Papa Muda

Papa Muda
66


__ADS_3

Taeil sama hyunjin masih asik mainan leggo, Kadang juga bercandaan bareng.


"Ayah, dek unjin bosen di rumahhh" hyunjin merengeknke ayahnya.


"Dek hyunjin bosen?"


Hyunjin mengangguk.


"Emang hyunjin pengen jalan jalan kemana?"


"Unjin pengen jalan jalan ke pantai yahhh." hyunjin antusias.


"Ke pantai? Yaudah kalau gitu nungguin—"


"BANG TAEIL!!!"


Belum juga selesai ngomong. Udah ada teriakan dari yuta.


"Hyunjin tunggu disini ya, ayah mau ke dapur dulu."


"Iya yah." 


Taeil buru buru ke dapur mau mastiin kenapa yuta manggil nama dia.


Sementara itu yuta masih megangin nadila yang udah lemes.


"Nadila, lo bertahan ya. Jangan pingsan dulu."


"Nadila?!" taeil yang tahu nadila ambruk langsung ke arahnya.


"Kok bisa gini sih yut?!"


"Gue ngga tahu bang. Gue samperin dia udah kayak gini,"


Taeil lihat ada darah di lantai, juga di kakinya nadila.


"Nadila, kamu masih denger aku kan hey."


Nadila masih setengah sadar,  tapi terlalu lemah buat ngejawab pertanyaan taeil.


Dan dia makin panik


"Bang, bawa ke rumah sakit cepetan!"


Taeil langsung gendong nadila, dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.


....


Nadila udah ada di rumah sakit, sekarang lagi ditangani.


Yuta lagi jaga di depan, sementara taeil lagi ada pembicaraan serius sama mingyu. Hyunjin udah dibawa jisoo.


"Bang taeil lama banget elah. Bikin khawatir aja." yuta mondar mandir aja bisanya.


Gini gini dia khawatir sama keadaannya nadila.


Dan tak lama kemudian taeil datang..


"Bang, gimana? Nadila sama anaknya baik baik aja kan?"


"Yut?"


"Napa bang?"


Taeil langsung terduduk di kursi.


Dia mengusap wajahnya kasar.


Dilihat dari reaksinya, pasti ada masalah besar.


"Bang.... Kenapa?"


Taeil menutup wajahnya...


"Bang. Lo yang tenang, ceritaiin gue pelan pelan. Sebenernya ada apa?"


"Kata mingyu, nadila harus dioperasi."


"....."


"Nadila pendarahan hebat, dan bayinya harus segera di keluarkan."

__ADS_1


"Kalau itu emang yang terbaik. Ya kenapa ngga lo setujuin aja bang? Lagian kan—"


"Masalahnya gue harus pilih salah satu diantara mereka yutaa.."


Yuta diem. Dia tahu pasti perasaan dan pikirannya taeil kacau untuk saat ini.


"Gue sayang dua duanya yut, mana bisa gue milih." sekali lagi taeil mengusap wajahnya.


"Gue tahu perasaan lo bang," yuta duduk disebalahnya taeil.


"Emang ngga ada jalan lain gitu selain kayak gini?" tanya yuta.


"Mingyu bilang posisi bayinya terlilit tali pusar, susah kalau emang harus dipertahanin yut.."


"Nadila belum di kasih tahu?" - yuta.


Taeil menggeleng,


"Mana tega gue ngomongin hal kayak gini ke dia.."  taeil nundukkin kepala.


Pikiran dia bener bener kacau.


"Taeil!" mama nya taeil sama nadila dateng. Sama ten juga.


"Taeil mana nadila? Anak mama baik baik aja kan?" tanya mama yuri.


Taeil ga tau mesti jawab gimana.


"Tante... Nadila harus dioperasi secepatnya." yuta yang berbicara


"Kok bisa gini sih bang?" tanya ten.


"Gue ngga tahu dan..." 


Tak lama kemudian mingyu datang.


"Mas taeil... Nadila harus segera melakukan operasi." - mingyu


"Mingyu. Sebenernya kenapa menantu sama cucu mama?"


"Kita harus mengeluarkan bayi yang ada di kandungannya nadila ma. Kalau ngga bertindak nadila bisa—"


Belum juga selesai ngomong, taeil udah berdiri. Abis itu mencengkram jas nya mingyu.


"Mas.. Mas taeil tenang dulu ya, kita bicarain pelan pelan."


"SELAMETIN DUA DUANYA!"


