
Warning : maafkeun jika ada kata kata yang mengandung unsur menyebalkan wkwk
Nadila sedari tadi ada di depan kaca.
Lagi ngobatin bibirnya.
Jujur, rasanya perih. Nadila ngga nyangka taeil bisa sebringas ini. Sekasar kasarnya dia pas lagi ciuman. Tapi baru kali ini dia ngelakuin sampai bikin bibirnya nadila luka. Bahkan sampe berdarah.
"Aw! Duhh sakit huu.." pengen nangis aja rasanya.
"Mas taeil tega banget sih.. Ntar kalau aku ngga bisa makan gimana???" - nadila.
"Ngapain kamu?" nadila paham betul ini suaranya taeil.
"Gr gr km nh bbr ak skit"
"Kamu ngomong apa sih?"
Masih tanya lagi ini orang tua. Padahal gara gara dia nadila kayak gini.
"Aduh perihh huu..."
"Ya Allah ada yang robek ternyata..."
Nadila ngobatin sambil ngomong terus.
Taeil ngelempar handuk. Abis itu jalan ke arahnya nadila.
Dia duduk di kursi depannya nadila. Taeil muter badannnya nadila abis itu kursinya ditarik.
"Etss! Kalau mas taeil mau berbuat kayak tadi lagi. Udah cukup mas, kamu mau aku ngga punya bibir gara gara kamu kasarin?"
"Udah diem dulu. Sini." taeil mendekatkan wajahnya.
Dia menyentuh bibirnya nadila.
"Sakit?"
"Banget mas. Kamu sih ka— AW! SAKIT MASSS!!" taeil sengaja menekan bibirnya nadila. Dan alhasih bibirnya keluar darah.
Setelah itu jarinya mengusap darah yang ada di bibirnya nadila.
"Masih sakit?"
"Sakit lah! Kamu pencet gini!" pengen nangis aja nadila tuh..
Taeil mendekatkan wajahnya. Dia mendorong tengkuk nadila pelan.
Lalu setelah itu...
Dia mencium bibirnya nadila.
Asli nadila takut jadinya. Takut kalau taeil kasar lagi.
Tapi ternyata ngga. Justru nadila merasakan sesuatu di bibirnya.
Iya.. Lidahnya taeil.
Taeil menggunakan lidahnya biar bibirnya nadila bersih dari darah.
Ah bisa aja orang tua kalau modus.
Taeil masih menyapu bibirnya nadila menggunakan lidah. Sesekali dia menyesap bibirnya nadila. Cuma bibirnya sih. Ngga sampe kemana mana.
Tapi tetep aja nadila dugeun dugeun.
Setelah dirasa bersih. Taeil menjauhkan wajahnya.
"Udah ngga sakit kan?"
"Ng-ngga." ternyata nadila jadi **** kalau habis diginiin sama suaminya.
Taeil senyum.
"Maaf ya." dia mengusap bibirnya nadila yang basah.
Nadila cuma mengangguk.
"Apapun yang kamu rasain. Aku juga harus ngerasain. Maafin aku .... Masih sering kayak anak kecil gini.."
"Mas..."
"Aku terlalu pusing sampe ngga mikirin dampaknya ke ka—"
Tak disangka, nadila mencium bibirnya taeil, lalu ********** pelan.
Selang beberapa detik, dia melepaskan bibirnya.
"Sayang kok—"
"Mas harus dihukum."
"Hah? Dihukum?"
"Iya. Soalnya mas udah bikin bibir aku kayak gini.. Kamu pikir ngga sakit apa?"
"Emang apa hukumannya?"
Nadila senyum... Dia bisikkin sesuatu ke taeil
"Hukumannya....Ngga dapet jatah selama satu bulan penuh" nadila cium pipinya taeil, abis ngomong gitu langsung keluar kamar.
"SAYANG KOK GITU SIH?? NTAR KALAU ADEKNYA PENGEN MAIN GIMANA???"
"MAIN AJA SANA SAMA PINTU!"
Memang lucu pasangan yang satu ini.
Skip ><
Taeil dan keluarga kecilnya sedang berada di rumahnya mama yuri. Soalnya ada papanya nadila pulang dari thailand. Jadi diundang buat makan malam.
"Duhh seneng deh anak, menantu sama cucu cucu mama kumpul gini.." - mama yuri.
"Kalau cucu cucu mama ngga kesini tuh sepi banget rasanya. Ngga ada yang diajakin main sama jalan jalan."
