Papa Muda

Papa Muda
80


__ADS_3

Ini masih jam dua pagi. Tapi taeil sama nadila belum tidur. Lebih tepatnya hanya taeil yang belum tidur.


Alasannya? Karena mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka sebagai suami istri.


Melepaskan kerinduan lebih tepatnya.


Posisi mereka saat ini berpelukan, lebih tepatnya taeil yang memberi pelukan nadila.


Mereka hanya memakai selimut sebagai pelindungnya.


Tangan kanan nya berada diperut nadila. Sedangkan tangan kiri taeil berada di atas kepalanya Dan kakinya menindih kaki nadila.


Taeil menatap wajah nadila yang lagi tidur sedari tadi, sesekali dia mengelus kepalanya.


Dia rindu dengan situasi seperti ini.


Nadila menggeliat, dan tak lama kemudian dia membuka mata.


"Kok udah bangun?" taeil


"Ini jam berapa?" tanya nadila


"Baru jam dua pagi sayang, tidur lagi ya." - taeil


"Mas taeil juga kenapa belum tidur?" - nadila


"Lagi liatin kamu tidur" - taeil


"Dih, kebiasaan..."


Taeil senyum,


"Udah lama aku ngga sedeket ini sama kamu, kan kangen"


'Aku juga udah lama gak ngerasain moment kayak gini sama kamu mas..'


mereka masih saling cerita dengan suara serak.


"Mas?"


"Hm.."


"Woojin sama hyunjin dikasih makan sama yuta ngga ya?" - nadila


"Ya jelas aja dikasih sayang.. Kamu nih aneh." taeil mengelus kepalanya nadila.


" ihh kamu gatau ya. Waktu aku kerja, terus aku titipin anak anak ke dia. Eh masa ngga dikasih makan sampe malem. Mana mereka diem diem aja."


Taeil cuma senyum.


"Woojin kenapa bisa sakit?" - taeil


"Ah itu.. Waktu itu tuh aku bawa woojin kerja, habisnya seharian itu dia ngga mau lepas dari aku mas. Minta dikasih Asi terus."


"Terus?"


"Terus pulangnya kita kehujanan deh."


"Lain kali kalau hujan gitu gausah berangkat kerja. Nanti kalau kalian sakit gimana?"


"Ya kalau ngga berangkat, aku ga bisa bayar sewa mas.. Mana yang punya apartemen ini tuh nyebelin banget" - nadila


"Besok kita pulang ke rumah ya?" - taeil


Nadila diam.


"Mas?"


Nadila balik badan.


"Kalau misalnya kita pulang ke rumah... Berarti aku ga kerja lagi." - nadila


"Kalau kamu kerja, yang ngurusin anak anak siapa hm?"


"Iya juga...."


"Sayang?"


"Kenapa mas?"


"Soal chat hendery di hp kamu... Itu aku yang baca. Dan itu alasan aku jadi kayak gitu ke kamu." - taeil


"Chat? Ohh yang hendery bilang kalau dia sayang aku itu?"


"Iyaa....."


Nadila ketawa pelan.


"Kok ketawa sih kamu? Seneng ya di chat gitu sama cowo lain?" - taeil


"Astaga sayang... Nih aku kasih tau." nadila mengeratkan genggaman ke tangan taeil.


"Tau ngga kenapa hendery bilang gitu ke aku? Itu karena... Dia kalah taruhan "


"Taruhan?"


"Iyaa.. Jadi itu hendery sama temen temennya lagi taruhan gitu, terus yang kalah kata dia harus kirim pesan ke cewe yang hendery kenal. Yaudah deh akhirnya dia ngechat aku."


"Jadi..... Aku salah paham?"


"Iya kamu salah paham. Terus akhirnya kamu—"


"Sst.. Udah, aku gamau inget inget itu lagi."


"Iyaa om taeill."


