
Untuk pertama kalinya setelah menikah Raisha bertemu dengan Henni ibu yang melahirkannya. Dia begitu merindukan ibunya.
"Halo ma, gmn kabar mama?.
"Halo sayang, akhirnya kau pulang juga. Seperti yang kau liat, mama baik-baik saja. Dengan siapa kau kemari, dimana suamimu?".
"A..aku tadi diantar teman ma, tadi aku habis dari kampus. Mas Hendri lagi sibuk di kantor".
"Oh...duduk lah, mama udh masak kesukaanmu, kita makan yok".
Raisha menghabiskan waktunya seharian di rumah orang tuanya. Menjelang sore Morgan dan Haris pun tiba dirumah.
Raisha memilih duduk berdua di taman dengan ibunya.
"Bagaimana sayang, kau betah disana?. Mama memikirkan kamu terus, karena selama ini kita tak pernah berjauhan.
__ADS_1
"Mama kok ngomong gitu sih, Raisha baik-baik aja ma. Tentu saja Raisha betah, mama gak usah khawatir".
"Kok kamu nampak kurusan sih, kamu gak selera makan ya disana?". Mama jadi gak enak perasaan.
"Mama ini, Raisha baik-baik aja. Mungkin karena kecapean ini ma, Raisha lagi ngejar-ngejar dosen kan. Sibuk urusin skripsi biar cepat sidang kadang sampe lupa makan".
Raisha terpaksa berbohong, dia gak mau mamanya khawatir apa lagi sampai tau apa yang dialaminya. Memang berat badannya sedikit turun. Dia memang jarang makan, belakangan ini hanya dihabiskan waktunya untuk menangis.
"Memangnya skripsimu udah siap?".
"Tinggal nunggu sidang ni ma. Doa'in ya ma.
Morgan datang menghampiri mereka di taman.
"Mentang-mentang dah ada suami, kita dilupain".
__ADS_1
"Apaan sih kak, Raisha baru sempat kemari. Lagi sibuk ngejar dosen ni kak. Bukanya lupa sama kakak, mama dan papa".
"Terus mana suamimu, kok dia gak sama kamu?".
"Mas Hendri lagi sibuk di kantor, tadi aku dari kampus langsung kesini".
Akhirnya setelah sekian lama mereka bisa berkumpul dan makan malam bersama. Raisha sangat merindukan momen ini. Walaupun dulu di meja makan tak pernah ada kedamain, tapi disinilah cinta itu dibangun. Meski Haris yang selalu membeda-bedakan dia dengan Morgan, tapi Raisha begitu merindukan papanya.
Andai waktu bisa diulang dia ingin menjadi anak kecil terus. Walau dulu sering rebutan mainan dengan kakaknya, tapi Morgan lah yang sangat menyayanginya. Sekarang dia hidup dengan orang yang membencinya bahkan orang yang tak suka dengan keluarganya. Yang lebih menyakitkan harus berpura-pura bahagia padahal hati ingin menangis setiap saat. Seandainya bisa, dia ingin mengadu kepada ibu yang melahirkannya betapa tersiksanya dia menjalani pernikahan ini. Tapi apa boleh buat, semua ia lakukan demi kedamain di keluarganya.
Memang beberapa bulan yang lalu Haris sempat mengeluh, ada sedikit masalah di perusahaan. Lebih tepatnya ada beberapa proyek yang tak berjalan semestinya. Haris bahkan terancam bangkrut seandainya tidak cepat-cepat mendapatkan investor. Tak lama setelah kejadian itu Haris tiba-tiba ingin menjodohkan Raisha yang memicu perdebatan antara dirinya dan Morgan.
Raisha baru mengerti maksud perkataan Hendri waktu itu. Dia sudah bertekat akan bertahan dengan pernikahannya demi keluarga yang dicintainya. Bila perlu dia akan jadi apa saja demi keluarganya. Jangan sampai perusahaan yang dibangun papanya dari nol hancur, disitulah nyawa Haris. Dia begitu mencintai pekerjaannya dan dia akan melakukan apa saja demi perusahaannya.
"Kalau sampai papa kehilangan perusahaannya, aku takut, aku gak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya".
__ADS_1
Raisha tak berani membayangkan, seandainya Hendri....
"Ya Tuhan. Aku baru ingat, ini sudah jam berapa, aku gk bilang sama mas Hendri mau kesini".