
Nadila denger hyunjin teriak manggil ayahnya,
"Ayah ngga disini dek.." - nadila.
"Itu ayah bundaa, di depan pintu."
Nadila menoleh ke arah pintu.
Dia langsung berdiri.
"Mas taeil...."
"AYAHHH!!!" hyunjin berbinar, dia lari ke arah ayahnya. Tapi sama nadila ditarik pelan.
"Bundaa unjin pengen digendong ayahhh..."
"Hyunjin bobok ya, udah malem. Ayo bunda anter ke kamar." nadila buru buru gendong hyunjin abis itu dibawa ke kamar.
Dan pintu kamarnya dikunci.
"BUNDAAA, UNJIN PENGEN DIGENDONG AYAHHH!!!"
"BUNDAAA UNJIN KANGEN AYAHHH!!!"
"Buka pintunya." taeil nyuruh nadila membuka pintu kamar.
"Nggak! Sebelum kamu pergi dari sini, aku ngga akan bukain pintu kamar ini."
"AYAHHH TOLONGIN UNJIN HUAAA"
"Buka nadila.. Kamu ngga denger apa hyunjin nangis kayak gitu?"
"Hyunjin itu urusan aku. Jadi aku minta kamu pergi dari sini." - nadila.
"Dila..".
"PERGI SANA!!"
"Hyunjin sama woojin itu anak aku juga! Jadi aku berhak ketemu mereka." -taeil
"Mereka....bukan anak kamu!"
Sementara itu hyunjin masih nangis di dalem kamar. Pengen ketemu ayah nya aja ngga bisa.
"Kalau kamu pengen ketemu anak anak. Tanda tangani surat perceraian kita dulu."
"Nggak akan! Mau sampai kapanpun, kita ngga akan pisah!"
"Oke kalau itu mau kamu.. Jangan harap aku bakalan temuin kamu sama anak anak."
Taeil mendekat ke nadila
"Kamu inget kan omongan aku tiga bulan yang lalu?."
"......"
"Kalau kamu masih tetep maksa aku buat ceraiin kamu..... Jangan salahin aku kalau hak asuh anak ada sepenuhnya di tangan aku."
Dan nadila benci ini. Dia tau. Taeil akan melakukan semua cara biar mereka ngga pisah.
"Iya ya... Aku lupa kalau kamu itu punya segalanya..."
"......."
"Kamu bisa beli apapun dengan uang kamu, termasuk anak anak. ya kan?"
"Dila—"
"Tapi kamu harus tau satu hal mas.... Semakin kamu pake cara nekat kayak gini, aku pastiin juga anak anak bakalan benci.. Dan lupa sama ayahnya."
Nadila langsung masuk kamar, lalu menguncinya.
'Sampai kapan pun aku gak akan tanda tangani surat cerai itu!'
Skip ><
Sekarang, nadila lagi kerja. Karena cafe jaehyun kalau hari sabtu itu tutup, jadi dia ambil shift penuh di restoran ayam ini.
Pas lagi ngelap meja, ada yang masuk.
"Selamat datang di restoran a—"
"Selamat siang hehe."
"Kak minhyun ngapain disini?" tanya nadila.
"Ya mau makan lah dil. Masa iya ngapelin kamu.." - minhyun jalan ngelewatin nadila.
"Mba. Saya pesen nasi ayamnya duapuluh box ya.."
"Kak minhyun pesen ayam banyak banget..." guman nadila sambil ngelap meja.
"Tapi berhubung saya ngga bisa bawa, saya pengen karyawannya yang bawa." - minhyun
"Oh iya pak. Nanti saya yang akan mengantar.."
"Duh mbaa... Kalau saya pengennya mba mba lagi ngelap meja yang nganterin gimana?"
__ADS_1
Nadila yang denger langsung menoleh ke arah minhyun.
"Hah? Maksudnya nadila?"
Minhyun mengangguk.
"Emang ada apa ya pak? Kok nadila yang harus nganter?"
"Ya karena boss saya pengennya dia mbaa." minhyun senyum senyum.
"Bosnya?"
"Eh iya. Mbanya tau hutomo group kan?" - tanya minhyun.
"Iya pak tau, yang direkturnya ganteng itu kan???"
Ini malah si minhyun ngegosip sama mba mba kasir
Dan entah kenapa nadila kesel kalau ada yang ngomong taeil ganteng selain dia.
"Iya, yang direkturnya ganteng itu loh..." - minhyun
"Iya, ganteng. Tapi sayang udah punya istri."
"Nah.. Ngomong ngomong soal istrinya.. Dia ada disini."
"Hah? Yang bener nih pak? Mana??"
"Tuh. Yang lagi ngelap meja."
"APA?!"
"Ati ati makanya. Kalau restoran ini berani macem macem sama mba nadila. Bisa bisa ditutup sama suaminya."
Tepat setelah ngomong gitu. Minhyun langsung keluar dari restoran sambil senyum senyum gak jelas ke nadila.
"DASAR MINHYUN ARENDRA! AWAS KALAU KETEMU LAGI."
Nadila langsung dikerumuni
"Ihh nadila... Kok kamu gak ngomong sih kalau istrinya pak taeil hutomo."