"Dani ngga dianggep ya ma? Oke fiks." - ten.
__ADS_1
"Ya kamu mau dianggep mama gimana? Punya anak aja belum."
"Tau tuh. Kak dani mah hobinya cuma ganti ganti cewe, eh ujung ujungnya ngga diseriusin."
Tak!
Ten mukul kepalanya nadila pake sendok.
"Aw! Sakit tau kak!"
"Jangan ember makanya itu mulut." ten narik mulutnya nadila.
"Ihh kak dani apaan sih!"
Ya gitu deh nadila sama ten kalau lagi ketemu.
"Ya biarin lah ya suka gonta ganti cewe, daripada kamu. Berantem dikit kabur, dikit dikit kabur."
Jedug!
Gantian nadila yang nendang kakinya ten.
"Apasih dek! Sakit tau nggak!"
Nadila menjulurkan lidahnya.
"Duh...Maaf ya menantu, dani sama nadila dari dulu emang gitu."
"Iya.... Taeil ngerti kok ma."
Taeil cuma senyum.
"Eh iya. Kalian berdua ngga ada niatan jalan jalan gitu?" tanya mama yuri
"Jalan jalan kemana ma?" - nadila
"Ya kemana gitu, kalian kan dari pertama nikah sampai sekarang belum pernah jalan jalan kan? Bulan madu aja nggak"
"Ngga usah bulan madu aja udah brojol dua ma." - ten
"Apasih kak dani!"
"Ya kan emang bener yeuu."
"Ya nadila sih pengennya gitu ma, cuman suami aku kan orangnya sibuk terus...." nadila ngelirik taeil.
"Ya kan aku sibuk juga buat kamu.." - taeil
"Ya kayak gitu tuh ma jawabannya. Bikin kesel!"
"Ya kamu harus paham jabatan suami kamu di kantor itu apa dek... Ngga bisa sembarangan ambil cuti." -papa changmin
"Iya iya..."
"Kalian ngga ada niat punya anak lagi gitu?" - mama yuri.
"Ngurusin tiga anak aja udah pusing ma. Ngga deh." - nadila.
"Emang mama pengen punya cucu lagi ya?" tanya taeil
"Mas taeil ih!" nadila nyenggol tangannya taeil.
"UHUK!"
Ini bukan nadila yang keselek. Tapi taeil.
"Eh eh mas taeil gapapa? Minum dulu nih." nadila menyodorkan minuman ke taeil abis itu punggungnya diusap.
"Mama nih yang bener aja deh? Masa iya pengen punya cucu segitu banyaknya. Kaget kan bang taeil." - ten.
"Ya itu kan emang keinginan mama kak. .. Lagian kalau bukan ke taeil ke siapa lagi coba mama mintanya? Ke kamu? Orang kamu aja ngga pernah serius sama cewe"
"Ya tapi yang bener aja deh mama nih? Masa iya pengen punya cucu tigabelas. Yang capek nadila ma..." - nadila
Nadila ngga bisa ngebayangin gimana jadinya kalau dia punya anak tigabelas.
.....
Nadila lagi gendong woojin di ruang tengah. Waktunya tidur jadi ya ditimang timang gitu.
"Woojin belum tidur?" taeil tiba tiba datang.
"Belum. Gatau nih tumbenan dia betah banget."
Taeil ikutan ngelus pipinya woojin.
"Kalian belum tidur?" tiba tiba papa changmin datang.
"Belum pa.. Nih woojinnya tumbenan gamau tidur."
"Asi nya kurang itu dek."
"Tapi woojinnya habis minum pa..."
Papa changmin mendekat..
"Dek, masuk kamar sana." papa changmin nyuruh nadila masuk.
"Kenapa sih pa? Kan woojinnya masih pengen disini." - nadila
"Papa pengen ngomong sama suami kamu."
"Yaudah ngomongnya ada aku aja. Aku kan juga penasaran.."
"Dilaa..." taeil menginterupsi nadila biar masuk ke kamar.
"Yaudah iya.. Tapi papa jangan marah marah ya ke mas taeil.."
"Iya iya bawel. Udah sana masuk kamar."
Akhirnya nadila bawa woojin masuk ke kamar.
Dan menyisakan taeil dan mertuanya di ruang tengah.
"Taeil?"
"Iya pa?"
__ADS_1
"Besok papa sama temennya papa ke kantor kamu ya."
