
Nadila kaget, kenapa minhyun bisa tahu kalau dia ada disini.
"Kak minhyun kok bisa ada disini?" tanya nadila.
"Kenapa emang? Takut ketahuan kalau lagi berduaan sama pak taeil?" minhyun ngomongnya suka bener.
"Kakak ngapain sih kesini?" nadila jadi takut sendiri.
" ikut aku sekarang!" minhyun narik tangannya nadila.
"Kak, aku nggak mau! Lepasin!"
"Nggak usah ngelawan!" - minhyun narik tangannya nadila paksa.
"Kak minhyun lepasin!"
Tanpa diduga ada yang mendorong minhyun keras.
Siapa lagi kalau bukan taeil pelakunya.
"Bisa nggak? Nggak usah kasar sama perempuan? Saya nggak suka lihatnya." - taeil.
"Bisa nggak? Pak taeil nggak usah ikut campur urusan saya sama nadila?" - minhyun.
"Urusan nadila itu, sekarang jadi urusan saya. Paham kan maksudnya?"
"Cih! Emang bapak tuh siapa nya nadila sih? Pacar bukan. Suami bukan. Kenapa ngatur?"
Nadila jadi pusing sendiri sama mereka berdua. Harus gimana coba?
"Mendingan sekarang kamu pergi dari sini." - taeil
"Kalau saya nggak mau. Bapak mau ngapain saya emang?"
"Ini rumah saya, saya nggak mau berantem sama kamu di depan nadila. Mendingan kamu pergi." - taeil ngusir minhyun
"Aku pergi dulu.... Sampai ketemu nanti" minhyun bisik bisik ke nadila habis itu senyum miring. Lalu dia pergi
"Kamu gapapa kan?" tanya taeil
"Aku pusing om." - nadila
"Yaudah, ke rumah kamu nya nanti aja ya. Kamu istirahat dulu di dalem." - taeil
"Nggak om. Kita pulang sekarang aja." - dila
"Tapi kan kamu—"
"Om aku takut kak minhyun kesini lagi."
Taeil lihat, nadila kayak takut gitu.
"Yaudah iya, kita pulang sekarang." dan akhirnya taeil nganterin nadila buat pulang ke rumah.
Sementara itu, minhyun yang ada di mobil lagi ngamuk nggak jelas.
Emosi berat dia.
"******* SI TAEIL! IKUT CAMPUR URUSAN GUE AJA!!" minhyun mengumpat dari tadi.
"Awas aja ya, gue jamin secepatnya nadila bakalan jadi milik gue lagi. Tanpa ada gangguan sekalipun!!"
....
Di perjalanan, nadila cuma diem aja di mobil. Mungkin emang lagi stres, ditambah minhyun dateng. Tambah stres aja dia.
"Dila?"
"Kenapa om?"
"Kamu gapapa kan?" tanya taeil.
Daritadi taeil khawatir sama keadaannya nadila.
"Gapapa kok om. Cuma lagi pusing aja." - nadila
"Kalau kamu lagi banyak pikiran, harusnya kamu cerita sama saya. Jangan dipendem sendiri. Nggak baik buat kesehatan sama mental kamu." - taeil.
"Om taeil?" - nadila
"Kenapa?"
"Kayaknya aku mau berhenti aja deh kerja di rumah om."
Taeil ngerem mendadak.
Untung aja jalannya lagi sepi.
"ASTAGA!! OM TUH HATI HATI KENAPA SIH KALAU NYETIR!" Nadila ngegas.
"Kamu nggak serius kan mau berhenti kerja?" tanya taeil.
"Aku... Serius om."
"Kenapa? Apa alasan kamu mau berhenti kerja di rumah saya?" - taeil
"Aku mau fokus ke skripsi dulu om. Dan juga aku nggak mungkin bisa terus terusan kerja di rumah om. Selesai wisuda, rencananya aku mau nyusulin papa aku ke thailand. Aku mau ngelanjutin studi aku disana."
Jelas aja omongannya nadila bikin syok taeil.
__ADS_1
"Kamu nggak boleh pergi..."
"Kenapa gitu? Om.. Tujuan aku kerja di rumah om kan karena aku butuh uang buat bayar kuliah. Dan sekarang malah om repot repot bayarin kuliah aku. Jadi guna nya aku kerja disana buat apa coba?" - nadila
Taeil melepas sabuk pengamannya. Dia mendekat ke arah nadila.
"Ayo kita menikah."
Omongannya taeil buat nadila syok.
"Om.."
"Saya harus segera nikahin kamu biar kamu nggak pergi ninggalin saya sama issya."
"Om taeil. Aku belum siap kalau harus berumah tangga sekarang."
"Kalau gitu, kamu harus tetep disini."
"Aku nggak-hmmhph"
Taeil cium bibirnya nadila.
"Om! Jangan kayak gini kenapa sih?!" nadila melepas paksa ciumannya taeil.
Kasar sih mainnya.
Taeil melepas sabuk pengamannya nadila.
"Saya pengen kamu tahu, kalau saya itu tulus sama kamu."
"Om aku- hmphhh"
Taeil mencium nadila lagi, tapi kali ini lebih lembut, ngga kayak tadi kasar hngg.
Nadila yang tadinya berusaha menolak, akhirnya kepancing. Dia membalas ciuman taeil.
Dirasa nadila ngerespon, taeil menyenderkan nadila di kursi, nadila malah nurut nurut aja. Dia mengalungkan tangannya di leher taeil.
Ciuman mereka makin panas, taeil buru buru kunci pintu mobil,
"Hmmmhh." nadila melenguh,
Taeil melepaskan ciuman sejenak,
"Saya cinta sama kamu.."
