
"Papa-"
"Kamu bisa pulang sekarang."
Diusir halus ini ceritanya.
"Papa!"
Papa changmin langsung masuk ke kamar.
"Nak taeil.. Maaf ya. Papa nya nadila emang gitu orangnya. Tapi sebenernya dia baik kok kalau kamu mau deket sama dia." mama yuri minta maaf.
"Iya tante. Saya paham kok. Kalau gitu saya pamit pulang ya tan." taeil berdiri.
Tapi tangannya nadila ngga mau lepas dari genggamannya taeil.
"Kalau gitu.. Tante tinggal ke kamar dulu ya. Kalau mau ngobrol gapapa ngobrol aja." mama yuri nyusul papa changmin ke kamar.
Dan sekarang tinggal ada nadila sama taeil di ruang tamu.
"Aku pulang dulu ya... Kan udah sore."
Nadila diem aja.
"Besok aku kesini lagi oke."
"Aku anterin om sampe depan.." nadila berdiri, habis itu ninggalin taeil sendirian.
Taeil menghela nafas.
.....
Mereka udah ada di depan.
"Aku pulang dulu... Besok aku kesini lagi."
"Hikss.."
Taeil denger nadila menangis.
"Hey. Kok nangis sih?" - taeil.
"Om... Apa itu artinya... Kita nggak jadi nikah? Berarti kita ngga bisa bareng lagi?"
"Kata siapa kita ngga jadi nikah?"
"Tadi kan om denger sendiri.. Kalau papa ngga ngasih restu ke kita. Berarti kan-"
"Papa kamu bukan ngga ngasih restu sayang.. Tapi belum."
"Tapi kan sama aja om.. Itu berarti kita ngga bisa nikah."
Taeil senyum.. Abis itu nadilanya dipeluk.
" mungkin om changmin mau ngetes seberapa besar aku perjuangin kamu."
"Pokoknya aku mau bujukin papa biar ngasih restu hubungan kita."
Taeil menatap nadila. Abis itu cium keningnya.
"Soal itu.. Biar aku besok yang ngurus. Kamu tenang aja ya.."
"Tapi kalau besok papa tetep ngga ngasih restu gimana?"
"...."
"Apa kita kawin lari aja om? Kita nikah di luar negeri terus kita punya anak abis itu kita-"
"Nggak. Aku nggak mau ngelakuin hal konyol kayak gitu."
"Itu ngga konyol om.. Itu jalan satu satunya biar kita dapet restu papa"
"Itu bukan jalan keluar sayang... Kalau kita nekat kayak gitu, sampai kapan pun papa kamu ngga bakalan pernah ngasih restu ke kita.."
"Tapi om-"
"Ssstt, udah. Urusan restu biar aku yang urus. Oke." taeil nguyel nguyel pipinya nadila.
"Ihh om taeil mah.. Sementang pipi aku tembem, diuyel uyel."
"Nantinya kan aku bakalan nguyel nguyel kamu setiap hari.."
"Hehe.."
"Dih, malah cengengesan ya kamu."
Taeil sama nadila berpelukan.
Tanpa tau kalau papa changmin melihat semuanya dari jendela.
"Kayaknya papa emang harus ngerelain kamu diambil orang dek.."
Skip ><
Keesokan harinya.. Taeil datang lagi ke rumahnya nadila.
Pantang menyerah dia mah.
"Kamu ngga nyerah juga ya."
"Karena saya ingin memperjuangkan cinta saya om - taeil
"Apa kamu yakin mau nikah sama anak om?"
"Insyaallah saya yakin om."
"Jujur. Om belum rela kalau nadila menikah. Apalagi menikah dengan seorang duda.. Apalagi sudah punya anak."
"......"
"Apalagi... Anak om baru saja mendapatkan gelar sarjana."
"Pa.. Nadila gapapa kalau emang harus ngerelain kuliah.."
"Terus? Kamu mau jadi apa kalau ngga kuliah?"
"Papa..."
"Papa ngga bisa ngasih restu kalian."
"Papa!"
"Kamu harus ngelanjutin kuliah kamu dan ikut papa ke thailand."
