
Nadila kaget, sekaligus syok..
Ini kenapa taeil sama issya ada di rumahnya nadila? Ada apaaaa?
Dan darimana taeil tahu kalau rumahnya nadila disini?
YUTA!
"Lo mah, nggak bilang kalau majikan lo ternyata bang taeil..."
"Ke-kenapa emang?"
"Ya dulu dia kakak tingkat gue di kampus." - ten.
"Hah? Yang benerrr??" - nadila.
"Iyee nadilaa jelek." - ten.
"Tante dila kok baru pulang? Issya dari tadi ada disini lohh." - issya nyamperin nadila yang masih cengo.
"Issya, tante nadila itu kan cabe, jadi ya pulangnya malem malem."
"Kak dani!"
"Cabe itu apa sih om?" issya yang nggak tahu apa apa tanya.
"Kak dani nih... Issya kan masih kecil. Nggak usah ngomong neko neko deh!" nadila jadi kesel sendiiri.
Sementara ten cuma cengengesan aja.
" nadila. Kemana aja kamu baru pulang??" mama yuri yang dari dapur langsung nyamperin nadila.
"Habis maen ma.." - nadila.
"Main aja kerjaan kamu. Urusin skripsi kamu tuh. Jangan main terus pikirannya.." mama yuri ceramah mode on.
"Iya mama.."
"Kamu harusnya terimakasih tuh sama taeil, dia yang udah bayarin uang skripsi kamu. Terus juga kamu nunggak kan uang 2 semester? Dasar nakal banget kamu."
Mama yuri ceramah di depannya issya sama taeil.
Malu braa..
"Mpus, semesteran aja sampe nunggak 2 semester. Lo pake apaan itu duit?" - ten.
"Kak dani tolong sadar diri ya. Situ malah lebih dari 2 semester nilep uang kuliah." abis ngomong gitu nadila langsung masuk ke kamar.
Kayaknya lagi badmood.
"Aduh maaf ya taeil, dila emang suka gitu sama kakaknya. Berantem terus, tante aja sampe pusing."
"Iya tante. Gapapa. Namanya juga kakak sama adik " taeil senyum.
Belum tau aja mama yuri, adek kakak modelan taeil sama yuta gimana kalau berantem, lempar lemparan clurit malah
"Oh iya. Tadi nak taeil mau ngobrol sama nadila ya katanya? Tante panggilin ya? Biar dia kesini lagi."
"Eh gausah tante, saya sama issya pamit pulang aja dulu. Soalnya udah malem juga." taeil pamit pulang.
"Tante dila ikut kan yah?" tanya issya antusias.
"Nggak sayang. Ini kan udah malem. Besok pagi tante dila baru dateng ke rumah issya." - taeil
"Kok tante dila nggak ikut sih? Issya kan mau bobok sama tante dila ." raut wajahnya issya berubah jadi sedih.
"Issya sayang. Besok kan tante dila ke rumah nya issya. Berarti besok tante dila bisa bobok sama issya." mama yuri ikut menenagkan issya.
" berarti besok tante dila boleh nginep di rumahnya issya kan nek?"
"Ya boleh dong. Kan buat nemenin issya main."
"Yaudah yah, ayo kita pulang. Biar cepet besok.." issya menarik tangan ayahnya.
"Iya iya, yaudah tante saya pulang dulu ya. Ten balik dulu ya."
"Iyaa hati hati.. Dadah issya."
Dan akhirnya taeil sama issya pulang ke rumahnya
Sebenernya taeil pengen ngomong sesuatu ke nadila. Tapi kayaknya waktunya kurang tepat. Jadi niatnya diurungkan.
Skip ><
Nadila baru sampai ke rumahnya taeil jam delapan pagi.
Dia emang sengaja menghindar dari taeil.
__ADS_1
Entah kenapa semenjak dia tahu kalau taeil yang bayarin uang kuliah. Dia ngerasa nggak enak aja gitu kalau deket deket taeil.
Padahal dia bukan siapa siapanya. Tapi kenapa taeil mau bayarin uang kuliahnya??
Terus gunanya dia kerja disini apaaaa???
"Heh cabe!"
"Yasalam, yudii lo tuh bikin gue kaget aja." - nadila
"Kalau gue lihat lihat nih ya,, sekarang lo tuh jadi keseringan ngelamun gak jelas.. Ada apa sih gerangan???" - yuta.
"Yut.... Gue nggak nyaman sama situasi kayak gini."
"Situasi? Oh gue tahu. Mesti gara gara si minhyun ngajak balikan lo kan kemarin?" tebak yuta.
Iya. Tujuan minhyun ngajak ketemu dila adalah, karena dia mau ngajak balikan..
"Bukan cuma itu aja sih sebenernya.."
"Eh ada lagi toh?? Apa apa??" yuta penasaran.
"Gue... Pengen keluar aja dari kerjaan ini "
"HAH? KENAPA? BANG TAEIL NGAPAIN LO?? NGEHAMILIN LO APA GIMANA???"
PLAK!
yuta kena gaplokan nadila.
"Bisa ya lo kayak gini.. Padahal lagi serius." - nadila
"Iya iya maaf." yuta minta maaf sambil ngelus pipinya.
"Gue nggak enak banget sama om taeil, kenapa dia mau jauh jauh ke kampus gue cuma buat bayar uang kuliah doang gitu?? Terus gunanya kerja disini buat apa coba??" -nadila
"Dil?"
