Papa Muda

Papa Muda
28


__ADS_3

Minhyun sama nadila masih ada di depan pintu.


"Aku kesini mau jemput kamu." - minhyun


"Jemput? Emang kak minhyun gak kerja?"


Minhyun senyum


" aku lagi libur kerja nadila. Makanya aku kesini."


"...."


"Kamu mau kemana? Aku anterin ya."


"Nggak usah kak makasih, aku buru buru." nadila langsung jalan keluar.


"Nadila tunggu"  minhyun ngejar nadila


"Nadila.. Tungguin aku dong" minhyun pegang tangannya dila.


"Kak. Mendingan kakak sekarang pergi aja deh dari sini. Aku nggak mau kak dani tahu kalau kamu kesini."  - nadila


"Gapapa. Aku rela kok dibikin kak dani bonyok setiap hari asal bisa ketemu kamu." - minhyun


"Kak minhyun. Aku minta tolong.. Jangan temuin aku lagi,  aku nggak mau suami aku salah paham gara gara kak minhyun sering temuin aku." - nadila


" kenapa emang? Dia aja bisa selingkuh sama kamu, masa kita cuma ketemuan aja dia marah?"


"Kak minhyun cukup!" 


"Kenapa sih dila? Emang bener kan kenyataannya? Toh kemarin kamu juga lihat sendiri.." 


"Mau suami aku selingkuh atau nggak, itu biar jadi urusan aku sama dia. Kak minhyun nggak perlu ikut campur urusan rumah tangga aku."


"Tapi kan dil-"


"Maaf ya kak. Aku buru buru. Permisi." nadila langsung pergi ninggalin minhyun.


"Ternyata emang susah dapetin nadila lagi." minhyun frustasi.


......


Sementara itu nadila lagi ada di halte. Dia nungguin taksi.


Rencananya dia mau cari kerjaan hari ini. Ya itung itung ngisi kekosongan waktu.


Semalem jisoo ngechat nadila, kalau issya sementara dititipin dulu ke mama seohyun, sampai masalah taeil sama nadila bener bener selesai.


Ya nggak mungkin juga kan issya denger nadila sama taeil berantem.


"Duhh. Ini mana sih taksinya? Nolak rejeki cewek cantik nih." - gerutu nadila.


Tin!


Dan tiba tiba aja ada yang bunyiin klakson di depannya nadila.


"Jaehyun?"


Jaehyun turun dari mobil.


"Ngapain lo disini?" tanya jaehyun.


"Gue mau cari kerja jae.." - jaehyun


"Hah? Seorang nadila zena? Cari kerjaan??? Hebat benerr.." - jaehyun


"Jaehyun ih! Ini gue serius.." 


"Hehe.. Emang lo mau cari kerja dimana?" - tanya jaehyun.


"Ya kemana gitu. Pokoknya kerja... Gue kan juga bosen dirumah terus."


"Lah kan ada suami yang kerja. Mana CEO lagi jabatannya. Nggak usah capek capek kerja."


"Ya tapi gue nggak mau ngerepotin dia terus jae. Dan niat gue kuliah kan buat cari pengalaman kerja. Bukan buat ngabisin duit suami." - nadila


"Widihh.. Makin dewasa aja nih, mantan gebetan gue.." jaehyun mengacak rambutnya nadila.


"Apaan sih jaehyun, tuh kan jadi berantakan.." - nadila


"Yaudah gue anterin aja gimana??"


"Anterin gue cari kerja gitu? Yakin?"


"Yakin lah. Kebetulan cafe punya gue yang ada deket kampus lagi butuh kasir."


"Hah? Serius?"


"Serius lah, jungwoo juga disana loh.."


"Yaudah gue mau deh kerja di tempat lo" nadila jadi antusias.


Seneng dia bisa dapet kerjaan.


"Yaudah kuy, gue anterin."  Dan nadila masuk ke mobilnya jaehyun.


Dia nggak tahu aja kalau minhyun ada di belakang mereka.


"Itu bukannya jaehyun ya? Temen kampusnya nadila? Kok mereka ketemuan?" - minhyun.


Sedetik kemudian minhyun tersenyum miring.


"Kayaknya gue bisa manfaatin situasi kayak gini."


Skip ><


Dan sekarang nadila mulai kerja di cafe punya jaehyun. Jadi kasir. Sedangkan jungwoo jadi pembuat kopi.


"Gue kira setelah nikah lo bakalan dikurung sama suami lo. Tau nya masih bisa keluyuran" - jungwoo


"Gue kerja lah ini, bukan kluyuran." - nadila


"Sama aja. Suami lo kan orang terpandang banget di kota ini. Masa iya nanti ada berita kalau istri dari CEO muda bernama taeil hutomo bekerja sebagai kasir.." - jungwoo


"Ya biarin aja. Kasir kan pekerjaan halal, daripada jadi ******." - nadila bener kalau ngomong


"Suka suka lo aja deh."