Taeil merengkuh nadila


"Eh iya, kenapa kamu ngga kerja di kantoran aja? Kenapa lebih milih kerja paruh waktu?" - taeil tanya sambil mengelus kepalanya nadila.


"Karena waktu itu... Aku gamau ketemu kamu mas.. Karena Kalau aku kerja di kantoran, pasti kamu bakalan nemuin aku."


Taeil mengeratkan pelukan, habis itu mencium bahu telanjang nadila.


"Mass ih geli tau ngga."


"Udah lama tau kita ngga kayak gini." taeil masih ciumin bahu dan kini beralih ke leher.


"Mass.... geli tau" - nadila


"Udah lama juga aku ngga cium aroma kamu gini..."


Nadila senyum. Dia memiringkan badannya


"Aku juga kangenn banget sama om duda ini...." nadila sembunyi dibalik lehernya taeil


"Siap bikin adek buat woojin berarti?" - taeil


"Hihh mas taeil nih! Woojin aja belum ada satu tahun. Masa mau dibikinin adek lagi..."


"Gapapa Kan banyak anak banyak rejeki sayang." - taeil

__ADS_1


"Astaga mas, aku aja ngurus hyunjin sama woojin masih kerepotan. Belum lagi ngurusin kamu. Ngurusin issya juga, tambah pusing kalau nambah anak lagi." - nadila


"Tau ngga? Rumah rasanya sepi banget kalau ngga ada kamu sama anak anak." - taeil.


"Aku juga pusing dengerin hyunjin nyariin ayahnya terus." - nadila.


Taeil mendekatkan wajahnya


"Sayang..."


"Hm.."


"Jangan tinggalin aku lagi ya." taeil ngomong disebelah telinganya nadila. Kan bikin nadila kegelian.


"Udah ah tidur. Udah jam berapa ini," nadila meremin mata.


" omongan aku tadi gamau dijawab nih?"


"Iya sayang iya, aku ngga akan ninggalin kamu lagi."


"Janji dulu."


"Iya iya janjii bapak taeil hutomo.."


Taeil membaringkan nadila.


"Sekali lagi ya?" - taeil


"Hah? Apanya yang sekali lagi?"


Dan tanpa menjawab pertanyaan nadila, taeil langsung menutup selimutnya.


"MAS TAEILL GELII IHH!!!"


Dah, bakalan main sampe pagi dah tuh.


Skip ><


Pagi pagi banget yuta udah nganterin hyunjin sama woojin ke apartemen, ya karena dia ada jadwal ngantor hari ini.


Tok tok tok!


"Nadila, bang taeil.. Nih gue bawa anak anak lo balik." yuta gedor gedor pintu kamar.


Tapi tidak ada jawaban.


"Dah nih, pasti masih pada tidur. Dasar keboan!"


"BANG TAEIL! NADILA! KELUAR NGGA? KALO NGGA KELUAR GUE BAKALAN DO-"


"apasih yutaa?? Berisik banget pagi pagi." taeil buka pintu dalam keadaan setengah telanjang. Cuma pake celana doang.


"Lama amat sih buka pintu gitu aja! Nih gue bawa anak anak lo."


"Iya makasih yuta.."


"Nadila mana btw? Gue masuk ya." yuta hampir aja masuk ke kamar. Kalau ngga di cegah sama taeil.


"Mau ngapain lo?"


"Mau masuk lah,"


"Gaboleh, disini aja." - taeil


"Lah? Biasanya juga gue nyantai masuk ke kamar ini sebelum ada elo."


"Ya itu kan sebelum ada gue, sekarang udah ada gue. Ga gue bolehin."


"Dibilangin jangan masuk. Nadila lagi ga pake apa-" dan taeil keceplosan.


"OHH JADI GUNANYA KALIAN NITIPIN ANAK ANAK KE GUE TUJUANNYA BUAT KAWIN GITU? DASAR GATAU DIRI!"


.......


