
Hari ini taeil ngeyel mau berangkat ke kantor.
Padahal kemarin sore baru aja dateng dari bandung..
"Mas yakin mau berangkat kerja? Nggak capek apa?" - nadila masih khawatir.
"Hari ini tuh ada rapat, dan nggak bisa diwakilin sama siapa siapa. Jadi mas terpaksa harus masuk ke kantor." - taeil
"Ada ada aja deh.. Nggak tahu apa kalau capek dari luar kota." nadila ngomel sambil benerin dasinya taeil.
" harusnya tuh bisa ngerti dong. Baru juga dateng dari luar kota. Pastinya capek. Nggak pernah capek apa ya mereka." - nadila masih ngomel.
Taeil cuma lihatin nadila aja,
"Mas kenapa senyum senyum gitu? Nggak ada yang lucu juga." - nadila
"Lucu aja lihat kamu ngomel gini.. Jadi makin cinta."
"Mas taeil nih, bercanda aja bisanya.. Aku takut kamu sakit mass.."
"Nadila?"
Taeil menangkup kedua pipinya nadila.
"Apapun yang terjadi... Kamu harus janji nggak akan tinggalin aku."
"Iya lah. Aku kan istri kamu. Dan nggak bakalan tinggalin mas taeil."
Taeil senyum. Dia mencium keningnya nadila.
"Aku berangkat dulu ya... Jangan lupa nanti siang ke kantor."
"Iya mas.. Hati hati. Jangan ngebut, santai aja." - nadila
Taeil senyum. Dia balik badan.
Tapi lagi lagi dia ngerasain sakit dibagian dadanya.
"Mas? Kamu kenapa?" nadila nyamperin suaminya.
"Mas... Kamu sakit?"
"Cuma kecapekan aja kayaknya.."
"Nggak nggak! Lihat deh. Kamu keringetan mas. Kamu pasti sakit kan? Udah gausah berangkat ke kantor." nadila jadi panik.
"Sayang... Aku gapapa."
"Tapi kan mas—"
"Aku berangkat dulu ya.. Kamu hati hati di rumah."
Nadila cuma mengangguk.
Dan akhirnya taeil berangkat ke kantor.
Nadila menghela nafas.
Entah kenapa tiba tiba aja dia gelisah. Takut kalau taeil kenapa kenapa.
"Kok aku jadi takut mas taeil kenapa kenapa ya?? Duhh nadila.. Kamu nggak boleh mikir macem macem." - nadila berusaha positif thinking.
Skip ><
Hari ini taeil nggak konsentrasi kerja.
Karena apa?
Ya karena daritadi dadanya sakit, untung aja pas tadi rapat dia bisa profesional.
Tapi semakin ditahan, makin sakit aja itu dadanya.
" kenapa sakit banget ya.." taeil ngelihat jam tangannya.
Udah jam duabelas siang. Itu berarti nadila sebentar lagi bakalan dateng..
Dia nggak boleh kelihatan sakit di depan istrinya.. Tapi kayaknya nggak bisa.
Dia berdiri. Niatnya mau telfon nadila biar nggak usah kesini.
Tapi itu dadanya makin sakit.
......
Nadila udah sampai kantornya taeil,
Dia bawa makan siang buat suaminya. Karena tadi taeil nggak sempet sarapan di rumah.
"Dila?"
Dan pas di jalan.. Dia ketemu sama minhyun.
"Kak minhyun?"
Ya karena minhyun udah balik kerja di situ lagi, dan dia udah minta maaf ke nadila atas perbuatannya.
Awalnya nadila menolak perminta maafan dari minhyun. Karena dia takut kalau itu semua cuma akal akalan minhyun aja biar bisa nyakitin keluarganya nadila.
Tapi ternyata nggak kok. Buktinya sampai detik ini. Dia nggak neko neko lagi. Malah jadi lebih baik.
"Kamu mau ketemu pak taeil ya?" tanya minhyun.
"Iya, aku mau nganterin makan siang nih."
"Yaudah bareng yuk. Kebetulan aku juga mau ke ruangannya."
"Yaudah ayo."
Dan akhirnya minhyun sama nadila barengan ke ruangannya taeil.
"Kamu mau ngapain ke ruangannya mas taeil?"
