Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
Sidang skripsi


__ADS_3

Sudah berhari-hari Hendri tak pulang ke rumah. Raisha berkali-kali menghubungi Hendri tapi tak pernah digublis. Hendri enggan mengangkat telpon dari istrinya. Entah apa yang direncanakan Hendri, Raisha semakin bingung dibuatnya. Hari ini Raisha akan mengikuti sidang sikripsi, perasaannya campur aduk. Belum lagi dia sedang memikirkan suaminya yang tak kunjung pulang. Hari ini dia akan pergi menemui suaminya di kantor. Raisha sudah bertekat akan menyusul Hendri ke kantor sepulang dari kampus.


Raisha sudah tak tau lagi harus bagaimana, perasaannya dua hari kebelakang ini tak menentu, akhirnya diapun menceritakan semua pada ketiga sahabatnya. Dia tak sanggup menyimpannya lagi. Ketiga sahabatnya pun semakin curiga melihat gelagat Raisha yang kebingungan. Berhari-hari dia tampak sedih dan ketiga sahabatnya sudah tak percaya kalau dia dalam keadaan baik-baik saja. Uti, Ike dan Risna tercengang mendengar penuturan Raisha.


"Jadi lo bahkan gak tidur seranjang dengan mas Hendri?" Ike yang penasaran memberondong Raisha dengan sejuta pertanyaan. Raisha hanya mengangguk, dia sudah lelah bila mengingat masalah rumah tangganya.


"Jadi buat apa juga dia nikahi lo?" Risna ikut andil dalam pembicaraan ini. Dia mencoba mengintrogasi Raisha sampai ke hal-hal kecil.


"Udah cerai aja Sa, ngapain juga kamu makan hati tiap hari. Palingan dia cuma ngamcam doang, emang dia bisa hancurin papa kamu?"


"Gak tau juga, tapi mas Hendri udah investasi besar ke perusahaan papa. Kalau sampai dia ambil alih perusahan gimana?, Aku takut papa bisa syok dia bahkan belum tau kalau mas Hendri bukan partner melainkan adalah lawannya."


"Udah, kamu sekarang fokus aja dulu sama sidang ini, kita siap-siap dulu yok bentar lagi kan kamu mau masuk ruang sidang?"

__ADS_1


Raisha sengaja tidak memberitahukan kepada orang tuanya kalau hari ini dia akan mengikuti ujian skripsi, dia tidak mau orang tuanya melihat kondisinya sekarang. Dia bahkan tak tidur semalaman, dengan mata yang sembab begini mana mungkin dia bisa berhadapan dengan orang tuanya terutama mamanya. Morgan pun tak diberitahunya, dia juga tak ingin saudara satu-satunya yang dia miliki ikut sedih melihat keadaannya sekarang. Sungguh hanya ketiga sahabatnya inilah tempat mengadu dan berkeluh kesah. Raisha sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka.


Tak terasa sudah empat puluh lima menit Raisha berada di ruang sidang. Uti, Ike dan Risna udah deg-degan setengah mati. Mereka sudah gak sabar menunggu Raisha sahabatnya yang sebentar lagi akan menyandang status Sarjana Ekonomi.


Benar saja Raisha muncul di pintu ruang sidang dengan wajah tersenyum. Uti, Ike dan Risna berlari ke arah Raisha sambil memberi pelukan.


"Selamat ya Sa, kami seneng banget kamu udah melewati satu tahap. Sekarang tinggal kamu pikirin masalah rumah tanggamu aja" Uti berbisik ditelinga Raisha.


"Udah jangan pada mewek, yok kita cari makan. Biar aura negatif pada hilang" Ike yang udah gak tahan pengen makan karena gak sempat sarapan tadi pagi buru-buru mengajak ketiga sahabatnya makan di restoran favorit mereka.


"Kita harus merayakannya ni," Ike yang udah semangat banget pengen pergi dari ruangan yang menegangkan ini. Berhubung dia belum sidang dia masih deg-degan kalau berada di ruangan ini. Dia enggak pengen lama-lama berada disitu.


"Aku sesak banget kalau berada disini, perasaan susah banget narik nafas."

__ADS_1


"Bisa-bisanya kamu aja tuh," Risna mengejek Ike dengan cara meniru gerakan yang biasa dibuat Ike. Semua jadi ikut tertawa, tak terkecuali Raisha yang hatinya lagi kacau campur aduk.


Kalian gak ngajak Wawan, Ikram dan Tio? Raisha menanyakan keberadaan tiga laki-laki yang mengiringin sahabatnya.


Kita gak bilang kalau kamu sidang hari ini. Sebenarnya kami cuma gak mau mereka liat kondisi kamu Sa yang gini banget.


Maksud kamu aku yang nampak kucel? Raisha tersenyum sendiri melihat pantulan wajahnya di cermin.


"Bukan gitu Sa, cuma kita males aja mereka banyak nanyak nanti waktu liat kamu" Risna mencoba menjelaskan maksud mereka gak mengundang Wawan, Ikram dan Tio.


"Udah, aku gak papa. Cepat kalian hubungi mereka bilang kita makan-makan ditempat biasa."


***

__ADS_1


__ADS_2