"Nah iya, tau gitu kamu ngga aku suruh bawa yang berat berat deh."
"Ya ampun. Kamu beruntung loh punya suami kayak pak taeil. Kelihatan dari orangnya aja udah adem banget..."
"Tapi kok kamu mau sih kerja disini? Emang dibolehin sama pak taeil?"
Kan. Jadi rame. Ini semua gara gara si minhyun.
....
Kenapa sih harus ketemu taeil terus? Kan dia niatnya mau menjauh.
"Ehh mba nadila udah dateng ya."
Nadila tau ini suara minhyun.
"Nih! Kasihin ke boss nya situ. Lagian banyak bener sih kalau pesen. Ngerepotin aja bisanya."
"Yeuuu ya kasih sendiri aja sana."
"Kenapa sih kak minhyun tuh makin hari makin nyebelin!"
"Aku itu makin hari makin ganteng tau bukan makin nyebelin"
"HIH!" nadila baru aja mau pukul minhyun eh, ada telfon.
"Hallo, iya pak taeil?"
"......"
"Siap pak, ini orangnya udah ada di sini."
Minhyun menutup telfon.
"Ibu nadila dipersilahkan masuk ke ruangannya pak boss besar."
"Ngapain?"
"Ya mana saya tau, mending ibu nadila mastiin sendiri. Eh jangan lupa sisain satu ayamnya buat pak taeil. Yang lainnya biar disini aja." - minhyun.
"Kak. Sumpah aku masih belum siap kalau harus ketemu berdua gini." - nadila.
"Nadila? Aku tau kamu ngga mau kehilangan pak taeil."
Nadila diem aja, ngga jawab.
"Pikirin anak anak kalian. Mereka masih butuh sosok orang tua yang lengkap." minhyun mengacak rambutnya nadila pelan.
"Udah sana. Kali aja ini jalan terbaik buat kalian."
Nadila menghela nafas.
......
Dan sekarang taeil sama nadila lagi berduaan.
__ADS_1
"Aku mau minta uang pemesanan." nadila memberikan tagihan, dan taeil menerimanya.
"Ayo makan."
"Aku lagi ngga laper, kamu aja." nadila naruh box nya di mejanya taeil.
"Wangi kamu masih sama."
"Mana uangnya? Kalau ngga dibayar sekarang. Bisa bisa aku dimarahin sama boss aku." nadila mengadahkan tangan.
"Siapa yang berani marahin istrinya taeil hutomo?"
"Mas. Udah, gausah basa basi. Aku kesini itu cuma nganterin pesenan kamu aja. Masih mending kan aku mau."
"Ya itu berarti tandanya kamu masih cinta sama aku." - taeil.
"Kalau kamu gamau bayar yaudah gapapa, nanti aku minta ke kak minhyun. Permisi."
Nadila balik badan.
"Aw..."
Nadila balik ke arahnya taeil lagi.
Dan dia lihat taeil megang bagian jantungnya. Itu berarti taeil kambuh.
"Mas?"
Taeil hampir ambruk kalau ngga di tolongin sama nadila.
"Mas! Kamu gapapa kan? Jantung kamu sakit lagi hah? Ngomong sama aku!!" - nadila panik setengah mati.
Padahal kan dia.....
"Mas? Kamu bawa obatnya kan? Apa obat kamu habis? Maass!!"
Taeil diem aja.
"Mas taeil jawab dong! Kalau kamu ngerasain sakit bilang ke aku, jangan diem a—"
Cup!
Tak disangka, taeil mengecup bibirnya nadila.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa denger kamu ngomel gini ke aku."
Dan ternyata taeil hanya pura pura..
BUGH!
"AW!."
Nadila mukul tangannya taeil kencengan.
Nadila berdiri, dia niatnya mau keluar.
"Nadila.. Aku gamau pisah sama kamu, serius."
Nadila menutup wajahnya, setelah itu menangis.
"Nadila... Maafin aku, aku khilaf waktu itu."
Nadila masih menangis.
"Kalau kamu mau pukul aku, yaudah pukul aja. Pukul sampai kamu bener bener puas,"
"Kamu jahat tahu nggak!!" nadila mukulin taeil.
"Aku benci sama mas taeil!!"
Nadila masih memukul badannya taeil.
"Aku mau kita cerai titik!! Mas taeil udah nyakitin hati aku!!"
Nadila tambah nangis.
"Udah mukulnya?" tanya taeil.
Nadila masih menangis.
Taeil menangkup kedua pipinya nadila, habis itu dipeluk.
Nadilanya malah makin kejer nangisnya.
"Mas taeil udah ingkari janjinya sendiri!!"
Taeil mengeratkan pelukannya.
"Maafin aku... Aku ngga mau kehilangan kamu sayang..."
"Kamu jahat....." nadila sesenggukan
"Iya iya aku jahat, aku minta maaf..." taeil mengeratkan pelukan
"Aku mau pisah sama kamu......"
"Nggak. Sampe kapanpun aku gak akan cerain kamu."
__ADS_1
Dan berakhirlah nadila menangis di pelukan sang suami.
TBC