Papa Muda

Papa Muda
38


__ADS_3

Nadila lagi di kamar,


Taeil yang nyuruh nadila masuk ke kamar, buat jagain hyunjin sama issya. Padahal nadila pengen temuin ayahnya issya juga


Tapi kenapa taeil malah ngelarang?


"Bunda.... Ayah ketemu sama siapa sih?" tanya issya.


"Ayah lagi ketemu sama temennya sayang... Issya disini aja ya, sama adek hyunjin."


Issya mengangguk.


'Mas taeil sama ayahnya issya ngomongin apa sih? Aku kan juga pengen tahu.'


Tak lama kemudian, taeil masuk ke kamar.


"Mas..."


" issya main sama om yuta dulu ya diluar " taeil nyuruh issya buat keluar. Soalnya ada yuta.


"Tapi kan issya mau main sama adek yah."


"Iyaa, tapi nanti ya. Dek hyunjin kan masih tidur. Sekarang issya main dulu sama om yuta." - taeil


"Iya, yah" dan akhirnya issya keluar kamar buat nyusulin yuta..


Soalnya taeil mau ngomong sesuatu.


"Mas? Tadi ayahnya issya ngomong apa sama kamu?" - nadila


"Dia tanya kabarnya issya."


"Terus? Mas jawab apa?" - nadila


"Ya aku jawabnya issya baik baik aja lah. Kan emang dia sehat disini." - taeil.


"Aku kira dia mau ngambil issya sekarang.."


"Dila.."


"Kenapa mas?"


"Dia emang mau ngambil issya secepatnya."


"Hah?! Terus mas ngebolehin gitu?"


"Aku nggak tahu dil.. Masih bingung."


Jawabannya taeil jelas aja bikin nadila kaget.


"Mas kok malah ngomong gitu? Harusnya mas gak ngebolehin mas hansol ngambil issya gitu aja."


"Aku emang nggak ngebolehin dila, tapi aku juga nggak bisa ngelarang hansol buat ketemu issya."


"Ya kalau cuma ketemu aja sih gapapa. Tapi kalau buat ngambil issya, aku nggak bakalan ngasih izin."


Nadila kayaknya takut banget kehilangan issya.


"Iya iya, nanti kita pikirin jalan keluarnya. Sekarang kamu fokus dulu sama hyunjin." taeil menenangkan nadila.


Sejujurnya, taeil nggak rela kalau issya diambil gitu aja hansol. Dari lahir taeil yang berjuang ngerawat issya sendiri. Tapi pas udah gede nya. Hansol seenaknya sendiri mau ngambil issya.


Taeil jamin, itu nggak bakalan terjadi.


Baru juga bahagia, sekarang udah ada masalah baru.


.....


Hyunjin lagi ada di box bayi, nadila di sebelahnya. Ya mumpung hyunjin lagi diem dan nggak rewel, makanya ditaruh di tempat tidurnya.


Soalnya dari kemarin hyunjin rewel terus dan nggak mau lepas dari nadila..


Dan daritadi nadila kepikiran masalah issya. Dia takut kalau ayah kandungnya issya beneran nekat ngambil issya dari taeil.


Nadila bener bener takut. Pusing dia.


"Hyunjin tidur ya?"


Tiba tiba aja taeil udah ada di kamar.


"Iya mas.. Mungkin dia capek. Kan semaleman rewel."


"Hyunjin apa kamu nih yang capek..." taeil godain nadila.


Nadila langung peluk taeil.


"Mas?"


"Kenapa?"


"Aku takut."

__ADS_1


"Takut kenapa??"


"Aku takut kalau issya bener bener ninggalin kita." - nadila


"Kamu tuh ya. Masih mikirin itu.. Aku kan udah bilang. Kamu fokus aja sama hyunjin. Biar issya aku yang ngurus."


"Ya tapi kan aku tetep kepikiran mas... Aku nggak rela kalau issya diambil gitu aja.."


"Nggak ada yang ngambil issya.. Issya bakalan tetep disini sama kita." - taeil


"Tapi mas hansol gimana?"


"Soal itu biar aku yang urus.. Kamu mah fokus sama anak anak aja.." taeil mengelus kepalanya nadila.


Nadila mengeratkan pelukannya ke taeil..


Dia sedikit lega kalau udah ditenangin sama taeil gini..


Skip ><


Hari hari telah berlalu.. Nggak terasa aja hyunjin usianya udah 3 bulan.


Cepet emang tumbuhnya itu anak.


Dan sekarang nadila lagi ada di dapur.  Sama mama yuri..


Issya belum pulang sekolah, hyunjin lagi tidur di kamar. Soalnya lagi demam.


"Hyunjin masih demam?" tanya mama yuri


"Udah lumayan turun sih ma panasnya, cuma ya masih rewel.." - nadila.


"Gapapa dil, itu hal biasa sama bayi seusia hyunjin yang habis imunisasi. Jadi wajar."


Nadila mengangguk.


"Dila?"


"Kenapa ma?"


"Kamu nggak ada niatan bulan madu gitu sama taeil?" tanya mama yuri.


"Mama nih, anak aku udah dua. Masa suruh bulan madu??" - nadila


"Ya gapapa dila.. Bulan madu itu kan sekalian kalian liburan. Kan kalian belum pernah liburan berdua sama sekali semenjak menikah" - mama yuri.