"Nadila ngga mau pa!"
"Kamu mau ngelawan papa iya? Papa gamau tau kamu harus-"
Tak disangka... Taeil berlutut dihadapannya papa changmin.
"Om taeil..."
"Om. Tolong izinin saya untuk menikahi nadila."
"....."
"Saya tau, om mempermasalahkan status saya yang duda dan punya satu anak ini. Tapi saya benar benar tulus sama nadila om."
"Taeil kamu-"
"Om bisa jamin kalau saya bisa jagain nadila, buat dia bahagia, dan tentunya saya ngga akan nyakitin nadila, Saya jamin itu om."
"Saya gabisa ngasih restu kalian. Kamu ngeyel ya."
"Om changmin, cuma nadila wanita satu satunya yang buat saya bahagia. Saya mencintai nadila dengan tulus om, tolong om lihat sisi baiknya."
"Mau kamu berlutut sampai lutut kamu patah juga saya ngga akan ngasih restu! Pahan?"
"Yaudah, kalau gitu saya bakalan tetap disini sampe om benar benar merestui hubungan saya dengan nadila."
"Yaudah sana tunggu diluar sana! Sampai kapanpun, saya tetep ngga akan ngasih restu kalian!" papa changmin langsung masuk ke kamar.
"Aku mau ke kamar papa!" nadila baru aja mau ke papanya, tapi tangannya di tahan sama taeil.
"Om! Papa tuh udah keterlaluan sama om. Ngga seharusnya dia gitu."
Taeil berdiri.
"Aku gapapa... Mendingan sekarang kamu masuk ke kamar, udah malem." taeil mengelus pipinya nadila.
"Om mau pulang? Berarti kita-"
"Siapa bilang aku mau pulang?"
"Terus? Om mau kemana?"
"Tadi kan papa kamu nyuruh aku nunggu di luar."
"Hah? Jangan bilang om taeil mau-"
"Nadila masuk kamar!"
Dan papa changmin menginterupsi.
"Tuh papa udah nyuruh kamu masuk kamar. Masuk sana"
"Tapi om taeil-"
"Nadila.... Aku gapapa."
Nadila menghela nafas...
Ternyata, sesulit ini ya mau nikah aja.
......
Taeil masih ada di rumahnya nadila. Tapi dia di luar.
Lagi senderan di depan mobil.
Sesekali dia menghela nafas.
"Susahnya jadi duda gini.." taeil meratapi nasib
"Bang taeil?"
Taeil menoleh.
"Eh dani"
"Ngapain disini bang? Nungguin nadila? Masuk aja elah."
"Gue disini aja dan. Darimana lo?"
"Biasa lah mencari pundi pundi rupiah. Lo ngapain sih bang disini?"
"Yaa enak aja hawanya disini."
"Masuk aja yuk bang, nggak dingin apa? Mana pake baju tipis gitu."
"Gapapa elah. Udah masuk sana."
"Ya-yaudah gue masuk dulu ya bang."
Taeil mengangguk,
"Ternyata berjuang tak sebercanda itu"
.....
Nadila buka pintu depan pelan pelan.
Dia udah pake baju tidur. Terus tangannya bawa sesuatu..
Nadila nyamperin taeil.
"Om taeil."
Taeil yang lagi nunduk ke bawah nengok ke atas.
"Eh? Kok kamu keluar rumah sih? Nanti kamu masuk a-"
Nadila langsung meluk taeil.
"Om pasti kedinginan ya?"
Taeil senyum.
"Kan udah diangetin nih."
Nadila melepaskan pelukannya.
"Aku bawa hotpack. Terus aku juga bikin susu jahe buat om."
Nadila mengeluarkan barang barangnya di tas.
"Tadi, aku juga pinjem jaketnya kak dani, biar om ngga kedinginan. Terus aku bawa selimut kecil juga., terus aku juga bawa-"
CUP!
Taeil mengecup bibirnya nadila.
"Aku ngga perlu itu semuanya. Mendingan sekarang kamu masuk ke rumah. Terus tidur." taeil mengacak rambutnya nadila.
