Papa Muda

Papa Muda
67


__ADS_3

*Taeil melihat sekelilingnya....


Yang dia lihat sekarang? Halaman luas, dan dia berada di bawah pohon. Tapi dia sendirian. Bukan sama hyunjin, ataupun nadila.


"Ayahhhh!!!"


Taeil menoleh ke sumber suara, dan ternyata hyunjin lari ke arahnya.


Sama nadila.


"Hyunjin, nadila?"


"Hai mas" nadila senyum ke taeil.


Taeil ngebales senyumannya.


"Mas?"


"Kenapa?"


"Aku titip anak anak sama kamu ya.."


"Emang kamu mau kemana?"


Nadila senyum.


"Aku mau pergi kesana mas." nadila menunjuk ke arah cahaya terang.


"Mas... Jagain anak anak ya, kita pasti bakalan ketemu lagi kok."


"Nadila...."


"Aku pergi dulu ya. See you again babe" nadila senyum cerah ke taeil sama hyunjin*.


Dan perlahan lahan nadila menghilang dari pandangan taeil.


Taeil membuka matanya.


Dia lihat sekelilingnya.. Ternyata dia masih di rumah sakit.


Itu berarti dia cuma mimpi. 


Dia menghela nafas...


"Udah bangun lo bang?" yuta yang disampingnya tanya.


Taeil mengangguk. Dia lihat jam tangan.


Udah setengah sembilan malam,


Itu berarti dia tidur selama satu jam di kursi tunggu


"Operasinya belum selesai?" tanya taeil


"Belum elah, lama bener emang." yuta menggerutu.


"Mama sama jisoo mana?" - taeil


"Mereka pulang duluan, kasihan lihat lo katanya." - yuta


"Lah? Napa jadi gue?"


"Ya elo dibangunin aja tadi ngga bangun bangun bang,, sampe capek mba jisoo."


"......"


"Kalau lo masih capek, tidur lagi aja bang, lihat tuh muka kisut banget."


Taeil menggeleng pelan.


Ya, jadi pada akhirnya nadila menjalani operasi untuk mengeluarkan bayinya. Dikarenakan kondisnya tiba tiba menurun, dan kondisi bayi yang bermasalah di dalam kandungan.


"Lo mimpi apa bang?" tanya yuta.


Yuta tahu, dari taeilnya yang tiba tiba bangun. Padahal tadi dibangunin jisoo aja susah.


"Gue juga gatau mimpi apa...."


"Bang, lo harus yakin kalau nadila sama bayinya baik baik aja oke." yuta meyakinkan taeil biar ngga panik.


Dan tak lama kemudian mingyu keluar dari ruang operasi.


Taeil langsung aja ke arah mingyu.


"Gyu. Gimana istri sama anak saya?"

__ADS_1


"Mas, alhamdulillah bayi kalian masih bisa diselamatkan. Dan jenis kelaminnya laki laki." 


"Tuh bang gue bilang juga apa, semuanya pasti bakalan baik baik aja kan." - yuta.


"Nadila gimana gyu?"  dan taeil menanyakan keadaan istrinya


"Nadila...."


"Bilang sama saya kalau nadila baik baik aja gyu." taeil makin panik.


"Mas taeil tenang dulu, dan jangan potong omongan saya." mingyu menginterupsi. 


Mingyu menghela nafas


"Untuk saat ini, kita masih berusaha menyelamatkan nadila mas.."


"Maksud kamu apa?"


"Bang, kan mingyu udah bilang lo diem dulu." - yuta.


"Nadila mengalami pendarahan terus menerus ketika proses operasi, dan dia tidak merespon apa apa ke saya maupun dokter lain yang membantu operasi"


"Kamu bohong kan?"


"Bang taeilll.  Diem dulu napa sih, kan mingyu lagi ngejelasin .  Gue plester juga itu mulut lo." - yuta greget sendiri.


"Mas... Mas taeil harus sabar, kita masih berusaha buat nadila stabil."


"Kamu nyuruh saya sabar?"


Taeil mencengkeram bajunya mingyu


"Kamu nyuruh saya sabar disaat istri saya diambang kematian gini? Kamu dokter macam apa sih gyu!!"


"Bang taeil! Lepasin." yuta nyuruh taeil buat ngelepasin mingyu.


"Saya gamau tau gyu! Istri saya harus bangun sekarang!!"


"Bang!" yuta menarik tangannya taeil.


"Mas, saya hanya dokter, dokter juga manusia. Kita cuma bisa membantu apa yang kita mampu."


Taeil terduduk.


.........


Taeil sedang bersama nadila.


Nadila sudah dipindah ke ruang ICU.


Selang dimana mana, infus, dan peralatan lainnya terpasang di badan nadila.


Taeil menempelkan tangan nadila ke pipinya.


