
"Kak Ronal mau ngomong apa?."
Sebenarnya duduk berdua seperti ini, aku takut orang salah paham."
"Memangnya kenapa, apa suamimu marah karena aku mengantarmu tempo hari?."
"Kak, sebenarnya kakak mau ngomong apa ?." Raisha sengaja tak menjawab pertanyaan Ronal, dia memang sudah lelah dengan masalah yang kemarin dan tak ingin mengulang cerita.
"Aku hanya ingin memastikan, apa yang kudengar kemarin adalah salah."
"Maksud kak Ronal?"
"Apa benar kau sudah menikah?"
"Kak Ronal hanya ingin menanyakan itu?"
"Iya, tolong kau jangan membohongi aku. Apa karena kau tak ingin berhubungan dengan ku lantas kau mengarang cerita?"
"Kak, aku sudah menikah. Kenapa aku harus berbohong?. Ini kenyataannya."
"Tapi kenapa? kau bilang tak ingin menikah dulu. Kau ingin menyambung S2. Dan begitu aku pergi yang kudapat kau tiba-tiba menikah."
"Kenapa begini?"
"Kak Ronal, maaf tapi ini sudah jadi keputusanku dan aku tidak menyuruhmu menunggu."
"Ya, kau tak salah. Aku saja yang bodoh salah mengartikan maksudmu."
"Kak...
"Apa dia orang baik-baik?. Emmm...aku hanya tidak ingin orang yang kucintai tak bahagia."
__ADS_1
"Maksudmu apa? tentu saja aku bahagia."
"Apa kau terpaksa menikahinya?"
"Kak Ronal, udah kelewatan." Aku pikir lebih baik kita mengakhiri obrolan ini, takutnya malah ngawur kemana-mana."
"Aku permisi dulu kak".
"Kau tau apa yang dilakukannya di bar?"
Raisha yang memilih pergi, tiba-tiba terdiam dan membalik badan menghadap ke arah Ronal. Dia benar-benar penasaran dengan ucapan Ronal.
"Maksudmu siapa?"
"Tentu saja suamimu?"
"Aku memukulnya malam itu, apa dia tak mengatakan kepadamu?, atau jagan-jangan dia tak pulang malam itu?"
"Kak Ronal,kau sudah gila. Bicaramu mulai ngawur. Sebaiknya kau tak menemuiku lagi. Aku tak ingin suamiku salah paham."
"Kau kira bisa menipuku dengan menampakkan wajah pura-pura bahagiamu."
"Apa yang dilakukan pengantin baru seorang diri di bar?." Apa itu masuk akal dia mabuk seorang diri disana."
"Sebaiknya kak Ronal tidak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku."
Raisha benar-benar marah, kali ini dia juga heran dengan dirinya kenapa bisa begitu kesal mendengar penuturan Ronal. Dia seakan mudah sekali terpancing, dan perkataan Ronal masi terniang-niang di kepalanya.
Raisha memilih pulang kerumah. Tiba-tiba kepalanya sakit dan dia ingin tidur dikamar.
Memilih memesan taxi lewat aplikasi, dia tak sabar ingin sampai dirumah. Dia memutuskan untuk menunda mengurus urusan sidangnya. Dia akan kembali besok
__ADS_1
pagi.
Beribu pertanyaan muncul di kepalanya.
"Apa mas Hendri punya wanita simpanan?. Pantas saja dia selalu pulang larut malam."
Dan sampai sekarang mas Hendri juga belum menyentuhnya. Tentu saja karna mereka tidur terpisah. Mana mungkin juga tidur bersama, sementara Hendri sangat membencinya.
Penikahan ini hanya untuk menyiksanya. "Mas Hendri hanya ingin balas dendam. Dia ingin melihat papa menderita dan dia mau kami sekeluarga mengemis padanya."
Sekarang apa lagi, Raisha sudah tak tahan. Dia ingin lari dari ini semua. Kalau tak mengingat mamanya, mungkin dia sudah kabur.
Hanya menunggu saatnya, dimana Hendri akan menghancurkan keluarganya.
Seperti menggali kuburan sendiri, duduk pasrah, menunggu orang menghancurkan kita. Itulah yang dialami Raisha sekarang ini.
Lagi-lagi dia hanya bisa menangis. Masalahnya belum selesai, sekarang masalah baru muncul. Ronal malah menambah masalahnya.
"Kalau sampai kak Ronal tau, alasan aku menikah dan bagaimanan kehidupan yang kujalani sekarang, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Mas Hendri bisa-bisa melibatkan kak Ronal dalam balas dendamnya. Ya Tuhan, bagaimana ini?"
"Kak Ronal tidak bersalah, dia bisa ikut kena imbasnya."
"Bagaimana caranya aku menyakini kak Ronal, kalau aku bahagia dengan pernikahanku ini?."
"Kak Ronal tidak boleh ikut terkena masalah. Dia orang baik dan sudah selayaknya dia bahagia. Semoga dia mendapatkan wanita yang mencintainya dan membahagiakannya.
Kak Ronal sangat sedih, nampak sekali diwajahnya gurat kekecewaan. Ya Tuhan aku telah mengecewakannya."
"Kau bukan jodohku kak."
***
__ADS_1