
Hening.....
Apa yang terjadi?
Iya, taeil menampar nadila. Entah itu kesadaran dia atau ngga. Yang jelas taeil berbuat kasar.
Bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Di-dila aku—"
"Sekarang aku tau sikap kamu yang sebenernya...."
Taeil diam.
"Dan sekarang.... Aku nyesel udah relain kuliah aku cuma buat menikah sama kamu mas..."
"Nadila maafin aku." taeil menangkup pipinya. Tapi di tepis.
"Gausah nyentuh aku lagi!"
"Sayang Maafin aku. A-aku khilaf."
"Mulai detik ini aku bukan siapa siapa kamu lagi...... Kita pisah!" tepat setelah itu nadila masuk ke kamar,
"Nadila—"
BLAM!
Nadila membanting pintu.
"Nadila.. Maafin aku, serius aku ngga ada maksud buat kayak gini ke kamu!"
Nadila menangis.
"Dila.. Buka pintunya sayang, kita bicarain baik baik oke. Aku gamau pisah sama kamu."
Nadila memegang pipinya.
"Sayang... Aku bener bener minta maaf. Aku ngga mau pisah sama kamu. Dan Sampai kapan pun aku ngga akan ceraiin kamu!"
"Nadila... Aku cinta sama kamu. Aku gamau kita pisah.." taeil ikut ikutan duduk di dekat pintu.
Kali ini, taeil benar benar kehilangan akal sehatnya.
Sementara itu tanpa ada yang tau. Issya melihat semuanya. Mulai dari taeil sama nadila berantem, dan sampai taeil mukul nadila. Issya melihat semuanya.
Awalnya dia mau ke kamar ayah sama bundanya, minta ditemenin tidur sama nadila. Tapi tanpa sengaja dia melihat kejadian itu semua..
"Kenapa ayah jahat sama bunda???"
Issya aja anak sekecil itu ngga habis pikir.
....
taeil masih terjaga di depan pintu kamar.
Ini semua gara gara tangannya.
Tok tok!
"Sayang... Buka pintunya... Kita bicara baik baik ya."
Tapi gaada jawaban.
Taeil coba membuka pintu. Dan ternyata ngga dikunci.
Taeil langsung masuk ke kamar.
Dan pas taeil masuk ke kamar, dia lihat nadila masukkin baju baju ke tas.
"Kamu mau kemana?"
Nadila ngga jawab, dia masih sibuk masukkin bajunya di tas.
"Nadila!" taeil narik tangannya nadila.
"Lepasin."
"Aku tanya. Kamu mau kemana!"
"Aku.... Mau pulang ke rumah, buat apalagi aku disini?"
"Nadila. Masalah itu bisa dibicarain baik baik! Ngga perlu kabur kaburan segala gini." - taeil
"Aku ngga kabur. Kan kita udah gaada hubungan apa apa lagi. Jadi aku mau pulang ke rumah sama anak anak aku."
Taeil narik tangannya nadila.
"Bisa ngga sih kamu ngga kasar!"
"Denger ya.... Aku... Ngga akan ngasih izin kamu buat pergi dari rumah ini. Apalagi bawa anak anak."
"Dan aku... Ngga peduli.." - nadila.
Taeil mendekat ke nadila.
"Sekalipun kita pisah. Akan aku pastiin hak asuh anak anak jatuh di tangan aku."
Taeil menatap nadila, lalu keluar dari kamar.
Tapi sebelum keluar, dia nyabut kunci yang ada di pintu.
"Kamu ngga usah macem macem ya mas!" nadila buru buru ke arah pintu. Tapi terlambat...
Pintu sudah tertutup dan terkunci.
DUG DUG!
"MAS TAEIL!! BUKA PINTUNYA!! AKU MAU PERGI!"
"BUKA NGGA PINTUNYA!! AKU NGGA SUKA YA DIKEKANG GINI!! BUKAIN!!"
Nadila dikunci dari luar sama taeil.
"DENGER YA MAS!! SEMAKIN KAMU KAYAK GINI KE AKU! AKU SEMAKIN YAKIN MAU PISAH SAMA KAMU!! BUKAA!!"
Taeil bisa denger nadila teriak teriak minta keluar dari kamar.