"Aku mau disini, temenin om."
"Ngga sayang, kamu ngga boleh disini.. Nanti kalau papa kamu tau, kita makin susah dapet restunya."
"Tapi kan om-"
Taeil ******* bibirnya nadila sesaat, lalu melepaskannya
"Kamu percaya sama aku kan? Aku mau buktiin ke papa kamu kalau aku ini ngga main main sama anaknya." ucapan taeil diakhiri dengan senyuman
"Om?"
"Hm?"
"I love you. Hehe"
Jantungnya taeil berdesir. Dia ngga pernah segugup ini sebelumnya.
"Love you too , babe"
Tepat setelah itu bibir mereka bertemu. Kali ini nadila yang memulai.
Ciuman mereka hanya sekedar ******* halus. Nadila memeluk lehernya taeil, sedangkan taeil memeluk pinggang nadila.
Mereka berciuman cukup lama, sampai akhirnya nadila menyudahinya
"Om taeil ngga akan nyerah kan?"
__ADS_1
Taeil tersenyum, dia menempelkan keningnya "kalau aku nyerah sama kamu.. Berarti aku juga bakal nyerah sama hidup aku."
Nadila membalas senyuman taeil, lalu mereka berpelukan erat.
"Dila sayanggg banget sama om."
Taeil yang mendengar itu mengeratkan pelukan, menghirup aroma tubuh nadila yang sekarang menjadi kesukaannya
Dan tanpa disadari, papa changmin melihat semuanya..
Skip ><
Udah pagi. Taeil masih ada di mobil.
"Lah bang? Masih disini aja lo?" - ten yang baru keluar dari rumah.
"Demi calon mertua."
"Asekk. Gantle bener "
"Om taeil!" nadila lari ke arahnya taeil.
"Hey. Tumbenan udah bangun?"
"Gue siram tadi pake kuah soto bang. Makanya bangun."
"Apasih kak dani.. Udah sana! Ganggu aja!"
"Om taeil disuruh papa masuk."
"Yaudah ayo." taeil baru aja mau jalan. Tapi oleng.
"Om!"
"Bang. Gapapa kan lo?"
"Gapapa kok. Aman."
"Pasti kakinya om sakit ya?"
"Udah gapapa. Ayo masuk ke rumah."
Dan akhirnya taeil jalan dibantu nadila.
Sementara dani cuma ngelihatin aja.
"Andai gue segantle bang taeil"
Taeil udah ada di ruang tamu.
"Kenapa itu kaki kamu?" tanya papa changmin.
"Gara gara papa tau ngga om taeil jadi gini!"
"Papa kan ngga nyuruh dia ada disini semaleman "
"Papa-"
"Duduk kalian." papa changmin nyuruh nadila sama taeil duduk di depannya.
"Kamu disini semaleman. Anak kamu siapa yang ngurusin?" - papa changmin.
"Dirumah ada papa sama mama om."
"Om.... Saya-"
"Kalian tentuin tanggalnya sendiri sana!"
Nadila sama taeil menoleh ke papa changmin.
"M-maksudnya papa tanggal apa?" - nadila
"Jangan lama lama. Ngga baik juga menunda pernikahan "
"Om changmin..."
"Papa.."
"Papa udah ngga bisa ngelarang kamu lagi. Papa rasa kamu udah cukup dewasa buat nentuin pilihan kamu."
"Jadi.... Papa ngerestuin kita gitu?!"
"Kata siapa? Papa cuma bilang kalian buruan tentuin tanggalnya."
"ITU NAMANYA NGERESTUIN PAPA!!"
"Papa baru akan merestui kalau cucu pertama papa laki laki."
"Terus? Papa ngga anggep issya cucunya papa gitu?"
"Emang papa bilang gitu? Papa kan bilang kalau cucu pertama papa laki laki. Soalnya cucu perempuannya papa udah satu."
"PAPA I LOVE YOU!!"
"ADEKK APAAN SIH KAMU. TURUN NGGA DARI PANGKUANNYA PAPA!!"
Dan pada akhirnya. Taeil sudah berhasil melewati perjuangannya.
