
Taeil kaget sama omongannya issya. Nadila apalagi.
"Issya? Kok kamu ngomong gitu? Siapa yang ngajarin?" - taeil tanya.
Padahal sebelumnya taeil nggak pernah lihat issya kayak gini. Dia fine fine aja kalau mau punya adek.
Tapi sekarang jadi berubah. Kan aneh.
"Adek bayi itu nyusahin! Issya nggak mau punya adek!"
"Siapa yang ngomong gitu sayang? Adek bayi nggak nyusahin kok." - nadila mencoba memberi pengertian.
"POKOKNYA ISSYA GAMAU PUNYA ADEK! DIBUANG AJA ADEKNYA!"
"issya!" taeil mulai emosi. Dan dia ngebentak issya.
"Siapa yang ngajarin kamu gitu? Ayah nggak suka ya kamu ngomong kayak gitu!" taeil marah.
Yakale nyuruh ngebuang adeknya.
"Mas.. Udah." nadila yang tahu situasinya nenangin taeil.
Kalau nggak ditenangin bisa bisa ngamuk lagi.
"Kalau kamu ngomong gitu lagi, gausah tinggal sama ayah! Tinggal sama ayah kandung kamu sana!"
Dan taeil keceplosan.
"Mas taeil!" - nadila.
"AYAH JAHAT! ISSYA NGGAK MAU KETEMU AYAH!" issya langsung lari dan masuk ke kamar.
BLAM!
Pintu terbanting keras.
"Kamu tuh apa apaan sih mas? Bisa bisanya kamu ngomong gitu ke anak kamu?!" sekarang gantian nadila yang marah.
Iya, jadi ternyata issya itu bukan anak kandungnya taeil, yuta waktu itu cerita ke nadila. Dan nadila tanya ke taeil langsung.
Awalnya nadila marah. Kenapa taeil ngga ngomong ke nadila hal sepenting ini. Tapi di mikir. Bukan salah taeil juga. Toh juga taeil ngerawat issya dengan baik sampai issya segede ini.
"A-aku-"
"Kok kamu jadi permasalahin status issya disini? Kamu udah nggak mau ngurus issya?"
"Nggak gitu dila. Sumpah aku nggak sengaja."
"Kalau mas nggak mau ngurusin issya lagi, biar aku sendiri yang ngurus. Mas gausah pulang ke rumah ini!" nadila langsung nyusulin ke kamarnya issya.
Sedangkan taeil masih disitu, merutuki dirinya sendiri.
Bisa bisanya itu mulut ngomong begitu..
......
Nadila membuka pintu kamar pelan. Dia melihat issya tergulung selimut. Terus lagi nangis.
"Hikss... Ayah jahat"
'Mas taeil, bisa bisanya dia ngomong gitu ke issya.'
Nadila mendekat ke issya.
"Issya sayang?"
"Issya nggak mau ketemu sama ayah!" - issya
"Ini bunda kok. Bukan ayahh."
Issya langsung bangun dari tidurnya. Tapi masih menangis.
"Bunda.. Kenapa ayah ngomong gitu ke issya? Emang issya bukan anaknya ayah ya?" issya sesenggukan
"Kata siapa issya bukan anaknya ayah?" - nadila
"Tadi ayah ngomong sendiri ke issya"
Nadila senyum.
__ADS_1
"Issya jangan dengerin omongan ayah ya, ayah kan lagi capek. Ngurusin kerjaan. Jadi ya ngomongnya ngawur." nadila mengelus kepalanya issya.
"Gitu ya bun? Berarti issya anaknya ayah sama bunda kan?" - issya
"Iya dong.. Issya udah pasti anaknya ayah sama bunda." nadila mencium pipinya issya.
"Oh iya, bunda boleh tanya nggak sama issya?"
"Bunda mau tanya apa?"
"Tadi kok.. Issya ngomong kalau adek bayi itu nyusahin? Siapa yang bilang?"
"Om minhyun bunda.."
DIAR!
"Om minhyun? Issya kok bisa kenal om minhyun?"
Nadila kaget,
"Tadi pas di sekolah. Issya disamperin sama om minhyun, terus issya dibeliin es krim."
Nadila tambah kaget, berani banget minhyun dateng ke sekolahnya issya dan tanpa sepengetahuan nadila.
"Terus? Om minhyun ngomong apa aja ke issya?"
"Om minhyun bilang, kalau nanti issya punya adek. Ayah sama bunda nggak bakalan sayang lagi ke issya. Terus issya bakalan nggak diurus."
'Astaga bener bener keterlaluan emang si minhyun!'
"Terus katanya, ayah itu orang jahat. Dia yang udah ngambil bunda dari om minhyun. Tapi issya nggak ngerti maksudnya."
Nadila bersyukur. Issya nggak mudeng sama omongannya minhyun.
Tapi tetep aja dia kesel sama minhyun, bisa bisanya dia mempengaruhi anak seusia issya kayak gitu.
Fiks kurang belaian dia mah.
"Issya kalau diajak pergi sama om minhyun lagi jangan mau ya."
"Kenapa?"