"AKU BENCI SAMA KAMU MAS!!!! AKU NYESEL UDAH RELAIN KULIAH AKU DEMI NIKAH SAMA ORANG YANG KASAR KAYAK KAMU! AKU BENCI SAMA KAMU!!"
"Maafin aku."
.......
Pagi ini, suasana rumahnya taeil sepi, terkesan hampa.
Hanya terdengar suara tangisan woojin dan ocehan hyunjin yang tidak tau apa apa.
Issya juga diem diem aja.
Walaupun semalem mereka berantem kayak gitu, tapi nadila tetap harus memenuhi kewajibannya. Karena dia masih menjadi istrinya taeil.
Taeil juga udah buka pintu kamar biar nadila bisa keluar, biar anak anak ngga curiga juga.
"Bundaa ayo makan bareng bareng..." - hyunjin.
Nadila senyum.
"Hyunjin aja ya yang makan. Bunda ngga laper." nadila meninggalkan meja makan habis itu masuk ke kamar.
"Ayahh, bunda cakit ya?? Kok gak cemangat gituu.."
Taeil senyum.
"Bunda kecapekan aja nak.. Makan lagi yaa.."
.........
Nadila lagi setrika semua baju baju.
Dia menghela nafas..
Sejujurnya nadila ngga mau hal yang ini terjadi. Tapi dia juga ngga bisa dilarang larang kayak gini. Karena sebelumnya taeil ngga sekeras ini sama nadila.
Tak lama kemudian taeil masuk ke kamar. Nadila buru buru ngelanjutin setrika.
"Aku tau kamu masih marah soal kemarin."
Nadila diem aja.
"Tapi seenggaknya kamu jangan bersikap kayak gitu di depan anak anak. Mereka masih kecil, gatau apa apa soal masalah kita."
Nadila masih diem. Ah lebih tepatnya malas menanggapi. Karena dia tau ujungnya pasti berantem.
"Nadila, aku itu ngomong sama kamu."
"Kalau mau berangkat kerja berangkat aja, aku udah siapin tas sama jas kamu di meja." nadila ngelipat baju.
"Yaudah iya, aku berangkat kerja dulu. Kalau ada apa apa. Telfon."
"Gimana bisa telfon. Hp aja dibawa situ." gerutu nadila.
"Telfon rumah ada kan?"
Masih aja protektif gini si taeil.
Nadila nyabut setrikaan, abis itu berdiri.
"Soal aku minta pisah kemarin... Itu ngga main main mas, kalau kamu masih kayak gini, secepatnya surat cerai ada di tangan kamu." - nadila.
"Dan aku ngga akan biarin itu terjadi sayang" taeil cium keningnya nadila abis itu keluar kamar.
__ADS_1
Sekali lagi nadila menghela nafas, dia baru nyadar. Bakalan susah dapetin surat cerai dari seorang taeil hutomo.
Skip ><
Sekarang nadila lagi ada di rumahnya hansol. Tujuannya mau nganterin issya pulang ke rumah.
"Assalamualaikum papa!!" issya nyelonong masuk ke rumah.
"Waalaikumsalam... Eh kok anak papa udah pulang sih." hansol yang notabene lagi di rumah, menyambut kedatangan anak tercinta.
"Hai mas."
"Loh dil? Udah lama ya kita ngga ketemu." - hansol.
"Iya ya, lama ngga ketemu."
"Kok issya udah pulang? Kan baru sehari di rumah kamu?" - hansol
Nadila diem aja. Bingung mau jawab gimana.
"Terus? Kamu nganterin issya naik apa?" - hansol
"Aku naik taksi mas."
"Emang taeil kemana? Kok tumben ngga dianter."
"Dia..... Sibuk." - nadila.
Hansol mengangguk. Mau tanya lebih jauh ngga enak. Takutnya nadila tersinggung atau gimana.
"Bentar... Itu pipi kamu kenapa? Kok lebam gitu?" hansol menyadari kalau nadila ada lebam di wajah.
"I-itu mas, aku kemarin jatuh, terus ngga sengaja—"
"Bunda bohong!!!"
"Issya.."
"Pa... Kemarin itu issya lihat kalau bunda dipukul sama ayah."
