
Yuta baru aja dateng ke rumahnya taeil, sama issya juga.
Tapi pas masuk ke rumah, keadaan sepi. Seperti tidak berpenghuni
"Om yuta, ayah sama tante dila kemana sih?" tanya issya
"Om juga gatau issya."
Yuta lagi cari cari nadila sama taeil. Tapi nggak ketemu.
Padahal biasanya, jam jam segini tuh nadila lagi ada di dapur. Buat masak.
"Jangan jangan ayah sama tante nadila lagi pergi om? Kok issya nggak diajak?" - issya.
"Nggak mungkin issya, kan mobilnya ayah kamu ada di garasi." - yuta.
"Terus kemana dong om?"
"Yaudah, issya ke kamar dulu aja, biar om yuta yang cariin ayah sama tante dila."
"Iya om" akhirnya issya masuk ke kamar.
Sementara yuta masih mencari keberadaan mereka berdua yang belum di ketahui.
"Kemana sih mereka? " yuta celingak celinguk.
"Bang taeil? Nadila? Kalian dimana? Aku rinduuu..." - yuta.
Dirasa di bawah nggak ada, yuta naik ke atas. Siapa tahu mereka ada disana.
"Astaga, kemana sih mereka berdua? Nggak biasanya kayak gini"
Yuta masih sibuk cariin taeil sama nadila.
"Waduhh, jangan jangan mereka...."
Yuta buru buru ke kamar atas.
Sementara itu, taeil sama nadila lagi bersih bersih kamar atas.
Sebenernya cuma nadila sih. Gatau kenapa taeil ikut ikutan.
Jujur... Nadila gak nyaman situasi kayak gini.
Dia emang suka sih sama taeil. Cuma ya gimana ya....
Lagi enak enaknya ngelamun..
Tuk!
Ada yang mukul kepalanya pake pulpen.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan taeil.
"Duh om. Sakit tau ngga!"
"Ya salah sendiri kan ngelamun ga jelas."
" ya suka suka aku dong!"
"Eh? Kamu berani sama saya?"
"Nggak kok om nggak hehe.." nadila ngelanjutin nyapu lantainya.
Dan pas dia nyapu di bawah meja..
"AAAAAAAAA"
"Eh eh.. Kenapa?" taeil jadi ikutan panik.
"OM ADA TIKUS OM YA ALLAH..." nadila langsung lari. Dan tak disangka..
Dia meluk taeil.
Taeilnya kaget. Jantungnya berdesir...
'Perasaan apa ini?'
"OM YAAMPUN TIKUSNYA GEDE BANGET OM. AKU TAKUT!!"
taeil tersadar.
"I-iya iya. Mana tikusnya?"
"DI BAWAH MEJA OM!!!!"
"Iya iya. Gausah panik." taeil melepaskan pelukan nadila..
Tapi nadila malah mengeratkan pelukan.
"I-ini pelukannya tolong dilepasin.."
"Gamau! Nanti kalau tikusnya lari kesini gimana??!"
Taeil tersenyum.
"OM BURUAN DIUSIR NAPA SIH!!"
"ya gimana mau ngusir kalau dipeluk gini.."
"Ya om taeil disini aja. Ngusirnya pake sapu."
"Ya kan sapunya mesti diambil dulu."
"Yaudah ambil aja sana."
__ADS_1
"Ya makanya ini pelukannya dilepasin dulu.."
"Ih om.. Aku tuh takut tau ngga."
"Ya makanya lepasin dulu pelukannya, saya mau ambil sa—"
BRAK!!
"HEH NGAPAIN KALIAN BERDUA DISINI?? ABIS KAWIN YAA?!" -yuta mendobrak paksa pintu
"Heh?! Kalau mau ngomong tuh dipake otaknya!" - nadila kesel.
"YA ITU KENAPA BISA PELUK PELUKAN GITU?! "
Nadila sadar dan langsung melepaskan pelukan.
Dia salah tingkah yorobunn.
"Jujur ya! Kalian ngapain disini? Trus kenapa bisa pelukan gitu hah?? Ngaku ngga lo pada!"
