Papa Muda

Papa Muda
39


__ADS_3

Nadila lagi ambil baju kotor di kamar.


Sekarang, dia semua yang ngurus anak anak, sama ngurus lainnya.


Padahal taeil udah usul buat nyewa asisten rumah tangga. Seenggaknya buat bantuin nadila beres beres rumah.


Tapi nadila nya nggak mau.


Padahal repot banget itu, udah ngurus dua anak. Ngurusin rumah segede ini..


Dan dia mesti ngeluarin asi buat hyunjin. Soalnya umurnya masih 5 bulan.


Taeil kan jadi nggak tega.


Nadila jalan ke dapur, dia lihat jam. Ternyata udah jam sepuluh pagi.


Itu berarti jadwalnya issya pulang sekolah.


"Eh iya, udah waktunya issya pulang. Tapi mas taeil kenapa belum dateng ya?"


Sekarang taeil juga yang antar jemput issya.. Semetara sampai hyunjin agak gedean dikit. Nggak mungkin juga kan kalau nadila antar jemputnya sambil bawa hyunjin.


"Assalamualaikum bundaaa.."


Itu suara issya. Berarti dia udah pulang.


Nadila buru buru ke depan.


"Waalaikusalam.. Eh anak bunda udah pulang." nadila langsung ambil tas issya.


"Ayah kemana? Kok nggak masuk rumah?" tanya nadila


"Hari ini issya nggak dijemput sama ayah bun."


"Lah terus? Siapa yang jemput sama anterin issya kesini?" - nadila


"Om hansol."


Deg!


HANSOL...


"Om... Hansol?"


Issya mengangguk.


"Iya bunda, oh iya om hansol masih diluar. Katanya mau ketemu sama bunda."


'Mas hansol mau ketemu sama aku?'


"Bunda ayo ketemu sama om hansol." issya menarik tangannya nadila buat ke depan.


"Om hansol."


Hansol menoleh.


"Bunda, ini yang namanya om hansol."


'Iya udah tahu.'


"Om hansol... Kenalin ini bunda aku."


Hansol senyum.


"Hai.."


"I-iya.."


Sekarang hansol sama nadila lagi ada di luar, sedangkan issya ada di kamar sama adeknya.


"Jadi kamu istri baru nya taeil?" tanya hansol.


"Iya..."


"Kemarin saya dateng kesini. Tapi kata taeil, kamu udah tidur."


"....."


"Kamu udah tahu kan? Kalau issya anak kandung saya?" - hansol


"Iya, saya udah tahu."


"Saya lega kalau taeil ngerawat issya dengan baik."

__ADS_1


"Mas?"


"Kenapa?"


"Kenapa mas hansol baru dateng sekarang buat ngambil issya?" nadila nggak basa basi.


Hansol senyum tipis.


"Ya karena sekarang baru waktunya saya bisa ketemu issya."


"Tapi issya udah bahagia sama kami."


"Iya saya tahu. Tapi... Saya kan juga ayah kandungnya issya.. Saya juga berhak atas dia."


"Apa alasan mas hansol baru datang sekarang? Kenapa dulu mas ninggalin dia gitu aja?"


"Saya hanya ingin menepati janji sama taeil dan haein."


"Janji?"


Nadila nggak ngerti.


"Sebenernya..taeil, haein, sama saya membuat sebuah janji. Kalau issya lahir. Saya nggak berhak atas issya. Dan itu berlaku sampai umur issya enam tahun."


"Bentar deh... Maksudnya mas hansol gimana sih?" nadila bener bener nggak mudeng.


"Saya sama taeil membuat sebuah perjanjian. Jika issya sudah berumur enam tahun. Saya bisa mengambil issya kapan saja yang saya mau.."


"Apa?"


'Mas taeil kenapa nggak ngomong sama aku!'


"Sebenarnya ini semua salah saya. Saya yang membuat perjanjian itu. Dan taeil menyetujuinya."


"Dan waktu itu, taeil juga pernah ngomong ke saya. Kalau misalnya dia nikah lagi dan punya anak. Saya boleh bawa issya."


Nadila nggak tahu harus ngomong apa lagi. Dia bener bener kecewa sekarang.


Bisa bisa nya taeil nggak ngomong sama nadila tentang ini?


Nadila kan sekarang istrinya. Tapi dia masih bisa sembunyiin ini semua dari dia.


Nggak habis pikir sama taeil.


Taeil baru pulang ke rumah jam delapan Malam. Dia langsung masuk kamar.


Nadila juga baru aja keluar dari kamarnya issya. Soalnya hyunjin tidur di kamarnya issya.


Dan di situ ada yuta juga, lagi nonton tv.


"Kayaknya mas taeil udah sampai rumah.."


"Yut?"


"Apaa??"