"Kenapa?"
"Lo masih sayang sama minhyun?" tanya yuta.
Nadila menghela nafas.
"Gue nggak tahu yut. Masih bingung."
"Iya sih... Cuma gatau kalau setiap ketemu sama kak minhyun. Goyah gue."
"Yaudah, kalau gitu gak usah ketemu dia lagi. Gampang kan?" - yuta
"Masalahnya kak minhyun itu kemarin ngomong.. Kalau dia bakalan nungguin gue sampai gue ngasih jawaban.." - nadila
"Yaudah lo tinggal nolak aja, apa susahnya sih dil?"
"Yuta, lo tuh ya. Kayak nggak tahu kak minhyun aja! Udah ah. Capek gue." nadila ngelanjutin aktivitasnya... Yaitu bersih bersih rumah.
Pusing dia mikirin dua cowok doang.
Padahal sebelumnya dia nggak pernah gini.
....
Sekarang minhyun sama taeil lagi ketemu.
Minhyun yang ngajakin, gatau kenapa..
"Kamu ngapain ngajak saya ketemuan?" tanya taeil nggak basa basi.
"Nadila kerja di rumahnya pak taeil sebagai apa ya kalau saya boleh tahu?" - minhyun juga nggak basa basi.
"Emang itu penting buat kamu?" - taeil
"Iya, penting sekali."
"Minhyun? Kamu masih sayang sama nadila?"
"Iya. Pak taeil bener banget, saya emang masih sayang sama nadila."
"Kamu udah nyakitin dia. Masih berani bilang sayang?" entah kenapa taeil jadi nggak suka sama minhyun.
"Kenapa emang? Bukannya bapak juga sama ya? Menyakiti perasaannya nadila ."
Taeil diem, nggak jawab.
"Kalau bapak mau saingan sama saya juga gapapa,, tapi bersaing secara sehat ya pak.. Jangan main licik oke." setelah minhyun ngomong gitu dia langsung pergi ninggalin taeil.
Taeil mengepalkan tangannya,
__ADS_1
BRAK!
Skip ><
Taeil baru sampai rumah jam sembilan malam.. Nggak biasanya baraa dia kayak gini.
"Om." nadila yang tahu taeil dateng langsung nyamperin.
"Kenapa?"
"Darimana aja sih? Tumbenan baru nyampe? Issya cariin om terus tuh." - nadila.
"Ya kamu tinggal bilang kalau saya kerja dong dil. Gitu aja masa kamu bikin ribet."
Kenapa ini sama taeil.. Jawabannya tidak mengenakkan sekali.
"Ya tapi kan nggak biasanya om pulang malem gini. Habis dari mana sih om taeil emangnya?" - nadila
"Urusan kerjaan, kamu nggak perlu tahu."
"Kenapa aku nggak perlu tahu?"
"Ya ini urusan pribadi dila.."
"Urusan pribadi apa sampai bikin om taeil pulang jam segini?"
"Kamu banyak omong banget sih dil.. Saya capek. Jangan bikin saya tambah capek."
"Ya apa salahnya sih om? Kan aku-"
"Kamu tuh cuma pembantu kan disini? Jadi gausah tanya tanya masalah pribadi saya. Kerja yang bener sana. Emang kurang ya saya bayarin kuliah kamu?"
Lah! Kok jadi nyolot?
Jelas aja bikin nadila tersinggung.
"Om.. Maaf ya, aku kayak gini karena peduli sama om. terus aku kan nggak minta dibayarin uang kuliah. Dan kenapa om ngaku ngaku jadi calon suami aku? Padahal kita nggak ada hubungan apa apa. Hubungan kita itu cuma sekedar PEMBANTU. sama MAJIKAN . yakan?"
"....."
"Kalau gitu aku permisi dulu ya om. Mau pulang. Sia sia juga aku nungguin sampai semalam ini. Nggak guna. Assalamualaikum " nadila langsung pergi gitu aja.
Sementara taeil yang disitu diem. Dia mengacak rambutnya frustasi.. Makin pusing deh tuh..
....
"Rese banget sih itu om om. Gue kan peduli sama dia, eh malah omongannya kayak gitu. Bikin sakit aja." gerutu nadila.
Malam ini nadila memutuskan pulang jalan kaki, karena udah malem. Dan nggak ada taksi lewat. Dia males pesen grab. Ribet nungguinnya.
Tin!
"Yasalam! WOY! KIRA KIRA DONG KALAU MAU BUNYIIN KLAKSON" Nadila ngegas. Kaget dia.
Mobil nya berhenti. Dan ada sesorang keluar dari mobil.
Dan ternyata minhyun.
"Hai dila."
"Astaga kak minhyun... Kirain siapa."
Minhyun senyum.
"Kamu habis dari rumahnya pak taeil ya?" tebak minhyun.
"ya gitu deh."
"Kok pulangnya jalan kaki? Nggak dianterin pak taeil?"
"Lah? Emang dia siapa aku sih kak. Aku kan cuma pembantunya dia. Jadi nggak ada hak aku nyuruh dia nganterin pulang haha "
"Ya kali aja gitu.."
"Kak minhyun mau kemana?"
"Mau jemput kamu lah."
"Ha?"
"Aku anterin pulang ya?"
Baru aja nadila mau jawab.
"Nadila pulang sama gue!"
TBC
__ADS_1