"Apa?!"
Hansol tercengang.
'Astaga.. Jadi issya tahu.."
Hansol lihat ke arah nadila.
"Nadila? Bener taeil kasar ke kamu?" - hansol.
"Ng-ngga kok mas, mungkin issya salah lihat. Yaudah aku sama woojin pamit dulu ya." nadila buru buru pergi dari rumahnya hansol. Menghindari pertanyaan yang lebih jauh.
"Nadila!"
"Pa.. Issya ngga bohong kok, kemarin issya lihat sendiri kalau bunda dipukul pipinya sama ayah."
Issya masih sembilan tahun, masih belum ngerti apa apa. Jadi ngga mungkin anak semata wayangnya ini bohong. Karena juga hansol atau taeil ngga pernah ngajarin dia bohong.
Tapi yang jadi permasalahannya, apa prahara mereka? Sampai taeil nekat kasar begini? Karena ya tau sendiri taeil itu dikenal sabar dan ngga pernah main kasar sama cewe. Apalagi ini istrinya.
.......
Dan sekarang nadila ada di sini..
Di depan rumah yuta,
Nadila ngga tau yuta ada di rumah atau ngga. Karena ponselnya dibawa sama taeil. Jadi ngga bisa hubungin siapa siapa.
Tapi yang dia lihat mobilnya yuta ada di garasi.
Ting tong.
Nadila mencet bel.
"Bundaa.. Kok kita ke rumahnya om uta sih?" hyunjin yang sedari tadi diam ikut berbicara.
Nadila cuma senyum.
Cklek!
"Loh heh? Ngapain lo disini?" yuta
"Ck! Ada tamu tuh diajakin masuk dulu kek. Ditawarin minum atau apa.." - nadila.
"Hehe, sorry.. Yaudah masuk masuk yukk." yuta menggiring nadila beserta keponakannya masuk ke rumah.
"Tumben lo kesini? Ada angin apa? Emang bang taeil ngasih izin lo buat keluar rumah?" - yuta.
"Gue...... Pengen pisah sama mas taeil yut."
"APAAAA???!" yuta sepenuhnya kaget.
"Pisah itu apa?" kan, sampai lupa kalau ada hyunjin.
"Iya om." hyunjin buru buru jalan ke arah kamarnya yuta. Sementara woojin ditidurin di kamar tamu sama asistennya yuta.
Setelah semuanya dirasa aman.
"Jelasin ke gue! Sebenernya ada apa? Kenapa sama kalian??!"
"Gu-gue udah capek yut..."
"Capek kenapa?!" yuta ngegas.
"Gue— Aw!"
Yuta ngga sengaja megang pipinya nadila yang lebam.
"Kenapa sama pipi lo?" - yuta.
Nadila diem, dalam mode otw mewek.
"gausah nangis dulu! Kenapa sama pipi lo nadila??!!" yuta menggoyangkan bahunya nadila.
"Gue.... Dipukul sama mas taeil yut..." dan sedetik kemudian nadila menangis.
"*******!" kan yuta emosi.
"Kemarin.. Gue berantem sama dia. Dan dia kasarin gue.."
Yuta menghela nafas.
"Kenapa? Kenapa dia bisa jadi kasar gini ke elo? Emang lo ngomong apa sama dia?"
"Kemarin gue minta cerai ke dia."
Yuta mengusap wajahnya kasar.
"Ya Allah dila... Kenapa lo ngomong gitu disaat yang ga tepat gini? Jelas aja suami lo jadi kasar."
Nadila malah makin kejer nangisnya.
"Gue benci sama mas taeil yang sekarang yut.."
"Udah udah." yuta meluk nadila. Biar nadila sedikit tenang.
"Udah, lo ngga usah nangis lagi. Nanti hyunjin denger."
"Gue mesti gimana yut... Gue cinta sama dia. Tapi gue juga benci sikap dia ke gue sekarang.."
Yuta menatap nadila.
"Apa lo yakin mau pisah sama abang gue?" tanya yuta.
Nadila sesenggukan.
