
Sekarang nadila sama yuta ada di rumah sakit.
Setelah wali kelas hyunjin ngasih tahu kalau hyunjin jatuh dari tangga dan dibawa kerumah sakit. Nadila langsung panik setengah mati. Abis itu langsung berangkat ke rumah sakit.
Taeil juga udah di telfon sama yuta, dan lagi perjalanan ke rumah sakit. Issya di jemput sama dani.
Wali kelasnya hyunjin juga ada di rumah sakit.
Dan dari tadi nadila mondar mandir di depan ugd.
"Dil.. Tenang, gausah panik." - yuta mencoba menenangkan nadila.
"Gimana bisa tenang sih! Hyunjin ada di dalem. Masih bisa lo nyuruh gue tenang."
"Ya justru itu lo harus tenang. Hyunjin kan lagi ditanganin dokter, ga bakalan kenapa kenapa anak elu."
"Lo tuh ya! Ga pernah ngerasain punya anak. Jadi ga paham naluri seorang ibu!"
Nah kan malah kena ceramahnya nadila si yuta.
"Yaudah iya dah, terserah lo. Cewe selalu bener emang!" - yuta jadi kesel sendiri.
Tak lama kemudian taeil datang.
"Nadila" taeil buru buru ke arah istrinya.
"Mas taeil" nadila langsung peluk taeil. Sambil nangis.
"Hyunjin mas.."
"Udah udah, kamu tenang ya.. Hyunjin gapapa." taeil mengelus kepalanya nadila pelan.
"Maaf, tadi kenaapa ya bu hyunjin bisa jatuh dari tangga?" daripada yuta nganggur. Mending tanya ke wali kelasnya hyunjin.
"Tadi setelah bel pulang sekolah, hyunjin buru buru keluar dari kelas dan lari. Mungkin hyunjin juga tidak mengetahui kalau lantai di tangga licin. Dan pada akhirnya dia jatuh."
"Kok bisa sih kayak gitu? Emang ga dikasih tanda apa gimana?!" nadila marah ke wali kelasnya hyunjin.
"Maaf bu nadila, kita juga tidak tahu kalau lantai di tangga dipel."
"Gimana bisa nggak tahu? Kamu kan guru disana, seharusnya kamu juga bisa jagain murid murid kamu!"
Ini malah jadi kena omel sama nadila
"Nadila, udah. Kan bukan salahnya bu wendy juga." - taeil
"Mas kok jadi belain dia sih? Itu anak kita loh di dalem lagi sakit, kan gara gara dia."
"Dila... Ini bukan salahnya bu wendy ataupun lainnya. Ini udah digarisin semuanya sama Allah. Kamu ga boleh nyalahin siapa siapa." - taeil mencoba menenangkan nadila.
"Kalau sampai hyunjin kenapa kenapa. Saya bakalan tuntut sekolah kamu!"
"Nadila. Stop udah. Yang penting sekarang kita fokus ke hyunjin oke."
"Tau nih. Ini tuh rumah sakit, ga boleh berisik. Ganggu pasien lainnya tau nggak!" - yuta
"Lagian dokter lama banget sih mass."
"Ya kan masih di obatin hyunjinnya. Sabar sayang.." - taeil.
Disisi lain. Yuta lagi ngelihatin pemandangan seger lur.
Siapa lagi ga ngelihatin wali kelasnya hyunjin. Alias bu wendy.
'Waduh. Bening juga ini cewe. Tipe gue banget nih asli.'
Dan sekarang nadila lagi jagain hyunjin di ugd. Taeilnya izin buat nyelesain administrasi.
Tapi dari tadi hyunjin nya rewel.
"Ayah mana unddaa?" iya, hyunjin nyariin bapaknya terus
"Ayah keluar sebentar sayang.."
"Unjin mau ikut ayah! Unjin gamau dicini!"
"Iya, iya nanti ayah kesini buat jemput hyunjin. Tapi hyunjinya harus istirahat disini dulu." nadila mencoba menenangkan hyunjin
"Gamau! Unjin mau cama ayah! Gamau cama bundaa!" hyunjin mulai memberontak dan menangis.
"Iya nanti ayah kesini sayang.hyunjin harus nunggu dulu"
"GAMAUU!! UNJIN MAU PULANG SAMA AYAH! GAMAU CAMA BUNDA HUAAA!!" dan hyunjin menangis keras.