Skip ><
Nadila sedang bersama taeil di rumah, lagi sibuk sama undangan.
Ya setelah perjuangan taeil akhirnya membuahkan hasil.
Jadi kawin ciyee.
"Temen om taeil banyak banget sih. Pusing aku namain satu satu." nadila mengeluh.
Ya memang kali ini lebih banyak temen temennya taeil yang diundang. Pejabat pejabat semua soalnya.
"Ini beneran apa om mau diundang semua?"
"Iya lah, masa temen sendiri ngga diundang." taeil masih sibuk milih milih undangan.
"Ya tapi banyak banget om. Mata aku sampe burem nih milihinnya"
Ngomel terus daritadi ya.
Taeil menoleh ke nadila
"Bawel banget kamu ternyata."
"Ya aku emang gini. Kalau om ngga suka yaudah diba—"
"Hiih gemes aku sama zenaa" taeil nguyel nguyel pipinya nadila.
Jadi hobi dia sekarang begitu.
"Ihh kok panggil zena sih om!"
"Bagusan dipanggil itu tau."
"Ngga ngga! Pokoknya om taeil harus tetep panggil aku dila.. Aku gamau dipanggil zena atau semacamnya."
"Panggil sayang aja lebih enak."
"Dih om taeil.." nadila malu malu meong.
Taeil tersenyum.
TING TONG!
Enak enaknya berduaan, ada yang mencet bel.
Nadila membuka pintu.
Dan dia sedikit terkejut.
Soalnya cewe
"Kamu siapa?"
"Eh? Hai mba nadila." yeri menyapa dengan senyuman.
"Kok kamu tau nama saya?"
"Ohh itu aku tau dari mas taeil"
"Om taeil?"
Orang bernama yeri itu mengangguk
"Aku disuruh calon suami kamu kesini mba"
"Oh ya?"
Yeri
mengangguk.
"Y-yaudah, masuk mba." nadila mempersilahkan masuk.
"Om, ada yang cariin." nadila ngomong ke taeil.
"Nyariin aku? Siapa?"
"Halo mas.."
Yeri menyapa
"Eh kamu udah dateng ri"
'Jadi beneran om taeil ngundang yeri kesini? Ihh nyebelin!'
Sepertinya nadila cemburu
Yeri duduk disebelahnya taeil.
Iya disebelahnya.
'Ihh ngapain sih duduk disebelahnya om taeil!'
"Kenapa ya mas? Kamu butuh bantuan?"
Taeil mengangguk.
"Iya nih, butuh banget."
Yeri senyum. "Yaudah, ada yang bisa dibantu?"
"Emm kamu masih sering berhubungan sama temen temen kantor aku yang di kanada kan?" tanya taeil
"Ada beberapa sih mas. Kenapa?"
"Jadi aku minta tolong, bawain undangan ini ke mereka ya, ya kan kamu tau sendiri aku sibuk banget. Pastinya gak ada waktu buat nyebarin ke mereka."
"Oh itu, okedeh mas. Gampang itu mah," yeri senyum.
Taeilnya juga ikut senyum "makasih ya."
"Iya mas, sama sama."
Sementara nadila yang sedari tadi diam. Memasang ekspresi kecut.
Dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Nadila, kamu—"
Brak!
Nadila membanting pintu kamar.
"Waduh mba dila cemburu nih. Mas ngga ngasih tau ya pasti kita ini siapa."
"Emang suka gitu dia. Aku nyusulin dia bentar ya."
Taeil beranjak dari sofa buat nyusulin nadila yang lagi ngambek itu.
Di kamar, nadila menggerutu sedari tadi.
"Ternyata cowo itu sama semua! Lihat yang bening dikit oleng!" nadila kayaknya siap siap mau pulang.
Dan taeil memasukki kamar.
"Loh? Mau pulang sekarang?"
"Iya!"
"Kan ngerapiin undangannya belum—"
"Aku ngga suka sama yeri!" tiba tiba nadila membahas itu.
Taeil yang tau langsung paham.
"Loh? Kok gak suka? Yeri ngapain kamu emang?"