"Nadila.. Lo tau kan abang gue siapa? Koneksi dia dimana mana ada. Kalau cuma sekedar nemuin pengacara yang handal buat menangin kasus ini gampang buat dia. Dan nantinya elo yang bakal rugi. Karena ngga bakalan ada yang bisa ngalahin seorang taeil hutomo. Sekalipun itu orang terdekatnya "
Yuta benar.... Taeil ngga bakalan nyerah gitu aja buat mempertahankan rumah tangganya. Apalagi dia punya koneksi yang bagus.
"Gue yakin mau pisah sama dia yut." - nadila
"Nadilaa...." yuta sampe jongkok di depannya nadila.
Saking pusingnya.
" gue ngga yakin bang taeil mau tanda tangan surat cerai dari lo!"
" gue ga peduli itu."
"Oke oke, lupain soal itu orang, ya brengsek emang itu abang gue. Tapi seenggaknya. Lo harus inget issya, hyunjin sama woojin. Dia masih butuh sosok ayahnya."
"Perlahan lahan mereka juga bakal ngerti."
"Ya ampun dil. Mereka itu masih butuh nafkah ayahnya!! Terutama hyunjin sama woojin."
"Gue bakalan cari kerja buat nafkahin mereka."
Yuta memejamkan mata.
"Yaudah lah, teserah lo."
Disisi lain, taeil pulang lebih awal hari ini, sekalian mau ngecek rumah. Soalnya perasaannya ngga enak.
"Aku pulang." taeil masuk ke rumah, tapi apa yang didapat?
Keheningan.
"Sayang aku pulang." taeil lihat ke dapur ngga ada siapa siapa
Di meja makan udah banyak makanan.
__ADS_1
"Nadila?" taeil buru buru masuk ke kamar.
"Nadila?" dan lagi lagi taeil tidak menemukan nadila
Taeil melihat ke arah lemari. Dia membukanya
Dan betapa terkejutnya, semua barang barang mulai dari baju dan perlengkapan lainnya punya nadila ngga ada.
Nadila udah berhasil kabur ternyata.
Taeil memejamkan mata, rahangnya mengeras
BRAK!
"HAHHH!!" taeil membanting pintu lemari, dia mengacak rambutnya dengan frustasi
"Gimana bisa kecolongan gini brengsek!"
Drrrrttttt
Hp nya yuta bunyi. Dan benar dugaannya.
"Dari bang taeil."
"Yuta.. Tolong jangan kasih tau kalau gue ada disini.."
Kalau udah lihat nadila melas gini. Yuta jadi ngga tega.
"Napa bang?"
"Nadila kerumah lo?"
"Ngga ada, nadila ngga kesini. Napa emang? Bini lo kabur? ****** aja."
"Gue serius yut, nadila pasti ada dirumah lo kan? Jangan coba coba bohongin gue ya lo"
" eh tomo! Gue ngga bohong ya. Gue daritadi di rumah sendirian. Ngga ada batang hidungnya nadila kesini."
"Tapi pasti lo tau kan dia sekarang dimana? Dia bawa anak anak gue yut. Dia juga bawa semua baju bajunya."
"Ya biarin aja. Orang itu juga anaknya nadila. Lagian ya. Kalau gue tau mereka dimana. Gue ngga bakalan kasih tau lo. Ngerti!"
"Yuta—"
BIP!
yuta memutuskan telfon sepihak.
" dah kan puas lo dengernya?"
"......."
"Terus? Apa rencana lo selanjutnya? Habis ini bang taeil pasti kesini.."
Nadila diam
"Anterin gue ke rumah kak dani."
Taeil masih berada di kamar, dia duduk bersandar di lemari. Setelah dia telfon yuta, taeil jadi tambah frustasi kan
Ya jawabannya yuta aja begitu
"Berani dia minta lepas dari gue..." taeil berguman, sepertinya dia emang bener bener gila karena nadila
taeil mengambil ponsel nya nadila. Dia menatap dan menyalakan hp nya.
Terpampang jelas disitu ada foto dia sama nadila pas pernikahan mereka dulu, dengan senyuman menngembang.
Taeil tersenyum miring
"Kamu mau main main sama aku ya sayang..."
"....."
"Tapi sayangnya, kamu ngga akan bisa menang kali ini..."
PRAK!!
Dan hp nadila terbanting, jadi korbannya taeil.
