
Nadila udah ada di rumah sakit.
Dia udah lemes. Kan papa changmin yang lagi di dalem sama taeil ngelihatnya ngga tega.
"Il. Papa keluar aja ya, gatega lihat anaknya papa kayak gini."
" maaf pa.. Tapi kan nadila yang minta papa ada disini."
"Ya tapi kan-"
"Papa...."
Mana tadi tuh nadila manggilin papanya terus. Padahal suaminya ada juga di dalem.
Papa changmin menghela nafas.
"Iya iya papa disini."
Taeil nyamperin nadila.
"Mas.. Sakit.."
"Sabar ya. Dokternya kan lagi siap siap." taeil mengelus kepalanya nadila lalu mengecupnya.
"Papa...."
"Apa dek? Papa disini. Ngga kemana mana."
"Mas...."
"Hm?"
"Aku mau ditemenin papa..."
"Kamu.....Lahirannya mau ditemenin sama papa?"
Nadila mengangguk lemah.
"Ngga mau ditemenin aku?" - taeil
"Aku mau ditemenin papa mass..."
"Yaudah iya, aku ngomong ke papa dulu ya"
Nadila mengangguk lagi.
Taeil menoleh ke papa nya. Abis itu disamperin.
"Pa. Maaf.."
"Kenapa il?"
"Katanya... Dila minta ditemenin papa."
"Ya ini udah nemenin kan."
"Maksudnya... Pas lahiran nanti...nadila maunya ditemenin sama papa.."
"HAH? YANG BENER AJA DEH KALIAN INI!!" papa changmin ngegas. Untung ae dokternya belum dateng.
"Itu dila sendiri pa yang minta.."
"Ya tapi masa harus nemenin pas lahiran sih? Kan suaminya kamu bukan papa!!"
"Taeil juga bingung pa... Tapi ini nadila yang minta..."
"Ya tapi kan-"
"Papa...."
Nadila manggil papanya terus daritadi. Kan makin ga tega papa changmin nya.
Papa changmin menghela nafas
"Yaudah iya. Papa yang temenin nadila lahiran."
Skip ><
Dan sekarang... Semuanya sedang was was.
Nadila lagi di dalam, usaha buat si kecil keluar. Sedangkan taeil di luar.
Ya karena yang ada di dalem papa changmin. Sesuai permintaan nadila.
Tapi ngga bisa dipungkiri. Taeil tetep gelisah. Sejujurnya taeil pengen nemenin nadila di dalem. Tapi istrinya malah minta mertuanya. Yaudah diturutin aja.
Taeil lagi mangku hyunjin. Sedangkan woojin dipangku mama yuri.
"Yah... Kok bunda teliak teliak sih di dalem?" - hyunjin mulai banyak tanya
"Gapapa nak.... Bunda kan lagi ngeluarin adek kecil."
"Adeknya unjin mau keluar ya yah?"
Taeil mengangguk.
"Asikkk nanti unjin mau ajakin main adek mobil mobilan ah."
Taeil cuma senyum. Habis itu ngelus kepalanya hyunjin.
'Semoga semuanya baik baik saja'
Sementara itu di dalam sana..
Dokter sedang berjuang mengeluarkan bayi yang ada di perutnya nadila.
"Dek tahan sakitnya ya.."
"Sakit... Pa.." nadila mengejan.
"Ayo ibu nadila.. Sebentar lagi kepalanya keluar."
"Tuh dek. Dengerin kata katanya dok-YA AMPUN DEK. INI DARI TADI PAPA KAMU JAMBAKIN. RONTOK NANTI RAMBUTNYA!!"
"SAKIT PAPA!!"
"YA MAKANYA DITAHAN AJA SAKITNYA. KAMU NGEDEN AJA TERUS!!"
"MAS TAEIL!!"
"kamu ini! Tadi katanya minta ditemin papa. Tapi sekarang malah manggil suami kamu! Gima- YA ALLAH DEK, TADI DIJAMBAK SEKARANG DICAKAR! MAU KAMU APA SIH!!"
"Sakit paa...dila ngga kuat.." nadila mulai menangis.
"Tarik nafas ya bu. Ini kepalanya udah keluar nih.."
"Tuh kepalanya anak kamu udah ada di luar. Udah ayo ngeden terus biar semuanya keluar."
__ADS_1
Nadila mengejan berkali kali
"Pa... Dila.. Udah gak kuat.." nadila menangis.
Kan papanya jadi ngga tega. Ikuatan sedih.
