
Hari ini taeil libur. Iya libur kerja.
Tapi entah kenapa taeil kayak lagi bingung dan gelisah.
Semenjak dia terima telfon dari minhyun tadi pagi.
"Mas?"
"Ya?"
"Kamu kenapa sih? Kayak gelisah gitu?" tanya nadila
"Ha? Ng-nggak kok gapapa. "
"Bohong banget... Kenapa mas? Ada apa?"
"Gapapa sayang. Serius." - taeil.
Drrrttt
Hpnya taeil bunyi.
"Aku Angkat telfon dari minhyun dulu ya." taeil keluar kamar buat angkat telfon.
"Mas taeil kenapa sih? Apa jangan jangan ada masalah sama kerjaannya?" - nadila jadi ikutan khawatir.
.....
Nadila habis bersih bersih rumah. Hyunjin sama woojin lagi ada di kamar sama yuta.
Dia lihat taeil duduk di sofa senderan, dan wajahnya ditutupin sama tangan.
Kelihatan lagi stres banget.
Sementara itu yuta lagi main main sama dua keponakannya.
"Om uta, lihat deh. Gambalnya unjin bagus kan??" hyunjin menunjukkan gambarannya.
"Wahh pinter banget hyunjin. Sama kayak om."
Sementara woojin ada di pangkuan yuta gatau lagi ngapain. Gigitin pensil kayaknya.
"Eh jangan digigit woojin. Kamu belum punya gigi... nanti pensilnya ketelen.. om yuta yang habis sama bunda kamu." - yuta ngambil pensil dari tangan woojin, diganti sama mainan yang lebih empuk.
Dan tak lama nadila masuk ke kamar.
"Yuta?"
"Napa?"
"Gue mau tanya.."
"Tanya apa?"
"Mas taeil kenapa daritadi gelisah gitu?" - nadila
"Ya mana gue tau. Kan gue daritadi disini." - yuta.
"Gue belum selesai ngomong ya!"
Yuta cengengesan.
"Tadi pagi itu... Dia terima telfon dari kak minhyun. Dan setelah itu dia jadi aneh."
"Aneh gimana?"
"Dia kayak lagi gelisah gitu. Kayak bingung sama sesuatu."
"Bentar....Tadi lo bilang dia jadi aneh setelah dapet telfon dari minhyun?"
Nadila mengangguk.
"Fiks... Masalah beneran ini." - yuta.
"Hah? Masalah apa?"
"Perusahaan."
"Maksudnya gimana sih?" nadila masih ngga ngerti.
"Ah kalau gue jelasin lo pasti juga gabakalan paham." - yuta.
"Ayolah yut... Jangan bikin gue penasaran."
"Intinya perusahaan dilanda rugi besar."
"Rugi besar???"
Yuta mengangguk.
"Ya istilahnya gagal investasi gitu. Karena ternyata yang mengajukan investasi tukang tipu. Anjing banget emang." - yuta.
"Berarti... Perusahannya suami gue bangkrut gitu?" tanya nadila.
"Kalau bangkrut sih ngg. Tapi emang ruginya banyak banget. Sebelumnya bang taeil pernah sih kayak gini. Tapi akhirnya dia bisa mengatasi." - yuta.
__ADS_1
Nadila diem.
Dia mikir. Bukan.... bukan mikir kalau taeil bakalan bangkrut ngga. Tapi mikir kesehatannya taeil. Pasti dia stres banget soal ini.
"Udah lo tenang aja. Kepinterannya bang taeil tuh diatas rata rata. Lo yakin aja dia pasti bisa atasin ini semuanyaa. Yang penting lo selalu semangatin dia."
Iya. Yuta bener, pasti taeil lagi butuh nadila saat ini.
Taeil masih dalam posisi yang sama. Pusing berkepanjangan dia.
Sesekali dia menghela nafas.
Dan tiba tiba aja sepasang tangan berada di bahu nya taeil.
Taeilnya menoleh ke belakang.
Ternyata nadila.
"Hai." nadila senyum.
Taeilnya ngebales.
Nadila mijat bahunya taeil.
"Lagi pusing ya?"
Taeil mengelus punggung tangannya nadila.
Sekarang nadila duduk di sampingnya taeil.
"Lagi ada masalah?"
"Cuma masalah kecil di kantor." - taeil mengelus kepalanya nadila
Nadila ngasih pelukan ke taeil.
"Mas.. Kalau ada apa apa tuh cerita. Jangan dipendem sendiri kayak gini. Nanti kalau kamu stres berat jantung kamu bisa jadi masalah."
"Sayang?"
"Hm?"
"Kalau aku turun jabatan nantinya..... Kamu—"
"Mas? Aku percaya kamu pasti bisa nyelesaiin masalah ini."
"......"
"Apapun yang terjadi sama kamu. Aku sama anak anak bakalan selalu ada buat kamu. Bakalan disamping kamu terus. Nggak akan pergi kok." nadila mengeratkan pelukan.
Nadila mengangkat kepalanya.
CUP!
dia cium pipinya taeil.
"Ngga perlu janji. Itu kan udah kewajiban aku."
Taeil senyum.
"Berarti... Bikin adek buat woojin kewajiban juga kan?"
"Ihh kamu tuh ya! Dalam keadaan kayak gini masih aja mikirin gituan."
Heran nadila tuh.
Taeil cuma cengengesan doang.