"Kamu harus bisa bertahan... Aku gamau lihat kamu kayak gini."


"Katanya kamu mau lihat aku adzanin si kecil kan? Karena kamu ngga sempet lihat aku adzanin hyunjin waktu itu."


"Dan sekarang.... Ini kedua kalinya kamu ngga bisa ngelihat aku adzanin anak kita dil.."


"Maaf aku ngga bisa tepatin janji kamu untuk kedua kalinya."


Dan tanpa disadari,  taeil mengeluarkan air mata.


Yuta yang lihat dari kaca iba sendiri. Karena sebelumnya dia belum pernah lihat kakaknya ini nangis, sekalipun itu pas haein meninggal aja dia ngga ada tampang raut sedih.


Tapi ini? Sedihnya berlarut larut. Pasti taeil cinta banget sama nadila.


Yuta cuma bisa menghela nafas aja.


'Mungkin kayak gitu kali ya kalau ngerasain jadi suami dan ayah?'


Ciyee yuta pengenn


Dan sekarang taeil lagi ada di depan ruang bayi.


Dia bisa lihat anaknya yang ada di inkubator dan dirawat secara khusus, ya karena usia kandungan nadila yang masih tujuh bulan saat itu.


Sesekali dia lihat anaknya itu gerak.


Dia tersenyum tipis.


"Kamu harus sehat...... Woojin"


Taeil menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Mas taeil?"


Taeil menoleh ke sumber suara.


Dan ternyata mingyu.


"Lagi ngelihatin si kecil ya mas?"


Taeil senyum. Mengangguk pelan.


"Mirip mas taeil kayaknya."


"Iya. Gantengnya sama kayak saya."


Mingyu ketawa kecil.


"Mas beruntung bisa memperistri nadila."


"....."


"Nadila itu orangnya kuat mas,  dia selalu ngelawan rasa puasnya sendiri. Selalu ceria di depan semua orang."


"Seperti sekarang, meski raganya menolak buat kembali. Tapi dia sedang berjuang mempertahankan hidupnya, demi kalian."


"Iya.. Kamu bener, saya sangat beruntung bisa punya istri seperti nadila."


"Oh iya, ngomong ngomong kok mas taeil bisa ketemu nadila? Gimana ceritanya??"


Ini pertanyaan dari dulu pengen mingyu tanyain, tapi ngga sempet sempet.


"Nadila itu dulu kerja di rumah saya."


"Hah? Kerja? Kerja apaa?"


"Jadi asisten rumah tangga saya"


"HAH? YANG BENER MAS?!" mingyu ngegas.


Taeil ketawa lirih.


"Kenapa sih semua pada kaget gitu tahu nadila pernah kerja?"


"Ya gimana ya mas... Secara nadila itu anaknya orang terpandang gitu di kota ini. Masa iya dia mau kerja jadi asisten rumah tangga." mingyu menggaruk tengkuknya yang ngga gatal itu.


Taeil ketawa lagi.


"Awalnya saya juga ragu sih dia bisa melakukan pekerjaan rumah tangga atau ngga, tapi ternyata dia bisa."


"Tapi yang saya suka dari nadila itu, dia ngga pernah  mengeluh apa apa ke saya, dia suka buat keadaan rumah itu jadi lebih hidup. Dan dia juga sayang sama anak saya."


Mingyu senyum.


"Mas taeil harus berdoa ya, supaya nadila bisa kembali sama kalian semua. Saya yakin nadila bisa bertahan." mingyu menepuk pundaknya taeil.


"Makasih mingyu, pasti saya ngga bakalan berhenti berdoa buat kesadaran istri saya."


"Ciyee mantan pacar istri yang sekarang jadi adek ipar bertemu.."


Mereka menoleh ke sumber suara. Dan ternyata yuta.


"Ganggu ae lu. Ngapain sih kesini?" - mingyu


"Ya gue mau lihat keponakan gue yang ganteng dong.. Minggir minggir." yuta nyuruh minggir mingyu sama taeil,


"Wahh dilihat dari jauh aja udah ada aura aura gue." 


"Aura apa? Aura kasih?" - mingyu


"Ssttt, eh eh lihat deh bang, anak lo gerak terus. Kayaknya pengen keluar dari kotak."


"Inkubator norak bukan kotak." mingyu bawaannya kesel kalo sama yuta, dari dulu sih.


"Hilih yang penting kotak."


"Terserah kang kardus aja." - mingyu.


Taeil ketawa aja lihat tingkah dua adeknya ini.


Dia menoleh ke kaca, emang bener, anaknya gerak terus daritadi, kayak pengen keluar dari inkubator rasanya.


Taeil senyum.


'Sabar ya dek... Bunda masih berjuang buat ketemu kamu.'


TBC

__ADS_1


__ADS_2