"Papa... Mau ke kantornya taeil?"
"Iya. Kenapa? Ngga boleh?"
"Eh boleh kok pa. Boleh banget. Cuma..... Papa ke kantornya taeil ada apa ya?" - taeil.
"Papa denger.. Perusahaan kamu lagi koleps...."
"Eh? Itu...."
"Papa denger dari istri kamu.."
"Nadila.....ngomong ke papa?"
Papa changmin mengangguk.
"Dalam dunia bisnis memang selalu kayak gitu il. Ada yang ngga suka sama cara kerja kita, atau bahkan ada yang sengaja buat ngasih jebakan berkedok bisnis. Seperti yang kamu alamin sekarang."
"......"
"Tapi papa rasa... Kamu ngga seburuk itu kan menjalankan bisnis?"
"......"
"Investasi gagal seperti perusahaan kamu sering papa temui. Papa juga pernah kok mengalami hal yang sama kayak kamu."
"Pa.. Secepatnya taeil bakalan selesain masalah ini kok."
"Terus? Apa rencana kamu sekarang?"
"Untuk sekarang.... Taeil masih berusaha menarik investor yang dulunya pernah kerja sama, sama perusahaannya taeil pa."
"Kalau Papa jadi investor kamu gimana?"
Taeil menoleh ke arah mertuanya.
"Maksudnya gimana ya pa?"
"Papa pengen investasi di perusahaan kamu taeil."
Jelas aja taeil syok.
"Pa... Maaf sebelumnya. Bukannya taeil mau nolak. Tapi—"
"Papa ngga suka ditolak ya il."
"Tapi pa—"
"Taeil... Kamu ngga perlu merasa ngga enak gitu sama papa. Kamu kan menantunya papa. Itu berarti kamu anaknya papa juga."
Sejujurnya baru pertama kali ini. Taeil denger papa nya nadila nyebut taeil sebagai 'Menantu'
Kan tau sendiri... Hubungan Taeil sama papa mertuanya sedikit ada kecanggungan
"Taeil cuma gamau ngerepotin papa aja, serius."
"Papa ngga kerepotan. Santai aja lah sama papa."
"....."
"Besok kita bahas lagi di kantor. Mendingan sekarang kamu istirahat, jangan terlalu kepikiran. Nanti jantung kamu dampaknya." papa changmin menepuk bahunya taeil setelah itu masuk ke kamar.
Taeil menghela nafas. Serius dia ngga enak sama mertuanya. Ya masalahnya kerugiannya taeil ngga main main. Masa iya semuanya dibantu sama papa changmin?
........
Woojinnya baru bisa tidur, udah ditaruh di kasur.
"Akhirnya tidur juga.. Pusing bunda kamunya ngga mau tidur." nadila ngelus woojin.
Tak lama kemudian taeil masuk ke kamar.
"Woojinnya udah tidur?"
"Udah mas, betah melek dia kalau disini."
Taeil duduk di sebelahnya nadila
"Sayang?"
"Hm."
"Kamu ngomong ke papa ya, kalau perusahaan aku lagi ada masalah?" - taeil
"Pasti papa ngomong ke kamu kan ?"
"Iyaa."
"Aku emang tadi ngomong ke papa mas, kalau perusahaan kamu lagi koleps. Biar papa bisa bantuin kamu."
"Sayang.... Aku bukan ngga menghargai usaha kamu. Tapi serius, aku gaenak sama papa."
"Gaenak kenapa sih mas? Lagian aku juga ga maksa papa buat bantuin kamu.."
"Masalahnya kerugian aku tuh ngga kecil sayang... Aku gaenak kalau papa harus investasi sebagian sahamnya ke perusahaan aku, aku kan—"
"Mas..."
"...."
"Kamu iyain aja kemauan papa kali ini.. Kamu kan tau sendiri... Papa ngga suka kalau keinginannya ngga diturutin."
"Iya sayang aku tau. Tapi kan—"
"Mas.... Papa kayak gini karena dia pengen memperbaiki hubungan kamu sama dia," ucapan nadila diakhiri dengan senyuman.
Taeil menghela nafas, lalu tersenyum.
Taeil meluk nadila.
"Makasih ya udah bikin aku tenang gini.."
"Kan itu udah kewajiban seorang istri." nadila mengelus punggungnya taeil.
Memang peran seorang istri itu sangat penting untuk kesuksesan seorang suami..
__ADS_1
TBC