
Risna menghubungi Wawan, Ikram dan Tio, sementara mereka sudah dijalan menuju ke restoran yang sudah direservasi melalui telepon oleh Ike. Mereka sudah biasa makan disana, kebetulan disana tempatnya sangat nyaman.
"Ikram dan Tio emangnya bisa datang Ti, dia gak kerja hari ini?" Raisha menayakannya kepada Uti, Ikram adalah gebetan Uti sedangkan Tio adalah pacar Ike, lebih tepatnya mereka baru dua minggu jadian. Kalau Wawan teman Raisha juga tapi beda jurusan. Dia sudah lama pacaran dengan Risna, putus nyambung gitu.
"Kalau Ikram udah otw ni kan udah jam makan siang, kalau Tio tanyain aja sama Ike"
"Udah tenang, dia hampir nyampe ni"
Tak lama kemudian Wawan, Ikram dan Tio sampai juga. Ini bukan kali pertama mereka ngumpul. Meski Ikram baru dekat dengan Uti tapi mereka udah sering jalan bareng dan ngumpul sama teman-teman Uti. Jadi dia udah kenal dengan Raisha, Ike dan Risna.
"Selamat ya Raisha udah jadi sarjana nih," wawan memberi selamat kepada Raisha.
"Makasih ya Wan, kamu malah udah duluan"
"Kebetulan juga, kalau Pak Ali gak jadi pergi kemaren itu mana mungkin aku udah sidang. Karena dia mau berangkat makanya aku di suruh cepat naik sidang, tapi syukur juga dia banyak bantu aku"
"Ya itu rezeki kamu sayang," Risna menggoda Wawan.
__ADS_1
"Ehem...., mesra-mesranya nanti ya waktu gak ada kita," Ike mengejek Risna dan Wawan yang lain pada ketawa.
"Kayaknya biar kamu bisa melamar Risna, makanya Pak Ali nyuruh kamu cepet-cepat naik sidang biar langsung nyari kerja jangan asik mutar-mutar kampus tiap hari" Uti ikut menimpali. Akhirnya Raisha bisa tertawa juga dengan kehadiran sahabat-sahabatnya.
"Udah ketawanya makan dulu, keburu dingin ni makananya." Raisha permisi ke toilet dan yang lain menyambung kembali leluconnya.
Raisha tak menyangka bisa bertemu Hendri disana, Hendri menyeretnya ke belakang, lebih tepatnya menghindar dari tatapan orang. Sebenarnya dari tadi dia sudah melihat Raisha dan teman-temannya datang, tapi dia menunggu saat yang tepat untuk mengajak Raisha bicara.
"Sedang apa kamu disini?"
"Kamu sudah berani ya menjawab aku seperti itu?, pulang sekarang juga!"
"Aku gak mau"
"Kamu udah berani membantah aku sekarang?"
"Jadi aku harus bagaimana, aku nurut kamu juga percuma. Kamu tetap juga gak menganggap aku ada"
__ADS_1
"Aku gak mau berdebat disini, sekarang juga kita pulang" Hendri menarik tangan Raisha.
Raisha berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Hendri, tapi sia-sia saja tangannya yang kecil tak sebanding dengan tangan Hendri.
"Mas aku harus pamit sama teman-teman aku dulu, mana mungkin aku pergi begitu saja. Aku yang undang mereka kesini, setidaknya aku bayar dulu bilnya"
"Tak perlu, aku sudah membayarnya"
"Sebentar aja mas aku temuin mereka, mas tunggu aja di mobil nanti aku nyusul kesana."
"Kenapa kau menyuruh aku menunggu di mobil, kau malu kalau aku ikut bersamamu bertemu mereka?'
Raisha dibuat bingung oleh sikap Hendri, tak mau berlama-lama disitu Raisha memilih mengajak Hendri menemui teman-temannya.
"Kalau gitu ayo kita kesana mas" Raisha tak habis pikir dengan sikap Hendri yang kadang-kadang aneh seperti orang yang cemburu saja. Tapi dilain pihak Raisha tak menggap itu sebuah rasa cemburu dari Hendri karena Raisha tau kalau Hendri tidak mencintainya untuk apa dia harus merasa cemburu kalau tidak ada rasa apa-apa diantara mereka.
***
__ADS_1