"Bang tenang bang, ini rumah sakit... Lo ngga usah panik dong." yuta


"Taeil! Ini sebenernya kenapa? Jawab mama!" mama yuri jadi ikutan panik. 


"Nadila harus dioperasi karena mengalamin pendarahan hebat, dan posisi bayi nya saat ini terlilit tali pusar. Kemungkinan nadila akan melahirkan secara prematur. Tapi kita ngga bisa menjamin keduanya akan selamat."


"Jadi maksud kamu diantara mereka nanti bakalan ada yang meninggal gitu? Iya?!"


Mama yuri langsung lemes, untung aja ada ten


"Mama! Mama gapapa kan?" mama yuri langsung duduk.


"Nadila...."


"Mama yang tenang ya, nadila ngga kenapa kenapa udah." - ten.


"Saya ngga mau tahu ya gyu! Selametin dua duanya. Atau saya akan tuntut rumah sakit ini termasuk kamu!"


"Bang taeil...."


"Iya mas, kami akan berusaha, tapi mas taeil—"


"Saya gamau tau mingyu! Selametin dua duanya, atau kamu bakalan kehilangan pekerjaan kamu!"


"Mas taeil, kita bakalan berusaha, tapi juga kita gabisa menjamin mas. Kita cuma dokter, dan dokter juga manusia."


Taeil mencengkeram erat jas nya mingyu.


"Dan saya.. Gak peduli itu."


Taeil mendorong mingyu kasar setelah itu langsung masuk ke ruangannya nadila.


"Sabar gyu sabar, abang gue lagi emosi. Ntar juga baik lagi." yuta menenangkan mingyu.

__ADS_1


"Iya, gue paham kok sama situasinya"


Dan sepertinya, mingyu harus menunda operasi nya, sampai keadaan benar benar kondusif 


Skip ><


Sudah beberapa jam yang lalu. Taeil masih setia nungguin nadila. Bahkan dia lupa untuk makan dan mandi.


Nadila sadar kok, cuma lemes aja.


Dan dia belum tahu kondisi bayinya sekarang kayak gimana.


"Mass...." nadila lirih banget kalau manggil. Efek lemes kali ya


"Kenapa sayang? Ada yang sakit?"


"Bayi kita....gapapa kan..."


Pertanyaan yang dihindari taeil akhirnya muncul.


Taeil senyum.


"Kamu istirahat aja ya, ngga usah mikir macem macem dulu"


"Mas.."


"Kenapa? Kamu butuh sesuatu?"


"Kalau bayi kita kenapa kenapa gimana?"


Kan taeil makin ngga tega mau ngomong.


"Kamu harus percaya kalau bayi kita ngga kenapa kenapa. Yang kuat ya.."


Tak berselang lama mingyu datang..


"Selamat sore.." mingyu menyapa dengan senyuman.


"Diperiksa dulu ya zen bayinya."  mingyu bersama asistennya lagi meriksa nadila.


"Perut kamu sakit ngga?"


Nadila menggeleng pelan.


"Kamu ngerasain sesuatu ngga di perut kamu?" tanya mingyu sekali lagi.


"Nggak gyu..."


Mingyu senyum, dia lihat ke arahnya taeil


"Mas, bisa kita bicara?"


Dan sekarang taeil lagi sama mingyu. 


"Mas saya—"


"Apa saya harus bener bener memilih?"


"Mas taeil, justru saya manggil mas kesini untuk membicarakan tentang kondisi nadila."


"....."


"Untuk kondisinya saat ini masih stabil, terus kondisi kandungannya juga baik baik, karena jantungnya masih berdetak." 


"Apa itu berarti... Anak saya masih bisa selamat?"


"Itu yang jadi masalah mas, dan yang jadi masalah, posisi bayinya saat ini terlilit tali pusar dan tidak pada tempatnya, ini yang dikhawatirkan antara keselamatan bayi atau ibunya."


Taeil memejamkan mata, dia mengusap wajahnya.


"Terus, saya mesti gimana mingyu?"


"Saya paham, mas taeil pasti kacau.  Tapi saya sebagai dokter hanya bisa membantu semampu saya mas." 


"Saya gatau gyu.  Saya sayang dua duanya, mana bisa saya memilih satu diantara merekaa"


"Mas, saya—"


Belum juga selesai ngomong, ada perawat masuk.


"Dokter,  kondisi ibu nadila menurun."

__ADS_1


TBC


__ADS_2