
Hendri terdiam sejenak, dia tak menyangka istri yang dinikahinya bisa bicara seperti itu padanya. Raisha bukan tipikal wanita keras, dia istri yang penurut dan wanita yang lemah lembut. Mengalah itu kebiasaannya dan tak mau memperpanjang masalah itu cirinya. Dia tipe istri yang paling cocok untuk laki-laki pemarah seperti Hendri dan apa yang baru didengarnya barusan seperti tak masuk akal bagi Hendri.
"Kenapa aku harus menceraikanmu?, selama ini aku sudah bersikap lunak, jangan pancing kemarahanku."
"Oh jadi disini yang salah aku, terus kamu yang benar. Kamu masih memiliki hubungan dengan mantan kekasihmu disaat kamu sudah menikah, apa itu yang kamu anggap benar?"
"Maksudmu apa?"
"Mantan pacarmu datang menemuiku?"
"Yulis?"
"Memangnya kamu punya mantan pacar yang lain?"
"Buat apa dia kemari?"
"Apa yang kamu janjikan sama dia?"
"Tidak masuk akal?"
"Jadi...," Raisha tiba-tiba pusing. Berdiri terlalu lama membuatnya hampir hilang keseimbangan. Melihat istrinya hampir jatuh Hendri dengan sigap menangkap tubuh Raisha yang hampir mengenai lantai.
__ADS_1
"Kau keras kepala, dokter sudah menyuruhmu untuk istrihat kau malah memilih berdebat denganku."
Raisha menangis, air mata yang sejak tadi ditahan kini jatuh membasahi pipinya yang tampak tirus dan pucat. Dia tak ingin menangis tapi entah kenapa dia menjadi sangat sensitif belakangan ini.
Hendri menggendongnya dan meletakan istrinya ke ranjang. Tidurlah, kau harus banyak istirahat, jangan memikirkan hal yang tak seharusnya kau pikirkan. Aku tak mau sikapmu yang kekanak-kanakan seperti ini bisa mempengaruhi anak kita. Mendengar Hendri menyebut janin yang sedang dikandungnya sebagai anak mereka hati Raisha melunak, dia terharu dan semakin memperdalam tangisannya. Hendri yang melihat istrinya menangis langsung memeluk dan mencium puncak kepalanya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu, aku lapar sekali belum sempat makan dari tadi siang?"
"Kamu saja yang makan mas, aku mual sekali."
"Kalau begitu kamu temenin aku makan ya. Gak enak makan sendiri." Hendri ingin menggoda istrinya dengan mengedipkan mata. Raisha yang tadinya menangis jadi ikut tertawa melihat Hendri mentapnya seperti itu.
Raisha menemani Hendri makan malam. Seperti yang dikatakannya tadi, Hendri kelihatan sangat lapar. Dia melahap makanannya dengan cepat. Raisha yang melihat Hendri begitu lahap jadi merasa bersalah telah mengajak berdebat bukannya menyuruhnya makan atau sekedar menanyakan apakah suaminya sudah makan atau membiarkannya beristirahat sejenak.
"Makanlah sedikit, temani aku."
"Aku sudah bilang kalau mulutku terasa pahit, aku mual sekali."
"Makanlah sedikit demi anak kita"
Raisha menatap Hendri tak percaya, suaminya sudah berubah. Apakah Hendri sudah menganggapnya istri yang sesungguhnya?. Raisha terharu lagi dia tak mampu berkata-kata. Sebuah anggukan untuk menjawab perkataan suaminya.
__ADS_1
"Hendri menyendokkan nasi ke piring istrinya. Raisha tak henti-henti menatap Hendri."
"Kamu jangan melihat aku terus, nanti di kamar kita saling liat-liatan." Hendri menggoda Raisha lagi, dan ini berhasil membuat semu di pipinya yang kemerahan akibat menahan malu.
"Bisa kita lanjutkan sekarang?, aku masi lapar ayo makan lagi!"
Raisha begitu bahagia sekarang, dia tak ingin momen ini berakhir. Akankah semua indah seperti hayalannya?. Kehadiran anak ini semoga saja membuat hubungannya dengan Hendri semakin baik.
"Mas kamu mau anak cewek apa cowok?"
"Gimana kalau cewek dan cowok sekalian?"
"Maksud kamu kembar?, aku juga pengen punya anak kembar. Lucu ya mas kalau kita punya anak kembar nanti bajunya bisa samaan."
"Iya, yang penting kamu makan dulu. Aku heran dimana letak anak kita melihat perutmu yang rata begitu."
"Ah kamu mas, mana ada langsung besar begitu. Ini baru saja, kita belum tahu dia sudah berapa bulan."
"Iya tapi nanti kalau udah sembilan bulan dimana letaknya mengingat badanmu yang kurus begitu."
"Pacar kamu itu kurus juga?"
__ADS_1
"Haha...kayaknya kamu cemburu banget sama dia." Hendri mencubit pipi Raisha dengan gemesnya. Raisha tampak kesal bila mengingat kejadian tadi.
***