Papa changmin ngelus kepalanya nadila.
"Kamu gaboleh ngomong gitu... Inget..... ada suami sama anak anak kamu. Nungguin kamu di luar ."
"Tapi Sakit pa...."
"Kan ada papa disini. Katanya minta ditemenin papa hm."
"Mas taeil...."
"Iya iya suami kamu ada di luar. Gak akan kemana mana. Tahan ya."
Papa changmin jadi inget, dulu pas mama yuri ngelahirin anak anaknya. Dia ngga pernah nemenin di dalem. Soalnya dia takut.
Dan sekarang papa changmin tau. Bagaimana Perjuangan seorang ibu.
Nadila berhenti mengejan.
"Ayo ibu nadila dorong terus ya.." dokter menginterupsi.
"Dek. Ayo terus... Jangan berhenti."
"Dila capek pa...."
"Itu bayinya udah mau keluar. Masa perjuangan kamu cuma segini? Dulu mama kamu juga kayak gini loh pas ngelahirin kamu."
"Sakit pa...."
"Udah ayo ngeden lagi. Gaada kata capek. Demi anak kamu loh ini. Katanya kamu mau lihat suami kamu adzanin si kecil kan? Ayo ngeden lagi."
"Ayo ibu nadila... Tarik nafas lagi ya."
Nadila mengatur nafas sejenak. Dia mengejan lagi.
"Sakit...."
"Jambak aja rambutnya papa udah. Demi cucu papa ini. Ayo"
"Yaampun paa. Sakit bangettt..."
"Sini tangannya di pegang sama papa. Jangan jambakin terus. Nanti rambutnya papa rontok loh sayang." papa changmin genggam tangannya nadila.
"Paa...dila udah gakuat..."
"Udah ayo ngeden lagi. Ga boleh ngomong gitu."
Nadila mengangkat kepalanya, dia mengejan sekali lagi.
Dan akhirnya bayinya keluar.
Dan kini, suara jeritan nadila berganti menjadi suara tangisan.
"Selamat ya ibu nadila... anaknya perempuan dan sehat."
Nafasnya nadila ngga beraturan.
Dokter menaruh bayinya ke dadanya nadila, biar dikasi asi sejenak.
"Cucu saya perempuan dok?"
"Iya bapak, cucunya perempuan."
dasar emang papa changmin. Malu maluin.
"Dek. Papa panggil taeil ya."
Nadila cuma mengangguk.
Sementara di luar....
"Wahh keponakan dani tambah satu asekk."
"Keponakan terus ya dan.. Mama masih nagih cucu ke kamu. Adek kamu aja udah tiga anaknya. Lah Kamu? bikin aja belum." - mama yuri malah ngomel ke dani.
"Ya kan Semua itu butuh proses mama.."
Tak lama kemudian papa changmin datang.
"Pa? Gimana? Cucu mama laki laki apa perempuan?"
Papa changmin ngga jawab, dia langsung duduk. Lemes dia.
"Eh eh? Papa kenapa?"
"Papa lemes ma....."
"Papa nih... Yang ngelahirin nadila. Yang lemes papa." - dani.
"Ihh papa kamu kan waktu dulu gamau nemenin mama lahiran. Makanya sekarang lemes tau anaknya lahiran." - mama yuri.
"Waduh papa... Suami macam apa papa ini, tidak siaga sama sekali..." - ten
"Papa baru tau... Perjuangan seorang ibu seperti itu.. Papa jadi nyesel ngga nemenin mama waktu itu "
"Pa? Taeil boleh masuk kan?"
Papa changmin menoleh ke arah taeil. Dia berdiri. Jalan ke arah taeil. Lalu memegang kedua bahunya.
"Taeil..."
"Iya pa?"
"Papa bangga sama kamu nak!"
"Hah?" taeil ngga paham.
Papa changmin langsung meluk taeil.
"Kamu hebat, udah bikin nadila lemes di ranjang, dan sekarang kamu kamu bisa bikin nadila lemes pas lahiran. Papa bangga kamu udah bikin nadila yang bobrok gitu jadi wanita sepenuhnya.. Papa sebagai mertua kamu bangga."
"Eh? I-iya pa sama sama.."
"Papa kamu sawan apa gimana sih?" mama yuri yang lihat heran.
"Hmmm...Jangan jangan papa pengen punya anak lagi ma?"
Omongannya ten dapet jitakan dari mamanya.
