
"Kamu..... Masih pengen kerja?" tanya taeil.
"I-iya mas... Tapi aku kerja tuh cuma buat bantu bantu aja mas. Terus biar bisa jajanin anak anak juga." - sejujurnya nadila takut ngomong gini. Takutnya berantem lagi.
"Ya kan ada uang bulanan dari aku. Kamu bisa gunain itu buat keperluan anak anak. Apa mau ditambahin lagi uang bulanannya?"
Nadila menggeleng.
"Nggak mas, kalau uang bulanan mah lebih dari cukup. Maksudnya tuh.. Aku pengen bisa beliin sesuatu buat anak anak pake duit aku sendiri. Jadi biar ngga kebiasaan minta ke kamu..."
"Ya kan aku ayah nya. Gapapa kalau mereka minta ke aku semuanya sayang.."
"Ih mas bukan gitu.... Maksudnya tuh—"
"Kamu pengen ketemu jaehyun setiap hari ya?"
Kan mulai.
"Yaudah deh, kalau mas taeil ngga izinin gapapa."
Taeil jongkok.
"Sayang... Aku bukannya ngga izinin kamu buat kerja lagi di cafe punya jaehyun. Tapi
Aku tuh khawatir sama kondisi kamu. Udah ngurusin keluarga, terus kerja. Kalau kamu sakit kasihan anak anak kan??"
"......."
"Kalau kamu sakit, aku bakalan ikutan sakit juga."
"AAAAA MAS TAEIL KENAPA SELALU BIKIN AKU KEBAPERAN SIHHH!!!"
Ketika nadila dibikin baper bapak bapak.
Skip ><
Hari ini taeil sama nadila mau ke rumahnya hansol. Dan yang pasti mau ketemu issya.
Woojin sama hyunjin dititipin ke neneknya.
"Duhh, aku kangen banget sama issya.." nadila kelihatan bahagia.
"Seneng ya?"
"Ya seneng lah mas, aku udah hampir empat bulan ini ngga ketemu sama dia. Rinduuu.." - nadila
Taeil ikutan senyum.
Mereka turun dari mobil soalnya udah sampai rumahnya hansol.
Ting tong
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam... Eh nadila?" yang buka hansol.
"Hai mas." nadila senyum.
"Kamu... Udah pulang ke rumah?"
Nadila mengangguk.
"Kesini sama siapa?" tanya hansol
"Ya sama suaminya lah. Nih disini orangnya." taeil udah nongol aja.
"Ohh, aku kira kamu kesini sendiri... Ngga jadi pisah ranjang emang?"
"Eh? Ng-ngga mas hehe." - nadila
"Syukur deh ngga jadi. Tapi kalau jadi ya syukur juga."
"Hah? Kok gitu?"
"Ya kalau kamu pisah sama taeil. Nanti kan aku yang bakalan—"
"Ngga sopan lo. Tamu ngga disuruh masuk." taeil langsung nyelonong masuk sambil narik tangannya nadila
Sementara hansol ngakak.
Masih cemburu dia ternyata.
"Issya mana mas?" tanya nadila
"Ada di kamar. Bentar aku panggilin dulu."
"BUNDAAAAA!!!"
Belum juga hansol manggil. udah keluar duluan.
Issya langsung lari abis itu meluk bundanya.
"Astaga.. Anak bunda makin cantik banget sih hmm." nadila ciumin issya.
"Issya kangen banget sama bundaa."
"Bunda juga kangennn banget sama issya"
Mereka berdua mengeratkan pelukan.
Sementara para bapak bapak cuma ngeliatin doang.
"Eh iya, katanya papa, issya dapet nilai seratus ya ulangan matematika?"
"Iya bundaa."
"Karena issya udah dapet nilai seratus, bunda bawa hadiah loh buat issya."
"Hadiah apa bundaa.."
Nadila mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi sembunyi di belakang.
"Tada!"
Mata issya langsung berbinar.
"Barbiee!!!"
__ADS_1
Iya, nadila beliin satu set boneka barbie, mulai dari barbie, sampe ken juga ada. Pokoknya lengkap ada rumah rumahannya juga. Karena issya seneng banget sama boneka barbie.
"Issya..... bilang apa sama bunda?" - hansol menginterupsi anaknya
"Makasih bundaa.. Issyaaa sayang banget sama bundaa.." issya sama nadila pelukan lagi.
"Sama ayah ngga sayang nih?" - taeil
Issya nengok ke taeil.