Nadila lagi ada di dapur. Hari ini dia ngga kerja. Karena taeil yang minta, terus woojinnya juga lagi rewel ngga mau lepas sama nadila. Makanya dia masak sambil bawa woojin di depan.


Mana daritadi mainin bahan bahan yang di dapur.


"Woojin jangan di buang, itu buat bunda masak..."


"Woojin, jangan digigit, kamu belum punya gigi sayang."


"Astaga woojin, kan bunda udah bilang wortelnya jangan dimakan. Bandel sih kamu."


Dan begitulah celotehan nadila ke woojin yang gatau apa apa. Yang penting dia happy.


Taeil yang lagi main sama hyunjin kan jadi kebrisikan.


"Lagi ngapain sih? Seru banget kayaknya.."


"Seru apanya! Woojin nih daritadi gangguin aku terus."


Woojinya malah ketawa, ya walaupun ketawanya ngga ada suara.


"Malah ketawa ini bocah."


"Aaaa....yahh.."


"Eh? Woojin udah bisa bilang ayahh." taeil bangga anaknya nyebut nama dia duluan.


"Woojin kok nyebut nya ayah duluan sih?? Harusnya itu bun...daaa." nadila protes.


"Ya karena woojin ganteng kayak ayah, ya kan.."


Nadila jambak rambutnya taeil yang lagi nguyel nguyel woojin.


"Aduh! Kok dijambak sih bun?"


"Ya nyebelin sih."


"Ya kan emang ayah ganteng, ya kan dek.."


Nadila jambak rambutnya taeil lagi.


"Iya iya ayah jelek, iyaa."


Nadila ketawa pelan.


"Mas?"


"Hmm.."


"Kalau mas mau ngajakin kita pulang ke rumah sekarang ayo deh."


Taeil menoleh ke nadila.


"Kamu..... Serius?"


Nadila menghela nafas, lalu mengangguk.


Taeil senyum..

__ADS_1


"Yaudah kita siap siap sekarang ya."


"Iyaa.."


Sejujurnya ada perasaan gak rela kalau nadila harus ninggalin hidup dia yang sekarang. Bukan apa apa, tapi dia udah nyaman sama pekerjaan dia.


Tapi, dia tetep harus nurut sama suaminya.


Skip ><


Taeil sama nadila beserta anak anak udah ada dirumah.


Hyunjin langsung lari masuk ke kamarnya, yang tiga bulan ini ngga ditempatin.


"Hahh. Udah lama banget rasanya aku ngga lihat rumah ini."


Nadila lihat sekelilingnya.


"Masuk kamar yuk. Sini woojinnya aku gendong." taeil gendong woojin sedangkan nadila yang bawa barang barang masuk ke kamar.


......


Nadila lagi beres beres baju, abis itu dimasukin ke lemari.


Ya mumpung woojinya lagi diem di taruh box, jadi dia bisa beresin kerjaan rumah.


"Kamu ngapain?" - taeil yang baru masuk ke kamar tanya.


"Beresin baju mas.. Mumpung woojin lagi diem."


Taeil duduk di sebelahnya nadila.


"Nih."


Taeil menyerahkan sebuah ponsel. Yang pastinya itu ponselnya nadila yang dibawa sama taeil waktu itu.


"Kenapa mas balikin ke aku?"


"Ya karena itu hak kamu." - taeil


"Kalau emang mas taeil belum sepenuhnya percaya sama aku. Mas bisa bawa hp itu lagi."


"Sayang... Aku kan kayak gini karena salah paham sama kamu. jadi ga ada yang perlu diraguin lagi."


Nadila mengambil ponselnya.


"Eh?"


"Kenapa?"


"Ini mas... Layarnya pecah."


"Oh iya.. Waktu itu hp kamu sempet aku banting. Jadinya...."


"Gapapa mas.. Waktu itu kamu pasti lagi emosi kan?"


"Yaudah buang aja hp nya. Besok beli yang baru ya."


Songong bener nih orang tua.