"Eh hyunjin gak boleh nangis. Nanti kalau kepalanya sakit gimana?" nadila memegang tangannya hyunjiin yang dari tadi pengen nyabut infusnya.
Tapi malah kakinya hyunjin nendang nadila.
"Hyunjin kok gini? Hyunjin mau disuntik om mingyu lagi?" - nadila
"BUNDA PERGI AJA! UNJIN MAU CAMA AYAH!!"
"Hyunjin kok nakal? Hyunjin mau ya dimarahin sama ayah?"
"Unjin mau cama ayahh!!!"
Tak lama kemudian seorang perawat memasuki ruangan.
"Hallo hyunjin.. Infusnya tante lepas boleh?"
"GABOLEH! CUMA AYAH YANG BOLEH! TANTE SUSTER PERGI AJA SANA!!"
Dah tuh,hyunjin ngamuk. Susah disuruh berhenti.
Memang bapaknya banget kelakuan.
"Maaf ya suster, hyunjinya rewel. Minta ditemenin ayahnya"
__ADS_1
Tak lama kemudian taeil datang.
"AYAH HUAAA!!"
"Eh kenapa ini anaknya ayah hm?" hyunjin digendong sama taeil
"Dia gamau lepas infus kalau ga ada kamu mas." - nadila
"Hyunjin lepas infus dulu ya? Biar bisa pulang." taeil bujukin hyunjin.
"Unjin gamau pulang sama bunda. Bunda jahat! Sama kayak tante suster!"
"Iya iya, hyunjin pulang sama ayah.tapi dilepas dulu oke." taeil membaringkan hyunjin.
Dan setelah itu infusnya di lepas sama perawatnya.
Skip ><
Sekarang hyunjin udah pulang ke rumah.
Katanya dokter, jidatnya hyunjin lukanya cukup dalam. Jadi dapet jahitan lumayan lah ya.
Mana dari tadi hyunjin nya nangis terus.
"Undaa kepala unjin sakittt"
"Undaa tangannya unjin juga sakittt."
Ya begitulah tangisannya hyunjin. Mana kencengan kalo nangis.
Kepalanya yang ada jahitannya sakit. Terus tangannya yang bekas diinfus sakit juga.
Ya namanya bocah.
"Iya iya, hyunjin sabar ya.. Kan biar hyunjin sembuh." nadila mengelus kepalanya hyunjin, biar ga nangis lagi.
"Undaaa kepalanya unjin pusingg."
"Iya iyaa dek hyunjin sabar yaa.." nadila cuma bisa nenangin aja.
Tak lama kemudian taeil masuk ke kamarnya hyunjin.
"Ayahh... Kepala unjin sakitt hikss."
Taeil ke arahnya hyunjin, dan hyunjin langsung meluk ayahnya.
"Anak ayah kok nangis sih.. Katanya adek hyunjin kuat hm.."
"Tapi kepalanya unjin sakitt, jadi nggak kuattt.."
"Mana yang sakit? Sini sini ayah tiup biar sembuh." taeil meniup kepalanya hyunjin yang penuh dengan jahitan itu.
Hyunjin masih nangis, tapi nangisnya kayak orang merintih gitu. Kan kasihan.
"Hyunjin tidur di kamar kita kan?" tanya taeil.
Taeil masih lihatin lukanya hyunjin yang disuruh niupin itu.
"Dil?"
"Kenapa mas?"
"Kayaknnya hyunjin ga mungkin deh jatuh sendiri." - taeil
"Maksudnya mas?"
"Kalau jatuh sendiri, lukanya ga mungkin sampe parah gini. Lagian selicin licinnya tangga kan ga bakalan sampe bikin hyunjin dapet jahitan segini banyaknya." - taeil menduga.
"Unjin tadi ngga jatuh sendiri kok yah." hyunjin yang lagi ada di pelukannya taeil tiba tiba nyaut.
"Loh? Terus hyunjin gimana bisa jatuh?" tanya taeil.
"Tadi unjin lari terus ga sengaja nabrak minhyuk.."
"Minhyuk?"
"Iya, unjin udah minta maaf sama minhyuk. Tapi unjinnya malah didorong. Terus jatuh deh."
Minhyuk??
"Jadi minhyuk yang buat hyunjin jatuh?" tanya nadila
Hyunjinnya cuma nganggukin kepaalanya.
"Kamu kenal minhyuk?" tanya taeil.
"Mas, dia itu keponakannya minhyun. Dari dulu emang suka nakalin hyunjin." nadila jadi tambah emosi.