"Pokoknya aku nggak suka! Aku nggak suka lihat om taeil senyumin dia! Aku ngga suka dia ngomong genit ke om! Pokoknya aku ngga suka!!" nadila ngambek beneran ini.
Taeil diam. Sedetik kemudian dia tertawa.
"Kenapa om malah ketawa! Aku ngga bercanda om!"
Taeil mendekat.
"Kamu kalau lagi cemburu lucu ya."
"Bodo!" nadila sewot.
"Kamu kalau lagi kayak gini bikin aku makin gasabar tau ngga buat nikahin kamu."
"Alesan!"
Taeil terkekeh lalu memeluk nadila
"Dila?"
"Apa?"
"Kamu tau ngga? Kenapa aku memilih kamu?"
"Karena om udah suka sama aku dari pertama kita ketemu."
"Yeu jawaban apa kayak begitu." taeil mengeratkan pelukan
"Ya terus kenapa?"
"Itu karena... Kamu bisa paham isi hati sama ngertiin perasaan aku." taeil mengelus kepalanya nadila.
"....."
"Selain itu, aku juga tau. Kamu perempuan baik baik dan pastinya tulus."
__ADS_1
Nadila mengeratkan pelukan.
"Maafin aku udah cemburuan."
Dan mereka sama sama memeluk erat, meninggalkan yeri di ruang tamu sendirian
Wedding day....
Hari ini hari yang bersejarah buat taeil sama nadila.
Ya karena tepat hari ini. Mereka melangsungkan pernikahan.
Sebenernya sih rencana ijabnya diadakan satu minggu setelah taeil ngelamar nadila waktu itu. Tapi berhubung taeil juga sibuk ngurus ini itu. Terus juga wisuda buat kelulusannya nadila, jadi ya terpaksa harus di tunda sampai satu bulan.
Prosesi ijab kabulnya udah tadi pagi. Dan resepsinya pas malam hari.
Minhyun nggak dikasih tahu. Alesannya? Karena nadila nggak mau minhyun ngerusak pernikahannya mereka. Yaudah sama taeil di iyain aja.
"Widihh, sekarang abang gue nggak jomblo lagi." - yuta.
"Iya, adek gue juga.. ***** lah gue dilangkahin..." pengen mewek aja ten rasanya.
Ya masa adeknya yang ngerasain malam pertama duluan?
"Mas taeil.... Selamat ya, ciyee sekarang udah ada yang temenin tidur. Nggak kesepian lagi." - jisoo
Taeil cuma senyum aja.
"Mbak jisoo buruan nyusul sana, betah banget menyendiri." - yuta mencibir
"Lah dek. Kamu kok nggak ngaca sih? Emang situ udah ada gandengan?" - jisoo
"Mana ada yang mau sama si yudi. Otak aja isinya JAV semua." - ten
"Ngaca bang ten!!! Ngacaaa!!! Emang situ oke????!!" yuta gedeg sama mereka mereka yang membullynya.
"Oh iya? Kok mbak nadila nggak ada disini sih?? Kemana?" - jisoo
"Dia udah di kamar. Pusing katanya." - taeil
"Waduh. Belum apa apa udah pusing. Udah nyicil duluan apa gimana nih?" - yuta.
Dasar emang, yuta si otak konslet.
.....
Nadila ke kamar duluan, udah mandi juga, gatau kenapa dia capek banget hari ini.
Tapi sebenernya dia lebih ke deg degan sih..
Ya gimana nggak deg degan coba? Malam pertama braaa malam pertama...
Bakalan jadi malam yang panjang, juga malam yang panas mungkin hnngg.
"Hahhh kenapa gue jadi grogi gini ya.. Tenang dil.. Lo harus kalem. Harus tenang hadapin om eh maksudnya mas taeil" nadila menghela nafas.
Tak lama kemudian taeil masuk ke kamar.
"Kok belum tidur?" - taeil
"Eh? Udah selesai ya om acaranya?" nadila buru buru nyamperin taeil
"Udah. Kan aku udah ada disini."
"Yaudah kalau gitu... Om mandi dulu aja. Abis itu istirahat."
