
Raisha benar-benar terkejut ketika suara dari balik tasnya berdering keras. Dia sengaja memasang nada dering khusus untuk panggilan dari suaminya. Alasannya sederhana dia cuma tak ingin Hendri marah-marah. Raisha menarik nafas dalam-dalam. Tidak bisakah dia bersantai sejenak.
"Kamu masih di kampus?"
"Iya mas, ini aku baru mau pulang"
"Aku sudah menyuruh supir menjemputmu, kamu tunggu saja disitu!"
"Tapi mas, aku..." Hendri langsung menutup telpon. Raisha masi tak habis pikir dengan sikap suaminya yang selalu seenaknya.
Tak lama kira-kira lima belas menit kemudian Raisha mendapat panggilan telpon dari nomor asing. Ternyata dari supir yang dikirim Hendri.
Supir yang disiapkan khusus untuk mengantar jemput Raisha.
"Silahkan nyonya"
"Iya" Raisha langsung masuk dan dilihatnya mobil ini tampak masi baru. "Apa mobil ini yang disiapkan Mas Hendri untukku?"
"Nama bapak siapa?"
"Panggil aja Pak Diman nyonya, mulai hari ini saya ditugaskan sama tuan Hendri untuk mengantar jemput nyonya."
"Oh gitu, padahal saya gak minta supir"
"Maaf nyonya, kalau nyonya tidak suka saya yang jadi supir nyonya nanti bisa diganti supir yang lain"
__ADS_1
"Enggak, saya suka kok. Maksudnya saya bisa nyetir sendiri."
"Tapi tadi tuan pesan sama saya, katanya saya harus ngikutin kemana nyonya pergi. Saya harus nganterin. Nyonya gak boleh nyetir sendiri"
"Emmm..." Raisha cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Jadi kita kemana lagi ini nyonya"
"Kita ke super market pak, saya mau belanja dulu. Bahan bakanan udah pada habis di rumah"
"Maaf nyonya, tapi tadi Bik Inah udah belanja semua keperluan di rumah, tuan yang nyuruh"
"Siapa Bik Inah?, apa pembantu baru?"
"Iya nyonya, Bik Inah istri saya."
Di rumah Raisha tak kalah terkejutnya, seorang pria mengaku dari butik datang mengirim gaun untuk dikenakannya nanti malam. Raisha makin bingung, ada apa lagi dengan suaminya.
"Permisi nyonya, tadi ada kurir yang ngantar bunga ini untuk nyonya." Bik Inah memberikan bunga yang dikirimkan oleh Hendri.
Tak lama kemudian Hendri menghubungi Raisha, dia ingin memastikan kalau Raisha sudah menerima hadiahnya.
"Kau sudah di rumah?"
"Iya aku baru saja sampai."
__ADS_1
"Kau suka hadiahnya?"
"Iya, tapi aku cuma minta mobil bukan sekalian dengan supir" Raisha mulai protes, dia merasa suaminya berlebihan dan dia tidak suka dimata-matai. Untuk apa juga mereka membuat kesepakatan kalau masi saling curiga.
"Kau tidak suka Pak Diman, aku bisa ganti supir yang lain?"
"Bukan itu maksudku, cuma..."
"Kau sudah liat gaunnya, bagaimana pas?
"Untuk apa gaun ini mas?"
Kita akan makan diluar nanti malam, kamu siap-siap dulu nanti aku jemput jam tujuh." Hendri mengakhiri panggilan telponnya. Dia terlihat bahagia. Seperti biasa Raisha tak mau berdebat dia pun memilih untuk istirahat sejenak. Belakangan ini dia begitu lelah, makan siang terasa begitu nikmat. Sudah lama dia tak menikmati makanannya.
***
Raisha tertidur pulas setelah menghabiskan makan siangnya. Dia merasa sangat mengantuk dan memilih tidur. Terdengar ketukan pintu dari luar, Raisha terbangun dari tidurnya. Ternyata bik Inah yang mengetuk pintu kamarnya.
"Permisi nyonya, saya mau bilang ini sudah jam 6 nyonya belum siap-siap. Sebentar lagi tuan menjemput nyonya."
"Ya ampun bik, saya ketiduran. Makasih ya bik saya siap-siap dulu."
Bik Inah melihat Raisha tak keluar kamar semenjak habis makan siang tadi, dia berusaha membangunkan majikannya karena Raisha sudah berpesan untuk membangunkannya.
Di kamar Raisha mulai kebingungan, dia memilih menggunakan make up ala kadarnya. Melihat kebelakang kejadian yang lalu sewaktu menemani Hendri ke pesta, bukannya Hendri tak suka riasan make up-nya padahal Raisha sudah berusaha ke salon. Menurut Raisha suaminya orang yang aneh.
__ADS_1
"Lebih baik aku berdandan seperti biasa saja dari pada Mas Hendri bilang seperti wanita m*r*h*n. Kalau mengingat malam itu dia ingin menangis lagi. Tapi sekarang bukan waktunya mundur kebelakang, dia harus terus berjalan kedepan. Apa pun itu dia sudah bertekat untuk menghadapinya.
***