"Apasih yuta,, orang gue sama om taeil lagi bersih bersih kamar.. Emang lo nggak lihat gue pegang sapu nih?!" - nadila
Oh.. Ternyata lagi bersihin kamar.
"Ohhh, gue kirain lagi nganu. Abisnya omongan kalian ambigu banget njirr, kan jadi kepengen videoin."
Masih gatau malu si yuta.
"Makanya itu otak jangan nontonin bokep mulu, jadi porno terus kan otaknya.." gerutu taeil.
"Lah bang? Bukannya kemarin malem lo ikutan nonton bareng gue ya? Sampai di kamar mandi aja lama gara gara—."
"YUTA GAUSAH NGINEP DI RUMAH GUE LAGI LO!"
Skip ><
Sekarang yuta lagi sama taeil.
Biasa mau curhat.
"Jadi. Lo udah yakin buat seriusin nadila?" tanya yuta.
"Ya yakin nggak yakin sih yut sebenernya."
"Jawaban macem apa itu... Yang bener aja deh bang taeil nih."
"Gue masih bingung yudi.."
"Bingung kenapa khoirul?"
"Ya bingung aja gitu.... " - taeil
"Lah tadi katanya udah bertekad buat jatuh cinta sama nadila. Sekarang berubah pikiran.. Plin plan bener otak lo!"
"Gue... Takut nyakitin perasaannya nadila yut."
"Ya selama ini kan gue selalu bandingin dia sama haein. Gue takut dia salah pengertian."
"Alah, kebanyakan gaya lu, segala pake ngomong gitu. "
"Yuta. Gue serius ini. Gue masih bingung..."
"Kenapa bingung sih bang? Katanya udah mantabin hati?"
"Iya, tapi gue masih ragu,"
"Ragu kenapa sih bang?"
"Ya ragu aja gitu..."
"Bang. Sebenernya lo tuh sayang sama nadila nggak sih?" tanya yuta.
"Sayang yuta, tapi nggak tahu kenapa setiap lihat dia tuh bayangan haein selalu muncul di kepala gue..."
"Berarti lo sayang nadila karena dia mirip mendiang istri lo yang jahat itu? Iyaa?" yuta mendadak serius.
" bukan gitu yutaa,, gue emang nyaman sama dila, tapi entah kenapa gue selalu inget haein kalau lihat dia. " - taeil
"Yaudah, kalau emang gitu, jangan bikin baper dila lagi bang. Gampang kan?" - yuta
"Tapi kan—"
"Bang. Lo pengen tahu nggak kenapa dila sama minhyun putus? Padahal mereka pacaran empat tahun lamanya..."
"Kenapa emang?"
"Itu karena minhyun nggak pernah nganggep nadila sebagai dirinya sendiri." - yuta.
"Maksud lo gimana?? Nggak ngerti gue." taeil bener bener nggak mudeng.
"Sebelum pacaran sama nadila, minhyun tuh pernah punya cewek. Tapi ceweknya meninggal pas hari ulang tahun minhyun."
"Terus? Hubungannya sama nadila apa?"
"Hubungannya adalah, kenapa minhyun bisa pacaran sama nadila? Karena minhyun cuma nganggep dila sebagai bayang bayang ceweknya yang udah meninggal itu." -yuta.
"Lo serius?" tanya taeil
"Serius lah,, emang muka gue nggak ada tampang serius apa?"
Taeil cuma bisa diem aja, pantes aja dila bilang minhyun cowok *******. Taunya gitu.
"Jadi saran gue nih bang,, kalau emang lo mau serius sama nadila,, lo harus bisa lihat nadila sebagai dirinya sendiri. Karena gue nggak mau dila sakit lagi..."
"Gue takut nggak bisa yut." jawab taeil lirih.
__ADS_1
"Kenapa mesti takut? Lo bilang gitu karena lo nggak pernah berusaha bang.. Mba haein sama lo udah beda dunia, beda alam. Dan dia udah tenang disana.. Ini udah saatnya lo cari pengganti mba haein. Emang lo nggak kasihan sama issya?" yuta ceramah udah kayak ustad komplek perumahan aja.