"Mas taeil udah pulang?" tanya nadila


"Udah, tuh baru aja masuk ke kamar." - yuta


Nadila buru buru masuk ke kamar.


Taeil udah masuk kamar, dia ngelepas dasi sama jas nya.


Asli dia capek hari ini.


Tadi hansol nemuin dia di kantor. Dia bilang mau jemput issya,


Dan juga, dia bilang besok pagi mau jemput issya buat diajak tinggal sama dia.


Kan taeil pusing.


"Hyunjin sama dila kemana?" - taeil


"Mas?"


"Eh. Kamu habis dari kamar issya ya? Hyunjin mana?" - taeil


"Hari ini. Hyunjin aku titipin di kamarnya issya."


"Kenapa kok gitu?"


"Karena aku mau ngomong berdua sama mas. Dan nggak mungkin ada hyunjin disini."

__ADS_1


"Emang kamu mau ngomong apa sih?"


"Mas tahu tadi yang jemput issya siapa?"


"Iya tahu. Hansol kan?"


"Kenapa tadi mas nggak jemput issya?"


"Tadi hansol ke kantor aku. Dan dia pengen jemput issya tadi, yaudah aku izinin."


"Kenapa mas izinin dia? Harusnya tadi mas telfon aku biar issya aku yang jemput."


"Dila,, hansol kan ayahnya issya juga. Aku nggak mungkin nggak kasih izin dia buat nggak jemput anaknya.lagian kamu kan ngurusin hyunjin."


"Bener alasan kamu itu?"


"Benerlah. Mau alasan apalagi coba?"


"Kenapa mas nggak ngomong ke aku soal hansol mau ngambil issya?"


"Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti.."


"Mas taeil bikin janji kan sama dia. Kalau mas hansol bakalan ambil issya pas dia umur enam tahun. Dan mas setuju. Iya kan??"


Taeil kaget sama omongannya nadila. Bisa dipastikan pasti hansol yang ngomong semuanya.


"Jawab mas! Jangan diem aja! Kamu pikir aku nggak tahu gitu?!" nadila emosi.


"Sayang. Aku bisa jelasin semuanya.."


"Apa yang perlu dijelasin? Aku cuma butuh jawaban kamu!"


"Dila-"


"Mas juga ngomong kan ke hansol. Kalau suatu saat mas nikah lagi dan punya anak. Mas bakalan ngasih issya ke ayah kandungnya."


"Nadila dengerin mas dulu."


"Mas tuh kenapa sih nggak ngomong sama aku dari awal? Kenapa mas sembunyiin semuanya dari aku?! Mas nggak nganggep aku sebagai istri mas iya?!"


"Nggak sayang. Nggak gitu.. Aku mau jelasin ke kamu. Tapi nunggu waktu yang tepat."


"Dan sekarang. Tanpa mas ngasih tahu.. Aku udah tahu semuanya!"


Dah ini bakalan berantem.


"Kenapa lagi itu orang berdua? Berantem mulu kerjaannya. Orang ada bayi juga." yuta aja sampe keganggu.


Abisnya suaranya nadila kedengeran dari luar.


"Mas kok tega sih? Mas taeil udah nggak sayang issya iya?"


"Mana mungkin aku ngga sayang? Aku sayang banget sama issya,"


"Buktinya sekarang kamu mau nyerahin gitu aja issya ke orang lain!"


"Dila! Hansol itu bukan orang lain! Dia ayah kandungnya. Dia lebih berhak atas issya"


"Ohh jadi mas bener bener mau nyerahin issya gitu aja iya? Selama enam tahun kamu ngerawat dia sendirian. Dan kamu mau ngasih issya gitu aja? Ayah macem apa sih kamu mas?!"


"Udah cukup! Aku pusing dil. Kerjaan aku banyak. Ditambah lagi sama masalah issya. Dan kamu jangan bikin aku tambah pusing. Ngerti?"


"INI MASALAH PENTING MAS! DAN KAMU MALAH PENTINGIN KERJAAN KAMU DARIPADA ANAK KAMU SENDIRI?!"


"ISSYA BUKAN ANAK KECIL LAGI DILA! JADI UDAH SEPANTESNYA DIA IKUT SAMA AYAH KANDUNGNYA!! NGERTI NGGAK SIH KAMU?"


"KAMU TEGA BANGET SIH MAS! DIA ANAK KAMU!"


"ISSYA BUKAN ANAK AKU! DAN KAMU NGGAK USAH IKUT CAMPUR SAMA MASALAH INI!!"


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat di pipi nya taeil.


Nggak nyangka aja nadila. Bisa bisanya taeil ngomong gitu.


"Jahat banget kamu mas sama issya"


"Nadila aku-"


"Kalau mas nggak mau ngurusin issya lagi. Biar aku yang ngurus."


"Dan kamu ceraiin aku sekarang!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2