Semenjak issya tau kalau taeil kasar ke nadila. Dia jadi agak takut sama taeil. Padahal sama hansol juga udah di jelasin kalau itu ngga sengaja. Tapi issya nya tetep takut. Takut di pukul sama taeil juga katanya.
"Nggak! Soalnya ayah jahat sama bunda!"
"Issya, ngga boleh gitu." - papa.
"Tapi kan bener, ayah udah jahat sama bunda. Masa bunda dipukul pipinya." - issya.
"Issya, kan ayah udah minta maaf ke bunda." -taeil.
"Kapan? Kok issya ngga tau?!"
"Issya,, boneka barbienya yang beliin ayah lohh... Yang milihin juga ayah." - nadila mengangkat bonekanya.
Issya diam. Habis itu jalan ke arahnya taeil.
Issya mengulurkan tangan.
"Issya ngapain?"
"Ayah harus minta maaf sama issya juga!"
"Loh? Kenapa harus minta maaf? Kan ayah ngga ngapa ngapain..."
"Ayah itu udah jahatin issya juga, minta maaf"
Taeil ketawa lihatnya. Abis itu dia langsung gendong issya terus diciumin deh sama taeil.
"AYAHHH GELI TAUUU!! ISSYA KAN BUKAN ANAK KECIL LAGI!!"
"Issya itu tetep jadi anak bayinya ayah yaa. Ga bakalan gede hm.."
"Dihh ayahh!! PAPA BUNDAA TOLONGIN ISSYAA!!"
Nadila sama hansol cuma ketawa lihatnya.
Mereka bertatap muka sejenak..
"Makasih ya, udah jagain issya." - hansol.
" ga masalah mas, issya udah kayak anak aku sendiri kok."
"Nyari istri yang kayak kamu susah kayaknya.."
"Dih. Apa deh mas hansol nih." nadila malu malu.
Mereka saling lempar senyum.
"Udah udah gausah drama senyum senyum gitu." taeil yang tau cemburu.
"Bunda cocok deh sama papa"
"Heh! Issya kok ngomong gitu?!!" - taeil
"Bunda nikah aja sama papa.."
"HEH!!"
Nadila sama hansol cuma ketawa aja bisanya.
......
Ini udah malem, tapi nadila sama taeil belum pulang dari rumah hansol.
Ya karena issya nangis kalau ditinggal. Mungkin saking kangennya dia sama ayah bundanya.
"Issya, ayah sama bunda biar pulang ya. Besok kesini lagi jemput issya sekolah." hansol aja udah bujukin. Tapi ngga mempan.
"Gabolehh... Ayah sama bunda ngga boleh pulang." issya ngomong gitu sambil mainan barbie.
"Issya, kan besok ayah taeil kerja. Terus bunda juga ngurusin adek. Jadi ya harus pulang." - hansol.
"Kalau ayah sama bunda pulang.. Besok Issya ngga sekolah."
"Issyaa...."
"Udah mas, gapapa. Lagian udah jam segini, sebentar lagi juga tidur issya nya." - nadila.
"Udah han biarin aja. Mungkin issya masih kangen sama bundanya." - taeil
Hansol menghela nafas.
"Makanya buruan cari istri. Biar ngga kecapekan ngurusin issya." - taeil
"Ah il, susah kayaknya." - hansol
"Susah kenapa? Tinggal cari aja apanya yang susah."
"Yeuuu cari gampang. Tapi nyari yang bisa nerima issya itu yang susah."
"Ngga susah kalau lo berusaha han.."
"Iya, tapi yang gue maksud bukan itu."
"Terus?"
"Cari yang kayak nadila susah il."
"*******!"
"HEH MAS TAEIL NGOMONG APA??! PENGEN TIDUR DI SOFA YA KAMU?!!"
dan ****** aja itu taeil.
Skip ><
Taeil sama nadila udah pulang ke rumah. Hyunjin sama woojin juga udah diambil ke rumah mamanya.
__ADS_1
Dan sekarang nadila lagi nungguin taeil yang lagi ngerjain tugas. Iya tugas kantor. Padahal ini udah hampir tengah malem.
"Mas... Kamu kapan istirahatnya? Ini udah tengah malem. Masa kerja terus... Lagian kan besok kamu libur.."
"Justru karena besok libur. Jadi kerjaan aku diselesain sekarang, biar besok gak ganggu waktu aku sama kamu sama anak anak juga."
"Ya tapi inget mas sama kesehatan, jantung kamu..."
"Iya sayang... Aku bakalan jaga kesehatan."
