
Nadila diem..
Asli, ganteng banget cowok yang sekarang ada di depannya.
"Dek? Kamu sehat kan?"
'Bangsul! Gue dikatain stres secara nggak langsung'
"Ya sehat lah om."
Entah kenapa, hati dan pikiran nadila jadi ngeblank..
"Terus? Kamu kesini mau ngapain?"
'Kalau dia tanya kenapa lo ke rumahnya.. Jawab aja kalau lo itu temennya gue' - yuta.
"Eh itu om. Saya temennya nayuta, adeknya om."
Laki laki itu diam. Kayak lagi mikir sesuatu.
"Ohh,kamu yang lagi cari kerjaan itu bukan?"
"Nah iya! Bener banget om.." nadila ngegas.
"Yaudah masuk dulu yuk." laki laki itu mempersilahkan dila masuk, sedangkan anak kecil tadi udah digendong.
Dan sekarang mereka berdua sedang duduk bersebalahan di ruang tamu.
'Anjirr gue grogi!' nadila mengumpat dalam hati
"Jadi? Apa keahlian kamu?"
Mpus aja itu yang namanya nadila..
Jangankan keahlian, cita cita aja nggak punya. Segala pake ditanyain.
"Kok nggak dijawab? Saya tanya loh..kamu bisa apa? Apa nggak bisa ngapa ngapain?"
"Eh bisa kok om bisa!"
"Yaiya, tapi bisa apa? Kan saya tanya kamu tadi.."
Emang bener kata yuta, kakaknya ini orangnya kaku, nggak basa basi.
Nadila jadi mikir, kenapa dulu ada yang mau jadi istrinya..
"Sa-saya bisa semuanya kok om."
"Yakin?"
Nadila mengangguk.
"Kamu mahasiswa?"
"Iya om.."
"Semester?"
"Semester akhir om. Bentar lagi juga skripsi hehe."
Orangnya cuma ngangguk aja.
"Asli kaku banget ini om om"
"Kamu udah tau kan kerjaan kamu disini apa?"
"Eh? Belum sih om..."
"Emang yuta ngga ngasih tau kamu?"
"Ngga om.."
"Kamu disini jadi asisten rumah tangga."
"Hah? Apa om?"
"Asisten rumah tangga, sekaligus jagain anak saya"
Bak disambar petir.. Ternyata bener. Dia disini bakalan jadi babu.
Di rumah segede dan seluas ini.
"Kok bengong? Kamu nggak mau jadi asisten rumah tangga?"
"Eh! Mau kok om mau..."
Demi bayar skripsi, mau nggak mau nadila mah.
"Yasudah, kapan bisa mulai kerja?"
"Sekarang juga bisa kok om.." nadila jadi semangat.
"Yakin? Nggak ganggu kuliah kamu kan?"
"Nggak kok. Kebetulan saya cuma ada kelas pagi. Jadi udah pulang" - nadila.
"Yaudah, kalau gitu sekarang kamu bisa kerja di rumah saya..."
"Siap om!"
"Oh iya, nama kamu siapa?"
"Nadila om, panggil aja dila."
"Nadila...... Nama kamu cantik."
'Aduhh baru dipuji nama aja udah mau terbang gue..'
"Eh iya, saya belum tahu nama om.. Masa iya art nggak tahu nama majikannya."
"Nama panggilan saya? Atau mau nama lengkap?"
'Aduhh ribet banget ini orang tua'
"Dua duanya juga boleh om."
"Nama lengkap saya, taeil hutomo.. Kamu bisa manggil saya taeil."
__ADS_1
"Ohhh om taeil, oke oke.."
"Jangan panggil saya om."
"Eh? Ma-maaf om. Habisnya aku bingung mau manggil apa.."
"Terserah kamu aja."
"Hehe." nadila cengengesan.
"Jangan cengengesan gitu. Udah sana kerja."
Nadila langsung kicep.
"i-iya om..."
"Oh iya. Kamu bisa masak kan?" tanya taeil.
"Kecil kalau masak mah.."
Iya kecil, karena nadila jago kalau disuruh masak.
Mungkin emang dia ditakdirkan buat jadi pembantu.
"Hari ini kamu bisa masakin saya sama anak saya kan?" - taeil
"Eh? Tadi itu anaknya om??"
"Iya.. Kenapa? Kaget kalau saya udah punya anak?"
"Iya- Eh maksud saya nggak kok om. Biasa aja."
Taeil tersenyum miring
'Ya Allah, dia senyum miring gitu aja ganteng'
Kayaknya nadila kepincut sama ini orang.
"Yaudah, dapurnya ada di sebelah kiri kamar tamu."
"Siap om, kalau gitu aku mau masak dulu." nadila bergegas menuju ke dapur.
Nadila tahu kalau kakak pertamanya yuta ini seorang duda, tapi dila nggak tahu kalau dia udah punya anak.
"Eh iya om."
"Kenapa?"
"Saya nggak disuruh cuci piring kan?" tanya nadila.
"Kenapa emang? Kamu nggak bisa cuci piring?"
"Hehe.." dila cuma cengengesan aja.
"Cengengesan lagi."
"Maaf om maaf.."
"Yaudah, nanti biar saya yang bantu kamu buat cuci piring." taeil senyum tipis. Abis itu ninggalin nadila.
"Baik juga kakaknya si yuta.. Gue kira garang.. Ah tapi kaku gitu" guman nadila.
Nadila masih sibuk di dapur, rencananya dia masak rendang, baru aja dia dikasih tahu mama nya resepnya kemarin.. Jadi dia pertama kali buat.
Ya nadila berdoa semoga aja majikannya itu doyan masakannya.
Lagi enak enaknya serius, ada telfon masuk.
"Aduhhh siapa sih??" pas dia ngeliaht hp nya.