"Neko neko aja kamu. Ngurusin kamu sama nadila aja mama pusingnya minta ampun."
Ten mah cuma cengengesan doang.
__ADS_1
Memang keluarga bobrok yang harmonis.
........
Taeil masuk ke ruang persalinan.
Dia lihat nadila lagi ngasih asi buat si kecil.
"Hey."
"Mas..." nadila senyum. Dia masih mengatur nafasnya.
"Duuhh adek kecilnya haus banget kayaknya."
Nadila mengelus kepalanya dedek bayi.
"Mas... Anak kita perempuan.."
Taeil senyum.
"Alhamdulillah.. Berarti keinginannnya issya sama papa terkabul."
Nadila senyum.
"Ayo bayinya dimandiin dulu ya, habis itu diadzanin." dokter mengambil si kecil dari nadila. Dan menangis.
Mungkin masih belum puas minum susunya.
"Mas?"
"Kenapa?"
"Maaf ya, kalau tadi aku nyuruh papa yang nememin aku. Bukan kamu."
"Gapapa sayang... Yang penting kamu sama anak kita selamat terus sehat."
Taeil mengecup bibirnya nadila singkat.
Taeil merapikan rambutnya nadila yang berantakan.
'Terimakasih, sudah memberikan aku kebahagiaan.'
.........
Nadila udah dipindah ke kamar rawat inap biasa. Sekarang si kecil lagi digendong mama yuri.
"Yaampun cucu nenek cantik banget sih.. Kayak bundanya ya."
Nadila cuma senyum.
"Ah masih cantikan si kecil. Nadila mah idungnya nyungsep. Ini kan ngga."
"Nyebelin emang kak dani mah."
"Setelah sekian lama, akhirnya mama dapet cucu perempuan.." mama yuri ciumin pipinya si kecil.
"Oh iya. Papa mana ma?" - nadila tanya.
"Papa kamu izin pulang duluan tadi. Bawa pulang anak anak kamu. Kan anak anak ngga boleh ada dirumah sakit lama lama."
"Papa tuh masih lemes dek. Perihal tadi nemenin kamu pas lahiran. Ngga tega dia lihat anaknya ngeden gitu."
Nadila senyum.
"Mama.. Nadila mau gendong.."
"Oke...Adek kecil sama bunda dulu ya.." mama yuri menyerahkan si kecil ke nadila.
"Yaudah kalau gitu, mama sama kak dani sekalian pulang ya. Nanti anak anak biar nginep di rumah aja." mama yuri cium pipinya nadila, abis itu pulang.
"Duluan ya semuanya.."
Dan akhirnya mama yuri sama dani pulang ke rumah.
Menyisakan taeil dan nadila. Dan tentunya si kecil.
"Pasti issya seneng deh mas. Soalnya akhirnya dia punya adek perempuan." - nadila
Taeil senyum. Dia mencium kening istrinya.
"Cantik banget sih anaknya bundaa.. Ini kalau ada woojin pasti digigit pipinya."
"Eh iya.... Kenapa tadi kamu nyuruh papa buat tungguin kamu di dalem?"
"Ya aku pengen aja mas... Lagian kata mama tuh. Dulu pas mama lahiran masa papa gak pernah nungguin di dalem, kan aneh."
Taeil lihat si kecil.
"Cantik banget sih anaknya ayah hm." taeil ngelus pipi anaknya.
"Iya.. Kan bundanya juga cantik."
Taeil ketawa lirih.
"Oh iya. Aku udah ada nama loh buat si kecil yang satu ini.."
"Siapa mas?"
"Kamu mau tahu sekarang?"
Nadila mengangguk.
"Namanya.... Allina arivia hutomo. "
"Terus panggilannya?"
"Kalau itu...Terserah kamu aja mau manggil siapa."
"Yaudah... Kita panggil dia allin.."
Taeil tersenyum.
"Mas taeil?"
"Kenapa sayang?"
"Makasih ya... Kamu selalu ada disamping aku. Selalu temenin aku. Selalu ada buat aku..bahkan sabar ngadepin aku yang labil ini."
"Itu kan emang udah kewajiban aku sebagai suami. Kita juga harus saling melengkapi kan satu sama lain.."
Nadila senyum. Taeilnya juga.
Dan akhirnya mereka saling berpelukan.
'Terimakasih sudah melengkapi hidupku'
'Terimakasih selalu ada di sampingku'
__ADS_1
Dan mereka sama sama bahagia dengan keluarga kecilnya..
THE END