__ADS_1


"Permisi."


Lagi enak enaknya kerja, ada yang nyamperin nadila.


Pas nadila lihat.


Seulgi.


"Kamu?"


Seulgi tersenyum.


"Hai mbak. Kebetulan ya kita ketemu disini."


"Siapa tuh dil? Bening banget kayak gelas." jungwoo bisik bisik.


Tapi nadila nggak jawab. Cuma diem aja sambil lihatin seulgi.


'Emang bener, mantannya mas taeil tuh cantik banget. Kalau di bandingin sama gue mah ibarat bunga. Dia bunga mawar sedangkan gue bunga bangkai.' batin nadila


"Mbak??"


Nadila langsung tersadar.


"I-ya.. Kamu mau pesen apa?" tanya nadila.


"Aku tadi udah pesen kok sama temennya mbak.."


" terus? Mbak ngapain kesini?"


"Aku... Mau bicara sama mbak berdua. Bisa kan?"


.....


Sekarang nadila sama seulgi lagi duduk berhadapan.


Mereka masih dalam keadaan hening.


"Mbak nggak pesen minum dulu?" tawar seulgi.


"Nggak makasih. Kalau mau ngomong langsung aja, saya lagi kerja soalnya." - nadila


Lagi lagi seulgi senyum.


"Oh iya. Kita kan belum tahu nama masing masing, kenalin nama aku seulgi."


"Nadila."


"Ohh jadi aku panggil mbak dila aja deh." 


"Mbak seulgi mau ngomong apa ya sama saya?" - asli nadila nggak betah sama situasinya.


"Santai dong mbak. Ya saya cuma mau ngucapin selamat aja buat mbak."


"Selamat? Buat apa?"


"Ya selamat... Karena mbak nadila udah bisa buat mas taeil ngelupain aku sepenuhnya." - seulgi.


Nadila mengangkat alisnya.. Menandakan dia bingung.


"Kemarin lusa, aku ke rumahnya mbak dila sama mas taeil, tapi katanya mas taeil. Mbak dila udah tidur."


"Emang mas taeil nggak ngasih tahu mbak?"


Nadila cuma geleng geleng.


"Yaudah gapapa sih. Mungkin maksudnya mas taeil itu biar mbak nadila nggak salah paham sama saya."  - seulgi


"Mbak?"


"Kenapa?"


"Maksudnya mbak seulgi peluk suami aku pas di kantor apa ya?" nadila nggak basa basi. Nggak seneng dia.


"Ohh waktu itu aku refleks kok mbak. Mungkin saking kangennya aja aku sama dia, soalnya dulu kebiasan gitu sih." seulgi cerita gitu sambil senyum.


'Maksudnya ini orang apa sih?? Sengaja bikin gue panas gitu?'


"Mbak seulgi masih cinta sama suami saya?" 


"Ya gimana ya mbak? Aku nggak enak kalau mesti curhat ke mbak. Kan mbak nadila istrinya mas taeil."


"Kalau mau cerita cerita aja kali. Saya tahu kok tujuan mbak seulgi kesini emang sengaja mau ceritain masa lalu kalian kan?"


Seulgi senyum tipis.  Mungkin dia heran. Kenapa nadila bisa tahu yang ada di kepalanya.


"Ya maaf sebelumnya. Saya nggak bermaksud gitu kok mbak. Tapi kalau mbak nadila tanya gitu, ya jawaban saya iya.saya masih sayang dan cinta sama suami mbak."


DEG!


Ada rasa sakit di hatinya nadila. Entah kenapa dia nggak pengen dengerin ini semua. Tapi hatinya berkata lain.


"Dulu itu,  mas taeil sama aku pacaran lama sih. Sekitar 5 tahunan.. Dia ngomong kalau aku cinta pertamanya."


"Iya udah tau!"


"Sebenernya ini salah aku sih. Terlalu percaya sama opini orang lain. Makanya aku mutusin buat ninggalin dia." -


Nadila masih mendengarkan cerita seulgi.


"Pasti mas taeil cerita kan kalau dia pernah punya istri, dan dia meninggal pas melahirkan anaknya."


Nadila mengangguk.


"Dan sebenernya itu bukan anaknya mas taeil mbak."


"Hah?!"


Nadila jadi tambah kaget.  Berarti issya bukan anaknya taeil.


"Haein itu sahabat aku dari kecil. Dia juga satu kampus sama aku. Dia juga suka sama mas taeil."


"Terus? Kok bisa mbak haein yang nikah sama mas taeil? Kenapa bukan mbak seulgi?" - nadila


Seulgi tersenyum miris.


"Itu karena haein udah berhasil ngasih jebakan ke mas taeil."

__ADS_1


"Jebakan? Maksudnya?"


"Iya jebakan, jadi haein itu berhasil bikin mas taeil jatuh cinta sama dia. Dan berpaling dari aku.."


"Terus? Kok mbak seulgi bilang kalau issya bukan anak kandung mas taeil?"


