
Hendri tampak bersemangat hari ini, dia menghabiskan sarapannya dengan cepat. Dia buru-buru berangkat ke kantor karena ada rapat. Raisha mengantarnya sampai ke garasi, Hendri mencium keningnya sebelum berangkat, Raisha tak percaya, apakah sekarang mereka sudah betul-betul berdamai. Rasanya baru kemarin Hendri beradu mulut dengan papanya dan juga berbuat keterlaluan dengan menjebak kakaknya, tapi sekarang apa yang terjadi seolah tak ada masalah diantara mereka.
Raisha tak mau berharap banyak dia sedang tak ingin memikirkan hal yang membuat hatinya sakit. Hari ini dia akan menemui mamanya.
Pak Diman mengantarnya kesana, dia sudah tak sabar ingin melihat wanita yang melahirkannya. Henni begitu bahagia didatangi oleh putri semata wayangnya.
"Kau dengan siapa kemari?"
"Tadi aku diantar supir ma, Mas Hendri udah berangkat ke kantor pagi-pagi gak bisa anterin aku dia ada rapat hari ini."
"Papamu juga pagi-pagi sekali tadi udah berangkat. Sebenarnya ada masalah apa sih papamu sama nak Hendri?, kok waktu mama bahas dia papamu gak mau nanggapin. Mama tanyak ke Morgan dia juga diam aja. Sepertinya ada yang mereka sembunyikan dari mama."
"Maksud mama siapa?"
"Ya papa sama kakak kamu, bisa jadi kamu juga bersekongkol sama mereka."
"Memangnya buat apa aku bersekongkol sama mereka. Mas Hendri sama papa gak da masalah apa-apa, kalau pun ada masalah biasalah ma, urusan bisnis mungkin gak sepaham dengan suatu hal. Jadi sedikit canggung mungkin mereka. Nanti juga normal kembali."
"Mudah-mudahan gitu ya."
__ADS_1
"Gimana keadaan mama sekarang?"
"Seperti yang kamu lihat mama sehat. Jujur mama sempat khawatir sama pernikahan kamu, mama takut..."
"Udahlah ma, aku baik-baik saja. Aku bahagia, mama bisa liat kan?"
"Iya, mama bahagia sekali melihat kamu dengan nak Hendri rukun. Kalian belum saling mengenal, bahkan papa juga belum tau seluk beluk keluarga nak Hendri tapi udah langsung menikah."
"Mama dulu juga gitu kan sama papa langsung nikah, tapi awet sampai sekarang."
"Ya karena mama banyak bersabar, kalau enggak hancur juga. Mana suka marah-marah, suka ngatur lagi. Kamu banyak-banyak sabar juga ya sayang, jadi istri harus banyak mengalah dan yang lebih penting kunci rumah tangga awet itu jangan baper. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit diambil hati perkataan yang kurang enak cukup masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Kalau berantem dikit biasa itu dalam rumah tangga jangan dikit-dikit minta cerai"
"Mama kok ngomong gitu sih, Raisha jadi takut."
"Kamu itu aja takut, mama juga capek ngasi tahu kakakmu. Kenapa dia gak nikah-nikah. Apa kita jodohkan saja dia?"
"Mama ini udah kayak papa, ngamuk Kak Morgan nanti ma."
"Haha...,biar dia ngamuk"
__ADS_1
Menjelang sore Raisha masi berada dirumah mama Henni, dia benar-benar senang berada disana. Rasanya dia malas sekali pulang, dia ingin menginap saja disini tapi dia belum minta izin pada suaminya.
Morgan baru saja pulang dari rumah sakit. Dia terlihat sangat lelah tapi dia bahagia bisa bertemu dengan Raisha adiknya.
"Kamu udah lama disini?"
"Iya kak malah aku mau pulang ni."
"Kamu gak nginap disini aja, lagian semenjak menikah kamu gak pernah nginap disini lagi."
"Iya aku janji nanti kapan-kapan aku nginap sini. Tapi kakak jangan sibuk pula di rumah sakit."
"Nanti kamu kasih tahu dulu kalau mau nginap disini biar kakak kosongkan jadwal di rumah sakit."
"Iya...,udah pada cerewet semua. Tadi mama, sekarang kakak."
Morgan memberi kode kepada Raisha untuk mengikutinya ke taman. Dia ingin menanyakan beberapa hal kepada Raisha, tapi dia tak ingin mamanya mendengar pembicaraan mereka.
***
__ADS_1