Mama💞 is calling...
"Hallo ma?"
"Nadila,, kamu tuh kemana sih? Jam segini belum pulang. Kluyuran lagi??"
"Dila lagi kerja mama.. Kan maam sendiri yang nyuruh adek buat cari kerja.. Masa mama lupa sih?"
"Emang ada yang mau nerima kamu? Orang nggak bisa apa apa gitu."
'Untung ini orang jadi mama gue' - guman dila
"Ma, udah dulu ya . Dila lagi masak, takut gosong. Bye."
"Loh, kamu kerja jadi apa sih? Pemban-"
BIP!
nadila langsung matiin telfonnya..
Nggak bakalan kelar kalau urusan sama mama yuri.
"Dasar, punya orang tua kok cerewetnya minta ampun"
Baru aja mau ngelanjutin masak, tapi ada yang narik celemeknya.
Dia nengok ke bawah.
Dan ternyata anak kecil yang tadi bukain pintu. Alias anaknya taeil.
"Hai tante.." anak itu tersenyum cerah.
Nadila senyum.
"Hai juga cantik "
Nadila tuh emang suka banget sama anak kecil. Gemesin katanya.
"Aku boleh ikut bantuin tante masak nggak?"
Nadila mensejajarkan dirinya.
"Kamu tunggu di ruang makan aja ya sama ayah kamu.. Biar tante yang masak.." nadila menarik hidungnya pelan.
"Nama tante siapa?"
Dila senyum.
__ADS_1
"Nama tante nadila,, kamu bisa manggil tante dila.. Kalau nama kamu.. Siapa?" tanya dila balik.
"Nama aku—"
"Issya? Kamu ngapain disitu?"
Belum juga dijawab, udah ada yang jawab duluan.
"Issya lagi kenalan sama tante dila yah.."
'Ohh. Jadi nama anaknya issya? Cakep juga ini bocah.. Pasti dulu ibu nya juga cakep.'
"Tante dila lagi sibuk sayang, kamu tunggu di depan aja ya.." taeil mengelus kepala anaknya pelan.
Dila jadi seneng lihat bapak sama anak ini.
"Bolehkah aku berada diantara kalian?"
"Maaf kalau issya ganggu kerjaan kamu." - taeil bersuara.
"Ehh nggak ganggu kok om. Beneran. Ini aku juga udah selesai."
Taeil lihat, ada beberapa makanan di piring.. Tampaknya dia kagum yeorobun...
"Ini... Kamu semua yang masak?" tanya taeil.
"Iya lah om, kan yang disini cuma saya." nadila senyum cerah.
Dan taeil lihat senyumnya dila.
'Senyuman itu...'
Taeil ngelihatin nadila.
"Om? Om gapapa kan?" nadila menyadarkan lamunan taeil
"I-iya saya gapapa."
"Yakin? Kok lihatin aku gitu sih? Ada yang salah ya om sama aku?" - nadila
"Nggak kok,, nggak ada yang salah.. Cuma....senyuman kamu mengingatkan saya sama seseorang.. " abis ngomong gitu taeil langsung pergi dari dapur.
Nadila cuma ngelihatin taeil.
"Jadi tadi, om taeil lihat senyuman gue?" guman nadila. Lalu dia senyum..
Kepincut beneran kayaknya ini bocah.
Skip ><
Jam makannya udah selesai, dan sekarang waktunya cuci piring..
Dan bener aja, taeil bantuin nadila yang emang nggak bisa cuci piring..
Padahal cuma tinggal gosok gosok doang.. Apa sih susahnya?
Kecuali kalau emang nadila mau modusin majikannya.
Abisnya ganteng sih.. Kayak member boyband korea braa wajahnya.
"Kamu bisa masak. Tapi kenapa nggak bisa cuci piring?" tanya taeil.
"Gatau juga sih om. Hehe, males aja gitu."
"Kamu itu perempuan, calon ibu rumah tangga. Masa cuci piring aja nggak bisa. Kalah sama saya." - taeil.
"Eh kan nikahnya masih lama om." - dila
"Emang kamu bisa melawan takdir? Kalau besok kamu dilamar sama orang emang kamu tahu?" - taeil
"Nggak juga sih. Cuma aku nggak kepikiran buat ngurusin hal hal semacam itu.."
"Tapi kalau om yang ngelamar. Mau besok ngajak nikah pun aku iyain"
"Kamu satu kampus sama yuta?" tanya taeil.
"Iya om, satu fakultas malah."
"Yuta itu adik bungsu saya" - taeil
"Emang om taeil punya saudara berapa?"
"Tiga."
"Loh? Jadi yuta punya kakak lagi?" - dila
"Iya, kakaknya perempuan. Cuma emang nggak di indonesia."
Nadila cuma mengangguk.
Pantes aja yuta nggak pernah cerita.. Tinggal di indonesia aja nggak.
"Om. Nama anaknya bagus, hehe."
Taeil senyum tipis.
"Namanya alissya askadina putri."
"Wahh, nama tengahnya sama kayak nama saya tuh." nadila heboh.
"Kayaknya issya suka sama kamu." - taeil
"Oh ya?" - dila
"Sebelumnya dia nggak pernah suka kalau ada asisten di rumah. Makanya selama ini saya sendiri yang ngurus issya."
Bapakable sekali kakaknya yuta ini.
Beda sama adeknya, udah petakilan, sukanya ngardus, pikirnnya bokep mulu.
Nadila jadi curiga, jangan jangan yuta itu anak yang ditemuin di comberan depan rumah.
"Emang ibunya kemana om?" tanya dila yang nggak tahu apa apa.
Seketika dila lihat raut wajahnya taeil jadi sendu.
"Istri saya meninggal ketika issya lahir."
__ADS_1
TBC