Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
Pertengkaran pagi di meja makan


__ADS_3

Bukan kali pertama, sarapan pagi berubah menjadi pertengkaran. Hari senin pagi seharusnya dimulai dengan semangat dan keceriaan tapi harus berubah menjadi hari yang melelahkan bagi Raisha. Ini sudah biasa terjadi di keluarganya, tidak ada negosiasi apa lagi bantahan. Kepala keluarga yang memimpin rumah, mengatur segala hal, dan hanya Brahmantio Haristiawan yang berhak berbicara dan memutuskan sesuatu hal dikelurga itu.


"Malam minggu ini jangan ada yang keluar, terutama kau Morgan". Papa tidak suka kau berlaku tidak sopan didepan tamu papa".


"Memang apa hubungannya denganku, aku juga tidak mengerti dengan bisnis papa, lagian itu tidak menyangkut dengan pekerjaanku sebagai dokter".


Morgan berusaha meninggalkan meja makan, tapi berhasil ditahan oleh Henni, dia memberi isyarat agar tidak membantah Haris, selaku papanya.


Raisha yang biasanya hanya diam juga ikut menahan kakaknya, dengan menggelengkan kepala tanda melarang kakaknya pergi.


Henni memang bukan ibu kandung Morgan, tapi dia lah yang membesarkan Morgan dari kecil. Bagaimanapun juga Morgan sangat menghormati Henni. Morgan pun duduk kembali. Bukan tampa alasan Morgan ingin mengakhiri pembicaraan di meja makan pagi ini. Papanya sudah sangat keterlaluan kali ini. Haris meminta Raisha putri satu-satunya dari pernikahannya yang kedua bersama Henni untuk menikah dengan rekan bisnisnya Hendri Gunawan.

__ADS_1


Pagi itu Haris membuka pembicaraan dengan menanyakan skripsi Raisha.


"Sudah sampai mana skripsimu?, Apa bisa sidang dalam bulan ini?"


"Belum tau pa, banyak sekali masalah dikampus, dosen pembimbing Raisha sibuk sekali sekarang, sulit untuk ditemui"


"Papa mau kau menikah dalam waktu dekat ini, tak masalah dengan kuliahmu, kau bisa menyelesaikannya setelah menikah"


Tiba-tiba wajah Henni berubah pucat. Bukan tampa alasan mukanya berubah muram. Dia tau betul siapa suaminya. Haris orang yang tak bisa dibantah, dan ucapannya adalah finis, yaitu titik, tampa satu orang pun boleh melanjutkan perkataannya.


Raisha hanya diam, memang begitulah seharusnya dia bersikap menghadapi Haris yang tak bisa dibantah. Dia memang sudah terbiasa diperlakukan begitu oleh papanya. Memang sejak kecil Haris mendidik anak-anaknya sesuai keinginannya. Seakan Raisha adalah boneka yang diatur sebagaimana sang pemiliknya. Dari sekolah, hingga kuliah, Harislah yang mengatur, seakan anaknya tak bisa memilih apa yang dia kehendaki. Tidak demikian dengan Morgan. Dia suka membangkang. Haris mau Morgan meneruskan bisnisnya dan menjadi direktur di perusahan yang telah lama dia bangun. Tapi Morgan lebih memilih menjadi dokter sesuai cita-citanya sejak kecil.

__ADS_1


"Wow...lagi-lagi papa yang memutuskan hidup kami, apa belum cukup selama ini papa mendikte hidup Raisha?. Apa karena dia diam selama ini papa semakin seenaknya?. Aku kehabisan kata-kata, sebaiknya aku pergi"


"Berani sekali kau pergi, pembicaraan kita belum selesai"


"Memangnya papa mau mangatakan apa lagi?, bukannya keputusan papa udah finis?"


Morgan pun pergi tampa memperdulikan Henni dan Raisha yang memohon untuk tetap berada di meja makan.


"Biarkan saja dia pergi"


Haris menyuruh Henni menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan Hendri calon suami Raisha.

__ADS_1


Selepas kepergian Haris, Raisha masuk ke kamar. Pandangannya tiba-tiba buram, air mata yang sejak tadi dia tahan tak bisa terbendung lagi. Henni menyusul Raisha ke kamar, dia mencoba untuk bicara dengan putri semata wayangnya.


__ADS_2