit buat punya anak lagi, soalnya rahim aku luka" nadila berkaca kaca.
"Bentar... Ini maksudnya gimana sih? Kakak masih belum ngerti." - ten.
"Kak dani tau sendiri kan? Kalo mas taeil itu pengen punya anak lagi. Tapi kata dokter kemungkinan aku sulit buat melahirkan lagi."
"Kenapa gitu?" - ten.
"Karena efek kecelakaan beberapa tahun lalu dan karena aku ngelahirin hyunjin dalam waktu yang lama. Rahim aku infeksi. Dan kemungkinan buat aku punya anak lagi bakalan sulit kak." nadila ngomong gitu sesenggukan.
"....."
"Aku... Gatau mesti gimana lagi. Aku kecewa sama diri aku sendiri. Dan disisi lain aku juga takut."
"Takut kenapa?"
"Aku takut, kalo mas taeil nggak bisa nerima ini semua. Terus dia ninggalin aku sama hyunjin kak." pecah sudah air mata seorang nadila.
"...."
"Aku bener bener takut, apalagi sebelumnya mas taeil nggak tau apa apa soal ini."
Ten menghela nafas.
Dia bener bener nggak nyangka adek kesayangannya itu bakalan dapet cobaan berat kayak gini.
"Kamu harus percaya, kalo suami kamu nggak gitu."
Nadila sesenggukan.
"Kakak yakin, kalo bang taeil nggak gitu. Gini gini aku juga udah kenal dia jauh sebelum kamu kenal sama bang taeil."
"Terus... Aku mesti gimana kak? Aku nggak tau harus gimana lagi."
"Udah udah, jangan nangis.. Mendingan sekarang kamu jangan kemana kemana, istirahat disini aja. Biar kakak yang ngomong sama yuta." ten ngusap air matanya nadila.
"Tapi nanti kalo mas taeil kesini gimana?"
"Udah gausah dipikirin. Itu biar jadi urusan kakak. Mendingan sekarang kamu ajak hyunjin tidur di kamar kamu yaa."
Nadila mengangguk. Kali ini dia nurutin kakaknya aja lah.
.......
Dan sekarang nadila lagi ada di kamarnya. Dia sama hyunjin nggak jadi pergi kemana mana.
Dia lagi ngelihatin hyunjin yang lagi tidur.
Dia merasa bersalah sama taeil, tapi dia bingung mesti gimana. Jujur dia bener bener takut sama dampak nya. Takut kalau taeil bener bener ninggalin dia karena nadila nggak bisa ngasih anak lagi.
Nadila dibingungkan dengan situasin ini.
Skip ><
Pagi pagi banget tadi nadila udah bangun. Ya udah kebiasaan bangun pagi sekarang. Padahal dulu pas jaman perawan aja bangun kalo nggak dicipratin sama air nggak mau bangun.
"Masak apa ya?" nadila lagi mikir mau masak apa.
Dia lihat bahan bahan di kulkas sih lengkap. Jadi mau masak apapun ya suka suka dia.
Dia membuka kulkas, niatnya mau ngambil bahan bahan.
Tapi tiba tiba dia ngerasain mual.
__ADS_1
Dan ditambah kram di perutnya.
Dia langsung lari ke wastafel.
"Ya Allah, ini perut sakit banget ya." nadila pegangin perutnya.
"Dek? Kenapa?" tanya ten yang baru keluar dari kamar.
"Gapapa kok kak. Cuma sakit perut aja."
"Ya itu namanya kenapa kenapa nadila." ten jalan ke arahnya nadila.
"Pusing nggak?"
Nadila geleng geleng.
Ten nyentuh keningnya nadila,
Agak anget sih, terus juga nadila keringetan.
"Kamu istirahat aja, jangan capek capek." ten nyuruh nadila balik ke kamarnya.
Tapi nadila menggelengkan kepala.
"Aku gapapa kok kak. Lagian kalo aku nanti tiduran terus, malah tambah sakit,"
"Udah kamu ke kamar aja. Biar kak dani yang masak. Kesehatan kamu itu lebih penting." - ten
"Yaudah deh, kalo gitu aku ke kamar dulu." nadila jalan ke kamar sambil megangin perutnya.
Kan ten jadi khawatir sendiri.
Tok tok!
Baru juga ten mau ambil alih kerjaan nadila. Ada yang ngetuk pintu.
"Siapa pagi pagi dateng kesini?" - ten.
Tok tok tok!!
"Iya iya bentar!!" mau gamau ten harus jalan ke depan buat bukain pintu. Mana ngetuknya ga sabaran banget.
Tok tok tok!!
"Iya bentar woy! Masih jalan ini guee!!!" ten greget sendiri.
Ceklek!
"Siapa si- BANG TAEIL??!" ten kaget, karena yang dateng taeil.
"Nadila mana? Dia disini kan?" tanya taeil nggak basa basi.
Ten gatau mesti ngomong gimana lagi.
Sementara itu nadila lagi ada di kamar, ya dia niat nya pengen tidur.
Tapi entah kenapa nggak bisa.
"Astaga perut aku sakit banget.." nadila megangin perutnya yang sakit.
katanya mingyu, infeksi rahim memang seperti itu. Kadang bisa juga seperti maag Karena memang pada dasarnya penyakit ini termasuk penyakit yang menyerang perut juga.
Nadila jalan aja sampe pegangan tembok. Dia udah bener bener lemes.
Nadila senderan di lemari Kayaknya emang dia kesakitan banget.
"Bundaaa..." hyunjin mengerjap ngerjapkan matanya.
"Hyunjin.."
Hyunjin yang tau bundanya di lantai langsung mendekat
"Bunda kenapa? Sakit perut ya?"
Nadila mengangguk
Nadila udah bener bener nggak fokus, dia ngelihat hyunjin. Tapi udah blur. Pandangannya kabur.
"Bunda tidur sama unjin aja yuk. Biar perutnya sembuh." hyunjin ngajakin nadila ke kasut
BRUK!!!
__ADS_1
"BUNDA!!!"
TBC