Nadila diem.
Dia jadi rindu sama kesehariannya pas masih kerja, dan tinggal di apartemen. Nadila merindukan masa masa itu.
"Mas....."
"Hmmm.."
"Izinin aku kerja lagi ya mas.."
Taeil menoleh ke nadila.
"Kamu mau kerja di cafenya jaehyun lagi?"
Nadila mengangguk pelan.
"Jarak rumah sama cafe jauh sayang... Aku gamau kamu kecapekan." - taeil.
"Mas... Aku bakalan jaga kesehatan kok beneran. Lagian mas lihat sendiri kan cafenya jaehyun rame banget. Aku kasihan sama jungwoo kalo harus sendirian jadi pelayan."
"Kan jaehyun bisa cari pelayan baru."
"Tapi aku beneran pengen kerja mass.. Aku juga jenuh kalau mesti di rumah terus."
"Terus kalau kamu kerja.. Anak anak gimana?"
"Ya aku titipin ke tempat penitipan anak lah."
"Kamu kerja di kantor aku aja gimana?"
"Ngga mau ah."
"Loh? Kok gamau?"
"Ya aku ngga nyaman kalau mesti kerja di kantor kamu."
"Kenapa nggak nyaman?"
"Ya nanti banyak pegawai yang genitin kamu. Terus aku tau. Nanti malah rusuh kantor kamu."
Taeil ketawa pelan. Lalu dia menghela nafas.
"Sayang... Serius, aku khawatir kalau kamu kerja berat berat gini. Takut kamu ngedown lagi."
"Mas.. Aku janji bakalan jaga kesehatan aku. Dan aku ngga bakalan lupa sama kewajiban aku ngurusin kamu sama anak anak." - nadila.
"Nadila... Dengerin aku." taeil dan nadila berhadapan.
"Aku ngga ngasih izin kamu bukan karena aku ngelarang kamu ketemu sama jaehyun atau jungwoo. Tapi... Aku khawatir sama kesehatan kamu. Kamu kan sering sakit gara gara ngga biasa kerja sampe larut malam gini."
Nadila menghela nafas.
Tapi setelah itu dia senyum.
"Yaudah gapapa, aku dirumah aja ngurusin anak anak sama kamu."
Taeil senyum.
"Yaudah kamu tidur sana. Udah tengah malem ini. Besok kan nganterin hyunjin sekolah."
"Kalau aku tidur, kamu juga harus tidur."
"Iya. Nanti kalau kerjaan aku udah selesai baru aku tidur sayang."
"Mas... Kerjaannya bisa dikerjain besok kan? Kamu tuh juga harus jaga kesehatan" - nadila.
"Iya sayang iya aku tau. Tapi kan kerjaan ini juga penting. Dan harus diselesaiin sekarang."
"Yaudah kalau gitu urusin aja kerjaan kamu terus!" nadila beranjak dari kursi. Pergi ke tempat tidur. Dia menarik selimut.
Taeil menghela nafas. Dia tersenyum..
Nadila masih sembunyi di balik selimut.
Tapi tiba tiba ada yang meluk dia. Siapa lagi kalau bukan taeil.
"Kesel ya?"
"Gatau!"
"Aku tau.. Kamu kesel karena kerjaan aku.."
"Nggak! Udah sana terusin kerjaannya."
"Duh sayangku cemburu sama kerjaan....." taeil mengeratkan pelukan .
Taeil tau, nadila kayak gini karena cari perhatian. Soalnya selalu dicuekin pas banyak kerjaan gini. Kan taeil jadi gemes.. Sama kerjaan aja cemburu.
"Mas aku ga bisa nafas ini.."
"Makanya dibuka dulu selimutnya.." taeil menarik selimutnya pelan.
"Ngapain sih disini? Udah sana urusin kerjaan kamu. Kerjaan kan nomer satu dihati kamu. Gatau deh aku nomer berapa."
"Dih bikin gemes ya kamu. Jadi pengen—"
"Nggak! Nggak ada pengen pengenan. Aku capek."
Taeil terkekeh.
"Iya iya maaf... Kan aku kerja juga buat kamu sama anak anak juga. Masa sama kerjaan aja kamu cemburu. Apalagi kalau kamu tau sekretaris aku di kantor"
"YAUDAH SANA SAMA SEKRETARIS KAMU AJA! NIKAHIN SANA!!"
Dan Taeil ngga bisa nahan tawa kalau nadila kayak gini.
TBC
__ADS_1