Papa Muda

Papa Muda
84


__ADS_3

Hari ini taeil siap siap buat ke kantor.


Ya seperti dikatakan sebelumnya,  hari ini itu papa mertua beserta teman temannya berkunjung ke kantornya taeil.


Pastinya buat bahas masalah yang lagi dialamin perusahaannya taeil.


Tapi kali ini... Nadila ikut bersama woojin. Kalau hyunjin kan lagi sekolah.


"Mas. Kalau nanti papa marahin kamu gimana?" ini malah nadila yang daritadi ribet.


Takut kalau taeil dimarahin papanya.


"Marahin kenapa coba? Ngga lah kamu tenang aja."


"Mas.."


"Hmm.."


"Kalau papa berhasil nangkep yang nipu kamu gimana?" -nadila.


"Hah?"


"Kamu gatau aja ya. Papa tuh udah kayak punya indra keenam tau ngga.  cuma ngelihat wajahnya aja dia bisa tau karakter orang itu kayak gimana." - nadila


"Hebat banget papa mertua ku. Sama kayak menantunya."


"Kamu sekarang pede banget ya mas?" - nadila


Taeil cengengesan.


Taeil turun dari mobil, abis itu bukain pintu buat istrinya.


"Sementara aku rapat sama papa. Kamu tunggu di ruangan aku aja ya. Atau terserah kamu mau kemana."


"Iya mas.."


"Selamat pagi pak taeil."


Ada yang menyapa.


Minhyun tapi satunya lagi nadila ngga kenal. Soalnya cewe.


Mana daritadi senyum senyum ke taeil.


"Pagi." taeil membalas sapaan.


"Pagi ibu nadila.."


"Iya pagi juga."


"Wah woojin ikut ayahnya kerja ya?" minhyun nyubit pipinya woojin pelan.


Woojinnya ketawa


"Eh woojinnya lucu kalo ketawa." - minhyun


"Iya... Lucu kayak bundanya.."


"Yeuu pede banget si ibu." - minhyun.


"Minhyun. Semuanya sudah disiapkan kan? "


"Siap pak. Karena kita kedatangan tamu yang sangat penting. Semaksimal mungkin persiapan kita baik."


"Yaudah, kamu siapin aja apa yang perlu disiapkan. Dan mina, kamu ikut saya ke ruangan meeting ya."


"Baik pak."


Nadila masih sibuk liatin yang namanya mina itu. Soalnya daritadi senyum senyum terus ke taeil.


"Sayang.. Kita ke ruangan aku yuk."


"Iya.. Permisi ya kak minhyun dan mina.. Saya sama suami saya jalan dulu." nadila menekankan kata suami di depan mina.


Mina yang tadinya senyum langsung pudar.


"Jadi itu bener ya istrinya pak taeil?" - mina.


"Iyalah bener. Cantik kan?" - minhyun


Mina diem aja.


"Kalau mau jadi pelakor. Saya saranin gausah."


"Kenapa?!"


"Belum tau ibu nadila aja kamu.."


"Emang kenapa sama bu nadila?"


"Bu nadila itu serem orangnya. Sekali ada yang genitin suaminya. Bakalan habis diuyel uyel mukanya."


Ucapan minhyun langsung membuat mina bergidik ngeri.


"Tapi kan.. Kita ngga ada yang tau kedepannya gimana.."


Sementara itu, nadila lagi ada di ruangan sama taeil.


"Woojin jangan kemana mana ya.. Nungguin ayah aja disini oke" - taeil


Woojinnya cuma lompat lompat di pangkuannya nadila. 


"Mas?"


"Apa sayang?"


"Yang tadi sama minhyun siapa?"


"Oh itu mina. Dia sekretaris baru aku di kantor. Gantiin yeri."


"Ihh kok sekretaris kamu cewe terus sih mas!" - nadila jadi kesel.


"Loh? Kan sekretaris emang harus cewe sayang. Masa iya cowo."


"Ya tapi tadi dia senyum ke kamu terus mas.."


"Ya terus kenapa kalau dia senyum ke aku?"


"Ya aku ngga suka!"


Taeil ketawa pelan.


"Sayang... Aku itu bukan laki laki yang gampang tergoda sama perempuan. Apalagi mina,  umurnya aja jauh dibawah aku." - taeil


"Dulu kita menikah juga usianya jauh kan mas.."


"Ya kan beda sayang... Kamu gak perlu khawatir gitu.. Cinta aku cuma buat kamu"


"Sekarang kamu ngomong gitu..gatau nanti kalau selesai ra—"


Cup!


"Mas taeil ih! Ada woojin juga!"


Taeil senyum.


"Gimana bisa aku berpaling, orang lihat kamu cemberut gini aja jadi tambah cinta"


"Apasih mas taeil nih...." nadila ngeblush.


Selalu taeil seperti ini. Gimana nadila mau marah. Sekarang aja sukanya bikin baper.


