
Hari senin pagi, Raisha sudah membuat janji untuk bertemu dosen pembimbing skripsinya. Dia bisa merasa sedikit lega karena tidak banyak lagi yang harus diperbaiki.
Raisha dan ketiga temannya memutuskan untuk makan di kantin.
"Hari ini sangat melelahkan, bagaimana kalau kita pergi cuci mata, sekalian jalan-jalan siapa tau ketemu jodoh, haha....ha...."
Risna cewek yang paling gendut berucap seolah-olah mereka habis mengerjakan hal yang besar sehingga tenaga mereka terkuras habis. Padahal cuma bertemu dosen saja. Memang pak Yudis terkenal orangnya sangat disiplin, dia merupakan salah satu dosen yang paling keras dan tegas.
Ike, Uti dan Raisha tertawa serempak mendengar penuturan Risna.
"Emak si Wawan mau kamu bawa kemana?," Uti ikut berkomentar.
"Iya Ris, kan dia cinta matimu, haha... " sahut Ike.
"Bodoh amat, aku udah putus sama dia"
"Ah yang benar Ris?, kamu ni ada-ada aja" Raisha ikut menimpali.
"Palingan juga bentar nanti balik lagi, kan kita udah tau gimana kamu sama Wawan" "Sama-sama gila, haha...." Ike mengejek Risna dan yang lain ikut ketawa.
Hand phone Raisha berdering, dalam hatinya "nomor siapa ini". Tidak terdaftar di kontak hp nya. Raisha berusaha menjawab telpon yang masuk.
__ADS_1
"Iya halo, ini siapa ya?"
"Aku tunggu kamu diparkiran"
"Apa-apaan ini langsung dimatikan"
Raisha tau betul suara itu, "kenapa dia datang kemari?"
Raisha berpamitan kepada Ike, Uti dan Risna.
"Aku jalan dulu ya "
"Kok kamu pulang duluan Sha? kita kan mau jalan"
Raisha langsung berlari ke parkiran, dia tidak sempat menjawab pertanyaan Uti. Dia tidak mau teman-temannya sampai melihat Hendri di parkiran. Nanti mereka bakalan heboh, pikir Raisha.
Diparkiran Hendri sudah menunggu, dia sedikit marah.
"Lama banget sih jalannya. Kan aku dah bilang cepat"
"Ada apa kamu ke mari?"
__ADS_1
"Aku mau jemput kamu memangnya salah?Cepat naik, aku sudah lapar"
Raisha tidak mau berdebat, semakin cepat dia pergi dari sini semakin baik. Dia takut ke tiga temannya melihat Hendri. Raisha belum siap untuk bercerita kepada mereka.
Akhirnya mereka tiba di sebuah restoran. Dari tadi Raisha hanya diam. Hendri pun demikian, dia memilih segera menghabiskan makanan yang telah dipesannya. Raisha sedikit melirik Hendri, apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa dari tadi dia hanya diam. Apa dia benar-benar lapar, hingga memutuskan untuk terus makan tanpa berbicara"
"Besok asistenku Rena akan menemanimu untuk fitting baju pengantin"
"Aku harap kamu bisa bekerja sama dengan dia. Sekalian belanja keperluan kamu. Karena setelah menikah kita akan pindah ke rumah baru"
"Eh..., kenapa terburu-buru sekali?, maksudku kita belum menentukan tanggal pernikahannya"
"Aku yang memutuskannya. Kau tau ayahmu sudah mendapatkan apa yang dia mau, lantas kenapa aku harus menunggu. Kami sudah menandatangani kontrak kerja, dan aku sudah mentransfer uang ke perusahaannya. Jadi apa lagi, apa aku harus menunggu kalian menipu ku? Atau kalian memang sengaja mengundur-ngundur waktu?. Apa dia mau menjualmu ke laki-laki lain setelah mengambil uang dari ku?. Tidak semudah itu"
Bertubi-tubi tuduhan yang dialamatkan padanya, Raisha ingin menangis. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk bersabar dengan Hendri. Dari pertama bertemu dia sudah diserang dengan berbagai pertanyaan dan tuduhan. Apa sebegitu buruk ayahnya dimata Hendri.
"Apa benar papa tega melakukan ini pada ku?".
Beribu pertanyaan muncul di kepalanya. Akhirnya air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah juga.
__ADS_1
***