"Istirahat? Kayaknya malam ini kita nggak bakalan istirahat deh "
"Ha? Kok gitu?"
"Ntar kamu juga tahu sendiri." taeil langsung masuk ke kamar mandi.
Nadila jadi takut sendiri.
......
Nadila baru aja keluar dari kamar mandi.
"Lama banget di kamar mandi?" tanya taeil yang ternyata belum tidur.
"Kok om taeil belum tidur sih? Tidur sana. Nggak capek emang?" - nadila nyuruh taeil tidur.
"Nggak capek aku mah. Malah semangat ini." - taeil
"Hah?"
Bukannya jawab pertanyaannya nadila, taeil malah mendekat ke arahnya.
Mana itu cuma pake celana pendek. Terus nggak pake baju lagi. Aww
"Mumpung issya lagi nggak ada di rumah.. Aku mau buatin issya adek"
"Om a-aku.."
"Kok masih manggil om sih?"
"Eh iya.. Kebiasaan manggil gitu mas.."
Taeil senyum. Dia mendekat ke arah nadila.
Nadila menyilangkan tangannya di dada.
Taeil yang tau terkekeh.
"Kamu percaya sama aku kan? Aku ngga bakalan nyakitin kamu sayang."
Tanpa menunggu jawaban dari nadila taeil ******* bibirnya nadila.
Habis itu dia gendong nadila buat dibawa ke kasur.
Taeil ******* kembali bibirnya nadila dengan tergesa gesa, nadila mah yang tertindih cuma bisa nurut.
Ketika sudah terbawa suasana, taeil melepas lumatannya sejenak. Dia meraba kancing bajunya nadila
"Mas taeil bentar!" tapi sama nadila dicegah
"Kenapa?"
"Emm itu...lampunya ngga dimatiin?"
"Kenapa harus dimatiin?"
"Emm a-anu...soalnya aku, ngga bisa tidur kalau lampunya nyala."
Ngeles ae nadila ini
"Kan kita emang ngga tidur sayang."
Taeil mulai menyibak baju nya nadila
"Mas taeil aku malu!!!" dan akhirnya nadila mengakui
Taeil diam sejenak, menatap istrinya.
"Kenapa malu? Kan kita udah sah. Ngga ada malu maluan lagi." - taeil.
"Ya makanya lampunya dimatiin mass, biar ngga malu malu banget."
Taeil terkekeh pelan, akhirnya taeil turun dari ranjang buat matiin lampu, lalu kembali ke tempat semula. Dia duduk di tepi ranjang
"Udah aku matiin lampunya, terus mau gimana?" - taeil
"Apanya yang gimana?" nadila dengan polosnya bertanya
"Ya mau gaya gimana? Semua gaya? Mau kasar apa mau kalem?"
Nadila terbelalak "mas taeil!"
Taeil tertawa, lucu asli kalau godain nadila gini.
"Sini." taeil menarik nadila biar duduk.
"Aku mau ngelakuin kewajiban aku sebagai suami sekarang. Boleh?" tanya taeil
Nadila mengangguk ragu
"Tapi, ngga kasar kan mas?"
Taeil makin gemes, akhirnya langsung aja meraup bibirnya nadila
Nadila sudah bisa menebak apa yang bakalan terjadi setelah ini.
Skip ><
Udah pagi. Berarti jadwalnya nadila masak,
Ya walaupun taeil masih cuti. Sebagai istri yang baik kan nadila harus siapin makan buat suami tercintanya.
Tapi gitu, dia bangun kesiangan. Jadi masaknya cuma seadanya, nggak sempet belanja. Karena nadila baru bisa tidur jam dua pagi.
Ya tahu sendiri kan, tadi malam taeil melakukan serangan ya bisa dibilang serangan terpanas yang pernah nadila rasain. Ya mungkin saking nggak sabarnya taeil, makanya jadi ngegas gitu
Bener kata yuta, taeil itu kalem kalau cuma lagi kantor aja. Aslinya mah di ranjang panas... Hnngg
"Gara gara om taeil nih. Jadi sakit semua badan gue... Mana perih banget lagi." nadila cuma bisa meringis aja
"Widihh udah masak aja pengantin baru. Nggak capek emang abis main ranjang tadi malem?" dan tiba tiba yuta nongol.