Skip ><
Nadila lagi beres beres baju. Setrikaan numpuk soalnya.
"Eh dil. Sekalian baju gue dong. Nih" baru juga nadila nyabut setrikaan. Si yuta dateng.
"Apaan? Setrika sendiri sana. Gausah manja deh." - nadila.
"Yaelah kan mumpung elo juga lagi setrika. Nitip gue"
"Ogah! Waktunya anak anak gue tidur siang. Jadi gue mau tidurin mereka."
"Yaelah orang cuma satu keranjang juga."
"SATU KERANJANG TUH YA
BANYAK ******!"
Udah lama nadila ngga misuh misuh gini.
"Yaelah dil. Ini kan baju ganti gue yang ada disini, masa gue suruh setrika aja ogah."
"Ya masalahnya gue capek yut, lo ga lihat apa tuh setrikaan gue masih banyak?"
"Yailah ga kasihan Apa sama gue? Istri belum punya. Apa apa sendiri, hidup gue miris beb" curhat si yuta
"Ya tau gitu Buruan urusin itu hubungan lo sama bu wendy! Jangan digantungin terus. Orang itu.. bukan jemuran!" - nadila ngomel mode on.
__ADS_1
"Ah gue kangen bacotan lo yang kayak gini dil" - yuta
"Ya bikin emosi gue aja terus. Ntar juga lo bakalan denger bacotan gue setiap hari." - nadila.
"Iya sekalian di depan anak sama laki lo cakep tuh"
"YUTA ANJ—"
PYARRR
Nadila sama yuta kaget. Suara itu dari dalam kamarnya nadila sama taeil.
"Dil. Dari kamar lo tuh suaranya. Jangan jangan bang taeil frustasi terus bunuh diri lagi??"
"Jaga tuh bacotannya." nadila buru buru masuk ke kamar.
Nadila buka pintu kamar.
"Mas kena— YA ALLAH MAS TAEIL!!" nadila buru buru lari ke arahnya taeil.
Soalnya dia lihat tangannya taeil berdarah, dan itu banyak.
"Mas! Kamu kenapa sih??!" nadila panik lihat taeil kayak gini.
"Bang.....Lo kalo stres gausah gini juga. Kurangin dong sifat childish lo ini." - yuta
Taeil diem aja.
"Anak lo jadinya empat ya dil. Bukan tiga." setelah ngomong gitu yuta langsung keluar kamar.
Kata yuta, ini sifat jelek taeil. Masih kekanak kanakan. Padahal usia juga ngga muda lagi.
Nadila buru buru ambil obat obatan mulai dari alkohol, tisu basah sama perban.
"Sini tangannya. aku obatin." nadila meraih tangannya taeil sebelah kanan buat di obatin.
"Pasti perih kan? Kenapa sih mas kayak gini? Semua masalah itu pasti ada jalan keluarnya..." nadila ngomong sambil ngebersihin lukanya taeil.
"Tuh kan jadi kemana mana darahnya. Abis ini mandi sana. Biar bersih" tangannya taeil di perban sama nadila.
"Mana lagi yang berdarah hm? Sini lihat mukanya." nadila mendekatkan wajahnya. Abis itu ngecek ada luka lagi apa nggak.
"Kalau kamu ngerasain sakit lagi. Ngomong ya, nanti kita ke dok—"
Tangannya nadila dicengkeram taeil.
Dan dia..... Takut.
"M-mas ka-kamu kena—"
Taeil langsung meraup bibirnya nadila kasar.
"Hmmph— mas taeil—" taeil tidak mengindahkan teriakan nadila.
Bukan apa apa.
Laki laki yang lagi emosi kayak taeil gini, sukanya berbuat kasar sekalipun itu sama istri sendiri.
Ya contohnya sekarang. Taeil mencium biburnya nadila kasar. Bahkan bibirnya bengkak.
Kalau ngga dihentikan bisa kacau. Bengkak dimana mana nanti.
"Mas udah—hmmphh"
Masih aja taeil. Malah dia menarik tengkuknya nadila ke dalam.
Yuta yang tadinya keluar terus balik lagi niatnya mau pamit pulang gajadi. Ya soalnya lihat tontonan gratis.
Tapi dia kasihan juga sama nadila. Bibirnya udah berdarah dan bengkak gitu.
"WOY! UDAH GAUSAH NYARI KESEMPATAN LU YA!" yuta dorong taeil sekuat tenaga biar lepas.
"APASIH *****? DILA ITU ISTRI GUE! SUKA SUKA GUE MAU NGAPAIN DIA!"
"IYA GUE TAU NADILA ISTRI LO. TAPI GUE SEBAGAI KAUM JOMBLO DAN SAHABAT SEJATI DARI NADILA DISINI MERASA KASIHAN LIHAT BINI LO BIBIRNYA UDAH DOWER GITU!"
Taeil lihat nadila, bibirnya emang udah bengkak. Terus keluar darahnya.
"Udh gw gpp."
"KAN! NGOMONGNYA JADI NGGA JELAS GITU! GARA GARA ELO NIH TOMO!"
"ARGHHH!!"
"Mas kamu mau kemana?"
"Mandi. PANAS!"
BLAM!
dan taeil membanting pintu kamar mandi.
Ternyata... Taeil bisa seseram itu. Nadila jadi tambah takut.
TBC
__ADS_1