
Hendri ingin mengakhiri perdebatan ini. Dia memilih keluar menuju dapur. Diambilnya es di lemari pendingin untuk mengompres memar di pipinya. Dilihatnya kesekeliling, dimana dia bisa menemukan kain untuk dimasukkan ke air es.
Raisha mendengar suara benda jatuh di dapur, dia hendak keluar dan melihat.
"Apa itu mas Hendri, apa jangan-jangan ada pencuri yang masuk?. Mas Hendri kemana?".
Raisha memilih melihat ke dapur, "dari mana sumber suara?". Ternyata Hendri habis menjatuhkan kotak es dari lemari pendingin. Raisha merasa sesak melihat dapur begitu berantakan.
"Mas, kau sedang apa?, kenapa bisa berantakan seperti ini?".
"Dimana kau menyimpan kain?".
"Kain?, untuk apa kain?".
"Untuk mengompres ini", Hendri menunjukkan es yang diletakkannya di mangkok.
__ADS_1
"Oh, aku akan mengambil handuk kecil. Sebaiknya mas tunggu di kamar aja. Biar aku bereskan kekacauwan ini".
Raisha pusing melihat dapur yang berantakan akibat es yang jatuh berserakan ke lantai.
Hendri memilih menurut dan langsung menunggu dikamar.
Raisha masuk ke kamar dengan membawa mangkuk berisi air yang diberi es. Diambilnya handuk kecil di celup-nya kedalam air es dan kemudian ditekan ke pipi Hendri yang memar.
Hendri hanya diam memperhatikan Raisha menyentuh pipinya. Ditatapnya lekat-lekat mata Raisha yang kecoklatan dengan bulu mata yang lentik. Baru kali ini dia bisa memperhatikan wajah istrinya dengan begitu jelas.
"Kurasa cukup, ini tidak apa-apa lagi". Hendri beranjak pergi, dia tak mau berlama-lama dekat dengan istrinya takut apa yang diinginkannya bisa kejadian.
Raisha merasa juga getaran yang dirasakan Hendri. Ketika beradu pandang persekian detik, jantungnya berdebar. Sebenarnya Raisha sudah mengalah dengan perasaannya kepada Ronal. Dia sudah melupakan perasaan lamanya ke pada kakak letingnya. Dia ingin mencintai Hendri selaku suaminya, tapi Hendri tak memberi kesempatan untuk dicintai oleh Raisha.
Dari awal Raisha sudah pasrah dengan nasibnya. Dia sudah memilih untuk mencintai suaminya, tapi Hendri justru terang-terangan menampakkan bentuk ketidak suka-an nya terhadap Raisha.
__ADS_1
Raisha selalu berusaha baik dengan Hendri, tapi Hendri selalu salah mengartikan sikap Raisha, hingga malam ini Raisha memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pulang ke rumah orang tuannya yang kemudian di tentang Hendri dengan sebuah ancaman.
"Mas, kau mau kemana lagi?. Kita tidur yuk!".
Hendri begitu terkejut mendengar penuturan Raisha.
"Apa dia mau mengajak tidur bareng?,apa ini sebuah jebakan?".
Beribu pertanyaan timbul dibenak Hendri, mungkin kan ini ajakan....
Hendri tak munafik, dimatanya Raisha begitu menggoda, apa lagi malam ini mereka saling menatap satu sama lain persekian detik. Cukup membuat debaran aneh timbul di hati Hendri. Suaranya yang halus, tutur bahasanya yang lembut, sudah barang tentu banyak laki-laki yang jatuh cinta padanya. Mengingat laki-laki lain pun bisa memandang wajah istrinya membuat Hendri amat kesal apalagi ketika dia melihat foto Raisha dengan Ronal yang diambil oleh orang suruhan Hendri tadi siang, semakin membuatnya marah.
"Kau saja yang tidur, aku belum ngantuk".
Hendri sengaja menolak ajakan Raisha, dia tidak ingin masuk dalam jebakan Haris. Sebelum rencananya berhasil, Hendri tak kan mendekati Raisha, meskipun hatinya menginginkan. Hendri memilih duduk di balkon sambil menyalakan rokok. Dia sedang menyusun rencana baru.
__ADS_1
Raisha merasa heran dengan sikap Hendri yang berubah-ubah. Mas Hendri kenapa lagi sih?. Apa dia pikir aku mengajak tidur...,maksudnya itu ya...?. Aduh...,aku jadi malu ni kalau mas Hendri sampai berpikir begitu.