"Iya sih ma.. Cuma aku males aja ma perjalanan jauh gitu. Lagian kan hyunjin masih kecil banget. Belum bisa ditinggal."


"Lagian abis ini kan issya mau masuk sd, pasti kebutuhannya banyak ma."


"Iya deh, terserah.... Oh iya yang jemput issya siapa?"  


"Astaga, untung mama ingetin. Hari ini tuh aku yang jemput ma.."


"Yaudah sana jemput. Nanti keburu telat"


"Iya.. Titip hyunjin ya ma, sebentar lagi kak jisoo mau kesini sih. Kalau mama repot minta bantuan sama dia aja."


Nadila buru buru ambil tas, dia juga lihat hyunjin sebentar. Abis itu pergi. 


......


Nadila udah sampai ke sekolahnya issya.


Dia telat sepuluh menit.


"Issya kemana ya? Kok belum lihat dia?" nadila masuk ke halaman sekolah,


"Cariin issya ya?"


Nadila menoleh ke sumber suara..


Ternyata minhyun.


Minhyun lagi minhyun lagi. 


"Ngapain sih kamu itu kesini terus?" - nadila


"Yaa kenapa emang? Apa itu salah?"


" iya, salah. Kak minhyun tuh selalu muncul dihadapan aku!"


"Ya itu namanya kita berjodoh nadila zena.." - minhyun tersenyum.


"Kak.. Aku mohon, jangan ganggu aku dan keluarga aku lagi. Aku udah bahagia sama mereka." - nadila


"Bahagia? Iya kamu yang bahagia, tapi aku nggak suka lihat kamu bahagia sama orang lain." minhyun mendekati nadila.. Otomatis nadila mundur.


"Kak minhyun ngapain sih deket deket gini? Minggir sana! Aku mau cari anak aku."


"Dia bukan anak kamu! Dia itu anaknya taeil sama mantan istrinya dulu."

__ADS_1


"Tapi sekarang dia anak aku!"


Minhyun mencengkeram kedua tangan nadila.


"Kenapa sih? Kamu sekarang jadi kayak gini??"


"Kak minhyun lepasin?"


"Lepasin? Kamu udah bikin aku gila kayak gini... Terus nyuruh aku lepasin? Jangan berharap!"


" kak minhyun kenapa sih jadi kayak gini..." nadila mau nangis aja rasanya.


"YA AKU KAYAK GINI KARENA KAMU NADILA!! SADAR NGGAK SIH!"


"Bunda.."


Itu suara issya.


" inget ya dil. Jangan harap aku bisa lepasin kamu gitu aja!" minhyun melepas cengkeramannya. Abis itu pergi ninggalin nadila.


Issya lari ke arahnya nadila.


"Bunda? Tadi om minhyun ya?" tanya issya.


"I-iya.."


"Bunda kon nangis? Bunda dijahatin sama om minhyun yaa??" issya lihat kalau nadila nangis.


"Bunda nggak nangis kok sayang.. Yaudah yuk pulang." nadila mengalihkan pembicaraan.


"Bunda tangannya merah, pasti sakit ya di pegang sama om minhyun tadi?"


Nadila cuma senyum tipis aja.


Dia nggak mau cerita banyak ke issya, dia kan masih kecil. Belum berhak tahu.


Skip ><


Sekarang nadila lagi ada di kamar, asli tangannya minhyun gede banget. Pergelangan tangan nadila kan jadi sakit. Mana ada bekasnya gitu. 


"Nggak nyangka sama kak minhyun. Kenapa sih dia jadi gini?!" nadila lagi ngobatin tangannya.


"Yang? Kamu ngapain?" tanya taeil yang lagi gendong hyunjin di luar


"Nggak ngapa ngapain mas." nadila nyamperin taeil sama hyunjin yang udah ditaruh di tempat bayi.


Taeil nggak sengaja lihat tangannya nadila yang merah.


"Tangan kamu kenapa?" tanya taeil.


"Ha? Oh ini.. Gapapa kok mas, tadi nggak sengaja kena cakarannya hyunjin. Jadi merah gini." nadila beralibi.


"Yakin gapapa?"


"Iya mas aku gapapa... Lagian nggak perih kok." - nadila.


"Yaudah, aku ke kamarnya issya dulu. Kamu sama hyunjin ya."


Nadila mangangguk.


Taeil keluar kamar. Nadila menghela nafas.


"Untung aja mas taeil nggak curiga."


......


Taeil lagi ada di kamarnya issya. Ya habis temenin belajar. Issya nya minta di temenin tidur. 


"Ayah?"


"Kenapa sayang?"


"Tadi om minhyun dateng ke sekolah issya."


"Om minhyun? Ngapain dia kesana?" tanya taeil


"Om minhyun tadi sama bunda. Gatau ngomong apa."


'Minhyun sama nadila ketemu?'


"Terus juga. Tadi tangannya bunda merah gara gara dipegang sama om minhyun."


"Om minhyun pegang tangannya bunda?" - taeil


"Iya yah, terus bunda tadi nangis."


Taeil makin nggak habis pikir sama minhyun, makin nekat aja itu orang.


Kalau caranya kayak gini terus,  taeil nggak bakalan tinggal diem gitu aja.


TBC

__ADS_1


__ADS_2