Ya tapi emang bener sih.


Taeil itu kan beruang. Jadi kalo cuma buat beli hp macem punya nadila mah bisa beli lima kali ya.


"Eh kok dibuang? Ini hp aku beli pake uang sendiri tau. Main buang aja." - nadila


"Iya, aku tau kalau itu pake uang kamu sendiri belinya. Tapi kalau udah rusak ngapain masih dipake sih sayang.. Udah beli lagi aja beli."


Taeil ngeluarin dompet,


Uangnya ngga ada, iya ngga ada. Adanya ATM sama kartu kredit.


Sejujurnya, hampir delapan tahun menikah. nadila itu baru kali ini lihat isi dompetnya taeil. Biasanya itu kalau taeil ngasih uang bulanan, ditransfer. Atau ngga nadila minta langsung kalau uang bulanannya kurang karena kebutuhannya lagi banyak.Ya karena dia ngga mau aja buka buka privasinya taeil sampe segitunya. . Ntar malah dikira nadila nikahin taeil cuma karena duit.


Taeil nyerahin satu ATM nya ke nadila.


"Eh gausah mass... Hp aku masih bisa dipake nih beneran, lagian cuma layarnya aja nih yang pecah. Masih bisa dibenerin kok." nadila menolak.


"Daripada kamu benerin hp mending buat beli yang baru. Ya kan."


"Gausah mas. Gapapa beneran. Besok aku suruh kak dani benerin."


"Sayang-"


"Lagian kalau aku pengen beli yang baru, uang bulanan dari kamu masih aku simpen kok mas. Jadi pake uang itu aja nanti belinya." - nadila


"Sayang... Uang bulanan ya uang bulanan, itu berarti buat kebutuhan kamu sama anak anak, nah kalau ini kan uang pribadi aku. Itu berarti uang kamu juga." - taeil menaruh ATM di tangan istrinya.


"Mas.. Tapi kan-"


"Mulai sekarang... Kamu pegang aja kartunyaa, kalau kurang minta lagi oke."


Apanya yang kurangg???? Ini mah lebih dari cukup! Uang bulanan yang dikasih sama taeil aja nggak habis dalam sebulan. Ini malah disuruh minta lagi.


"Mas... Tapi atm kamu kan udah ada sama aku. Masa iya kamu kasih aku atm lagi?" - nadila


"Ya gapapa dong. Lagian masih banyak atm sama kartu kredit aku nih." taeil menunjukkan isi dompet nya ya emang kebanyakan atm sama kartu kredit.


Orang kaya mah gitu. Mau dikata tanggal tua juga duit bakalan tetep ada.


"Mass...." nadila merengek.


"Nadila, uang aku, Itu uang kamu juga."


"Tapi ini berlebihan mas.. Nanti dikira aku nikah sama kamu cuma gara gara duit." - nadila


"Eh? Siapa yang berani ngomong gitu ke kamu?" - taeil


"Ya ngga ada mas, tapi aku gamau aja dibilang gitu nantinya."


"Loh? Emang aku kerja buat siapa? Kan buat kamu. Dan sekarang juga udah ada anak anak. Jadi aku cari uang buat kamu sama anak anak juga dong."


"Yaudah deh, aku pegang dulu atmnya. Tapi kalau kamu butuh ngomong ya mas."


"Ya itu punya kamu. Masa aku minta lagi? Kartu nya masih banyak nih, apa mau kamu bawa semua?"


Ngga sekalian aja itu sedompet dompetnya suruh pegang nadila.


"Dih. Songong si bapak"


Taeil cuma cengengesan.


"Besok aja ya beli nya, sama yuta atau sama jisoo. Sekalian beli yang paling bagus hp nya. ." taeil mengelus kepalanya nadila.


"Mas?".


"Kenapa?"


"Aku.... Pengen tetep kerja di cafe nya jaehyun."


TBC

__ADS_1


__ADS_2