"Bacot ih si yudi." - nadila
"Mbak nadila.. Sekarang nggak boleh ngomong kasar. Kan udah punya suami, jadi harus lemah lembut kayak putri keraton dong.." - yuta.
"Ngapain sih yut. Pagi pagi udah kesini?" - nadila mengalihkan pembicaraan.
"Mau makan lah."
"Oh mau numpang toh.." - nadila
"Sembarangan aja kalau ngomong. Ini kan rumah abang gue, jadi ya gue nggak numpang." - yuta.
"Berani ya lo sama gue? Gue ini kakak ipar lo sekarang. Harus yang sopan kalau ngomong." - nadila
"Kakak ipar mah cuma di rumah doang. Di luar rumah tetep aja lo babu gue."
"Oh gitu.. Yaudah nggak jadi gue masakin."
"Eh? Ya dimasakin dongss, mbak nadila"
"Hm." gitu doang jawaban nadila.
"Bang taeil belum bangun emang?"
"Belum. Masih tidur dia. Kecapekan kali" - nadila
"Emang semalem berapa ronde sih?" - yuta
"Tau!"
"Abang gue liar kan kalau di ranjang?"
"Yeuu kepo banget jadi orang."
"Fiks ini mah. Siap siap aja lo di gas setiap hari." - yuta
"Apasih yutaa! Yakali om taeil minta jatah setiap hari." - nadila
"Ya siapa tahu aja gitu.. Kan dia ngebet banget tuh sama elo. Apalagi dia belum pernah ngelakuin itu sebelumnya."
Ucapannya yuta ada yang janggal di hati nadila.
"Yut?"
"Napa?"
" om taeil kan sebelumnya udah punya istri, ya jelas ae mesti berhubungan. Orang hasilnya jadi issya."
"Loh? Emang bang taeil nggak ngasih tahu lo gitu?" tanya yuta.
"Ngasih tahu apaan sih? Nggak ngerti apa apa gue."
"Ha? Yang bener? Parah emang bang taeil."
"Kenapa sih emang? Jujur sama gue.."
"Ya sebenernya bang taeil sama mba haein itu ngga-"
Ting tong!
Yuta belum selesai ngomong. Tapi udah ada yang mencet bel pintu duluan.
"Aduhh, siapa sih gangguin orang mau ngomong aja." - yuta
"Yaudah gue buka pintu dulu." nadila jalan ke arah pintu. Tapi ya gitu jalannya kalem kayak putri kraton.
Soalnya badannya masih sakit semua.
Ting tong!
"Iya sebentar!!! Nggak sabaran banget sih." nadila agak cepetin jalannya.
Cklek!
"Sia-" nadila terkejut.
Ya karena yang dateng itu minhyun.
"Hai nadila." - minhyun
"Ngapain kamu kesini?" tanya nadila nggak basa basi.
"Aku kesini cuma mau ngucapin selamat aja ke kamu dil. Karena udah nikah sama pak taeil.. Selamat ya." - minhyun
"Iya makasih. Dah kan itu aja? Nggak ada perlu lagi. Kalau gitu gue tutup pintunya."
Nadila baru aja nutup pintu, tapi di cegah sama minhyun.
"Dil bentar dong.. Aku belum selesai."
"Apalagi sih kak? Aku sibuk ini" - nadila
"Suami kamu mana sih? Dari tadi nggak muncul? Biasanya kan langsung heboh kalau aku dateng." - minhyun.
"Nggak usah basa basi. Cepetan ngomong."
"Yaudah deh, sebenernya aku mau ketemu suami kamu sih. Tapi berhubung dia belum ada, aku ngomong sama kamu aja deh."
"Iya cepetan. "
"Ya aku cuma mau bilang, kalau tadi di kantor ada yang cariin pak taeil."
"Siapa?" nadila penasaran.
__ADS_1
"Dia bilang, kalau dia itu mantan pacarnya suami kamu."
TBC