Tapi yang diomong yuta bener semua. Nggak ada yang salah.
Iya, yuta bener. Taeil nggak bisa lupain haein karena dia belum berusaha, haein udah punya dunia sendiri.
Disisi lain..
Nadila yang abis dari dapur, niatnya mau manggil mereka buat makan siang, nggak sengaja dengerin pembicaraan taeil sama yuta di ruang tamu.
"Jadi? Om taeil suka sama gue karena gue itu mirip mendiang istrinya??" guman nadila.
Dugaan nadila bener, lagian nggak mungkin banget taeil sayang sama orang kayak nadila gini. Jauh dari tipenya.
Cuma karena senyumannya dia mirip istrinya aja, makanya taeil jadi suka.
Nadila tersenyum miris.
"Sama aja kayak minhyun ternyata.."
Skip ><
Malam ini, nadila pengen pergi. Sendirian,
Mau tahu perginya kemana??
Club malam.
Udah lama banget rasanya dia nggak kesana, biasa mau dugem.
Menghilangkan stres juga. Lagi puyeng pikirannya.
"Tante dila mau kemana?" tanya issya
"Tante mau pulang sayang.." dila mengelus kepalanya issya.
"Tante dila kenapa nggak tinggal disini aja sih?? Temenin issya main." - issya.
Nadila senyum.
"Nggak bisa sayang. Tante hari ini ada janji sama temennya tante." - dila
"Yaudah, issya ikut tante aja ya.." issya mohon mohon.
"Nggak bisa sayang, ini kan acaranya buat orang dewasa. Issya masih kecil. Jadi di rumah aja ya.. Lagian kan ini udah malem waktunya issya bobok " nadila menarik hidungnya issya pelan.
"Mau kemana lo? Pulang? Baru jam segini elah." - yuta udah nongol aja
"Gue mau maen, udah lama nggak ke club gue."
"Club itu apa sih tante?" tanya issya.
Nadila lupa kalau issya masih ada disini.
"Issya, kamu masuk dulu ya. Nanti om yuta temenin" yuta nyuruh issya masuk ke kamar.
"Iya om "
Sekarang menyisakan yuta sama nadila.
"Kalau ngomong begituan jangan di depan bocah ****. Dasar cabe!"
Nadila cuma cengengesan aja.
"Lagian ngapain sih lo kesana?" tanya yuta.
"Mau dugem lah. Ngapain lagi coba??"
"Lo tuh ya, udah mau skripsi juga, masih kluyuran."
"Alah, masih dua minggu lagi. Lama itu mah.. Sekalian gue mau cari mangsa nih.. Udah lama nggak dapet mangsa"
"Dasa cabe cabean!" - yuta.
"Om taeil mana?" tanya dila.
"Ke masjid. Sholat berjamaah."
"Yaudah, bilangin ke dia kalau gue pulang duluan. Bye." nadila langsung nyelonong aja.
"Dasar, nggak abangnya nggak adek nya sama aja.. Sama sama suka nyabe." gerutu yuta
Nadila baru aja keluar dari rumah,
"Kamu mau kemana?" dan tiba tiba taeil datang.
"Mau pulang." jawab nadila.
"Ini masih setengah delapan. Tumbenan pulang."
"Lagi banyak pikiran om. Takut nggak konsentrasi kalau dipaksain kerja." dila baru aja mau pergi, tapi tangannya di tahan sama taeil.
"Kalau kamu lagi sakit, atau lagi banyak pikiran.. Cerita aja sama saya. Siapa tahu saya bisa bantuin kamu."
"Nggak perlu om. Aku bisa nyelesain masalah aku sendiri. Sekarang lepasin tangannya om taeil, aku mau pergi sekarang." - nadila.
"Dila. Kamu kenapa sih?"
"Emangnya aku kenapa sih om?"
"Kamu jutek banget sama saya."
"Om aku pusing. Jadi jangan ngomong sama aku dulu."
"Kenapa gitu?"
__ADS_1
"Karena aku nggak mau om taeil makin nganggep aku cuma bayang bayang dari istrinya om."
TBC