Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
Pertengkaran di bar


__ADS_3

Akhirnya Raisha pulang bersama Hendri. Di mobil Hendri hanya diam. Raisha belum bisa tenang. Apa yang akan menimpanya di rumah.


Sesampainya di rumah Hendri langsung masuk ke kamar. Raisha merasa heran, kenapa Hendri diam saja dan tak memarahinya. Raisha mau menanyakan masalah hp-nya yang dilempar Hendri ke luar jendela.


"Bagaimana ya caranya ngomong sama mas Hendri, nanti dia marah lagi teringat kak Ronal menelpon". Kalau aku gak bilang sama dia langsung beli hp baru nanti dia marah".


"Ee...mas, kau sudah tidur?".


Hendri tak menjawab, Raisha makin gregetan. "Bagaimana cara ngomongnya?. Apa dia sengaja ya pura-pura tidur. Sepertinya dia benar-benar marah".


"Mas, aku mau ngomong".


"Ya".


"Kok dia jawabnya iya aja ya".


"Masalah hp...


"Kau mau hp baru?". Hendri bangun dari tidurnya. Dia keluar kamar.


Raisha jadi takut, "mas Hendri kok gitu banget ya ekspresinya. Dia mau kemana tu".


Raisha mengira Hendri keluar kamar karena tidak mau berbicara dengannya. Ternyata Hendri mengambil hp baru yang dibelinya untuk Raisha.


"Pakai ini, aku sudah mengganti sim cart yang baru. Aku gk mau kau masi berhubungan dengan laki-laki itu".

__ADS_1


"Kau ingat kata-kata papa mu tadi. Ini yang pertama dan yang terakhir kali aku melihat kau jalan dengan laki-laki itu".


"Kalau kau sampai melanggar aturan ku, kau tau sendiri akibatnya".


"Sekarang perusahaan papamu berada ditangan ku dan kau tau apa artinya itu?".


"Cepat atau lambat aku akan menendang papamu keluar. itu semua tergantung kamu".


Mendengar penuturan Hendri, Raisha hanya bisa terdiam, dia gk menyangka nasib keluarganya bergantung padanya sekarang.


"Jadi berhati-hatilah, jangan sampai membuatku marah". Kau tau kan aku bisa melakukan apa saja".


Raisha hanya mengangguk tanda mengerti. Di ambilnya selimut dan bantal, digelarnya kembali tikar seperti malam-malam sebelumnya. Dia menangis dalam diam, membayangkan nasibnya.


Hendri berusaha memejamkan mata, lagi-lagi dia tak bisa tidur. Semenjak menikah, dia tak bisa tidur nyenyak. Bayangan akan indahnya bergelut di ranjang dengan Raisha membuatnya bergairah setiap kali mengingatnya. Buru-buru ditepisnya.


"Aku harus pergi, tak bisa begini dalam satu kamar. Aku bisa gila kalau lama-lama disini".


Hendri memutuskan keluar. Dia memilih minum-minum di bar. Disaat yang sama Ronal pun berada dimana tak semestinya. Dia sedang merasa tak baik, lebih tepatnya dia sedang patah hati. Mendengar penuturan Raisha tadi, dia tak bisa percaya. Dia sangat kecewa, akhirnya dia memutuskan minum di bar menghilangkan kegalauannya. Dia hanya minum sendiri tak ada yang menemani.


Ketika hendak ke toilet Ronal melihat Hendri.


"Itukan suaminya Raisha".


Ronal sedikit mabuk, dia mendatangi Hendri.

__ADS_1


"Hei kau beraninya merebut Raisha dari ku", Ronal tak sadar akan omongannya, dia benar-benar mabuk.


Mendengar penuturan Ronal, Hendri pun terpancing. Dia bangun dari duduknya.


"Siapa kau berani berbicara seperti itu dengan ku?".


"Kau mau tau siapa aku, haha...ha.."


"Aku lelaki yang seharusnya bersanding dengan Raisha, dia wanita yang sangat kucintai". "Mengapa dia bisa menikah denganmu?"


"Hei bung, kau sepertinya mabuk berat. Cepat pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran".


Hendri lagi tak mau meladeni orang dia lagi bergelut dalam pikirannya. Tiba-tiba Ronal langsung menyerang Hendri. Sebuah tinju mendarat di pipi sebelah kanan bawah muka Hendri. Bibir Hendri sedikit mengeluarkan darah. Hendri tak tinggal diam, dia jadi terpancing amarahnya. Dibalasnya tinju ke muka Ronal, tepat mengenai hidungnya.


Ronal tersungkur ke lantai.


Pengunjung disana berteriak histeris, langsung pelayan melerai mereka.


Hendri sangat kesal, dia ingin bersantai di sana, malah terusik oleh Ronal. Akhirnya mereka pulang juga.


Dengan kesal Hendri masuk ke mobil dan pulang ke rumah.


Diliriknya jam di tangan, "sial..., baru jam 11.


"Bahkan diluar rumah pun Raisha bisa membuat ku kesal. "Tadi dia membuat ku marah sekarang pacarnya".

__ADS_1


__ADS_2