"Ini nih.. Aku mau nyerahin berkas yang belum ditanda tanganin sama dia, soalnya waktu itu dia lagi ada tugas di bandung."
Nadila mengangguk paham.
"Kak?"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kapan nikah?" nadila iseng tanya.
Sementara minhyun ketawa.
"Aduhh, kenapa setiap ketemu orang yang aku kenal. Selalu dapet pertanyaan gitu??"
"Ya.. Apa salahnya sih kak? Lagian nih ya. Kak minhyun tuh udah cukup umur loh buat punya anak." - nadila
"Aku masih belum mikirin itu dil... Aku lagi fokus kerja, ntaran aja kalau nikah mah."
"Gimana kalau aku kenalin ke temen aku? Mau nggak??"
"Haha kamu nih. Ada ada aja" mereka berdua udah ada di depan pintu ruangan.
"Kamu dulu gih yang masuk." - minhyun.
"Udah kita barengan aja."
"Iya deh."
Nadila langsung buka pintu.
"Mas? Aku dateng nih." nadila jalan ke arahnya taeil.
"Eh kamu.. Udah dateng."
"Mas taeil udah ngga ada kerjaan kan? Kalau gitu makan ya?"
"I-iya.."
"Pak taeil gapapa?" minhyun yang berada disitu merasa aneh dengan gelagat taeil
Nadila lihat taeil.
"Mas? Mas taeil kenapa?" nadila mendekat ke taeil
nadila ngecek suhu badannya taeil.
Normal sih, tapi keringetan dia.
"Mas! Bilang sama aku mana yang sakit?"
Nadila lihat kayaknya taeil nahan sakit.
"Mas? Dada kamu sakit? Jawab mas!"
"A-aku gapapa."
"Bohong! Aku bilang juga apa? Kamu sakit kan akhirnya!" nadila udah panik..
Taeil tiba tiba merasakan dadanya bergemuruh hebat, dia mengalami sakit yang luar biasa, dia memegang dada nya.
"Pak taeil?" minhyun jadi khawatir
"Mas taeil?"
Belum sempet taeil ngomong, udah ambruk duluan
Taeil jatuh di pelukannya nadila
Nadila ikutan jatuh. Ya kan badannya nadila kalau dibandingin sama taeil ya kecil. Jadi ngga kuat.
"Dada aku sakit banget..." taeil meringis kesakitan.
"Kita ke rumah sakit sekarang, kamu bertahan ya?"
Taeil belum menjawab, tapi tiba tiba dia sudah tidak sadarkan diri.
"Mass bangun mas! Kamu denger aku kan? Mas taeil!" nadila menggoyangkan badannya taeil.
"Pak taeil..." minhyun ngecek denyut nadinya.
Dan hamdallah masih ada.
Dia lihat telapak tangannya taeil basah.
"Nadila. Kita harus bawa pak taeil ke ruma sakit sekarang.."
"Mas taeil bertahan ya! Kita ke rumah sakit sekarang.."
Dan akhirnya taeil dibawa ke rumah sakit.
Skip ><
Taeil udah dibawa ke rumah sakit sama minhyun sama nadila. Tadi juga dibantuin beberapa pegawai..
Yakan nggak mungkin minhyun kuat ngangkat taeil sendirian.
Daritadi nadila mondar mandir terus di UGD.
Asli dia takut kalau taeil kenapa kenapa.
"Dila.. Kamu yang tenang,, pak taeil nggak bakalan kenapa kenapa." - minhyun menenangkan nadila
"Gimana aku bisa tenang sih kak.. Suami aku di dalem kesakitan gitu..mana bisa aku tenang.." nadila masih nangis.
"Dek!" tak lama kemudian ten dateng,
"Kak dani..."
"Gimana bang taeil? Dia baik baik aja kan?"
"Dila nggak tahu kak.." nadila masih menangis.
"Kak dani.. Aku takut mas taeil kenapa kenapa.."
"Udah udah, kamu yang tenang.. Suami kamu nggak bakalan kenapa kenapa kok.. Tenang ya." ten peluk adeknya.
"Keluarga bapak taeil?" tak lama kemudian dokternya keluar.
"Saya istrinya dok.. Gimana sama suami saya?"
"Pasien mengalami serangan jantung."
"Apa?" semuanya yang ada disitu kaget lah.