"Kalau yang aku denger sih. Haein pernah berhubungan badan sama laki laki lain sebelum pacaran sama mas taeil. Dan kehamilannya itu dimanfaatin sama dia. Jadi seolah olah itu perbuatan mas taeil. Biar mereka bisa menikah."


'Mas taeil sembunyiin semuanya dari aku?'


"Ya karena waktu itu mas taeil terlanjur cinta sama dia. Akhirnya dia bersedia tanggung jawab."


"Terus? Kenapa mbak seulgi memutuskan buat pergi?" tanya nadila.


"Karena hati aku hancur mbak. Aku nggak bisa lihat orang yang aku cinta menikah sama perempuan lain. Apalagi sama sahabat aku sendiri."


"......"


"Jadi aku mutusin buat pergi dari indonesia. Dan menetap dia luar negeri."


"Dan alasan saya kembali lagi kesini itu. Karena saya pengen hubungan saya sama mas taeil membaik. Tapi kayaknya aku udah telat."


"Mbak seulgi.."


"Mbak dila.." seulgi mengenggam tangannya nadila.


"Saya emang masih cinta sama mas taeil, tapi saya nggak ada niatan sama sekali buat menghancurkan rumah tangga kalian."


"......."


"Tujuan saya kesini tuh emang nyari mas taeil, tapi pas saya tahu dia udah punya istri lagi.  Saya udah bertekad buat lupain dia."


"Aku bukan orang jahat kok mbak. Mbak nadila harus percaya sama aku." seulgi senyum.


"Maaf ya mbak. Aku udah mikir yang nggak nggak ke mbak seulgi." nadila minta maaf.


"Gapapa. Namanya juga seorang istri. Aku maklumin kok."


"Oh iya, besok aku harus balik ke kanada. Dan kayaknya aku nggak ada niatan buat balik kesini lagi. Jadi maaf ya kalau selama disini, aku bikin hubungan mbak nadila sama mas taeil jadi gak baik."


"Gapapa kok mbak. Maafin sikap aku juga ya."


Seulgi sama nadila sama sama senyum.


Seenggaknya nadila jadi lega. Kalau seulgi nggak ada niatan buat jadi pelakor.


Skip ><


sementara itu, taeil lagi ada di mobil.


Frustasi berat dia.


Udah kerjaan dia banyak, ditambah minhyun tadi dateng ke ruangnya.


Flashback


"Ada perlu apa kamu ke ruangan saya?" taeil nggak basa basi


"Santai pak, saya kesini itu justru mau ngasih tahu bapak sesuatu."


"Sesuatu apa?"


"Tadi.. Saya ketemu nadila di halte bus. Dan dia janjian sama  cowok."


"Minhyun. Saya tahu kamu masih cinta sama istri saya. Jadi jangan coba coba buat rumah tangga saya bermasalah."


"Loh pak? Saya beneran loh ini. Nama cowoknya itu jaehyun, dulu temen sekampusnya nadila. Dan yang saya dengar. Dia itu suka sama nadila."


Taeil mengepalkan tangannya. Udah bener bener emosi dia.


"Kamu ketemu dimana?"


"Di halte bus pak. Dan saya lihat mereka berdua masuk di salah satu cafe dekat kampusnya nadila."


"Yaudah, kamu boleh pergi dari sini." taeil nyuruh minhyun pergi.


"Oke. Saya bakalan pergi. Tapi pak.... Kalau menurut saya.. Nadila mungkin niatnya cuma pengen buat bapak—"


"Silahkan pergi minhyun. Kamu nggak mau kan lihat saya emosi gara gara kamu?"


"Iya iya. Kalau gitu saya permisi dulu." minhyun langsung pergi.


BRAK!


Taeil udah bener bener nggak tahan sama semuanya.


Flashback off


Skip ><


Sementara itu. Nadila baru aja keluar dari cafe. Dia mau pulang. Soalnya udah malem juga.


"Duhh asli capek banget gue." nadila meregangkan pinggangnya.


"Udah selesai kerja nya?" jaehyun tiba tiba aja nongol.


"Udah.. Gila rame banget cafe lo. Sampe pusing gue."


"Haha. Ntar juga terbiasa kok. Yaudah gue anterin pulang kuy."


"Boleh deh. Udah malem juga, pasti nggak ada taksi lewat."


Dan belum sempet nadila sama jaehyun masuk ke mobil. Hp nya dah bunyi


Atuy is calling....


"Yuta?" nggak biasanya yuta telfon


"Siapa dil?"


"Yuta jae. Bentar ya gu mau angkat telfon dulu."  nadila buru buru angkat telfon.


"Halo? Kenapa yut?"


"Eh dila! Lo harus cepet pulang kerumah abang gue sekarang!!!"


"Kenapa sih emang? Ada apa?"

__ADS_1


"SUAMI LO NGAMUK INI DI RUMAH!!!"


TBC


__ADS_2