"Om—"
Taeil meraup bibirnya nadila lagi.
Nadila malah nurut nurut aja. Ya lebih tepatnya pasrah.
Mereka masih sibuk bertukar bibir.
Gatau mereka berciuman berapa lama, yang jelas mereka udah berantakan.
Dirasa kehabisan nafas, nadila meremas rambutnya taeil.
Taeil melepas tautannya.
Nafas mereka sama sama tersengal.
Kemudian taeil senyum.
"Kamu udah paham kan kenapa Saya ngelakuin ini?"
Nadila diem aja, masih mengatur nafas.
"Kamu harus lihat issya, dia sayang sama kamu. Apa jadinya kalau kamu tinggalin issya?"
Seketika nadila inget sama issya.
Issya seneng banget kalau nadila bisa jadi bunda nya. Tapi nadila juga nggak bisa terus terusan ada di rumah taeil.
Dia kan juga harus cari pekerjaan yang tetap. Nggak mungkin selamanya dia jadi asisten rumah tangga.
"Nadila.. Saya cuma ngomong ini sekali."
"Saya pengen kamu jadi bundanya issya.. Apa kamu mau menikah sama saya?"
Terjun aja nadila dari dunia ini.
Skip ><
Nadila sedang dilanda kebingungan. Hatinya kalut.
Bahkan ngerjain skripsi aja nggak konsentrasi.
Setelah lamaran mendadak dari taeil di dalam mobil beberapa waktu lalu, nadila bingung harus jawab apa.
Dia jadi malu sendiri kalau ketemu taeil.
Makanya dia mutusin buat nggak ke rumahnya taeil dulu selama ngerjain skripsi. Biar konsentrasi juga.
Ntar kalau udah kelar sidang baru balik lagi ke rumahnya.
Itupun kalau nggak lupa sih.
"Duhh.. Gue harus ngapain ini?? Terima atau nggak?"
__ADS_1
Nadila jadi mumet sendiri.
Kalau di terima, itu berarti dia nggak bisa ngelanjutin studi ke thailand, dan nyusulin papanya kesana.
Tapi kalau dia nggak nerima lamaran dari taeil.. Bisa bisa keburu diambil orang. Ntar nadila yang patah hati.
Sungguh bingung hatinya saat ini.
"DEK!!"
"Yasalam! APA SIH! Ngagetin aja bisanya"
"Ya abisnya, dipanggilin dari tadi nggak nyaut. Sampe kering ini tenggorokan gue!" - ten
"Kenapa sih? Gangguin gue ngerjain skripsi aja!"
"Skripsi apaan skripsi?! Orang dari tadi gue lihat lo cuma planga plongo nggak jelas. Nggak usah halu deh." ten kalau ngomong suka bener.
"Yee biarin aja lah ya.." - nadila.
"Kenapa sih lo? Sekarang keseringan ngelamun." tanya ten yang sekarang duduk di sebelahnya nadila.
"Lagi bingung kakak..."
"Bingung kenapa adek?"
"Om taeil ngajak gue nikah masa."
"HAH?! YANG BENER AJA LO DEK!! HALU YA LO?"
Ten kaget
" siapa yang halu sih! Orang beneran juga."
"Nggak mungkin, masa bang taeil mau sama modelan kayak elo? Udah jelek, cabe lagi."
"Wah anjing emang!" nadila mengumpat.
Ten cuma cengengesan aja..
"Terus terus? Lo terima dia gitu??" tanya ten.
"Itu dia masalahnya.. Gue masih belum ngasih jawaban ke dia." - nadila
"Lah kenapa? Sok jual mahal banget *****."
"Yee, bukan masalah itu ****! Lo kan tahu sendiri kalau gue itu pengen ngelanjutin studi ke thailand, sekalian nyusulin papa disana."
"Terus? Hubungannya sama bang taeil apa??" - ten
"Ya kalau gue terima lamarannya dia. Itu berarti gue gagal berangkat ke thailand kak dani..."
"Iya juga ya... Lah terus sekarang mau lo gimana?? Harus cepet cepet ambil keputusan dek "
"Gue bingung kak. Ya gue emang sayang sih sama om taeil, tapi gue juga nggak mau nyia nyiain kesempatan yang datengnya cuma sekali."
"Dila.. Nikah kan juga sekali seumur hidup. Jadi lo harus bisa tepat ambil keputusan."
"Kata siapa nikah sekali seumur hidup? Om taeil aja kepengen nikah lagi tuh sama gue." - nadila
"Ya itu lihat situasi ****!" ten nonyor kepalanya nadila.
Heran aja gitu, orang kok nggak pinter pinter
"Kak dani.. Harus gimana ini gue??" nadila mengacak rambutnya kesal.
"Tanya yuta aja sono! Bang taeil kan abangnya yuta. Pasti dia bisa lah ngasih solusi ke elu.." ten memberi saran.
Nadila diem, dia bingung harus gimana lagi. Makin pusing dia.
'Apa gue terima aja ya lamarannya om taeil?'
Skip ><
Hari ini nadila mampir ke rumahnya taeil abis ke kampus.
Dia mau ngomong sesuatu ke taeil, soal masa depan katanya.
Dan mumpung ini hari jumat, pasti taeil lagi ada di rumah.
"Udah lama banget gue nggak dateng kesini... Jadi kangen issya."
Nadila membuang nafas,
Ting tong!
Asli nadila grogi kalau harus ketemu taeil.
Tapi dia juga kangen sama taeil.
Ting tong!
Nadila mencet bel sekali lagi.
Dan pas pintunya terbuka.
"Maaf cari siapa ya?"
DENG DENG!!!
__ADS_1
Kok kok?? Yang bukain pintu cewek?
TBC