
Hari ini taeil libur kerja.
Iya soalnya gara gara insiden taeil kelelahan kemarin, terus jantungnya kumat.
Nadila lihat taeil lagi tidur. Soalnya habis diperiksa sama dokter, dikasih obat pereda rasa sakit juga.
Hyunjin dititipin sama neneknya, sementara woojin ditidurin di kamarnya hyunjin.
Nadila duduk di sampingnya taeil.
"Mas..." dia ngelap wajahnya taeil pake handuk.
Drrrrtttt
Hpnya taeil bunyi,
"Kak minhyun..."
Pasti minhyun telfon tanyain taeil hari ini.
"Halo kak minhyun.."
"Eh nadila? Tumben kamu yang ngangkat,"
"Iya, kenapa ya kak?"
"Itu, aku cuma mau bilang. Kalau hari ini jadwalnya pak taeil meeting, tapi sampai sekarang pak taeil nya belum dateng."
"Kak... Bilang sama yang lainnya. Kalau suami aku ngga bisa dateng."
"Hah? Kenapa? Emang pak taeil lagi dimana?"
"Mas taeil lagi sakit kak. Jantungnya kambuh semalem."
"Eh, yaampun maaf ya aku ngga tau kalau pak taeil lagi sakit."
"Iya gapapa. Yang penting sekarang kak minhyun tau."
"Iya. Kalau gitu sampein salam saya ke pak taeil ya, semoga cepet sembuh."
"Iya, makasih kak."
Bip!
Nadila menutup telfonnya.
Dia menghela nafas panjang..
Dia mengusap pipinya taeil.
"Kamu harus sehat terus mass. Jangan tinggalin aku, sama anak anak ya."
......
Nadila bawa bubur buat taeil, dia taruh di nakas.
Dia lihat, dari tadi taeil belum membuka mata, mungkin efek obat yang dikasih dokter tadi.
Dia ngelap seluruh badannya taeil, mulai dari tangan sampe wajah.
Dia pegang keningnya. panasnya udah turun, dia mijitin tangannya taeil.
Dan perlahan lahan taeil membuka matanya. Dia ngelihat ke samping.
"Nadila...."
"Eh? Udah bangun ya." nadila senyum.
Taeil berusaha bangun, tapi dadanya masih sakit.
"Jangan dipaksa sayang... Kamu belum boleh banyak gerak dulu."
Taeil senderan.
"Anak anak kemana?"
"Hyunjin aku titipin ke mama, kalau woojin lagi bobok tuh di samping kamu. Soalnya aku taruh box nangis."
Taeil ngelihat ke arahnya woojin.
"Mas taeil makan dulu ya, kata dokter, kamu ngga boleh makan nasi dulu, jadi aku buatin bubur."
"Nanti aja. Mas ngga laper." taeil senyum.
__ADS_1
"Yaudah, kalau gitu aku pijitin lagi ya."
Taeil pegang tangannya nadila.
"kenapa mas?"
"Apa kamu ngga capek jadi istri aku?"
"Hah? Capek kenapa coba?"
"Sekarang aku sakit sakitan gini. Apa kamu masih betah sama aku?"
Nadila diam
Sedetik kemudian dia ketawa....
"Kok malah ketawa sih? Aku kan tanya serius ke kamu."
"Ya abisnya kamu lucu deh."
"Apanya yang lucu? Kan aku lagi serius."
"Pertanyaan kamu itu tuh konyol abis."
"......."
"Dengerin ya, bapak taeil khoiril hutomo..." nadila menggenggam tanganya taeil.
"Aku itu mau nikah sama kamu atas dasar cinta dan kasih sayang. Dan aku udah janji sama diri aku sendiri, apapun yang terjadi sama kamu, mau kamu bangkrut kek, sakit kek, atau apapun itu. Aku bakalan tetep selalu ada disamping kamu."
"Tapi—"
"Ssstt, udah gausah pake tapi tapian segala. Lagian nih ya, Kalau misalnya aku ngga betah sama kamu yang sakit gini. Udah dari dulu kali aku tinggalin kamu pas kamu jantungan di kantor waktu itu." ucapan nadila diakhiri dengan senyuman.
"Aku.... Takut kamu pergi ninggalin aku karena keadaan aku sekarang."
Nadila menghela nafas.
"Sini sini aku peluk." nadila ngasih pelukan ke suaminya.
"Mulai sekarang, buang jauh jauh pikiran kamu tentang itu, karena itu ngga akan pernah terjadi." nadila mengelus punggungnya taeil
Tak disangka aja taeil nangis.
Ah bener, taeil akhir akhir ini sensitif, mungkin karena soal pekerjaan. Tapi baru pertama kali ini nadila lihat taeil nangis. Ya walapun cuma terisak.