Skip ><

__ADS_1


Rapatnya telah selesai,  sekarang taeil lagi sama papa changmin.


"Nadila ikut ke kantor kamu?" - papa changmin.


"Iya pa. Katanya dia jenuh di rumah. Makanya taeil ajak kesini."


"Nadila emang gitu il. Gampang jenuh, beruntung aja dia ngga jenuh sama kamu."


"Yah papa mah gitu."


Taeil sama changmin ketawa. Sungguh menantu dan mertua yang akur.


"Papa!!" nadila datang bersama woojin.


"Eh anak sama cucu papa disini ternyata."


"Papa mau pulang?"


"Iya lah. Kan udah selesai acaranya."


"Pa, tadi mas taeil duduk disebelahnya papa kan?" - nadila


"Ya iya sayang. Duduk disebelah mana lagi coba kalau ngga di sebelahnya papa?"


"Ya siapa tau aja duduknya sama sekretarisnya.."


"Haduhh cemburu ya cemburu??" papa changmin nguyel nguyel pipinya nadila. 


"Papa tuh apa apaan sihh!! Malu tau ngga dilihatin mas taeil." - nadila


"Malu kenapa? Suami kamu diem diem aja tuh. Ya kan il?"


"Ya tapi kan nadila malu papa..... Udah bukan anak kecil lagi.."


"Sampai kapanpun kamu itu bakalan tetep jadi anak kecilnya papa.."


"Hih papa nyebelin!"


Taeil mah cuma ketawa aja lihat kelakuan mertua sama istrinya itu. 


Sementara itu mina lagi ngelihatin keluarga yang kayaknya bahagia banget.


"Mina?" panggil minhyun


"Eh iya pak?"


"Ngapain kamu ngelamun ngga jelas gitu? Balik kerja sana."


"Pak?"


"Kenapa?"


"Itu kok.... Bu Nadila bisa kenal sama pak changmin?" - mina.


"Ya kenal lah mina... nadila itu kan anaknya om changmin."


"HAH?!"


Mina ngegas, bahkan taeil nadila sama papanya sampe ikutan kaget.


"Astaga mina. Kamu jangan malu maluin ya. Tuh dilihatin sama pak taeil!" -minhyun.


"B-berarti. Ibu nadila ituu anaknya orang kaya.."


"Kayaknya kamu ketinggalan berita banget ya." minhyun geleng geleng.


"Ya maklum. Saya baru magang disini.."


Mina masih ngelihatin taeil yang sekarang lagi gendong woojin.


"Astaga... Bapakable banget... Andai aja posisinya bu nadila itu aku...."


Dan mina mulai berkhayal.


"Iya pa. Hati hati."


Dan akhirnya papa changmin pulang duluan.


"Woojin digendong ayah yuk sini." taeil gendong woojin.


"Mas... Pulang yuk."


"Yakin pulang? Gamau jalan jalan dulu."


"Ngga ah mas. Aku mager."


"Yaudah ayo." nadila sama taeil jalan dan ngelewatin mina sama minhyun.


"Mau pulang sekarang pak?" tanya minhyun


"Iya min."


"Kok buru buru banget pak?" - minhyun


"Biasa.. Ibunya woojin minta jatah." taeil bisik bisik ke minhyun.


Tapi nadila denger.


"Ih mas taeil apaan sih!"


"Tugas kantor kamu yang urus ya min, kalau ada apa apa. Telfon saya."


"Siap pak."


"Mina. Saya pulang dulu, kalau ada apa apa hubungi sa—"


"Kalau ada apa apa, kamu ngomong ke minhyun aja nanti biar dia sampein ke suami saya." nadila memotong pembicaraan.


Cemburu beneran ternyata.


"I-iya bu.."


"Bentar deh. Kalau saya lihat... Setiap kali suami saya ngomong. Kenapa kamu senyum senyum? Giliran saya ngomong tadi. Kamu kayak ngga seneng gitu?"


"Eh? Ng-ngga kok bu.. Saya—"


"Kamu suka sama suami saya? Mau jadi pelakor?"


"Sayang... Udah yuk pulang," taeil berusaha meredam suasana.


"Ma-maaf bu. Sa-saya cuma—"


"Kamu itu cantik loh.. Masih muda, terus punya karir bagus. Kamu bisa cari yang lebih baik dari suami saya, jadi saya harap kamu jangan coba coba ngerusak hubungan rumah tangga saya. Atau kamu—"


"Nadila. Ayo pulang." kalau taeil udah manggil pake nama gitu. Berarti nadila harus nurut.


"Iya  mas iya..."


"Yaudah kalau gitu saya pulang dulu ya. Kalau ada apa apa kamu kasih tau minhyun aja." taeil langsung narik tangannya nadila pelan.


"Tuh kan. Saya bilang juga apa, gausah macem macem kamu sama istrinya pak boss." - minhyun


Sementara mina mah cuma diem aja. Dia menghela nafas


'Belum apa apa aja udah kena semprot'


Skip ><


Dan sekarang.. Nadila dan taeil sedang dalam perjalanan pulang..