"NADILAA!!! JANGAN HARAP KAMU BISA LEPAS DARI AKU!!"
Udah kayak orang gila aja si taeil teriak teriak
Ya memang gila, gila karena nadila
Skip >>
Dan sekarang, taeil berada di rumah orang tuanya, disitu juga ada jisoo dan yuta
Dan sekarang dia lagi kena ceramah.
"Kamu tuh gimana sih il? Jagain istri aja nggak bener gini!" - mama seohyun.
"Maafin taeil.."
"Kamu tau ngga sih? Mertua kamu jadi uring uringan gara gara anaknya kabur!"
"Taeil minta maaf ma..."
"Bawa pulang nadila sama cucu mama kalau kamu pengen dapet maaf!" mama seohyun bener bener marah kali ini.
"Sebenernya ada apa sih mas? Kok mba nadila sampe bawa anak anak keluar rumah gini?" kini giliran jisoo yang tanya.
Yuta lagi mode diem. Mungkin lebih tepatnya males sama taeil.
"Sebenernya ini salahnya mas dek."
"Iya tau ini salahnya mas. Tapi kesalahannya mas taeil tuh apa sampe mba dila nekat kabur gini??"
Taeil menghela nafas.
"Sebenernya... Nadila kabur dari rumah itu karena—"
" tinggal ngomong kalau abis ngegampar aja pake lama banget." yuta yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara.
Semua menoleh ke yuta.
"Yuta kamu ngomong apa sih?" - mama seohyun.
"Maksud kamu ngomong gitu apa dek?" - jisoo.
Yuta berdiri.
"Tanya aja sana sama orangnya langsung," yuta niatnya mau keluar rumah.
"Lo tau dari mana?" - taeil ikut ikutan berdiru habis itu nyamperin yuta.
"Perasaan gue belum cerita apa apa kan ke elo?" - taeil
"Menurut lo gue tau dari mana bang?" yuta senyum sinis ke taeil.
Taeil narik kerahnya yuta.
"Dimana istri sama anak anak gue?!"
"mas taeil, yuta!"
"Emang lo masih butuh mereka?" yuta menepis tangannya taeil.
"Lo ngga perlu ikut campur ya urusan rumah tangga gue!"
"YA GIMANA GUEE NGGA IKUT CAMPUR KALAU LO ****** GINI?!"
"GAUSAH SOK TAU YA *******!" - taeil ngegas
"Lo ngatain gue *******?" yuta mendekat ke taeil.
"Sekarang gue tanya.. Maksud lo kasar ke nadila apa?" yuta ngedorong bahunya taeil.
"Taeil... Yuta. Udah" mama seohyun sampai melerai.
"Cuma karena chatting yang belum tentu kebenarannya lo sampai turunin tangan lo buat kasar ke istri lo sendiri!" yuta ngedorong taeil lagi. Otomatis taeil mundur.
"Dan sekarang lo minta gue ngasih tau dimana keberadaannya nadila sama anak anak lo? Siapa yang ******* disini? SIAPA?!" yuta ngedorong taeil lebih keras.
"Yuta udahh! dia ini kakak kamu!"
"Ya terus kenapa kalau dia kakak aku ma? Orang kayak gini ga pantes dibilang kakak!"
Taeil diem aja.
"Kalau emang nadila bener bener minta cerai ke lo... Itu resiko lo bang!" yuta jalan niatnya mau keluar. Tapi balik badan lagi.
"Satu lagi bang,"
BUGH!
Yuta mukul rahangnya taeil. Bahkan sampe taeil jatuh di sofa.
"DEK! APA APAAN SIH KAMU!" jisoo saking kagetnya sampe ngegas
"Anggap aja itu balesan dari nadila buat lo. Assalamualaikum" yuta langsung keluar dari rumah.
"Mas taeil gapapa kan? Kalian kenapa sih jadi ngga akur gini?" - jisoo baru pertama ini lihat yuta sama taeil berantem.
Taeil cuma bisa meringis aja nahan sakit sambil nyentuh sudut bibirnya yang berdarah.
Mungkin ini yang dirasain nadila waktu dia pukul.
"Maafin aku dil...."
__ADS_1
TBC