"Mas harus percaya, aku ngga bakalan tinggalin mas taeil cuma karena mas sakit kayak gini. Emang aku cewe apaan dih." nadila masih mengelus punggungnya taeil.
Sedangkan taeil sembunyi di lehernya nadila.
"Udah ah, malu tuh diliatin woojin kalau nangis."
Taeil makin mengeratkan pelukannya.
"Mas... Udah dong,"
Tak lama kemudian woojin menangis.
"Tuh kan, dek woojinnya ikutan sedih tuh, gara gara ayahnya juga sedih."
Nadila melepaskan pelukan, abis itu naik ke kasur buat gendong woojin.
"Duh dek ujin sedih ya lihat ayah nangis hm." nadila mengelus kepalanya woojin pelan, biar ngga nangis lagi.
Nadila senderan, taeil ikutan senderan di bahunya nadila.
'Semoga semuanya baik baik saja.'
.........
Udah sore, hyunjin juga udah pulang ke rumah dianter sama yuta. Issya juga habis pulang les, dijemput hansol langsung dibawa ke rumah.
"Hyunjin, ayo sini handukan dulu. Jangan lari lari."
Jadi hyunjin abis mandi, dan sekarang malah lari lari gak jelas di ruang tamu
"Kak issya, tolong ambilin bajunya dek hyunjin di kamarnya ya." - nadila
"Iya bunda." issya buru buru lari ke kamarnya nadila buat ambil baju
Kalau ada issya kerjaan nadila sedikit terbantu. Soalnya issya itu rajin.
Disuruh bantuin bersih bersih mau, ngejagain adeknya mau. Udah bisa mandiri. Pokoknya terbantu kalau ada issya.
__ADS_1
Tapi kalau issya lagi ada di rumahnya hansol. Yaudah deh alamat oleng.
Issya udah masuk ke kamarnya nadila.
"Bajunya dek hyunjin mana ya???" issya gatau bajunya hyunjin di taruh mana sama nadila.
Tak lama kemudian taeil keluar dari kamar mandi. Abis mandi juga kayaknya.
"Kak issya cari apa?" - taeil
"Bajunya dek hyunjin dimana yah?"
"Kak issya mau ambil bajunya adek?"
Issya ngangguk.
"Sini sini."
Taeil mengambilkan bajunya hyunjin, yang ternyata ada di lemari bawah.
"Kalau kakak mau ambil bajunya adek lagi, tempatnya disini ya."
"Iya yah.."
"Bunda kemana emang?"
"Bunda lagi handukin adek yah. Abis nya hyunjin lari lari terus. Kasihan bunda capek. Makanya issya bantuin."
Taeil menghela nafas. Dia tau. Nadila pasti capek, udah ngurusin dia yang lagi sakit, ngurusin issya, hyunjin, sama woojin.
"Kayaknya emang aku harus banyakin waktu di rumah deh."
Sementara itu, hyunjin masih aja lari lari di ruang tamu.
"Hyunjin, pakai baju dulu sini."
Hyunjin masih sibuk lari lari.
Kenapa dia lari lari?
Karena pulang dari rumah neneknya, dia bawa tikus plastik yang bisa jalan cepet itu. Dikasih sama yuta katanya.
Nadila menghela nafas.
"Bunda.. Ini bajunya dek hyunjin." issya datang dengan bajunya hyunjin ditangannya
"Makasih sayang."
"HUAAAAA"
"Eh? Dek hyunjin kenapa nangis?"
Ngga ada angin ngga ada hujan tiba tiba aja hyunjin nangis.
Nadila langsung gendong hyunjin.
"Anak bunda kenapa hmm??"
"Tikusnya unjin ilang hikss.."
Tak lama kemudian taeil keluar dari kamar.
"Sayang. Kenapa?"
"Itu mas, tikus mainannya hyunjin ilang, gatau larinya kemana."
"Ayahhhh hikss.."
"Duh kenapa nih anaknya ayah. Sini sini." taeil mau gendong hyunjin.
"Mas, kamu jangan gendong hyunjin dulu. Jantung kamu masih belum stabil kan "
"Aku udah gapapa dil. Udah sana kamu ngurusin woojin, biar aku yang ngurus hyunjin."
"Tapi mas—"
"Aku tahu kamu lagi capek." taeil mengelus kepalanya nadila habis itu gendong hyunjin, buat dipakein baju.
Nadila jadi sedikit lega. Dia bersyukur punya suami yang super siaga kayak taeil gini. Ya walaupun sibuknya di kantor itu ngga main main. Tapi dia tetep ngga lupa sama kewajibannya sebagai suami dan seorang ayah.
'Semoga sampai nanti selalu gini ya mas..'
TBC
__ADS_1