
Dipilihnya baju yang sekiranya muat dibadannya. Benar kata Mita, Raisha harus membeli baju baru. Semua bajunya sudah tak nyaman lagi dipakai. Dia terlihat lebih gemuk sekarang. Dipilihnya dress hitam brokat miliknya yang sudah ketinggalan zaman. Memang benar dia sudah lama tidak berbelanja, lagian juga dia bukan wanita yang mengikutin trend seperti teman-temannya di kampus. Bisa dibilang dia dan ketiga sahabatnya buka termasuk dalam genk hits di kampus, tapi tidak culun juga. Mereka hanya sekumpulan cewek-cewek biasa. Raisha selama ini tidak terlalu memikirkan penampilan, dia lebih fokus pada kuliahnya.
Dirasa sudah cukup berdandan ala kadar, Raisha keluar dengan menggandeng tas selempang yang biasa dipakainya.
Mita terkejut melihat dandanan kakak iparnya yang gak banget menurutnya. Sepertinya banyak yang harus dirubah dari gaya kakak iparnya.
"Mbak mau pergi dengan baju ini?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Gak banget deh mbak, baju ini udah ketinggalan zaman."
"Masak...?, mbak baru beli setahun yang lalu."
"Ampun deh, setahun itu udah lama banget mbak, liat ni sekarang gaya yang lagi hits itu seperti ini, warna ini. Liat dong mbak di medsos orang-orang udah pakek baju apa."
__ADS_1
"Ya juga ya, tapi mbak emang gak suka ngikut tred . Kalau pergi yang gini aja."
"Gaya rambut mbak juga membosankan, kita ke salon juga yuk nanti"
"Dari kecil rambut mbak emang gak pernah dimacemin, begini aja potongannya."
"Harusnya gaya mbak seperti aku ini, keren kan?. Nanti Mas Hendri makin cinta loh sama mbak."
"Ah yang benar kamu, nanti dia malah aneh liat mbak gaya dibuat macam kamu."
"Udah gini aja, disana nanti kita beli lain. Nanti keburu Mas Hendri pulang."
"Oke deh, kali ini aku maafkan penampilan kakak yang semberaut ini."
Sebenarnya gaya Raisha biasa saja, tapi bagi Mita yang dari dulu suka bergaya bak model, gaya Raisha gak banget. Membosankan menurutnya, Mita memang bercita-cita jadi model tapi belum kesampaian.
__ADS_1
***
Raisha dan Mita menghabiskan waktu untuk berbelanja dan ke salon. Menurut Mita Raisha perlu mewarnai rambutnya supaya wajahnya terlihat glowing. Menurutnya sedikit warna coklat bisa membuat wajahnya semakin terlihat.
Mita meninggalkan Raisha di salon dan dia pergi mencari bingkisan untuk temannya. Tidak lama, setelah memilih beberapa bingkisan yang akan dikirimkanya ke Singapura, Mita kembali ke salon dan menemui kakak iparnya.
Mita mulai cemas, kakak iparnya tidak ada di salon yang dia tinggalkan tadi dan hp-nya pun gak bisa dihubungi. Mita bertanya kepada orang yang bekerja di salon tersebut, tapi mereka tidak melihatnya. Sungguh aneh pikirnya, tanpa berpikir panjang dia segera menelpon ke rumah mungkin Raisha sudah pulang duluan karena tidak sanggup menunggu. Bik Inah jadi cemas bukan main mengetahui majikannya tiba-tiba hilang.
Mita semakin panik ternyata kakak iparnya tidak ada juga di rumah. Dia harus bagaimana sekarang, dia sudah lapor ke scurity tapi mereka tidak juga bisa menemukan Raisha. Mita menghubungi Hendri dan mengatakan kalau Raisha hilang. Bukan main marahnya Hendri dia langsung menemui Mita disana.
Hendri begitu cemas mengingat istrinya yang sedang hamil. Mau marah-marah pun tak ada guna.
"Aku sudah bilang kalau berhati-hati, kenapa kamu ceroboh sekali meninggalkan dia seorang diri?"
Mita hanya diam, pikirnya tak ada guna menjawab pertanyaan kakaknya yang sedang dipenuhi emosi. Memangnya dia anak kecil tak boleh ditinggalkan sendiri. Mita menggurutu di dalam hati. Bagaimana ini kalau sampai terjadi apa-apa sama kakak iparnya, Mas Hendri pasti akan membunuhnya. Mita kelihatan pucat, dalam hati dia begitu menyesal mengajak kakak iparnya yang sedang hamil.
__ADS_1
***