"Kamu tadi kenapa sih? Kayak gitu ke mina?"


"Mas belain dia?" - nadila

__ADS_1


"Ngga belain sayang, cuma tadi kamu ngga ngasih kesempatan mina buat ngomong. Kan dia takut sama kamu."


"Ya bagus dong kalau takut. Biar sekalian aja dia resign dari kantor kamu."


Taeil senyum.


"Kalau lagi di kasur udah aku uyel uyel ya kamu." taeil narik pipinya nadila pelan


"Sayang..." - nadila.


"Kenapa hm?"


"Nanti kita mampir ke minimarket ya.."


"Kamu pengen sesuatu?


Nadila mengangguk


"Kamu pengen apa?"


"Aku pengen susu." - nadila.


"Susu? Tumbenan..."


"Gatau nih.. Lagi pengen aja.."


"Yaudah nanti kita beli. Pengen rasa apa?"


"Rasa pisang."


"Hah? Kamu yakin?"


Nadila mengangguk.


"Yakin lah mas."


Taeil tau banget apa aja makanan yang pantang buat nadila, termasuk susu pisang ini.


Nadila paling anti sama yang namanya pisang, terutama kalau dibikin susu, katanya enek. Bikin mual.


Tapi sekarang?


"Sayang.. Kita beli rasa lainnya aja ya."


"Ihh emang kenapa sih mas? Orang aku pengennya rasa pisang."


"Kamu kan ngga doyan sama rasa itu. Masa iya sekarang beli?"


"Pokoknya aku mau beli susu pisang mass.."


"Lainnya aja ya.. Gimana kalau beli es krim?" - taeil


"Ihh aku maunya susu pisang mass.. Ngga mau es krim."


"Yaudah iya. Nanti kita beli "


Ini aneh sekali... Kenapa tiba tiba nadila pengen susu rasa pisang?


"Terus nanti kita beli martabak manis ya mas. Yang rasa kacang."


Taeil tambah kaget.


"Kacang? Kamu yakin?"


"Iya mas aku yakinn.."


Nadila juga ngga suka sama makanan yang ada rasa kacang kacangan, ah lebih tepatnya dia alergi. Soalnya pernah waktu dia makan yang mengandung kacang, besoknya mukanya langung lebam kayak habis dipukulin orang.


"Sayang... Kamu kan alergi sama kacang. Masa beli martabaknya rasa kacang?"


"Tapi aku pengen mas...."


"Ngga ngga.. Kalau susu pisang nanti aku beliin, tapi kalau martabak kacang ngga ya dil."


"Mas... Tapi Aku tuh pengen.."


"Kamu kan kalau habis makan kacang langsung lebam sama biru biru. Beli yang lain aja."


Taeil ngga bisa nurutin kalau yang ini.


"Mas taeil gitu deh.. Kan aku pengen makan kacang mas.."


"Ya masalahnya kalau kamu makan kacang, alergi kamu kumat sayang. Beli yang lainnya aja ya."


Ini semakin aneh.. Kenapa sekarang nadila suka yang bertolak belakang gini??


.......


Nadila, taeil sama woojin udah sampai rumah.


Dan ngga lupa satu kantong susu rasa pisang ditangannya nadila sekarang.


Ngga main main. Nadila sekali minta banyak banget. Padahal kan dia ngga suka sama susu pisang.


Dan sekarang, nadila lagi ada di dapur. Niatnya mau masak.


"Kamu mau masak apa?" tanya taeil.


"Nasi goreng kayaknya enak deh mas dimakan sore sore gini." - nadila


"Yaudah, sini aku bantuin." taeil sama nadila masak barengan.


Tapi baru aja nadila mau ambil nasi.


"Hoek" nadila mual.


"Sayang? Kamu kenapa?" - taeil


"Aku mual mas—hoek"


"Mual kenapa? Kamu sakit? Apa gara gara minum susu pisang? Kamu bandel sih dibilangin."


"Nggak mas bukan itu..."


"Terus?"


"Aku ngga suka bau nasi mas.."


"Loh? Kok gitu?"


"Gatau mas. Pokoknya aku ngga su—hoek" kan mual lagi.


Nadila buru buru ke wastafle.


Dan dia memutahkan isi yang ada di perutnya.


Kan taeil yang lihat jadi khawatir.


" Hey, kamu gapapa kan? Kamu lagi datang bulan?"


Nadila menggeleng.


Taeil tau. Nadila kalau lagi datang bulan kadang kadang suka mual.


"Mass...." nadila lemes bawaannya. Soalnya habis mual.


"Udah udah kamu gausah masak. Kita ke kamar aja ya.." taeil langsung bawa nadila ke kamar.


Semakin aneh. Pertama susu pisang. Kedua martabak kacang..dan ketiga mual kalau bau nasi.


Apakah yang terjadi?


TBC

__ADS_1


__ADS_2