__ADS_1
"Pasien menderita kelelahan hebat, yang berpicu pada serangan jantung mendadak,, untung saja segera dibawa kesini. Jadi masih bisa diselamatkan."
"......"
"Tapi.. Kita harus segera melakukan operasi."
DEG!
"Operasi? Maksud dokter gimana??"
"Suami anda mengalami penyempitan jantung, sehingga harus dioperasi untuk memasang ring agar tidak membahayakan keselamatannya."
Nadila langsung jatuh lemes.. Untung aja ada ten dibelakangnya..
"Mas taeil..."
"Kamu yang tenang oke.."
"Dokter.. Lakuin apa aja yang terbaik. Asalkan dia selamat." - ten.
Dan akhirnya saat itu juga.. Taeil masuk ke ruang operasi.
......
taeil lagi dioperasi sekarang.
Di rumah sakit juga udah ada yuta. Minhyun udah balik ke kantor.
Daritadi nadila senderan ke dani terus. Diem. Nggak mau ngapa ngapain.
"Dek.. Kalau capek tidur aja dulu..." ten nyuruh nadila istirahat.
Nadila diem aja nggak mau jawab.
"Nadila... Bang taeil nggak bakalan kenapa kenapa.. Lo nggak usah khawtir." - yuta.
"Masa iya suami lagi sakit gue nggak boleh khawatir?"
Belum juga dijawab. Dokter dateng.
"Ibu nadila?"
Nadila langsung berdiri.
"Gimana sama suami saya dok??"
"Operasinya berhasil.."
Semuanya bernafas lega.
"Tapi suami saya baik baik aja kan dok?" tanya nadila
"Untuk saat ini memang belum sadarkan diri. Tapi kondisinya stabil. Dan sudah bisa dipindah ke kamar rawat inap."
Sekali lagi nadila cuma bisa bernafas lega. Dia bersyukur, operasinya berjalan lancar. Ya walaupun sekarang belum sadar. Tapi seenggaknya dia lega, kalau taeil baik baik aja.
Skip ><
Taeil udah dipindah ke kamar rawat inap biasa. Tapi ya gitu.. Masih belum sadar.
Nadila lagi ngelap wajahnya taeil,
Sesekali dia menghela nafas.
Dia lihat wajahnya taeil pucet banget. Padahal sebelumnya dia nggak pernah lihat wajahnya taeil pucet gini.
"Mas taeil..." nadila duduk,, dia menggenggam tangannya taeil.
.....
Nadila ketiduran.. Posisinya masih pegang tangannya taeil..
Sampai nggak sadar kalau suaminya udah bangun.
"Dila..."
"Mas taeil?" nadila kebangun gara gara tangannya taeil gerak.
"Aku...dimana?"
"Mas ada di rumah sakit, kemarin mas pingsan di kantor,"
Taeil lihat sekelilingnya.. Ternyata emang bener di rumah sakit.
"Aku panggilin dokter dulu ya mas, biar dia periksa kamu."
Nadila baru aja mau panggil dokter, tapi dicegah sama taeil
Taeil menggeleng pelan
"Kok nggak mau sih mas? Mas kan baru sadar, harus diperiksa dokter dulu." - nadila
Taeil berusaha duduk. Tapi dadanya masih sakit..
"Jangan gerak dulu.. Mas tuh habis dioperasi. Nggak boleh banyak gerak."
Nadila benerin duduknya taeil.
"Mas kenapa nggak ngomong ke aku kalau mas lagi sakit?" - nadila
"Aku nggak mau kamu khawatir sayang."
" aku malah khawatir banget lihat mas kayak gini.." nadila udah siap siap buat mewek ini.
"Harusnya mas bilang waktu itu, biar aku bisa ngerawat mas."
Nadila malah nangis.
Taeil kan jadi gemes.
Taeil langsung peluk nadila.
"Mas tega banget sih sama aku... Aku ini istri kamu. Harusnya kamu ngomong kalau ada apa apa."
"Iya iya.. Aku minta maaf. Aku kan cuma pengen kamu nggak terlalu khawatir"
"Itu namanya jahat tahu nggak!" nadila malah tambah nangis
__ADS_1
"Yang penting sekarang aku gapapa kan. Udah udah." taeil mengusap kepalanya nadila.
TBC