
Jam tujuh tepat Hendri sudah tiba di rumah seperti janjinya akan menjemput Raisha untuk makan malam diluar. Hatinya sedang berbunga-bunga, entah kenapa dia begitu bahagia. Membayangkan muka istrinya yang ketakutan pun dia bisa bahagia. Menurutnya wajah Raisha begitu menggemaskan tak kala Hendri mencoba membuatnya takut. Apa lagi melihat istrinya tersenyum dia pun ikut senang. Dia tak sadar kalau kebahagiannya ternyata begitu sederhana. Selama ini dia mencari kebahagiaan yang telah terenggut di masa lalu. Dia pikir dengan mempunyai uang maka dia dapat memperoleh kebahagian itu, nyatanya di umurnya yang sekarang dan dengan kekayaan yang dimilikinya tak juga membuatnya bahagia. Dia tak sadar kalau kebahagiaannya terletak pada kelinci putihnya. Ya Raisha si kelinci putih yang menggemaskan yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
Hendri melihat Raisha dari ujung rambut hingga ujung kaki. Luar biasa, istrinya tampak cantik dengan balutan gaun merah maroon pilihannya. Gaunnya tampak biasa, sangat sederhana tapi begitu pas dikenakan oleh Raisha mungkin seperti ini gaya yang cocok untuk istrinya. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajahnya hanya berbalut make up tipis tapi yang bikin Hendri tak tahan dibagian bibirnya yang sengaja dipoles lebih tebal. Warna merah darah membuat wajah putihnya kontras dengan bibirnya. Lipstik yang senada dengan warna bajunya membuat Raisha tampak seksi dimata Hendri. Sungguh malam ini akan menjadi malam yang begitu menggairahkan. Hendri sudah membayangkan bagaimana dia bergelut dengan istrinya malam ini. Rasanya dia lebih memilih makan dirumah saja, karena sudah tak sabar ingin menelanjangi istrinya.
"Kita berangkat sekarang?" Raisha melihat Hendri hanya diam, tak berpindah dari posisinya. Menatapnya begitu inten, membuatnya salah tingkah.
"Ya, aku mandi dan berpakain sebentar, kamu tunggu di mobil saja" Hendri terbata-bata dia hilang kosentrasi. Pikirannya yang dipenuhi ***** membuat otaknya tak dapat berpikir.
Dia bergegas ke kamar mandi dan segera berpakaian. Dia sudah menyiapkan makan malam romantis. Sebelum pulang tadi dia menyempatkan diri membeli hadian untuk istrinya. Dia pikir Raisha pasti akan menyukainya.
***
__ADS_1
Sendi harus diberi bonus, dia memang laki-laki cerdas. Dia telah menyiapkan makan malam romantis untuk bosnya. Hendri begitu puas dengan semua yang disiapkan Sendi, tinggal mendengar komentar istrinya.
"Kau suka ini?"
"Ya begitu indah"
"Ada satu lagi, coba buka ini?"
"Karena wanita suka hadiah, kau juga harus memberiku hadiah" Hendri mencoba menggoda Raisha dengan mengedipkan matanya.
Raisha tak percaya suaminya yang tampak begitu kaku selama ini bisa berbicara seperti itu padanya.
__ADS_1
"Memangnya kau mau apa?"
"Nanti saja, aku pikir dulu." Hendri sengaja menggoda Raisha dengan pura-pura berpikir.
"Kau suka cincinnya?"
"Ini terlalu berlebihan mas, pasti mahal sekali"
"Kau tak suka model ini, kita bisa ganti lain yang kau suka" Aku suka, cuma ini terlalu mahal."
"Seperti bukan dirimu saja, kau bilang kau suka uang dan kemewahan. Kenapa berpura-pura menjadi wanita lugu." Hendri memang tak punya pengalaman dengan wanita bahkan dia tak bisa membedakan wanita biasa dengan wanita sosialita. Mungkin kalau orang lain dengan mudah bisa tahu bagaimana karakter Raisha. Dia yang sehari-hari tampak biasa, baik pakaian dan apa saja yang digunakannya sangat sederhana. Dia bukan tak suka barang branded, hanya saja dia lebih suka membeli barang yang benar-benar dia butuhkan. Tas saja dia cuma punya beberapa saja yang branded, sepatu dan lainnya juga bisa dihitung. Dia bukan wanita sosialita yang memiliki lemari khusus untuk menyimpan tas maupun sepatu.
__ADS_1
***