"Dek hyunjin kenapa nabrak minhyuk?" tanya taeil
"Unjin gak sengaja yahh.."
"Pokoknya aku besok mau ke rumahnya kak soyeon." - nadila
"Soyeon kakaknya minhyun?"
"Iya, aku mau minta pertanggung jawaban dari dia."
"Nadila, gausah di besar besarin lah. Namanya anak kecil kan wajar kalau berantem. Ya mungkin minhyuk nya ga sengaja." - taeil
"Mas tuh ya! Yang namanya ngedorong itu pasti sengaja. Yang rugi kan anak kita."
"Iya iya. Tapi kan-"
"Kalo mas ngelarang aku kesana, berarti mas harus telfon minhyun. Biar dia kesini sama keponakannya." nadila gendong hyunjin abis keluar kamar.
Taeil menghela nafas panjang.
__ADS_1
Malah bingung sendiri aja.
.....
Taeil sama nadila udah ada di kamar, hyunjin juga udah tidur. Habis minum obat makanya langsung ngantuk.
"Mas taeil udah telfon minhyun?"
"Belum."
"Kenapa mas belum telfon minhyun?"
"Ini udah malem dila.. Mana mungkin minhyun angkat telfon dari aku "
"Masih jam sembilan, kak minhyun belum tidur." - nadila
"Kok kamu tahu kalu minhyun belum tidur?"
"Mas lupa ya? Kan aku pernah jadi pacaranya selama empat tahun."
" ohh.. Jadi ceritanya kamu masih inget kebiasannya mantan kamu itu?" - taeil
Nadila ambil hp nya taeil yang ada di meja.
"Kalau mas gamau aku bahas minhyun. Mas harus telfon dia sekarang."
"Yaudah iya, nih aku telfon."
Taeil buru buru nyari nomernya minhyun. Abis itu di telfon.
"Hallo, pak taeil?"
"Iya ini saya."
"Oh iya, ada apa ya pak malam malam telfon saya?"
"Ngga ada apa apa sih. Saya cuma mau tanya, kamu besok bisa datang ke rumah saya?"
"Ke rumah pak taeil? Maaf buat apa ya pak?"
"Eh? I-itu sebenernya-"
Belum juga selesai ngomong. Hp nya taeil udah di rebut sama nadila.
"Hallo kak minhyun?"
"Nadila?"
"Kak minhyun bisa ga bisa harus dateng ya besok ke rumah. Kalau bisa bawa minhyuk sama kak soyeon sekalian."
"Ha? Emangnya ada apa dil? Kok harus bawa minhyuk sama mamanya segala?"
"Minhyuk itu udah celakain hyunjin tadi di sekolah. Dan dia harus tanggung jawab!"
"Kamu serius? Minhyuk ngapain hyunjin?"
"Dia ngedorong hyunjin sampai jatuh dari tangga. Nakal banget sih keponakan kamu!"
"Astagfirullah, dila maafin keponakan aku ya. Aku bener bener gatau kalau minhyuk senakal itu di sekolah."
"Maafnya besok aku tunggu di rumah. Jangan lupa bawa minhyuk beserta orang tuanya kalau bisa!"
"Dila—"
BIP!
Nadila mematikan telefon sepihak.
"Nih" dia memberikan hp ke taeil.
"Udah marah marahnya?" tanya taeil.
"Aku ga marah ya! Cuma kesel."
"Kamu marah sama kesel gaada bedanya" taeil malah godain nadila.
"Mas taeil tuh ya!" nadila mukul tangannya taeil.
Taeilnya malah ketawa lirih.
Dia natap wajahnya nadila. Abis itu ngelus kedua pipinya.
"Udahan dong marah marahnya. Kan besok minhyun udah mau ke rumah." - taeil
"Tetep aja aku kesel. Ga keponakan ga om nya. Sama aja. Sama sama jahat!"
Taeil senyum abis itu ngasih pelukan ke istrinya.
"Nadila?"
"Hmmm.."
"Kamu tahu ga sih? Sampe sekarang jantung aku tuh suka cepet detakannya kalau peluk kamu gini." - taeil
"Gombal."
"Ihh ga gombal tahu. Beneran deh aku ga bohong serius."
Nadila mengeratkan pelukannya.
"Sayang..." taeil bisik bisik.
"Kenapa mas? Geli tahu ngga"
"Ayo bikin adek buat hyunjin sama issya."
"IHH DASAR TAEIL HUTOMO MESUM!!!"
__ADS_1
TBC