"Iya bunda... Issya nggak bakalan ketemu sama om minhyun lagi." issya mengangguk.
"Yaudah, sekarang issya tidur ya. Kan udah malem. Besok sekolah." nadila membaringkan issya, abis itu di kasih selimut.
"Bunda?"
"Kenapa sayang?"
"Kalau nanti adeknya udah keluar, bunda sama ayah bakalan tetep sayang sama issya kan?"
Nadila senyum.
"Ya pasti dong. Nanti issya juga harus ikut jagain adeknya. Oke."
"Iya bundaa.."
Nadila nggak habis pikir sama minhyun. Nekat banget. Untung aja issya nggak paham sama yang diomongin.
Dan untungnya lagi. Taeil nggak tahu masalah ini, ya kalau tahu mah, nggak tahu deh kejadiannya kayak gimana.
Skip ><
Hari ini nadila yang nganterin issya ke sekolah,
Ya solanya dia pengen tahu, minhyun dateng lagi apa nggak ke sekolahannya issya.
"Kamu yakin mau nganterin issya sendirian? Kamu kan harus banyak istirahat." taeil ngelarang nadila.
"Gapapa kok mas. Lagian aku juga bosen di rumah terus, kamu nya kan juga kerja."
"Iya aku tahu, tapi kandungan kamu kan masih lemah. Nggak boleh capek, nanti kalau bayi kita kenapa kenapa gimana??"
"Nggak bakalan kok mas. Kamu yang tenang kenapa sih? Orang aku aja santai." - nadila
Ya nadila mah apa apa dibikin santai, coba aja kalau taeil yang ngomong gitu. Malah disuruh pergi dari rumah.
Memang wanita hamil itu selalu benar..
__ADS_1
"Yaudah, kalau ada apa apa. Langsung telfon aku." - taeil
"Enakan telfon mingyu daripada telfon kamu"
NGEK!
Wajahnya taeil langsung datar.
Apalagi sekarang dokter kandungannya nadila mingyu. Makin datar itu wajah.
"Bercanda mas.. Gitu aja baper." nadila cium pipinya taeil lalu langsung keluar dari kamar.
"Baper baper. Kamu malah kebangetan bapernya." - gerutu taeil.
......
Issya udah sampai ke sekolah, barengan nadila juga.
Issya seneng banget bisa dianterin nadila ke sekolah. Katanya dia bisa pamer ke guru guru sama temen temennya kalau nadila itu cantik.
"Bunda tunggu di luar ya, issya masuk di dalem sama bu guru."
"Bu guru.. Bundanya issya cantik kan? Dia sayang banget loh sama issya.." - issya pamer.
"Iya, cantik banget bundanya issya. Yaudah sekarang kita masuk kelas ya. Biar bunda tunggu di luar. "
"Iya bu guru... Bunda tungguin issya ya.."
Nadila mengangguk.
Dan akhirnya nadila nungguin issya di depan kelas.
Dia duduk di kursi yang tersedia, sambil mengelus perutnya yang makin hari makin besar itu.
Dia baru pertama kali datang ke sekolahnya issya. Makanya dia heran banget.
Ini sekolah TK tapi macem gedung SMP aja... Gede banget braa...
Nadila mikir, pasti butuh biaya mahal banget buat masukin issya ke sekolah elit ini.
"Bosen deh." nadila itu nggak betah kalau harus berdiam diri dan tak ada hiburan.
Jadi dia memutuskan buat jalan jalan. Keliling sekolahan, siapa tahu dia ketemu guru ganteng.
"Luas banget astaga sekolahannya. Berasa ada di Mall." guman nadila.
"Ekhem!" lagi enak enaknya mengagumi keindahan sekolah ini. Nadila dikejutkan dengan sosok manusia yang bikin dia naik darah dari kemarin.
"Hai dil." - minhyun menyapa.
"Kak minhyun ngapain sih kesini?" - nadila
"Aku pengen ketemu sama anak kamu.. Eh lebih tepatnya anak tiri kamu." - minhyun
"Ngapain kak minhyun mau ketemu sama issya? Mau ngehasut issya lagi iya?!"
"Santai dong dil.. Aku nggak ada maksud gitu kok.. Kan aku cuma ngomong sesuai fakta yang ada." - minhyun.
"Fakta? Kak minhyun nggak usah sok tahu deh. Walaupun aku sama mas taeil bakalan punya anak. Tapi kita bakalan tetep sayang sama issya." - nadila
"Yakin?"
"Iya lah yakin. Jadi mendingan sekarang kak minhyun pergi dari sini, nggak usah ganggu keluaraga aku lagi." nadila baru aja mau pergi.
Tap omongannya minhyun itu loh bikin kaget.
"Issya bukan anaknya taeil kan?"
Nadila kaget, bisa bisanya minhyun tahu soal ini.
Nadila balik badan.
"Terus? Kenapa emang kalau issya bukan anak kandung mas taeil? Bukan urusan kakak kan?" - nadila
"Iya, itu emang bukan urusan aku. Tapi kamu harus tahu juga."
Minhyun mendekat ke nadila
"Aku udah nemuin ayah kandungnya issya."
__ADS_1
TBC